21 April 2017

Pantai Sekfamner

Kunjungan ke destinasi ini sebenarnya tidak terencana. Awalnya saya bersama teman kantor hanya ingin menyusul teman kantor lainnya yang sedang berkunjung ke kampung halamannya di Biak Utara. Kami pun berangkat dari Kota Biak menggunakan motro. Sampai di sana teman kami tak ada di tempat, kata keluarga teman kami. Mungkin mereka ke pantai.

13 April 2017

Teaching di SDN Mosso, dilanjutkan dengan traveling ke Perbatasan RI-PNG di Skouw, Pesawat dalam hutan di daerah Doyo dan terakhir ke Pantai Holtekam di Koya. Habis itu kembali ke Abepura istirahat, makan malam dan karokean bersama beberapa tim 1000_guru_papua. Besok, masih ada sisa satu hari untuk berkunjung ke beberapa destinasi wisata di Jayapura dan sekitarnya sebelum kembali ke Biak.
Teaching SDN Mosso

10 April 2017

Patung Lakipadada di Kolam Makale

Toraja… Kata yang mungkin tidak asing bagi kita… Siapa yang tidak kenal Toraja ??? Siapa yang tidak ingin ke Toraja ???. Toraja sudah terkenal sampai ke luar negeri. Banyak hal yang membuat Toraja dikenal dimana-mana dan ingin untuk mengunjungi Toraja.

06 April 2017

Bersama anak-anak Kampung Mosso

Luas daratan Indonesia lebih kecil dibanding luas lautan dengan perbandingan 1/3 : 2/3. Terlepas dari hal tersebut, daratan Indonesia menjadi pemukiman bagi masyarakat dengan kekayaan yang luar biasa, hutan yang luas, tanah yang subur, alam bahari yang mempesona dan sebagainya. Namun demikian beberapa diantaranya sudah mengalami penurunan karena tangan-tangan yang kurang bertanggung jawab. Penduduk Indonesia tersebar dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Pulau Rote. Ada yang tinggal di perkotaan ada pula yang tinggal dipedesaan, ada yang tinggal di daerah yang sangat berkembang ada pula yang tinggal di pedalaman, ada yang tinggal dekat dengan ibukota ada pula yang tinggal di daerah perbatasan.

03 April 2017

Traveling saat ini sudah menjadi kebutuhan dan gaya hidup bagi tiap orang. Tak memandang usia dan status sosial. Mulai dari anak-anak, dewasa, orang tua bahkan lanjut usia, baik golongan atas maupun menengah kebawah (golongan saya ini, malah dibawahnya lagi). Sebenarnya traveling tidak melulu menghabiskan uang atau hanya orang yang berada yang bisa melakukannya, tetapi tergantung cara melakukan traveling tersebut. Mau yang mewah atau yang murah meriah (pilihan saya ini), tetapi tetap mengutamakan kenyamanan dan keamanan. Sebut saja para backpacker, melakukan traveling dengan dana mini, namun melanglang buana ke berbagai destinasi wisata. Mencari tiket terjangkau atau promo, memilih penginapan yang murah bahkan gratis, menggunakan angkutan umum untuk eksplor wisata. Bisa menjadi pilihan traveling saat dompet tipis.
Perbatasan RI-PNG

Destinasi wisata untuk traveling pun beranekaragam, ada yang mengunjungi tempat bersejarah, modern, wisata religi, main ke laut dan pulau, tracking dan mendaki gunung dan sebagainya. Tujuannya pun tak sekedar di dalam negeri, tetapi banyak para traveler memilih untuk traveling ke luar negeri. Pilihan traveling ke LN bukan tanpa sebab, selain ingin melihat dan menikmati hidup negeri orang, pertimbangan biaya khususnya transportasi lebih murah (khususnya asia tenggara) dibanding traveling ke beberapa daerah di Indonesia (termasuk Papua). Walaupun mahal, setidaknya sebanding dengan apa yang didapatkan destinasi wisata di Papua tak kalah keren dari luar negeri, budaya dan alam masih terjaga.

Kembali traveling ke LN, kebanyakan orang akan memilih Singapura, Malaysia, Thailand karena pertimbangan tiket murah (kalo berangkatnya dari Jakarta). Padahal tak perlu jauh-jauh lhooo… Beberapa daratan Indonesia berbatasan dengan negara lain (memang tiket lumayan di atas), seperti Nusa Tenggara Timur yang berbatasan dengan Timor Leste, Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia serta Papua yang berbatasan dengan Papua New Guinea (PNG).  

Karena saya sekarang domisili di Papua (tepatnya Biak, bukan daratan utama Papua) tak ada salahnya jika saya berkunjung ke luar negeri (read. perbatasan.. hehehe), Papua New Guinea. Bersama komunitas 1000_guru_papua, saya dan beberapa orang lainnya dari berbagai latar belakang profesi dan daerah, kami disatukan dalam sebuah kegiatan bernama, Traveling and Teaching #8. Kegiatan ini merupakan program dari komunitas 1000_guru yang tersebar beberapa region di Indonesia, termasuk di Papua. Program yang menawarkan kepada kalangan anak muda tanpa memandang profesi untuk traveling mengunjungi tempat indah di Indonesia sambil berbagi.
TnT #8 1000_guru_papua


Kesempatan untuk ikut Traveling and Teaching (TnT) #8, saya dapatkan saat melihat postingan di akun Instagram 1000_guru_papua. Infonya ada open recruitmen sebagai volunteer dalam kegiatan TnT, kegiatan Traveling ke daerah perbatasan RI-PNG, Teaching di SDN Mosso. Saya mendaftar dan akhirnya saya diterima. Perjalanan dari proses pendaftaran dan kegiatan teaching sudah saya posting sebelumnya. Traveling kali ini bukan traveling biasa, tetapi bukan traveling biasa. Traveling yang luar biasa dan sangat bermakna memberi banyak kesan dan pelajaran. Sambil traveling sambil berbagi, berbagi motivasi, berbagi semangat, berbagi canda dan tawa, berbagi sedikit ilmu (walaupun masih saya masih butuh motivasi, semangat, canda tawa dan pastinya ilmu).


Setelah kegiatan teaching pagi hari selesai dengan beberapa kegiatan (mengajar di kelas dan outbond), malamnya ditutup dengan pentas seni. Kami bermalam di sekolah sebelum esoknya melanjutkan kegiatan traveling. Paginya, persiapan traveling, sarapan (mendukung untuk melakukan traveling banyak pilihan menunya, terima kasih tim konsumsi 1000_guru_papua… lanjutkan di next TnT), mendengarkan budaya yang ada di Mosso dari Bapak Kepala Sekolah SDN Mosso, kemas barang untuk traveling sekalian pulang.

Kembali menaiki mobil Badan SAR Nasional menuju Skouw, daerah perbatasan RI-PNG. Masih ditemani hembusan debu, untungnya perjalanan tidak memakan waktu banyak untuk sampai ke tujuan traveling, sekitar 1 jam-an. Sebenarnya di Papua terdapat dua pintu masuk perbatasan, selain di Skouw, Jayapura adapula di Sota, Merauke. Memasuki daerah perbatasan, terlihat sementara dalam proses pembangunan. Beberapa gedung sedang dibangun. Pegunjung yang datang banyak, terlihat dari area parkir yang padat kendaraan baik motor maupun mobil (parkir pesawat dan kereta apa belum ada yakkk).
Menuju Skouw (Perbatasan)

Kami cepat-cepat menuju gerbang perbatasan untuk melintasi perbatasan RI-PNG dan meninjakkan kaki di PNG (walau hanya perbatasan, setidaknya sudah ke LN… hehehe) karena ternyata ada jam buka tutup di daerah perbatasan, saya kurang ingat jam berapa buka tutupnya, mungkin sekitar jam 16.00 waktu setempat. Melintasi sebuah gerbang besar dengan logo garuda di salah satu sisinya dan ukiran khas papua di beberapa sisi lainnya. Kalo di lihat dari arah PNG terdapat tulisan “Selamat Datang Di Indonesia – Welcome To Indonesia”. Di balik pagar besi dari arah Indonesia, terdapat pula tulisan “Welcome To Papua New Guinea – Welkam Long Papua Nuigini – Jesus Christ Is Love Over This Land” menyambut kedatangan para pengujung ke PNG.
Gerbang Perbatasan RI-PNG

Welcome To PNG

Kami terus melangkahkan kaki menyeberangi sebuah gerbang kecil yang hanya bertuliskan “In-Masuk”. Setelah menyeberang, kami melewati sebuah kantor kecil, kemungkinan tempat memperlihatkan kartu perbatasan bagi penduduk Indonesia yang akan menyeberang ke PNG ataupun sebaliknya penduduk PNG yang akan menyeberang ke Indonesia. Kami tak punya kartu tersebut karena kami hanya datang traveling, sekedar di perbatasan dan hanya sebentar, kartu tersebut khusus untuk penduduk yang berdomisili di perbatasan.
Gerbang Masuk

Terus berjalan, menyeberangi gerbang kecil. Sampailah kami di luar negeri, Papua New Guinea (read. perbatasan). Sebuah papan bertuliskan “Papua New Guinea International Border – Wutung Border – West Sepik Province – Thank you for Visiting Papua New Guinea – We Hope to see you again on your next visit”. Dari papan tersebut kita dapat informasi bahwa, daerah ini bernama Wutung, Provinsi Sepik Barat (mungkin… hehehe).
Thank You For Visiting PNG

Disekitar tempat ini, terdapat banyak pejual ole-oleh khas perbatasan, Papua New Guinea. Ada penjual makanan, salah satu makanan yang bisa dicoba adalah Sosis Daging Domba berukuran jumbo yang dibandrol dengan harga Rp. 25.000/buah, adapula pisang goreng. Tak ketinggalan cemilan dan baju khas PNG. Tak perlu khawatir soal bahasa karena penjual bisa dan mengerti Bahasa Indonesia, begitupun dengan uang karena disini para penjual masih melakukan transaksi jual beli menggunakan mata uang rupiah selain kina (mata uang PNG).
Jual Sosis Domba & Pisang Goreng

Tempat ini berada di daerah dataran tinggi, sehingga kita akan melihat PNG berada di bawah berupa daerah pesisir yang berbatasan dengan lautan. Sayangnya saya tidak sempat mengambil gambar. Karena terbatas waktu kami hanya sebentar di tempat ini, melihat kehidupan dan kesibukan di perbatasan dan penduduk PNG yang beraktivitas di daerah perbatasan, mengambil beberapa gambar, melihat PNG  yang berada di bawah dari ketinggian.

Kembali putar arah menuju Indonesia. Sebenarnya di perbatasan ini terdapat sebuah Menara yang dapat dinaiki untuk melihat PNG lebih jelas karena letakknya yang lebih tinggi, tetapi karena beberapa hal dan pertimbangan, kami tidak bisa merasakan sensasi tersebut.
Menara Pandang

Tim masih memberikan kesempatan sebentar untuk berfoto ria, terdapat beberapa spot yang bisa menjadi pilihan background untuk mengambil gambar sebagai bukti bahwa sudah menginjakkan kaki di Skouw, Perbatasan RI-PNG. Terdapat fontbox bertuliskan “Border Post Of Indonesia” berwarna Merah Putih sebagai warna yang identic dengan negara kita, Indonesia. Adapula berdiri kokoh patung Garuda sebagai lambang dan tulisan “Bhineka Tunggal Ika” sebagai semboyan negara Indonesia. Habis itu, kami kembali ke Jayapura (read. Abepura).

Spot Foto Perbatasan RI-PNG

Katanya bukan 1000_guru_papua jika tidak ada surprise saat kegiatan Traveling and Teaching. Saat Teachnical Meeting dan brosur TnT #8 tertulis lokasi traveling hanya di Skouw, Perbatasan RI-PNG. Tetapi ternyata tim sudah menyiapkan kejutan untuk volunteer, setelah dari perbatasan, kami dibawa (tetap menggunakan mobil BASARNAS) ke daerah Doyo. Mengunjungi salah satu destinasi wisata baru. Biasanya pesawat diparkir di anggar, tapi kalo di Jayapura pesawat diparkir di dalam hutan…. Hahahaha… Inilah tujuan kami, mengunjungi pesawat di dalam hutan. Katanya pesawat ini nantinya akan dijadikan restoran. Sayangnya saat kami tiba di tempat, ternyata tidak bisa masuk karena dipisahkan oleh kali  sedangkan jembatan penyeberangan tertutup rapat dan terkunci. Jadilah, kami hanya melihat dair luar dan dari kejauha, tetap yang penting sudah liat dan berkunjung. Ini baru surprise 1. Lanjut ke surprise 2…
Pesawat di Tengah Hutan

Pantai Holtekam, terletak di daerah Koya, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura. Pantainya bukan pasir putih, barisan pohon kelapa di sekitar pantai setidaknya menambah nuansa alam. Dibalik itu, pantai ini tak luput dari sampah yang berserahkan akibat ulah dari pengunjung yang tidak bertanggung jawab membuang sampah sembarang.
Pantai Holtekam


Masih ada Sampah

Habis itu… Kami benar-benar kembali ke Jayapura, tidak ada surprise lagiiii… Malam menyelimuti saat kami tiba di Jayapura… Malamnya, setelah sebentar berisitrahat… Beberapa dari kami masih ngumpul makan malam dan karokean…

Besok lanjut eksplore destinasi lain di Jayapura dan sekitarnya sebelum balik ke Biak… Don’t miss it….

Galeri Traveling ke Perbatasan RI-PNG








Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts