15 December 2017

Apakah kalian sudah membaca hari ini atau sama sekali belum ? Buku apa yang kalian suka baca ? Siapa penulis buku favorit kalian ? Apakah kalian punya buku untuk dibaca atau tak satupun buku yang kalian punya ? dan sebagainya… Ini beberapa pertanyaan yang muncul saat orang berbicara buku dan membaca. Semua pertanyaan tersebut penting untuk ditanyakan, tetapi pertanyaan terakhir menurut saya yang paling utama. Mengapa tidak ? Bagaimana kalian bisa membaca buku, jika buku tidak tersedia atau kalian susah untuk mendapatkan buku. Padahal kalian termasuk orang yang gemar membaca.
Kami dari Rumah Baca TWP Padaido

Apa yang kalian dapatkan dari membaca ? Beberapa orang beranggapan bahwa membaca hanya membuang-buang waktu saja. Tetapi bagi mereka yang memang hobby membaca, waktu tidak akan menghalangi mereka untuk membaca. Bahkan saking hobby baca bisa duduk berjam-jam hanya untuk membaca sampai waktu terasa berlalu begitu cepat. Zaman sekarang ini dengan perkembangan teknologi di perkotaan membaca tidak hanya lewat buku saja, tetapi dari media elektronik, seseorang bisa membaca. Namun tak semua orang bisa merasakan dan menikmati kemajuan teknologi tersebut. Jangankan berbicara teknologi, mendapatkan buku pun susah. Beberapa alasan yang muncul, diantaranya tidak adanya toko buku yang tersedia, jarak yang jauh dari rumah untuk membeli buku, harga buku yang tidak terjangkau dan sebagainya.

Sebenarnya minat baca orang Indonesia tidak kalah dengan negara-negara lain, tetapi karena ketersediaan buku dan cara mendapatkan buku yang susuah mengakibatkan surutnya minat baca orang. Fakta inilah yang menjadi muasal terbentuknya gerakan literasi di berbagai daerah di Indonesia dengan mendirikan rumah/taman baca ataupun membuka lapak baca gratis di tempat publik bahkan beberapa orang rela keliling Indonesia membawa buku untuk  oleh para masyarakat yang peduli dengan gerakan gemar membaca. Gerakan ini pun didukung oleh Bapak Presiden, Joko Widodo dengan membuat program pengiriman buku gratis tiap tanggal 17 setiap bulan melalui kantor pos (kalau tanggal 17 bertepatan dengan hari raya, biasanya akan diundur ke tanggal 18). Syaratnya cukup mudah hanya dengan menuliskan kata sandi “BERGERAK” pada paket dan berat maksimal 10 kg. Tujuan pengiriman buku gratis pun tidak berlaku untuk semua, hanya rumah/taman baca yang terdaftar dalam simpul Pusaka Bergerak Indonesia atau terdaftar di website KEMENSIKBUD. Hal ini menjadi keuntungan bagi para pegiat literasi atapun donator karena biasanya ongkos kirim lebih mahal daripada harga buku, terlebih tujuan pengiriman ke bagian Timur Indonesia.
Kiriman Buku via Pos

Nahhhh. Ini pulalah yang menjadi alasan kami di bagian Timur Indonesia, Papua khususnya Biak untuk mendirikan rumah baca. Disamping untuk memfasilitasi bagi mereka yang gemar membaca maupun untuk meningkatkan minat baca bagi masyarakat. Rumah baca yang kami bentuk bernama Rumah Baca TWP Padaido yang terletak di Pulau Pasi, Kampung Samberpasi, Distrik Aimando, Kabupaten Biak Numfor, Papua. Kata TWP merupakan singkatan Taman Wisata Perairan karena Padaido masuk ke dalam kawasan konservasi perairan, dibawah pengelolaan Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Kami berharap dengan adanya rumah baca ini, selain meningkatkan minat baca masyarakat, kami juga akan memberikan pemahaman kepada masyarakat sekitar Rumah Baca TWP Padaido Samberpasi untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan laut. Disamping itu, Kampung Samberpasi merupakan kampung wisata yang digagas oleh pemerintah daerah setempat, sehingga dengan adanya rumah baca, wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati alam, tetapi juga bisa berwisata literasi dengan terlibat dalam kegiatan-kegiatan, seperti mengajar anak-anak atapun nantinya sebagai donator buku.
TWP Padaido

Untuk tiba di Rumah Baca TWP Padaido Samberpasi, dapat ditempuh dari Kota Biak menggunakan angkutan darat sekitar 30 menit, kemudian dilanjutkan dengan menyeberang laut dengan waktu tempuh sekitar 2 jam-an dengan menumpang kapal nelayan. Kalau menumpang kapal nelayan tidak tiap hari karena harus mengikuti hari pasar, yakni Selasa, Kamis dan Sabtu. Kalau mau berangkat sesuka hati, bisa sewa perahu/speed tetapi biayanya lumayan menguras kantong.
Distribusi Buku via Laut

Tempat untuk menyimpan buku-buku saat ini, kami letakkan di rumah Bapak Kepala Desa Samberpasi karena tempat yang rencananya sebagai rumah baca perlu di renovasi dulu sebelum digunakan. Karena kami tinggalnya di Kota Biak, maka untuk berjalannya kegiatan rumah baca, kami melibatkan masyarakat di sekitar lokasi sebagai penanggung jawab. Kami menunjuk salah seorang anak sekolah bernama Mega yang tinggal bersama dengan bapak kepala desa. Sampai saat ini, kami sudah 4 kali mendistribusikan buku-buku hasil donasi dari beberapa orang dari berbagai daerah di Indonesia.
Rumah Baca TWP Padaido Perlu Renovasi

Kami masih mengharapkan donasi dari teman-teman yang ingin mendonasikan buku-buku baik buku anak-anak maupun buku untuk semua kalangan karena Rumah Baca TWP Padaido kami buka bukan hanya untuk anak-anak, tetapi semua umur. Yang penting bukunya masih layak baca baik buku baru maupun buku bekas. Tidak mengandung undur SARA, kekerasan dan pronografi.




Untuk info selanjutnya atau mau donasi buku, bisa menghubungi kontak 081343166479 a.n Setiawan Mangando. Dan jika ingin mengirim buku bisa ke alamat Jl. Tanjung Raya, Kelurahan Mandow, Kecamatan Samofa, Kabupaten Biak Numfor-Papua, Kode Pos : 98156.

So don’t miss it… Kirim buku dengan free ongkir alias gratis tanpa dipungut biaya sepeserpun tiap tanggal 17 setiap bulan via POS INDONESIA. Tetap ada syaratnya yaaaa, tapi gak usah khawatir syaratnya mudah kok. Tinggal kirim buku seberat maksimal 10 kg dan tulis kata sandi “BERGERAK” pada paket yang anda akan kirim. Tambahan lagi untuk pengirim atau penerima harus tercantum di pangkalan pos Indonesia, sehingga tidak ada penyalahgunaan.  

14 October 2017

Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan sebelumnya. Tentang Festival Biak Munara Wampasi sebagai salah satu kegiatan tahunan yang diadakan oleh pemerintah daerah khususnya Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor untuk mempromosikan potensi yang ada di Biak. Setelah sebelumnya saya membahas tentang pembukaan Festival Biak Munara Wampasi, kali ini saya akan menceritakan tentang beberapa kegiatan yang dilaksanakan untuk memeriahkan festival ini.
Tarian Khas Biak


Festival Biak Munara Wampasi merupakan kegiatan yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah untuk mempromosikan wisata yang ada di Biak. Pariwisata di bagian Timur Indonesia memang tidak kalah dengan daerah lain di Indonesia, khususnya di Papua orang mengenal Raja Ampat dengan potensi wisata bahari yang sangat memukau. Tetapi tahukah anda bahwa Raja Ampat bukanlah salah satu destinasi yang dimiliki Papua. Selain Raja Ampat, Biak menjadi pilihan yang tepat untuk menikmati wisata bahari Papua.

Nah untuk meningkatkan minat wisatawan berkunjung ke Biak, maka dibuatlah Festival Biak Munara Wampasi yang dikemas secara apik, memadukan antara wisata alam dan budaya. Melalui festival ini diharapkan dapat mendongkrak kunjungan wisata ke Biak. Untuk lebih memeriahkan Festival Biak Munara Wampasi V Tahun 2017 ini diadakanlah beberapa kegiatan yang berlangsung selama empat hari, yakni dari tanggal 1 – 4 Juli 2017.

Parade Wor dan Yospan. Jika di Sulawesi terkenal dengan Dero (tarian tradisional), Biak pun punya tarian tradisional, Wor dan Yospan. Kegiatan ini berlangsung pada hari Minggu, 2 Juli 2017 bertempat di Jl. Imam Bonjol. Wor dalam bahasa Biak berarti …, sedangkan Yospan adalah singkatan dari Yosin Pancar yang berarti …. Parade Wor dan Yospan tidaklah sama, ada perbedaan, seperti yang saya lihat Parade Wor diikuti oleh beberapa kelompok sanggar seni yang tersebar di Biak, dalam Parade Wor masing-masing kelompok akan menampilkan sebuah tema yang menceritakan tentang kehidupan masyarakat Biak dan ini menjadi tradisi yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mereka. Salah satu tema yang sempat saya lihat, saat seorang anak pertama kalinya turun dari rumah. Setiap sanggar dalam parade ini tampil dengan totalitas, terlihat mereka menggunakan pakaian adat Papua dan berbagai property yang mereka siapkan sendiri menjadi nilai tambah dalam menyampaikan tema yang dibawakan. Parade Yospan sendiri, hanya diikuti oleh satu kelompok sanggar seni. Dalam Parade Yospan disini tidak ada tema yang diceritakan, tetapi hanya menari seperti biasanya dan dipimpin oleh seorang sebagai pemimpin yang berada di depan barisan dan memberi aba-aba dengan dilengkapi peluit. Parade Yospan pun diiringi dengan masuk dan lantunan lagu. Terlihat dalam parade ini semua anggota masih muda dibalut dengan pakaian yang berwarna-warni.
Salah satu sanggar seni dalam Parade Wor dan Yospan

Snap Mor. Salah satu rangkaian acara Festival Biak Munara Wampasi yang ditunggu-tunggu. Snap Mor merupakan salah satu tradisi yang masih dijaga sampai saat ini, merupakan cara tradisional menangkap ikan di laut saat air sedang surut, alat tangkap yang digunakan bukan jaring ataupun pancing melainkan hanya sebuah tombak. Jadi saat air pasang akan diletakkan jaring mengelilingi lokasi yang akan dijadikan tempat Snap Mor dan pada saat air surut ikan-ikan tersebut akan terjebak di dalam jaring, pada saat itulah orang-orang akan berbondong-bondong untuk menangkap ikan menggunakan tombak. Pelaksanaan Snap Mor dalam Festival Biak Munara Wampasi kali ini bertempat di Kampung Karnindi, Biak Barat pada hari Selasa, 4 Juli 2017 pukul 08.00 – 15.00. Saya pun berkesempatan untuk melihat secara langsung, berangkat dari Kota Biak ke arah barat menggunakan mobil bersama dengan teman-teman, karena beberapa hal kami berangkat sekitar pukul 10.00 perjalanan sekitar 1 jam-an. Alhasil sampai di lokasi, Snap Mor sudah berjalan hampir dipenghujung kegiatan. Walaupun demikian kami masih sempat melihat beberapa masyarakat asik mencari ikan di laut, beberap dari mereka berhasil mendapatkan hasil tangkapan. Terlihat disekitar lokasi sebuah panggung dan beberapa pondok yang disediakan. Bukan hanya kegiatan menangkap ikan saja, tetapi ada penampilan dari beberapa sanggar seni dan panggung hiburan disamping itu, terdapat beberapa jajanan khas Biak yang disiapkan panitia maupun yang dijual masyarakat sekitar.
Snap Mor

Pameran Anggrek. Bertempat di Lapangan Cendrawasih dan pameran ini dibuka selama kegiatan Festival Biak Munara Wampasi dari pagi sampai malam. Saya pun beberapa kali mengunjungi pameran ini. Anggrek merupakan salah satu bunga yang menjadi andalan Biak, hal ini terlihat dari antusiasnya masyarakat Biak memamerkan anggrek mulai dari ukuran kecil sampai sedang yang berwarna warni, baik yang tumbuh secara alami maupun melalui persilangan yang dilakukan masyarakat setempat. Setiap distrik yang ada di Biak turut andil dalam pameran ini bahkan salah satu kabupaten tetangga, yakni Kab. Supiori ikut mengambil bagian dalam pameran ini. Pembukaan pameran anggrek ini dimulai dengan adanya lomba merangkai bunga anggrek dan lomba tanaman anggrek dengan beberapa kategori yang dilombakan.
Pameran Anggrek

Pameran Foto. Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Wanita Kabupaten Biak Numfor dan buka selama Festival Biak Munara Wampasi berlangsung. Foto-foto yang ditampilkan dalam pameran ini mencakup banyak hal, mulai dari keindahan alam Biak, destinasi wisata, sampai tradisi yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Biak. Setidaknya dengan adanya pameran ini, bisa memberi pengetahuan kepada pengunjung bahwa Biak memiliki sejuta pesona yang patut untuk dibanggakan, dipelihara dan dijunjung tinggi serta Biak memiliki banyak pilihan destinasi wisata baik alam maupun budaya.

Beberapa kegiatan lain yang menjadi rangkaian acara Festival Biak Munara Wampasi V Tahun 2017. Namun sayang saya tidak sempat mengikutinya….

Apen Beyeren. Salah satu atraksi budaya yang masih dipertahankan sampai sekarang di Biak. Dalam atraksi ini seorang akan berjalan di atas batu panas. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 1 Juli 2017 di Nirmala Beach Hotel pukul 17.00 – 18.00. Sayangnya saya tidak sempat melihat secara langsung atraksi ini, padalah ini menjadi atraksi yang sangat menarik dan wajib untuk disaksikan, dimana seseorang yang lengkap berpakaian adat  Papua berjalan di atas batu panas tanpa alas kaki.

Lomba Lari 10K. Lomba ini diikuti oleh semua kalangan dan pendaftaran free alias gratis. Pelaksanaannya pada hari Senin, 3 Juli 2017 pukul 06.00 – selesai dengan mengambil garis start dari Halaman Kantor Distrik Yendidori.

Photography Tour. Salah satu rangkaian acara yang menurut saya menarik dan sebaiknya patut diikuti. Para peserta diajak untuk berkeliling ke beberapa destinasi wisata yang ada di Biak sambil memotret.

Tour Padaido. Ini salah satu rangkaian acara yang paling ingin saya ikuti, tetapi karena lambat pesan tiket makanya pas cek di Dinas Pariwisata tiketnya sudah ludes. Kegiatan ini merupakan salah sati kegiatan untuk menikmati wisata bahari di Biak. Salah satu destinasi wisata bahari yang Biak miliki dan tidak kalah dengan Raja Ampat adalah Padaido. Padaido merupakan gugusan kepulauan yang bernama Kepulauan Padaido dan masuk ke dalam Kawasan Konservasi Perairan Nasional dengan nama Taman Wisata Perairan (TWP) Kepulaun Padaido, dibawah pengelolaan Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). TWP Padaido merupakan kawasan konservasi yang memiliki banyak destinasi pilihan wisata bahari, seperti diving di Goa Bawah Laut (Wundi Cave), diving di Kapal Karam di Pulau Rasi, foto di Fontbox di Pulau Wundi, menikmati sunset & sunrise, snorkeling, melihat pasir timbul saat air surut dan masih banyak lagi. Jadi jika ke Biak wajib hukumnya berkunjung ke Padaido.

Itulah sedikit gambaran kegiatan yang menjadi bagian dan memeriahkan Festival Biak Munara Wampasi 5 Tahun 2017 sebagai kegiatan tahunan di Kabupaten Biak Numfor. Festival ini menjadi ajang promosi Biak ke khayalak umum. Diharapkan dengan adanya festival ini, maka Biak makin dikenal bukan hanya di Indonesia tetapi ke penjuru dunia. Sehingga dapat mendongkrak kunjungan wisata baik domestic maupun mancanegara ke Biak. Biak pun memiliki potensi wisata yang luar biasa, wisata alam, wisata religi, wisata bahari, wisata sejarah, maupun wisata budaya dan tradisi semua tersaji di Biak.

So…. Let’s go to Biak…. Visit Biak… Hidden purity of Indonesia

23 September 2017

Menulis di blog memang rada-rada susah, bukan hanya butuh cerita sebagai bahan dalam tulisan, tetapi butuh ketekunan dalam menulis. Apabila sudah berhenti sekali saja menulis di blogg, perlahan-lahan rasa malas menulis akan terbawa sampai susah untuk mengembalikan mood menulis. Seperti yang saya alami beberapa bulan ini. Blog saya tidak pernah tersentuh lagi oleh tulisan-tulisan yang tidak jelas… Hehehe (tulisannya belum se-profesional penulis handal). Saat ini saya sedang berusaha untuk memulai lagi….

Puasa menulis di blog sekitar 3 bulan akhirnya saya kembali berusaha untuk mengembalikan semangat (dengan semangat 45) menulis. Tulisan saya kali ini tak jauh-jauh, masih seputaran Biak. Setelah beberapa bulan tinggal di Biak, salah satu kegiatan yang saya tunggu-tunggu dan ingin melihat serta merasakan secara langsung datang juga, apalagi kalo bukan Festival Biak Munara Wampasi. Kali ini saya akan membagi cerita dan informasi Festival Biak Munara Wampasi sebagai salah satu kegiatan tahunan yang ada di Biak, bukan hanya saya yang menunggu kegiatan ini, tetapi warga Biak Biak bahkan mungkin orang-orang yang di luar Biak terlebih yang suka traveling dan suka dunia wisata dan budaya dengan penuh antusias akan mengikuti setiap rangkaian festival ini.

Indonesia tidak hanya terkenal dengan alam yang menakjubkan. Perpaduan alam dan budaya yang dimiliki oleh Indonesia menjadi nilai tambah dalam meningkatkan kunjungan wisatawan. Setiap daerah memiliki alam yang berbeda dan pastinya budaya yang berbeda pula. Seiring berkembangnya zaman, beberapa daerah di Indonesia melalui pemerintah setempat mengemas acara-acara yang menitikberatkan pada alam dan budaya untuk lebih menarik minat wisatawan dalam sebuah festival, sebut saja Toraja International Festival di Toraja, Festival Danau Sentani di Jayapura, Festival Danau Toba di Sumatera Utara, dan masih banyak lagi.

Biak sebagai salah satu daerah yang terletak di Indonesia bagian timur tak ketinggalan untuk mengemas pariwisata dalam sebuah festival untuk menarik wisatawan supaya berbondong-bondong datang berkunjung ke Biak. Festival tersebut bernama Festival Biak Munara Wampasi atau di singkat  Festival BMW dan sudah masuk ke dalam kalender nasional Kementerian Pariwisata. Tahun 2017 ini merupakan penyelenggaraan kali ke 5 Festival BMW yang berlangsung selama 4 hari yakni 1 – 4 Juli 2017. Munara Wampasi dalam bahasa setempat berarti air surut. Pemilihan waktu pelaksanaan pada bulan Juli dirasa tepat karena menurut perhitungan masyarakat setempat bahwa pada bulan tersebut air laut akan surut terendah.
Pembukaan Festival Biak Munara Wampasi

Pembukaan Festival ini dilaksanakan pada Sabtu, 1 Juli 2017 bertempat di Nirmala Beach Hotel. Pelataran hotel yang langsung berhadapan dengan laut menjadi pilihan pelaksanaan pembukaan festival. Turut hadir dalam pembukaan Festival Biak Munara Wampasi, Ibu Yohana Yambise selaku Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sekaligus membuka festival, Ibu Esthy Reko Astuti selaku Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Bapak Thomas Alfa Ondy (Bupati Biak Numfor) dan Bapak Herry Naap (Wakil Bupati Biak Numfor), Ketua DPR Kabupaten Biak Numfor dan beberapa kepala SKPD lainnya.

Ini kali pertama saya mengikuti Festival Biak Munara Wampasi. Pembukaan yang cukup meriah dan dihadiri bukan hanya pejabat tetapi masyarakat Biak dari berbagai daerah datang untuk melihat secara langsung pembukaan festival ini bahkan beberapa wisatawan yang berasal dari luar Biak.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah saat memasuki tempat pembukaan para tamu akan disambut oleh pukulan tifa dari sekitar 800-an orang lengkap dengan kostum khas Papua. Bukan hanya orang dewasa tetapi anak kecil, bukan hanya laki-laki tetapi perempuan pun turut andil dalam pemukulan tifa. Menurut saya ini menjadi salah satu cara untuk mempertahankan budaya yang ada.  
Pemukul Tifa

Setidaknya terdapat tiga 3 rekor tercipta dalam Pembukaan Festival Biak Munara Wampasi tahun ini, Pertama). Penghargaan Dunia Official World Record Certificate sebagai Largest Traditional Boat dengan ukuran 30 meter dan drum tifa terbanyak; Kedua). Penggagas Perahu Tradisional Terbesar dan Drum Tifa dari Museum Rekor Indonesia (Muri); Ketiga). Penyelengaraa Perahu Tradisional Terbesar dan Drum Tifa Dewan Kesenian Biak.  

Perahu yang memecahkan rekor tersebut merupakan perahu tradisional masyarakat Biak zaman dulu yang digunakan untuk melaut. Terbuat dari kayu dengan dua layar ditambah penyeimbang di sisi kiri dan kanan, perahu ini tidak menggunakan mesin tetapi menggunakan dayung. Namun karena perkembangan zaman dan teknologi, perlahan-lahan perahu ini tidak digunakan lagi. Sehingga untuk memperkenalkan kembali kepada khalayak umum dibuatlah perahu tersebut dan ditampilkan dalam Festival Biak Munara Wampasi.

Tidak sampai disitu dalam pembukaan Festival Biak Munara Wampasi ini ada beberapa penampilan yang mengangkat budaya setempat, seperti “Tarian Wobe Kakaro” yang dibawakan oleh anak-anak muda dari daerah Bakribo, bahkan ada penampilan “Tarian Lemon Nipis” dari Jayapura. Ada pula penampilan artis lokal, Paduan Suara Remaja dan Pemuda Kabupaten Biak Numfor yang akan mengikuti lomba Pesparawi Se-Tanah Papua di Kaimana, serta masih banyak lagi.
Tarian Wobe Kakaro

Semarak pembukaan Festival Biak Munara Wampasi Tahun 2017 tidak hanya dihadiri oleh masyarakat setempat tetapi dihadiri oleh orang-orang penting, tidak hanya dirasakan oleh masyarakat setempat tetapi juga masyarakat luar biak, tidak hanya sekedar festival tetapi lebih menonjolkan adat budaya setempat, tidak hanya festival semata tetapi pemecahan tiga rekor sekaligus. Festival Biak Munara Wampasi bukan hanya acara seremonial semata, tetapi untuk menunjukkan kepada orang diluar sana bahwa Biak memiliki potensi pariwata yang unggul, baik budaya maupun alam yang dimiliki. Sehingga dengan adanya festival ini maka wisatawan akan berbondong-bondong untuk datang ke Biak, melihat dan merasakan secara langsung apa yang disuguhkan oleh Biak.
Tarian Lemon Nipis

Pembukaan Festival Biak Munara Wampasi ini hanya segelintir dari cerita Festival BMW, cerita yang lain selama 3 hari akan saya bagikan ditulisan berikutnya, jadi jangan ketinggalan, jangan lupa komentarnya….

Salam dari Biak

Jangan lupa ke Biak

19 May 2017

Air Terjun Nermnudo

Biak yang terletak di Provinsi Papua memang tidak akan habisnya untuk dieksplore, menginjakkan kaki di berbagai destinasi wisata yang dimiliki daerah ini. Langkah kaki saya pun mengantarkan ke salah satu destinasi wisata Air Terjun. Kali ini saya bersama teman (Kak Alik) menjelajah ke arah Biak Utara.

Biak Utara merupakan salah satu pilihan yang tepat jika berkunjung ke Biak dalam waktu yang singkat. Hal ini karena mulai dari Kota Biak sampai ke Biak Utara, kita akan menemui dan melewati beberapa tempat wisata. Sebut saja Telaga Binsiwu, Telaga Hijau, Pantai Wari, Air Terjun Sripori, Batu Picah, Air Terjun Karmon, Air Terjun Wafsarak dan pastinya Air Terjun Nermnudo yang menjadi tujuan kami saat ini semua ini akan kita temui saat melangkahkan kaki ke Biak Utara.

Kami menggunakan motor menuju Biak Utara. Jalanan sudah bagus, beraspal. Air Terjun Nermnudo berlokasi di Kampung Nermnu, Biak Utara dengan perjalanan dari Kota Biak memakan waktu sekitar 1 jam-an. Air Terjun Nermnudo sebagai pilihan kami kali ini tidaklah terlalu susah untuk ditemukan, banyak-banyak bertanya kepada warga ditambah teman saya yang bersama-sama pergi sudah pernah berkunjung sebelumnya. Tak tau persis nama tempat saat kami belok kirim, mulai memasuki daerah Nermnudo. Sekitar 5 menit dari kami belok kiri tadi, kami sampai di sebuah gereja dengan gerbang berbentuk bintang. Kami parkir motor sekitar gereja dan melanjutkan perjalanan dengan menyusuri jalan setapak lewat samping gereja.
Pintu gerbang menuju gereja

Perjalanan lumayan menguras tenaga ditambah panas. Tetapi setidaknya bisa berkurang karena pepohonan dan semak-semak yang tumbuh rimbun. Tak ketinggalan suara gemericik air sungai yang tak jauh dari jalanan setapak yang kami lalui. Jalanan belum bagus karena masih melewati jalan setapak dan beralaskan tanah belum beraspal.  Kami harus menuruni jalanan setapak untuk tiba di air terjun.
Jalan setapak menuju air terjun

Nama Air Terjun Nermnudo tak asal diberi nama, tetapi ada makna dibalik nama tersebut. Do dalam bahasa setempat berarti Bawah, sedangkan Nermnu adalah nama kampung lokasi air terjun. Jadi jika diartikan Air Terjun Nermnudo adalah air terjun yang terletak di bawah Kampung Nermnu. Ini memang benar karena Air Terjun ini berada di bawah kampung dan harus menuruni kampung untuk tiba.

Air Terjun Nermnudo tidak seperti air terjun pada umumnya karena tidak terlalu tinggi dan seperti yang saya katakan tadi bahwa untuk mencapai tempat ini kita menuruni bukit dan berjalan berdampingan dengan sungai sehingga puncak Air Terjun Nermnudo akan terlebih dahulu kita temui. Kita harus melangkahkan kaki turun untuk melihat air terjun dari bawah. Sayangnya saat kami berkunjung volume air yang mengalir tidaklah banyak karena bukan musim penghujan. Saat kami tiba, tidak seorang wisatawan pun yang berkunjung ke tempat ini.
Air Terjun Nermnudo

Dasar Air Terjun Nermnudo terbentuk sungai yang lumayan besar bernama Sungai Korem yang memiliki pasir putih. Kami tidak sempat untuk turun sampai ke bawah sungai karena diburu waktu untuk melanjutkan perjalanan. Beberapa saat setelah kami tiba, beberapa anak-anak Nermnu pun datang dan menikmati alam yang telah dikaruniakan kepada mereka. Mereka lebih memilih untuk berenang dan bermain di sungai.
Sungai Korem

Bicara mengenai fasilitas wisatawa yang tersedia di tempat ini, hanya sebuah pondok sederhana yang kemungkinan didirikan oleh masyarakat setempat, selebihnya tidak ada. Kita tidak akan menemukan kamar mandi dan kamar ganti, tempat sampah bahkan papan nama dari air terjun ini. Perlu hati-hati saat berjalan karena jalan licin dan masih sangat alami, belum ada tangga permanen untuk turun ke dasar air terjun. Di tempat ini kita tidak akan merasa kepanasan karena pepohonan tumbuh dengan rimbun dan masih sangat alami. Semoga tempat ini mendapat perhatian dari pihak yang berwenang dan kealamian tempat ini tetap terjaga.
Pondok sederhana


13 May 2017

Perjalanan berlanjut, setelah dari Danau Love. Kami putar arah kembali ke arah Sentani. Saat kami berangkat ke Danau Love kami melewati sebuah jembatan, nah di sekitar jembatan tersebut ada sebuah jalanan seperti tracking yang dibuat oleh warga menyusuri sungai. Sehingga ketika kami kembali dari Danu Love, kami pun singgah di tempat ini… Saat kami tiba tak seorang pun pengunjung yang datang. Papan nama pun tak ada…
Bukit Teletubbies, Papua

Untungnya, teman saya mengupload foto tempat ini sehingga saya dapat mengetahui namanya…. “Kali Jodoh”, nama yang terbilang unik… Memang tempat ini berupa kali ato sungai jadi bisalah diberi nama Kali… Nahhh Jodoh-nya ini entah dari mana asalnya… Mungkin para pendiri tempat ini berharap bagi wisatawan yang berkunjung enteng jodoh ato salah satu pendirinya menemukan jodoh di tempat ini… Entahlah mana yang benar… Mau bertanya juga sia-sia, saat kami berkunjung tak seorang pun kelihatan batang hidungnya.

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts