01 November 2018


Setelah hibernasi kurang lebih 6 bulan. Akhirnya blog ini terupdate juga. Memang benar kalau menulis itu butuh ketekunan, seberapa pun banyaknya tulisan itu karena ketika sudah mulai malas untuk menulis akan terbawa suasana dan pada akhirnya keinginan menulis pun hilang sama sekali. Susahnya adalah mengembalikan semangat untuk memulai tulisan. Seperti yang saya alami, bayangkan 6 bulan tidak menghasilkan tulisan satu pun. Ini bukan tentang kesibukan tidak ada waktu menulis juga bukan soal bahan tulisan yang tidak ada, tetapi memang rasa malas tersebut tertimbun dan membatu selama itu, sekali lagi 6 bulan.

Pada akhirnya, menulis sama halnya dengan menanam sesuatu. Diawali dengan memilih biji yang akan ditanam itulah kisah yang akan ditulis, membibit sebagai merangkai huruf per huruf menjadi kalimat, menanam bibit tersebut menjadi tanaman seperti menyusun kalimat menjadi paragraf dan menjadi sebuah kisah yang utuh. Tak sampai disitu, tanaman yang baru ditanam perlu perhatian lebih, bagaimana merawat dengan baik, memberi pupuk, menyiram dengan air sehingga terhindari dari layu bahkan mati dan tak bisa tumbuh lagi. Begitu pun dengan tulisan, setelah menjadi sebuah kisah tidak hanya berhenti disitu, perlu kisah-kisah yang lain yang harus ditulis. Menjaga semangat dan ketekunan menulis sehingga tidak padam oleh rasa malas.

Yang diatas cuman kata pengantar bisa sebagai motivasi untuk tetap menulis sekecil apapun... 

Nah selanjutnya... Isi tulisan ini hanyalah...

Perjalanan saya menelusuri daratan Flores pun berlanjut. Sehabis dari Kelimutu dan mengunjungi beberapa tempat wisata di sekitaran Ende ala-ala backpacker. Dengan menggunakan travel, sayapun melanjutkan perjalanan ke Bajawa. Kevin, teman saya di Ende mengantarkan saya ke terminal untuk mencari mobil yang akan saya gunakan. Terminal yang saya datangi ini kelihatan seperti bukanlah terminal pada umumnya, lebih tepat disebut tempat parkir mobil menunggu penumpang. Tidak ada bagunan layaknya terminal, mobil hanya parkir di pinggir jalan sambil mencari para supir mencari mencari dan menunggu penumpang yang akan menuju daerah tujuan. Hanya saja terdapat beberapa warung yang menjual berbagai makanan dan minuman serta tempat duduk (gasebo) yang sederhana sebagai tempat para penumpang beristirahat sebelum mobil jalan.

Saya masih menunggu sekitar 2 jam di terminal ini, masih sempat baring-baring dan tertidur sebentar sebelum mobil yang saya gunakan berangkat. Perjalanan dari Ende ke Bajawa akan ditempuh selama kurang lebih 3 jam, perjalanan yang lumayan jauh dan pastinya bisa dimanfaatkan untuk tidur. Pemandangan laut masih sempat saya lihat pada awal keberangkatan dan akhirnya saya tertidur juga.

Tujuan saya ke Bajawa tak lain dan tak bukan untuk mengunjungi salah satu kampung adat yang terkenal, Kampung Bena dengan rumah adat yang khas. Perjalanan saya sendiri tanpa ditemnai seorang pun. Untungnyaa di Bajawa saya sudah kontak dengan salah satu pegiat literasi, Bapak Apollo yang kebetulan tinggal di dekat Kampung Bena. Bapak Apollo pun berkenan dan mengajak saya untuk tinggal di rumah beliau sekaligus nanti akan dijemput di terminal.

Perjalanan selama 3 jam sebenarnya tak terlalu terasa lama karena saya kebanyakan tidur, sudah memasuki daerah Bajawa baru saya terbangun. Saya pun turun di terminal kota, tapi ternyata saya salah turun terminal. Harusnya saya turun di salah satu terminal sebelum memasuki kota dan lebih dekat untuk menuju Kampung Bena. Saya turun dari mobil travel dan bertanya ke salah seorang warga cara menuju terminal yang telah saya lewati tadi. Saya harus naik ojek lagi untuk putar balik. Sampai di terminal, ternyata yang jemput saya adalah anak dari Bapak Apollo, bernama Elfrid. Kami pun menuju rumah mereka dengan menggunakan motor. Diatas motor saya bercerita mengenai perjalanan saya untuk eksplore Flores seorang diri dan ini hari kedua saya ada di Tanah Flores.
Kabut Kampung Tradisional Bena

Bajawa merupakan ibukota dari Kabupten Ngada, salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bajawa ternyata lebih dingin dari pada Ende. Bajawa merupakan daerah yang yang dimana setiap kampungnya menjadi kampung tradisional dengan rumah adat. Layaklah bila Bajawa disematkan sebagai surganya kampung tradisional. Seperti yang akan saya kunjungi kali ini, Kampung Bena. Motor tetap melaju menuju Kampung Bena, jalanan sudah termasuk bagus, beraspal. Hawa dingin sudah mulai terasa dan kabut sudah mulai turun karena sudah menjelang sore.

Kami tiba di Kampung Bena yang menjadi tujuan saya. Tiba sekitar pukul 7 kabut sudah mulai turun, tetapi kami tetap melangkahkan kaki. Memasuki kompleks kampung adat kita akan disuguhkan dengan rumah ada berbentuk limas. Kami memasuki kompleks terlihat beberapa warga sedang berkumpul dan anak-anak sedang bermain bola. Kami menuju tempat daftar wisatawan sekaligus membayar tiket masuk seharga Rp. 20.000/orang. Saya sebagai wisatawan diberikan sebuah kain yang nantinya akan diikat di pinggang atau dikalungkan di leher, kain inipun akan dipakai selama berkeliling kompleks.
Kampung Tradisional Bena

Setelah menulis data diri sebagai wisatawan domestik, saya bersama Elfrid berkeliling di kompleks rumah adat yang berjumlah sekitar 40 buah dengan posisi yang saling berhadapan. Rumah adat Bena berbentuk limas dengan atap dari alang-alang dengan dinding dari papan. Ditengah-tengah halaman terdapat tumpukan batu dan menhir-menhir yang digunakan sebagai media dalam upacara adat. Adapula Nga’du yang berbentuk seperti sebuah batu runcing yang menjulang sebagai simbol nenek moyang laki-laki dan Bha’ga bentuknya menyerupai miniatur rumah sebagai simbol nenek moyang perempuan.

Ketika saya berkunjung terlihat beberapa masyarakat yang sedang menenun khususnya perempuan beberapa dari mereka masih remaja. Menenun merupakan mata pencaharian kaum perempuan di tempat ini dan menjadi kewajiban untuk tau menenun sehingga hal ini pun diajarkan secara turun temurun dan melambangkan kedewasaan bagi seorang perempuan. Proses menenunpun masih tradisional dengan bahan dari alam, lamanya menenun tergantung jenis, motif dan ukuran kain yang akan dibuat bisa sampai berbulan-bulan sehingga ini pun membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Kamu laki-laki mata pencaharian yakni berladang dengan menanam jagung, umbi-umbian dan kacang-kacangan, kopi dan kemiri. Hasil baik menenun biasanya dipanjang di depan rumah sehingga pelancong yang datang bisa membelinya, sedangkan untuk hasil berladang nantinya akan dijual di sekitar rumah atau dibawa ke Kota Bajawa.
Anak Perempuan Sedang Menenun

Karena hari semakin malam dan kabut pun sudah mulai turun, kami pun melanjutkan perjalanan ke rumah Efrid sebagai tempat saya menginap. Saya disambut oleh Bapak Appolo dan istri. Saya menemukan keluarga baru ditempat baru ini, mereka menerima saya dengan penuh kehangatan. Tak ada beban di raut wajah mereka, padahal saya baru-baru berkenalan padahal itu lewat pesan di whatsapp.

Paginya hari saya masih berkesempatan untuk berjalan-jalan benar-benar jalan kaki sebelum melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo. Kali ini saya masih ditemani Efrid menunjungi sekolah yang dekat dari rumah tempat saya menginap untuk melihat sekolah yang ditempat Pak Appolo mengajar, saat berkunjung proses mengajar sedang berlangsung. Kemudian kami lanjut ke salah satu kampung adat yang tak jauh dari sekolah hanya berjalan kaki bernama, Kampung Gurusina. Seperti halnya di Kampung Bena. Rumah disini berbentuk limas dengan atap yang terbuat dari rumput-rumputan dan dinding dari kayu, bagian depan beberapa rumah terdapat tanduk kerbau yang dipajang. Mungkin berasal dari kerbau yang digunakan saat upacara adat. Sedikit berbeda dengan Kampung Bena, saat saya berkunjung ke Kampung Gurusina saya hanya melihat seorang ibu yang sedang menenun di depan rumah. Dari Kampung Gurusina ini pun terlihat dengan gagahnya Gunung Inerie yang berarti ibu yang cantik dengan ketinggian 2.245 mdpl berbentuk piramida.
Bersama Erfid

Setelah berfoto ria, kami kembali ke rumah untuk bersiap-siap menuju bandara karea jarak bandara dengan tempat saya menginap lumayan jauh. Saya sempat membeli oleh-oleh berupa gantungan kunci dari serabut atau akar-akar pohon yang dibuat oleh masyarakat di sekitar Kampung Gurusina yang masih menggunakan bahan dari alam dalam proses pewarnaan.
Kampung Tradisional Gurusina

Kembali ke rumah dan melanjutkan perjalanan menuju bandara untuk selanjutnya. Karena memang jiwa-jiwa petualang, kami masih mengunjungi satu tempat wisata lagi karena mumpung dilewati saat menuju bandara.
Spot Foto, Manu Lalu

Manu Lalu menjadi tujuan terakhir saya sebelum berangkat ke bandara meninggalkan Bajawa. Manu Lalu dalam bahasa setempat berarti Ayam Jantan. Sebenarnya tempat ini merupakan sebuah kompleks villa yang berada di atas dataran tinggi. Namun dengan penuh kreativitas villa tersebut disulap menjadi tempat yang patut untuk dikunjungi ketika berada di sekitar Jerebuu. Dari atas tempat ini dari atas bukit, kita akan melihat pemandangan lembah hijau, bukit-bukit serta rumah penduduk di kejauhan serta pemandangan Gunung Inerie. Banyak spot foto ditempat ini, tetapi yang paling terkenal dan paling dicari pengunjung adalah sebuah patung ayam jantan yang berdiri kokoh, seperti nama tempat ini. Entah berselfie, duduk maupun berdiri di atas ayam jantan ini pun bisa dilakukan. Selain itu spot foto berbentuk hati, tempat duduk dan sayap. Beberapa bagian dari tempat ini pun masih dalam proses pengerjaan, seperti jalan setapak dan taman bunga. Saat berkunjung tak seorang pun wisatawan yang ada jadinya sepi. Mungkin karena kami datang kepagian atau apalah. Tak perlu merogoh kocek untuk menikmati panorama yang disuguhkan, hanya dengan membayar Rp. 5.000/orang.
Gunung Inerie

Saya melanjutkan perjalanan setelah mengambil gambar walaupun masih ingin lama di tempat ini, tetapi karena dikejar waktu, sehingga kami harus sesegera mungkin beranjak menuju bandara yang memakan waktu sekitar sejam lebih.

Tak hanya Kampung Tradisional Bena dan Gurusina yang ada di Bajawa, bahkan setiap kampung  yang tersebar di Bajawa memiliki perkampungan layaknya kampung tradisional dengan rumah-rumah adat dalam satu kompleks. Tak ayal jika Bajawa layak mendapat predikat sebagai Surganya Kampung Tradisional

Petualangan saya di tanah Flores masih akan berlanjut… So stay tune on my blog :)

16 May 2018

Setelah sebelumnya saya telah menulis bagaimana perjalanan saya, pertama kali menginjakkan kaki di Danau Kelimutu. Danau yang memiliki keunikan warna dan kepercayaan masyarakat sekitar danau terkait danau itu sendiri. Perjalanan kami pun berlanjut, saya masih ditemani Kevin. Seorang mahasiswa yang baik hati menampung dan menemani perjalanan saya selama di Ende.

Danau Kelimutu bukanlah satu-satunya destinasi wisata yang ada di Ende. Ada banyak pilihan, seperti yang kami kunjungi. Kami tak menyia-nyiakan waktu untuk menjelajah wisata yang ada sehabis dari Kelimutu. Kami masih sempat mengunjungi beberapa tempat wisata yang berada ataupun yang kami lewati sebelum kami tiba di Kota Ende.

Pemandian Air Panas Lia Sembe. Tempat ini akan kita lewati ketika berkunjung ke Danau Kelimutu. Ini tujuan kami yang pertama karena letaknya yang tidak begitu jauh dari jalan raya, kendaraan bisa masuk sampai pos pembelian tiket. Kami pun membayar tiket masuk sebesar Rp. 2.000/orang. Menuruni anak tangga untuk tiba di pemandian. Pemandian ini berdekatan dengan rumah warga dan warga sekitar menjadikan tempat ini untuk mandi dan mencuci pakaian. Pemandian ini memiliki 2 kolam yang ukurannya berbeda, kolam pertama ukurannya lebih besar dan berada di atas sehingga menjadi tempat pertama yang dialiri dari penampungan sumber mata air panas, biasanya digunakan oleh masyarakat dewasa untuk mandi; kolam kedua berada dibawah yang dipisahkan sekat beton dan berukuran lebih kecil untuk anak kecil dan untuk mencuci.
Pemandian Air Panas Lia Sembe

Entah mengapa air ini menjadi panas, saat berkunjung tak banyak masyarakat yang berada disekitaran pemandian sehingga tidak sempat bertanya. Kami menyempatkan diri untuk mandi berhubung saat keberangkatan kami dari Ende menuju Danau Kelimutu, kami belum mandi. Berenang dan berendam di air panas, ala refleksi. Sayangnya, pemandian ini tidak terawatt dengan baik, walaupun sudah ada himbauan dari papan yang berada disitu untuk tetap menjaga kebersihan, tetapi sampah plastik khususnya bungkus sabun berserakan dimana-mana. Ditambah lagi kamar mandi yang tidak bersih dan tidak ada air. Padahal jika dikelola dengan baik bisa menjadi pilihan destinasi wisata yang patut untuk didatangi setelah mengunjungi Danau Kelimutu.  

Kampung Moni.  Kampung terakhir sebelum Danau Kelimutu, sehingga di kampung ini terdapat beberapa penginapan dan menjadi salah satu tempat untuk menginap sebelum ke Danau Kelimutu. Seperti yang saya sudah tulisan di blog saya sebelumnya, alternatif penginapan untuk menuju Danau Kelimutu, bisa menginap di Kota Ende atau pilih menginap di Kampung Moni. Terdapat banyak pilihan penginapan disini, mulai penginapan yang sederhana dengan harga terjangkau maupun penginapan sekelas hotel dengan tarif yang sesuai dengan fasilitas yang ada. Untuk harga sendiri saya kurang tau karena tidak sempat menginap di kampung ini, tetapi menurut beberapa informasi, ada yang seharga Rp. 70.000/malam. Entahlah apa benar ato salah.
Kampung Moni

Mungkin banyak yang tidak tau kalau ternyata di Kampung Moni terdapat salah satu perkampungan rumah adat (lupa namanya). Rumah adat ini tepat berada di Kampung Moni dan tak jauh dari jalan raya. Kami sempat berkunjung, disambut oleh seorang bapak yang kemungkinan keluarga yang punya rumah adat ini. Desain rumah adat ini seperti rumah adat di Flores pada umumnya, berbentuk limas dengan puncak yang kecil beratap daun. Terdapat beberapa menhir. Pun sebuah halaman yang berbentuk lingkaran dan diatasnya disusun batu sedemikian rupa yang kemungkinan digunakan pada saat upacara adat.

Air Terjun Murundao. Masih di dalam kompleks Kampung Moni, terdapat sebuah air terjun, bernama Air Terjun Murundao. Tak susah untuk mendapatkan air terjun ini, cukup berpatokan pada pohon karet di pinggir jalan sebelah kanan ke arah Kampung Moni. Ditambah terdapat papan nama berwarna biru walaupun berukuran kecil, tetapi masih jelas terlihat. Atau tepatnya berada di depan Rainbow Café and Restaurant. Untuk menuju ke air terjun ini, kita harus menuruni anak tangga karena letak yang berada di bawah. Tiba di bawah sangat sepi, kami hanya berpapasan dengan sepasang wisatawan mancanegara yang mengatakan bahwa air terjunnya lagi tutup. Kami tetap melangkahkan kaki menuju air terjun, menyeberang jembatan. Tak banyak yang kami lakukan di tempat ini, hanya mengambil gambar. Memang air terjun letaknnya di dalam dan memang tutup, tapi ada satu air terjun (entah tergolong air terjun atau tidak) yang ada di depan tetapi tidak begitu tinggi walapun aliran airnya lumayan deras.
Jalan Menuju Air Terjun Murundao

Kampung Tradisional Wologai. Setelah dari Air Terjun Murundao, kami pun melanjutkan perjalanan ke Kota Ende. Kami masih sempat singgah di salah satu kampung tradisional, bernama Wologai. Kampung ini terletak di Detununu, Dusun Wologai, RT 02/RW 04. Perjalanan dari Kampung Moni ke Kampung Tradisional Wologai sekitar 30 menit. Saat kami berkunjung, sekitar kampung ini sangat sepi tak seorang wisatawan pun yang ada atau kami yang terlalu duluan datang. Terdapat kotak berwarna biru yang bertuliskan kotak sirih pinang leluhur (dalam bahasa setempat : wuga nata du’a ria). Kotak ini tepat berada di samping anak tangga sebelum memasuki kompleks. Kotak ini sebagai persembahan atau bisa dikata tiket masuk dari wisatawan yang berkunjung karena disini tidak ada penagih tiket.

Memasuki kompleks kampung, kita akan melihat beberapa rumah adat khas NTT yang menurut saya desainnya dan bahan bangunan yang digunakan tidak jauh berbeda dari rumah adat NTT pada umumnya. Bentuknya yang limas dan atap dari dedaunan. Terdapat pula batu yang disusun sedemikian rupa bertingkat-tingkat yang digunakan sebagai tempat upacara adat. Namun sayangnya, Kampung Tradisional Wologai ini tidak terawat, terlihat dari rumput dan tumbuhan yang mulai meninggi ditambah lagi beberapa bangunan rumah adat yang mulai rusak. Seharunya, keluarga ataupun masyarakat memperhatikan hal ini. Disamping sebagai desinasi wisata yang potensial, setidaknya mereka menjaga peninggalan leluhur yang wajib untuk dilestarikan.
Kampung Tradisional Wologai

Perjalanan kami pun berlanjut ke Kota Ende. Selama perjalanan mata disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa. Pegunungan, air terjun, sungai sepanjang perjalanan memanjakan mata. Tidak ada yang kami kunjungi lagi sampai benar-benar tiba di kota. Tiba di Kota Ende, saya mengembalikan motor rental, lanjut ke kosan Kevin berkemas menuju terminal. Masih sempat bertemu teman yang sama-sama kerja di Kupang dulu. Tak ketinggalan salah satu destinasi yang belum sempat saya kunjungi karena alasan kemarin tutup,

Rumah Pengasingan Bung Karno. Rumah ini terletak di tengah kota dan tidak sulit untuk menemukan karena ada papan petunjuk. Rumah bercat putih, berpintu dua dan memiliki jendela tiga buah di bagian depan dengan kain garis berwarna hijau putih menjadi ciri khas ruma ini. Memasuki rumah, kita akan diperlihatkan beberapa pajangan berupa foto Bung Karno, buku koleksi Bung Karno, meja dan kursi, tempat tidur dan beberapa benda miliki Bung Karno lainnya. Menuju kebelakang terlihat taman, kamar mandi dan sumur. Kami tak berlama-lama disini, karena saya akan melanjutkan perjalanan. Kami membayar uang sukarela, kemudian ke terminal. 
Rumah Pengasingan Bung Karno

Sempat makan siang karena mobil travel belum ada. Kemudian kembali ke terminal. Menunggu sekitar 2 jam-an barulah mobil berangkat. Petualangan 1 hari 1 malam di Ende sebenarnya tidak cukup untuk menjelajahi Ende, perlu waktu yang lebih. Tetapi karena keburu waktu jadinya harus meninggalkan Ende. Terima kasih untuk Kevin yang telah menemani perjalanan saya selama di Ende, semoga bisa kembali bersua.

Tujuan selanjutnya adalah... Penasaran ? Tunggu cerita selanjutnya, cerita eksplore Flores seorang diri.

Budget
Tambahan Rental Motor Ende Rp. 100.000
Bensin 1 liter Rp. 15.000
Tiket Pemandian Air Panas Lia Sembe Rp. 2.000/orang
Kampung Moni Rp. 0
Air Terjun Murundao Rp. 0
Kotak Sirih Pinang Rumah Adat Wologai Rp. 10.000
Uang Sukarela Rumah Pengasingan Bung Karno Rp. 20.000
Makan Siang Rp. 35.000/2 orang

Beberapa Dokumentasi di Sekitaran Danau Kelimutu dan Ende 

Pemandian Air Panas Lia Sembe



Kampung Moni



Air Terjun Murundao




Kampung Tradisional Wologai






Rumah Pengasingan Bung Karno







Terimal di Ende


Pemandangan di Ende



09 May 2018


Sekitar pukul 04.20 dini hari, dengan menggunakan motor yang sudah dirental kemarin, saya dibonceng Kevin menuju ke arah Danau Kelimutu. Hari masih gelap, jalanan masih sepi dan cuaca sedikit mendung ditambah udara dingin menjadi teman dalam perjalanan kami. Tapi itu tidak menyurutkan niat kami, motor tetap melaju dengan mantap.
Danau Kelimutu

Perjalanan sekitar 2 jam-an dan hari masih gelap, kami pun tiba di pintu gerbang Danau Kelimutu. Membayar tiket masuk. Tarif tiket masuk pada hari kerja untuk wisatawan domestik Rp. 5.000/orang dan tiket Roda 2 Rp. 5.000/kendaraan. Tarif masuk untuk wisatawan pun berbeda harus merogoh kocek Rp. 150.000/orang. Kendaraan roda 4 Rp. 10.000/kendaraan dan kendaraan roda 6 Rp. 50.000/kendaraan. Saya sempat melihat buku tamu, tertulis sudah ada beberapa wisatawan yang berkunjung saat itu juga yang lebih duluan tiba, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Setelah pembayaran selesai, kami pun kembali tancap gas.

Butuh waktu sekitar beberapa menit dari pintu gerbang menuju parkiran. Ditempat ini terdapat beberapa warung yang dikelola oleh masyarakat.  Terlihat sudah ada beberapa kendaraan yang parkir, baik roda dua maupun roda empat. Dari parkiran, kami melanjutkan dengan berjalan kaki. Menaiki beberapa anak tangga beton dan berjalan di atas tanah yang masih alami. Tak usah khawatir untuk trekking dalam kondisi gelap, karena rute trekking sudah dilengkapi lampu sepanjang jalan, walaupun tidak begitu terang dan tidak semua sudut tetapi cukup membantu untuk jalan.
Pintu Gerbang Danau Kelimutu

Trekking sekitar 30 menit… Mungkin karena maih gelap atau karena menikmati perjalanan sehingga tak terasa kami pun tiba di Danau Kelimutu. Tetap masih dalam kondisi yang cukup gelap. Berbekal senter handphone kami pun melangkahkan kaki di setiap anak tangga.

Sekilas tentang Danau Kelimutu. Danau Kelimutu terletak di Desa Koanara, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.  Danau ini memiliki 3 kawah dengan warna dan pastinya nama yang berbeda. Kawah pertama sekaligus yang pertama kita jumpai, bernama Tiwu Ata Polo berwarna hijau toska; Kawah kedua bernama Tiwu Nua Muri Koo Fai, berwarna hijau, dan kawah ketiga bernama Tiwu Atu Mbupu yang berwarna hijau gelap. Warna yang kami jumpai saat berkunjung dan warna ini bisa berubah sewaktu-waktu.
Masih subuh tiba di Danau Kelimutu

Di balik nama-nama tersebut tersemat kepercayaan masyarakat terkait ketiga kawah tersebut. Masyarakat percaya bahwa Kelimutu adalah tempat peristirahatan terakhir untuk para arwah-arwah, tempat dimana semua jiwa kembali setelah perjalanan hidup berakhir. Di Kelimutu semua jiwa akan bertemu dengan Konso Ratu, Sang Penjaga Pintu. Setelah itu, arwah akan berpisah sesuai dengan perbuatan masing-masing. Tiwu Ata Polo disebut juga Danau Orang Jahat, kawah yang diyakini sebagai tempat roh-roh jahat yang akan dihukum dengan siksaan selamanya. Tiwu Nawa Muri Koo Fai atau Danau Muda-Mudi, kawah untuk roh-roh muda-mudi bersemayam. Tiwu Ata Mbupu (Danau Orang Tua), sebagai tempat roh leluhur bersemayam dan arwah yang biak (hanya melakukan hal-hal baik) akan menemukan kedamaian. Setiap tahu, sebelum hari kemerdekaan Indonesia masyarakat Kelimutu datang bersama untuk merayakan ritual Puti Ka untuk mengungkapkan rasa syukur atas tahun lalu melalui doa dan meminta berkah, kesejahteraan, kesehatan dan kehidupan yang baik untuk tahun mendatang.

Penjelasan ilmiah terkait terbentuknya Danau Kelimutu karena adanya letusan gunung vulkanik. Untuk perubahan warna sendiri terkait sumber gas vulkanik yang sama, tetapi sebagai akibat dari transportasi gas yang subakuatis sehingga menghasilkan “ekspresi” kimia berbeda di setiap danau. Danau ini memiliki paparan geokimia dan hidrotermal yang unik dan urutan sejarah khusus perubahan warna dikendalikan oleh perubahan kondisi fisik kimia. Oksigen memiliki peran penting dalam perubahan warna danau, ketika oksigen kurang akan terlihat hijau, tetapi ketika banyak akan terlihat merah tua sampai hitam. Selain itu, gas alami lainnya juga mineral seperti suflir memiliki peran dalam perubahan warna tersebut.

Saat berkunjung kesana sudah ada beberapa wisatawan lebih duluan tiba, kebanyakan wisatawan mancanegara. Kami pun menuju Tiwu Ata Polo dan Tiwu Nua Muri Koo Fai, danau ini bersebalahan. Belum terlalu jelas warna yang terlihat karena hari masih gelap dan kabut. Tak bisa melihat lebih dekat karena ada besi pembatas yang tidak boleh dilewati sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan keamanan. Selanjutnya kami berjalan dan trekking untuk menuju puncak. Cukup bikin ngos-ngosan.
Tiwu Ata Polo dan Tiwu Nua Muri Koo Fai

Tiwu Atu Mbupu

Tiba di puncak terdapat tugu sekaligus tempat untuk duduk bersantai, menikmati sunrise yang akan muncul, dari puncak ini juga terlihat dibawah kejauhan rumah penduduk. Untuk menambah pengetahuan wisatawan yang datang, pengelola menyediakan papan informasi berupa tulisan tentang Danau Kelimutu.

Nah di belakang puncak inilah terletak satu kawah lagi, yakni Tiwu Atu Mbupu. Disekitar kawah ini terlihat hamparan pohon pinus. Cuaca cukup dingin. Tapi tidak usah khawatir karena disini beberapa masyarakat sekitar yang menjual minuman dan makanan hangat.. Selain itu, mereka juga menjajankan kain tradisional, souvenir dan beberapa hasil bumi lainnya.
Spot untuk melihat Danau Kelimutu dan Menikmati Sunset

Berjalan-jalan, mengambil gambar, menunggu sejenak, menunggu sunrise. Saat sunrise udara dingin akan berlalu digantikan hangatnya sang mentari pagi dan warna danau pun akan semakin terlihat jelas dan indah. Waktu yang tepat untuk kembali mengambil gambar, berpose untuk mengabadikan moment ini, salah satu moment yang akan dikenang dan dirindukan.
Jualan masyarakat lokal

Disini pun saya bertemu dengan 2 orang wisatawan lokal, lupa namanya tetapi mereka dari Jawa. Mereka menggunakan motor dari sampe di Ende. Perjalanan mereka sudah sekitar seminggu dengan motor dan akan melanjutkan perjalanan ke Kupang.

Kami tak berlama-lama disini karena kabut yang datang menyerang. Karena cuaca tidak bersahabat, musim hujan dan angin maka kabut datang lebih awal. Kami bergegas kembali ke Kota Ende. Dalam perjalanan di Danau Kelimutu menuju parkiran kami pun masih sempat mengambil gambar.
Embun Danau Kelimutu

Ini kali pertama menginjakkan kaki di tempat ini di Danau Kelimutu. Rasa senang pasti dan bangga. Yang dulunya hanya bisa melihat pada uang pecahan Rp. 5000 ataupun saat pelajaran cuma dengar. Saat ini akhirnya bisa sampai di Danau Kelimutu. Danau yang memiliki keunikan warna dan kepercayaan masyarakat setempat yang luar biasa. Berharap masih bisa kesini, beberapa kali…

Tips Eksplore Kelimutu :
  1. Berkunjung ke Kelimutu bagusnya saat cuaca lagi bersahabat. Atau kalo mau melihat ritual Puti Ka bisa datang mendekati hari kemerdekaan RI
  2. Menuju Kelimutu dari ada 2 pilihan. Pilihan pertama, berangkat dari Kota Ende ke Danau Kelimutu (sekitar 3 jam) atau menginap di Desa Moni (desa terakhir) dengan harga homestay kisaran Rp. 150.000/malam dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.
  3. Baik dari Ende ataupun Moni bisa sewa kendaraan untuk menuju Danau Kelimutu (kisaran harga untuk motor Rp. 100.000/hari)
  4. Persiapkan perlengkapan, seperti baju hangat dan jacket serta celana panjang. Saran pake sepatu yang nyaman untuk trekking, sediakan alat penerang seperti headlamp. Sediakan air mineral karena terdapat jalur trekking yang cukup menguras tenaga dan bikin ngos-ngosan
  5. Berlaku sopan, jaga kelestarian alam. Tetap jadi wisatawan yang bertanggung jawab
  6. Jangan membuang apapun selain waktu, jangan meninggalkan apapun selain jejak dan jangan mengambil apapun selain foto


Budget
Rental Motor Ende – Kelimutu 1 hari Rp. 100.000 (exclude BBM)
Tiket Masuk Kelimutu Rp. 5.000/orang dan Rp. 5.000/motor
Beli Pop Mie Rp. 15.000



Beberapa Dokumentasi Danau Kelimutu














Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

-Nando Torajanese||Traveler|| Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Ingin keliling Indonesia dan bisa menginjakkan kaki ke beberapa negara

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts