23 September 2017

Menulis di blog memang rada-rada susah, bukan hanya butuh cerita sebagai bahan dalam tulisan, tetapi butuh ketekunan dalam menulis. Apabila sudah berhenti sekali saja menulis di blogg, perlahan-lahan rasa malas menulis akan terbawa sampai susah untuk mengembalikan mood menulis. Seperti yang saya alami beberapa bulan ini. Blog saya tidak pernah tersentuh lagi oleh tulisan-tulisan yang tidak jelas… Hehehe (tulisannya belum se-profesional penulis handal). Saat ini saya sedang berusaha untuk memulai lagi….

Puasa menulis di blog sekitar 3 bulan akhirnya saya kembali berusaha untuk mengembalikan semangat (dengan semangat 45) menulis. Tulisan saya kali ini tak jauh-jauh, masih seputaran Biak. Setelah beberapa bulan tinggal di Biak, salah satu kegiatan yang saya tunggu-tunggu dan ingin melihat serta merasakan secara langsung datang juga, apalagi kalo bukan Festival Biak Munara Wampasi. Kali ini saya akan membagi cerita dan informasi Festival Biak Munara Wampasi sebagai salah satu kegiatan tahunan yang ada di Biak, bukan hanya saya yang menunggu kegiatan ini, tetapi warga Biak Biak bahkan mungkin orang-orang yang di luar Biak terlebih yang suka traveling dan suka dunia wisata dan budaya dengan penuh antusias akan mengikuti setiap rangkaian festival ini.

Indonesia tidak hanya terkenal dengan alam yang menakjubkan. Perpaduan alam dan budaya yang dimiliki oleh Indonesia menjadi nilai tambah dalam meningkatkan kunjungan wisatawan. Setiap daerah memiliki alam yang berbeda dan pastinya budaya yang berbeda pula. Seiring berkembangnya zaman, beberapa daerah di Indonesia melalui pemerintah setempat mengemas acara-acara yang menitikberatkan pada alam dan budaya untuk lebih menarik minat wisatawan dalam sebuah festival, sebut saja Toraja International Festival di Toraja, Festival Danau Sentani di Jayapura, Festival Danau Toba di Sumatera Utara, dan masih banyak lagi.

Biak sebagai salah satu daerah yang terletak di Indonesia bagian timur tak ketinggalan untuk mengemas pariwisata dalam sebuah festival untuk menarik wisatawan supaya berbondong-bondong datang berkunjung ke Biak. Festival tersebut bernama Festival Biak Munara Wampasi atau di singkat  Festival BMW dan sudah masuk ke dalam kalender nasional Kementerian Pariwisata. Tahun 2017 ini merupakan penyelenggaraan kali ke 5 Festival BMW yang berlangsung selama 4 hari yakni 1 – 4 Juli 2017. Munara Wampasi dalam bahasa setempat berarti air surut. Pemilihan waktu pelaksanaan pada bulan Juli dirasa tepat karena menurut perhitungan masyarakat setempat bahwa pada bulan tersebut air laut akan surut terendah.
Pembukaan Festival Biak Munara Wampasi

Pembukaan Festival ini dilaksanakan pada Sabtu, 1 Juli 2017 bertempat di Nirmala Beach Hotel. Pelataran hotel yang langsung berhadapan dengan laut menjadi pilihan pelaksanaan pembukaan festival. Turut hadir dalam pembukaan Festival Biak Munara Wampasi, Ibu Yohana Yambise selaku Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sekaligus membuka festival, Ibu Esthy Reko Astuti selaku Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Bapak Thomas Alfa Ondy (Bupati Biak Numfor) dan Bapak Herry Naap (Wakil Bupati Biak Numfor), Ketua DPR Kabupaten Biak Numfor dan beberapa kepala SKPD lainnya.

Ini kali pertama saya mengikuti Festival Biak Munara Wampasi. Pembukaan yang cukup meriah dan dihadiri bukan hanya pejabat tetapi masyarakat Biak dari berbagai daerah datang untuk melihat secara langsung pembukaan festival ini bahkan beberapa wisatawan yang berasal dari luar Biak.

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah saat memasuki tempat pembukaan para tamu akan disambut oleh pukulan tifa dari sekitar 800-an orang lengkap dengan kostum khas Papua. Bukan hanya orang dewasa tetapi anak kecil, bukan hanya laki-laki tetapi perempuan pun turut andil dalam pemukulan tifa. Menurut saya ini menjadi salah satu cara untuk mempertahankan budaya yang ada.  
Pemukul Tifa

Setidaknya terdapat tiga 3 rekor tercipta dalam Pembukaan Festival Biak Munara Wampasi tahun ini, Pertama). Penghargaan Dunia Official World Record Certificate sebagai Largest Traditional Boat dengan ukuran 30 meter dan drum tifa terbanyak; Kedua). Penggagas Perahu Tradisional Terbesar dan Drum Tifa dari Museum Rekor Indonesia (Muri); Ketiga). Penyelengaraa Perahu Tradisional Terbesar dan Drum Tifa Dewan Kesenian Biak.  

Perahu yang memecahkan rekor tersebut merupakan perahu tradisional masyarakat Biak zaman dulu yang digunakan untuk melaut. Terbuat dari kayu dengan dua layar ditambah penyeimbang di sisi kiri dan kanan, perahu ini tidak menggunakan mesin tetapi menggunakan dayung. Namun karena perkembangan zaman dan teknologi, perlahan-lahan perahu ini tidak digunakan lagi. Sehingga untuk memperkenalkan kembali kepada khalayak umum dibuatlah perahu tersebut dan ditampilkan dalam Festival Biak Munara Wampasi.

Tidak sampai disitu dalam pembukaan Festival Biak Munara Wampasi ini ada beberapa penampilan yang mengangkat budaya setempat, seperti “Tarian Wobe Kakaro” yang dibawakan oleh anak-anak muda dari daerah Bakribo, bahkan ada penampilan “Tarian Lemon Nipis” dari Jayapura. Ada pula penampilan artis lokal, Paduan Suara Remaja dan Pemuda Kabupaten Biak Numfor yang akan mengikuti lomba Pesparawi Se-Tanah Papua di Kaimana, serta masih banyak lagi.
Tarian Wobe Kakaro

Semarak pembukaan Festival Biak Munara Wampasi Tahun 2017 tidak hanya dihadiri oleh masyarakat setempat tetapi dihadiri oleh orang-orang penting, tidak hanya dirasakan oleh masyarakat setempat tetapi juga masyarakat luar biak, tidak hanya sekedar festival tetapi lebih menonjolkan adat budaya setempat, tidak hanya festival semata tetapi pemecahan tiga rekor sekaligus. Festival Biak Munara Wampasi bukan hanya acara seremonial semata, tetapi untuk menunjukkan kepada orang diluar sana bahwa Biak memiliki potensi pariwata yang unggul, baik budaya maupun alam yang dimiliki. Sehingga dengan adanya festival ini maka wisatawan akan berbondong-bondong untuk datang ke Biak, melihat dan merasakan secara langsung apa yang disuguhkan oleh Biak.
Tarian Lemon Nipis

Pembukaan Festival Biak Munara Wampasi ini hanya segelintir dari cerita Festival BMW, cerita yang lain selama 3 hari akan saya bagikan ditulisan berikutnya, jadi jangan ketinggalan, jangan lupa komentarnya….

Salam dari Biak

Jangan lupa ke Biak

19 May 2017

Air Terjun Nermnudo

Biak yang terletak di Provinsi Papua memang tidak akan habisnya untuk dieksplore, menginjakkan kaki di berbagai destinasi wisata yang dimiliki daerah ini. Langkah kaki saya pun mengantarkan ke salah satu destinasi wisata Air Terjun. Kali ini saya bersama teman (Kak Alik) menjelajah ke arah Biak Utara.

Biak Utara merupakan salah satu pilihan yang tepat jika berkunjung ke Biak dalam waktu yang singkat. Hal ini karena mulai dari Kota Biak sampai ke Biak Utara, kita akan menemui dan melewati beberapa tempat wisata. Sebut saja Telaga Binsiwu, Telaga Hijau, Pantai Wari, Air Terjun Sripori, Batu Picah, Air Terjun Karmon, Air Terjun Wafsarak dan pastinya Air Terjun Nermnudo yang menjadi tujuan kami saat ini semua ini akan kita temui saat melangkahkan kaki ke Biak Utara.

Kami menggunakan motor menuju Biak Utara. Jalanan sudah bagus, beraspal. Air Terjun Nermnudo berlokasi di Kampung Nermnu, Biak Utara dengan perjalanan dari Kota Biak memakan waktu sekitar 1 jam-an. Air Terjun Nermnudo sebagai pilihan kami kali ini tidaklah terlalu susah untuk ditemukan, banyak-banyak bertanya kepada warga ditambah teman saya yang bersama-sama pergi sudah pernah berkunjung sebelumnya. Tak tau persis nama tempat saat kami belok kirim, mulai memasuki daerah Nermnudo. Sekitar 5 menit dari kami belok kiri tadi, kami sampai di sebuah gereja dengan gerbang berbentuk bintang. Kami parkir motor sekitar gereja dan melanjutkan perjalanan dengan menyusuri jalan setapak lewat samping gereja.
Pintu gerbang menuju gereja

Perjalanan lumayan menguras tenaga ditambah panas. Tetapi setidaknya bisa berkurang karena pepohonan dan semak-semak yang tumbuh rimbun. Tak ketinggalan suara gemericik air sungai yang tak jauh dari jalanan setapak yang kami lalui. Jalanan belum bagus karena masih melewati jalan setapak dan beralaskan tanah belum beraspal.  Kami harus menuruni jalanan setapak untuk tiba di air terjun.
Jalan setapak menuju air terjun

Nama Air Terjun Nermnudo tak asal diberi nama, tetapi ada makna dibalik nama tersebut. Do dalam bahasa setempat berarti Bawah, sedangkan Nermnu adalah nama kampung lokasi air terjun. Jadi jika diartikan Air Terjun Nermnudo adalah air terjun yang terletak di bawah Kampung Nermnu. Ini memang benar karena Air Terjun ini berada di bawah kampung dan harus menuruni kampung untuk tiba.

Air Terjun Nermnudo tidak seperti air terjun pada umumnya karena tidak terlalu tinggi dan seperti yang saya katakan tadi bahwa untuk mencapai tempat ini kita menuruni bukit dan berjalan berdampingan dengan sungai sehingga puncak Air Terjun Nermnudo akan terlebih dahulu kita temui. Kita harus melangkahkan kaki turun untuk melihat air terjun dari bawah. Sayangnya saat kami berkunjung volume air yang mengalir tidaklah banyak karena bukan musim penghujan. Saat kami tiba, tidak seorang wisatawan pun yang berkunjung ke tempat ini.
Air Terjun Nermnudo

Dasar Air Terjun Nermnudo terbentuk sungai yang lumayan besar bernama Sungai Korem yang memiliki pasir putih. Kami tidak sempat untuk turun sampai ke bawah sungai karena diburu waktu untuk melanjutkan perjalanan. Beberapa saat setelah kami tiba, beberapa anak-anak Nermnu pun datang dan menikmati alam yang telah dikaruniakan kepada mereka. Mereka lebih memilih untuk berenang dan bermain di sungai.
Sungai Korem

Bicara mengenai fasilitas wisatawa yang tersedia di tempat ini, hanya sebuah pondok sederhana yang kemungkinan didirikan oleh masyarakat setempat, selebihnya tidak ada. Kita tidak akan menemukan kamar mandi dan kamar ganti, tempat sampah bahkan papan nama dari air terjun ini. Perlu hati-hati saat berjalan karena jalan licin dan masih sangat alami, belum ada tangga permanen untuk turun ke dasar air terjun. Di tempat ini kita tidak akan merasa kepanasan karena pepohonan tumbuh dengan rimbun dan masih sangat alami. Semoga tempat ini mendapat perhatian dari pihak yang berwenang dan kealamian tempat ini tetap terjaga.
Pondok sederhana


13 May 2017

Perjalanan berlanjut, setelah dari Danau Love. Kami putar arah kembali ke arah Sentani. Saat kami berangkat ke Danau Love kami melewati sebuah jembatan, nah di sekitar jembatan tersebut ada sebuah jalanan seperti tracking yang dibuat oleh warga menyusuri sungai. Sehingga ketika kami kembali dari Danu Love, kami pun singgah di tempat ini… Saat kami tiba tak seorang pun pengunjung yang datang. Papan nama pun tak ada…
Bukit Teletubbies, Papua

Untungnya, teman saya mengupload foto tempat ini sehingga saya dapat mengetahui namanya…. “Kali Jodoh”, nama yang terbilang unik… Memang tempat ini berupa kali ato sungai jadi bisalah diberi nama Kali… Nahhh Jodoh-nya ini entah dari mana asalnya… Mungkin para pendiri tempat ini berharap bagi wisatawan yang berkunjung enteng jodoh ato salah satu pendirinya menemukan jodoh di tempat ini… Entahlah mana yang benar… Mau bertanya juga sia-sia, saat kami berkunjung tak seorang pun kelihatan batang hidungnya.

21 April 2017

Pantai Sekfamner

Kunjungan ke destinasi ini sebenarnya tidak terencana. Awalnya saya bersama teman kantor hanya ingin menyusul teman kantor lainnya yang sedang berkunjung ke kampung halamannya di Biak Utara. Kami pun berangkat dari Kota Biak menggunakan motro. Sampai di sana teman kami tak ada di tempat, kata keluarga teman kami. Mungkin mereka ke pantai.

13 April 2017

Teaching di SDN Mosso, dilanjutkan dengan traveling ke Perbatasan RI-PNG di Skouw, Pesawat dalam hutan di daerah Doyo dan terakhir ke Pantai Holtekam di Koya. Habis itu kembali ke Abepura istirahat, makan malam dan karokean bersama beberapa tim 1000_guru_papua. Besok, masih ada sisa satu hari untuk berkunjung ke beberapa destinasi wisata di Jayapura dan sekitarnya sebelum kembali ke Biak.
Teaching SDN Mosso

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts