16 May 2018

Setelah sebelumnya saya telah menulis bagaimana perjalanan saya, pertama kali menginjakkan kaki di Danau Kelimutu. Danau yang memiliki keunikan warna dan kepercayaan masyarakat sekitar danau terkait danau itu sendiri. Perjalanan kami pun berlanjut, saya masih ditemani Kevin. Seorang mahasiswa yang baik hati menampung dan menemani perjalanan saya selama di Ende.

Danau Kelimutu bukanlah satu-satunya destinasi wisata yang ada di Ende. Ada banyak pilihan, seperti yang kami kunjungi. Kami tak menyia-nyiakan waktu untuk menjelajah wisata yang ada sehabis dari Kelimutu. Kami masih sempat mengunjungi beberapa tempat wisata yang berada ataupun yang kami lewati sebelum kami tiba di Kota Ende.

Pemandian Air Panas Lia Sembe. Tempat ini akan kita lewati ketika berkunjung ke Danau Kelimutu. Ini tujuan kami yang pertama karena letaknya yang tidak begitu jauh dari jalan raya, kendaraan bisa masuk sampai pos pembelian tiket. Kami pun membayar tiket masuk sebesar Rp. 2.000/orang. Menuruni anak tangga untuk tiba di pemandian. Pemandian ini berdekatan dengan rumah warga dan warga sekitar menjadikan tempat ini untuk mandi dan mencuci pakaian. Pemandian ini memiliki 2 kolam yang ukurannya berbeda, kolam pertama ukurannya lebih besar dan berada di atas sehingga menjadi tempat pertama yang dialiri dari penampungan sumber mata air panas, biasanya digunakan oleh masyarakat dewasa untuk mandi; kolam kedua berada dibawah yang dipisahkan sekat beton dan berukuran lebih kecil untuk anak kecil dan untuk mencuci.
Pemandian Air Panas Lia Sembe

Entah mengapa air ini menjadi panas, saat berkunjung tak banyak masyarakat yang berada disekitaran pemandian sehingga tidak sempat bertanya. Kami menyempatkan diri untuk mandi berhubung saat keberangkatan kami dari Ende menuju Danau Kelimutu, kami belum mandi. Berenang dan berendam di air panas, ala refleksi. Sayangnya, pemandian ini tidak terawatt dengan baik, walaupun sudah ada himbauan dari papan yang berada disitu untuk tetap menjaga kebersihan, tetapi sampah plastik khususnya bungkus sabun berserakan dimana-mana. Ditambah lagi kamar mandi yang tidak bersih dan tidak ada air. Padahal jika dikelola dengan baik bisa menjadi pilihan destinasi wisata yang patut untuk didatangi setelah mengunjungi Danau Kelimutu.  

Kampung Moni.  Kampung terakhir sebelum Danau Kelimutu, sehingga di kampung ini terdapat beberapa penginapan dan menjadi salah satu tempat untuk menginap sebelum ke Danau Kelimutu. Seperti yang saya sudah tulisan di blog saya sebelumnya, alternatif penginapan untuk menuju Danau Kelimutu, bisa menginap di Kota Ende atau pilih menginap di Kampung Moni. Terdapat banyak pilihan penginapan disini, mulai penginapan yang sederhana dengan harga terjangkau maupun penginapan sekelas hotel dengan tarif yang sesuai dengan fasilitas yang ada. Untuk harga sendiri saya kurang tau karena tidak sempat menginap di kampung ini, tetapi menurut beberapa informasi, ada yang seharga Rp. 70.000/malam. Entahlah apa benar ato salah.
Kampung Moni

Mungkin banyak yang tidak tau kalau ternyata di Kampung Moni terdapat salah satu perkampungan rumah adat (lupa namanya). Rumah adat ini tepat berada di Kampung Moni dan tak jauh dari jalan raya. Kami sempat berkunjung, disambut oleh seorang bapak yang kemungkinan keluarga yang punya rumah adat ini. Desain rumah adat ini seperti rumah adat di Flores pada umumnya, berbentuk limas dengan puncak yang kecil beratap daun. Terdapat beberapa menhir. Pun sebuah halaman yang berbentuk lingkaran dan diatasnya disusun batu sedemikian rupa yang kemungkinan digunakan pada saat upacara adat.

Air Terjun Murundao. Masih di dalam kompleks Kampung Moni, terdapat sebuah air terjun, bernama Air Terjun Murundao. Tak susah untuk mendapatkan air terjun ini, cukup berpatokan pada pohon karet di pinggir jalan sebelah kanan ke arah Kampung Moni. Ditambah terdapat papan nama berwarna biru walaupun berukuran kecil, tetapi masih jelas terlihat. Atau tepatnya berada di depan Rainbow Café and Restaurant. Untuk menuju ke air terjun ini, kita harus menuruni anak tangga karena letak yang berada di bawah. Tiba di bawah sangat sepi, kami hanya berpapasan dengan sepasang wisatawan mancanegara yang mengatakan bahwa air terjunnya lagi tutup. Kami tetap melangkahkan kaki menuju air terjun, menyeberang jembatan. Tak banyak yang kami lakukan di tempat ini, hanya mengambil gambar. Memang air terjun letaknnya di dalam dan memang tutup, tapi ada satu air terjun (entah tergolong air terjun atau tidak) yang ada di depan tetapi tidak begitu tinggi walapun aliran airnya lumayan deras.
Jalan Menuju Air Terjun Murundao

Kampung Tradisional Wologai. Setelah dari Air Terjun Murundao, kami pun melanjutkan perjalanan ke Kota Ende. Kami masih sempat singgah di salah satu kampung tradisional, bernama Wologai. Kampung ini terletak di Detununu, Dusun Wologai, RT 02/RW 04. Perjalanan dari Kampung Moni ke Kampung Tradisional Wologai sekitar 30 menit. Saat kami berkunjung, sekitar kampung ini sangat sepi tak seorang wisatawan pun yang ada atau kami yang terlalu duluan datang. Terdapat kotak berwarna biru yang bertuliskan kotak sirih pinang leluhur (dalam bahasa setempat : wuga nata du’a ria). Kotak ini tepat berada di samping anak tangga sebelum memasuki kompleks. Kotak ini sebagai persembahan atau bisa dikata tiket masuk dari wisatawan yang berkunjung karena disini tidak ada penagih tiket.

Memasuki kompleks kampung, kita akan melihat beberapa rumah adat khas NTT yang menurut saya desainnya dan bahan bangunan yang digunakan tidak jauh berbeda dari rumah adat NTT pada umumnya. Bentuknya yang limas dan atap dari dedaunan. Terdapat pula batu yang disusun sedemikian rupa bertingkat-tingkat yang digunakan sebagai tempat upacara adat. Namun sayangnya, Kampung Tradisional Wologai ini tidak terawat, terlihat dari rumput dan tumbuhan yang mulai meninggi ditambah lagi beberapa bangunan rumah adat yang mulai rusak. Seharunya, keluarga ataupun masyarakat memperhatikan hal ini. Disamping sebagai desinasi wisata yang potensial, setidaknya mereka menjaga peninggalan leluhur yang wajib untuk dilestarikan.
Kampung Tradisional Wologai

Perjalanan kami pun berlanjut ke Kota Ende. Selama perjalanan mata disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa. Pegunungan, air terjun, sungai sepanjang perjalanan memanjakan mata. Tidak ada yang kami kunjungi lagi sampai benar-benar tiba di kota. Tiba di Kota Ende, saya mengembalikan motor rental, lanjut ke kosan Kevin berkemas menuju terminal. Masih sempat bertemu teman yang sama-sama kerja di Kupang dulu. Tak ketinggalan salah satu destinasi yang belum sempat saya kunjungi karena alasan kemarin tutup,

Rumah Pengasingan Bung Karno. Rumah ini terletak di tengah kota dan tidak sulit untuk menemukan karena ada papan petunjuk. Rumah bercat putih, berpintu dua dan memiliki jendela tiga buah di bagian depan dengan kain garis berwarna hijau putih menjadi ciri khas ruma ini. Memasuki rumah, kita akan diperlihatkan beberapa pajangan berupa foto Bung Karno, buku koleksi Bung Karno, meja dan kursi, tempat tidur dan beberapa benda miliki Bung Karno lainnya. Menuju kebelakang terlihat taman, kamar mandi dan sumur. Kami tak berlama-lama disini, karena saya akan melanjutkan perjalanan. Kami membayar uang sukarela, kemudian ke terminal. 
Rumah Pengasingan Bung Karno

Sempat makan siang karena mobil travel belum ada. Kemudian kembali ke terminal. Menunggu sekitar 2 jam-an barulah mobil berangkat. Petualangan 1 hari 1 malam di Ende sebenarnya tidak cukup untuk menjelajahi Ende, perlu waktu yang lebih. Tetapi karena keburu waktu jadinya harus meninggalkan Ende. Terima kasih untuk Kevin yang telah menemani perjalanan saya selama di Ende, semoga bisa kembali bersua.

Tujuan selanjutnya adalah... Penasaran ? Tunggu cerita selanjutnya, cerita eksplore Flores seorang diri.

Budget
Tambahan Rental Motor Ende Rp. 100.000
Bensin 1 liter Rp. 15.000
Tiket Pemandian Air Panas Lia Sembe Rp. 2.000/orang
Kampung Moni Rp. 0
Air Terjun Murundao Rp. 0
Kotak Sirih Pinang Rumah Adat Wologai Rp. 10.000
Uang Sukarela Rumah Pengasingan Bung Karno Rp. 20.000
Makan Siang Rp. 35.000/2 orang

Beberapa Dokumentasi di Sekitaran Danau Kelimutu dan Ende 

Pemandian Air Panas Lia Sembe



Kampung Moni



Air Terjun Murundao




Kampung Tradisional Wologai






Rumah Pengasingan Bung Karno







Terimal di Ende


Pemandangan di Ende



09 May 2018


Sekitar pukul 04.20 dini hari, dengan menggunakan motor yang sudah dirental kemarin, saya dibonceng Kevin menuju ke arah Danau Kelimutu. Hari masih gelap, jalanan masih sepi dan cuaca sedikit mendung ditambah udara dingin menjadi teman dalam perjalanan kami. Tapi itu tidak menyurutkan niat kami, motor tetap melaju dengan mantap.
Danau Kelimutu

Perjalanan sekitar 2 jam-an dan hari masih gelap, kami pun tiba di pintu gerbang Danau Kelimutu. Membayar tiket masuk. Tarif tiket masuk pada hari kerja untuk wisatawan domestik Rp. 5.000/orang dan tiket Roda 2 Rp. 5.000/kendaraan. Tarif masuk untuk wisatawan pun berbeda harus merogoh kocek Rp. 150.000/orang. Kendaraan roda 4 Rp. 10.000/kendaraan dan kendaraan roda 6 Rp. 50.000/kendaraan. Saya sempat melihat buku tamu, tertulis sudah ada beberapa wisatawan yang berkunjung saat itu juga yang lebih duluan tiba, baik wisatawan lokal maupun mancanegara. Setelah pembayaran selesai, kami pun kembali tancap gas.

Butuh waktu sekitar beberapa menit dari pintu gerbang menuju parkiran. Ditempat ini terdapat beberapa warung yang dikelola oleh masyarakat.  Terlihat sudah ada beberapa kendaraan yang parkir, baik roda dua maupun roda empat. Dari parkiran, kami melanjutkan dengan berjalan kaki. Menaiki beberapa anak tangga beton dan berjalan di atas tanah yang masih alami. Tak usah khawatir untuk trekking dalam kondisi gelap, karena rute trekking sudah dilengkapi lampu sepanjang jalan, walaupun tidak begitu terang dan tidak semua sudut tetapi cukup membantu untuk jalan.
Pintu Gerbang Danau Kelimutu

Trekking sekitar 30 menit… Mungkin karena maih gelap atau karena menikmati perjalanan sehingga tak terasa kami pun tiba di Danau Kelimutu. Tetap masih dalam kondisi yang cukup gelap. Berbekal senter handphone kami pun melangkahkan kaki di setiap anak tangga.

Sekilas tentang Danau Kelimutu. Danau Kelimutu terletak di Desa Koanara, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.  Danau ini memiliki 3 kawah dengan warna dan pastinya nama yang berbeda. Kawah pertama sekaligus yang pertama kita jumpai, bernama Tiwu Ata Polo berwarna hijau toska; Kawah kedua bernama Tiwu Nua Muri Koo Fai, berwarna hijau, dan kawah ketiga bernama Tiwu Atu Mbupu yang berwarna hijau gelap. Warna yang kami jumpai saat berkunjung dan warna ini bisa berubah sewaktu-waktu.
Masih subuh tiba di Danau Kelimutu

Di balik nama-nama tersebut tersemat kepercayaan masyarakat terkait ketiga kawah tersebut. Masyarakat percaya bahwa Kelimutu adalah tempat peristirahatan terakhir untuk para arwah-arwah, tempat dimana semua jiwa kembali setelah perjalanan hidup berakhir. Di Kelimutu semua jiwa akan bertemu dengan Konso Ratu, Sang Penjaga Pintu. Setelah itu, arwah akan berpisah sesuai dengan perbuatan masing-masing. Tiwu Ata Polo disebut juga Danau Orang Jahat, kawah yang diyakini sebagai tempat roh-roh jahat yang akan dihukum dengan siksaan selamanya. Tiwu Nawa Muri Koo Fai atau Danau Muda-Mudi, kawah untuk roh-roh muda-mudi bersemayam. Tiwu Ata Mbupu (Danau Orang Tua), sebagai tempat roh leluhur bersemayam dan arwah yang biak (hanya melakukan hal-hal baik) akan menemukan kedamaian. Setiap tahu, sebelum hari kemerdekaan Indonesia masyarakat Kelimutu datang bersama untuk merayakan ritual Puti Ka untuk mengungkapkan rasa syukur atas tahun lalu melalui doa dan meminta berkah, kesejahteraan, kesehatan dan kehidupan yang baik untuk tahun mendatang.

Penjelasan ilmiah terkait terbentuknya Danau Kelimutu karena adanya letusan gunung vulkanik. Untuk perubahan warna sendiri terkait sumber gas vulkanik yang sama, tetapi sebagai akibat dari transportasi gas yang subakuatis sehingga menghasilkan “ekspresi” kimia berbeda di setiap danau. Danau ini memiliki paparan geokimia dan hidrotermal yang unik dan urutan sejarah khusus perubahan warna dikendalikan oleh perubahan kondisi fisik kimia. Oksigen memiliki peran penting dalam perubahan warna danau, ketika oksigen kurang akan terlihat hijau, tetapi ketika banyak akan terlihat merah tua sampai hitam. Selain itu, gas alami lainnya juga mineral seperti suflir memiliki peran dalam perubahan warna tersebut.

Saat berkunjung kesana sudah ada beberapa wisatawan lebih duluan tiba, kebanyakan wisatawan mancanegara. Kami pun menuju Tiwu Ata Polo dan Tiwu Nua Muri Koo Fai, danau ini bersebalahan. Belum terlalu jelas warna yang terlihat karena hari masih gelap dan kabut. Tak bisa melihat lebih dekat karena ada besi pembatas yang tidak boleh dilewati sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan keamanan. Selanjutnya kami berjalan dan trekking untuk menuju puncak. Cukup bikin ngos-ngosan.
Tiwu Ata Polo dan Tiwu Nua Muri Koo Fai

Tiwu Atu Mbupu

Tiba di puncak terdapat tugu sekaligus tempat untuk duduk bersantai, menikmati sunrise yang akan muncul, dari puncak ini juga terlihat dibawah kejauhan rumah penduduk. Untuk menambah pengetahuan wisatawan yang datang, pengelola menyediakan papan informasi berupa tulisan tentang Danau Kelimutu.

Nah di belakang puncak inilah terletak satu kawah lagi, yakni Tiwu Atu Mbupu. Disekitar kawah ini terlihat hamparan pohon pinus. Cuaca cukup dingin. Tapi tidak usah khawatir karena disini beberapa masyarakat sekitar yang menjual minuman dan makanan hangat.. Selain itu, mereka juga menjajankan kain tradisional, souvenir dan beberapa hasil bumi lainnya.
Spot untuk melihat Danau Kelimutu dan Menikmati Sunset

Berjalan-jalan, mengambil gambar, menunggu sejenak, menunggu sunrise. Saat sunrise udara dingin akan berlalu digantikan hangatnya sang mentari pagi dan warna danau pun akan semakin terlihat jelas dan indah. Waktu yang tepat untuk kembali mengambil gambar, berpose untuk mengabadikan moment ini, salah satu moment yang akan dikenang dan dirindukan.
Jualan masyarakat lokal

Disini pun saya bertemu dengan 2 orang wisatawan lokal, lupa namanya tetapi mereka dari Jawa. Mereka menggunakan motor dari sampe di Ende. Perjalanan mereka sudah sekitar seminggu dengan motor dan akan melanjutkan perjalanan ke Kupang.

Kami tak berlama-lama disini karena kabut yang datang menyerang. Karena cuaca tidak bersahabat, musim hujan dan angin maka kabut datang lebih awal. Kami bergegas kembali ke Kota Ende. Dalam perjalanan di Danau Kelimutu menuju parkiran kami pun masih sempat mengambil gambar.
Embun Danau Kelimutu

Ini kali pertama menginjakkan kaki di tempat ini di Danau Kelimutu. Rasa senang pasti dan bangga. Yang dulunya hanya bisa melihat pada uang pecahan Rp. 5000 ataupun saat pelajaran cuma dengar. Saat ini akhirnya bisa sampai di Danau Kelimutu. Danau yang memiliki keunikan warna dan kepercayaan masyarakat setempat yang luar biasa. Berharap masih bisa kesini, beberapa kali…

Tips Eksplore Kelimutu :
  1. Berkunjung ke Kelimutu bagusnya saat cuaca lagi bersahabat. Atau kalo mau melihat ritual Puti Ka bisa datang mendekati hari kemerdekaan RI
  2. Menuju Kelimutu dari ada 2 pilihan. Pilihan pertama, berangkat dari Kota Ende ke Danau Kelimutu (sekitar 3 jam) atau menginap di Desa Moni (desa terakhir) dengan harga homestay kisaran Rp. 150.000/malam dengan waktu tempuh sekitar 30 menit.
  3. Baik dari Ende ataupun Moni bisa sewa kendaraan untuk menuju Danau Kelimutu (kisaran harga untuk motor Rp. 100.000/hari)
  4. Persiapkan perlengkapan, seperti baju hangat dan jacket serta celana panjang. Saran pake sepatu yang nyaman untuk trekking, sediakan alat penerang seperti headlamp. Sediakan air mineral karena terdapat jalur trekking yang cukup menguras tenaga dan bikin ngos-ngosan
  5. Berlaku sopan, jaga kelestarian alam. Tetap jadi wisatawan yang bertanggung jawab
  6. Jangan membuang apapun selain waktu, jangan meninggalkan apapun selain jejak dan jangan mengambil apapun selain foto


Budget
Rental Motor Ende – Kelimutu 1 hari Rp. 100.000 (exclude BBM)
Tiket Masuk Kelimutu Rp. 5.000/orang dan Rp. 5.000/motor
Beli Pop Mie Rp. 15.000



Beberapa Dokumentasi Danau Kelimutu














12 March 2018


Taman Renungan Bung Karno

Petualangan kali ini membawa saya ke wishlist saya. Bukan hanya satu, tetapi sekaligus tiga wishlist yang sudah saya tulis dan akan saya kunjungi.  Berhubung saya tinggalnya di Biak, Papua jadi kalo kemana-mana pasti harus mikir-mikir dulu, apalagi masalah transportasi. Semua orang sudah tau apalagi para pejalan jika ke maupun dari Papua, pasti pertimbangan pertama adalah transportasi. Pilihannya hanya 2, via laut dengan biaya yang lumayan terjangkau tetapi butuh waktu lama untuk nyampe ato via udara dengan biaya yang lumayan menguras dompet tetapi nyampe cepat. Salah satu problem jalan-jalan di Indonesia, khususnya bagi kami yang suka jalan-jalan dengan dompet tipis. Makanya banyak orang beranggapan mendingan jalan-jalan ke luar negeri dibanding jalan-jalan ke Papua. Ada benarnya juga. Namun Papua memang patut untuk dikunjungi, alam yang masih alami serta adat istiadat yang terjaga.

Kita tinggalkan soal Papua dulu, kembali ke wishlist saya. Nah wishlist saya kali ini akan mengunjungi beberapa destinasi wisata di Flores. Siapa yang tidak kenal Danau Kelimutu yang memiliki 3 warna sehingga sering disebut Danau Tiga Warna yang ada di pecahan uang kertas Rp. 5.000 zaman dulu, siapa yang tidak kenal dengan Rumah Adat Bena dan Labuan Bajo, semua ada di Flores. Berhubung karena ada kegiatan kantor di Kupang, NTT makanya saya memilih untuk berpetualang ke tempat-tempat tersebut. Persiapan pun dilakukan, mulai dari membuat itinerary, membuat list tempat wisata dan tiket masuk, penginapan, tiket pesawat, dan sebagainya dengan pertimbangan jiwa backpacker. Cost yang keluar seminim mungkin, tetapi bisa mengunjungi tempat semaksimal mungkin.
Bandar Udara El Tari, Kupang-NTT

Perjalanan pun dimulai, perjalanan dari Biak – Makassar – Jakarta – Surabaya – Kupang. Berangkat dari Biak sekitar jam 11 pagi tiba di Kupang jam setengah 12 malam. Seminggu di Kupang mengikuti kegiatan, setelah itu petualangan sesungguhnya pun dimulai. Perjalanan kali ini saya lakukan seorang diri alias solo trip, berbekal keberanian dan persiapan ditemani sebuah tas carieer saya pun melangkahkan kaki dengan mantap.

Pukul 06.15 pesawat NAM Air dari Bandar Udara El Tari, Kupang mengantarkan saya menuju  Bandar Udara Haji Hasan Aroeboesman, Ende. Perjalanan sekitar 1 jam. Memasuki wilayah Ende perpaduan antara lautan dan perbukitan serta pegunungan memanjakan mata. Sekitar pukul 07.05 pesawat yang saya tumpangi mendarat mantap di runway bandara. Sesuai dengan itinerary yang telah saya buat, saya akan bertemu dengan seseorang untuk rental motor. Sebelum turun pesawat saya pun bertanya-tanya ke beberapa orang mengenai angkutan di Ende dan tak lupa saya mengambil brosur dan peta tentang Ende di bandara. Saya menelfon yang punya rental motor dan sepakat untuk bertemu di tempat rental motor. Berbekal GPS, menunjukkan jaraknya tidak terlalu jauh dari bandara sehingga saya memutuskan jalan kaki.
Bandar Udara Haji Hasan Aroeboesman, Ende-NTT

Pertama kali menginjakkan kaki di Ende karena hari minggu jadinya terlihat sunyi, hanya beberapa kendaraan yang berlalu lalang dan orang yang akan ibadah serta udara ternyata terasa panas, kirain dingan. Perjalanan sekitar 10 menit tibalah saya di tempat janjian. Menunggu beberapa menit, orang yang janjian dengan saya tak kunjung datang, jadinya saya rental motor yang lain. Sesuai kesepakatan harga Rp. 100.000/hari dan saya berencana menggunakannya ke Kelimutu salah satu wishlist saya. Sebelum ke Kelimutu, saya akan jalan-jalan di sekitar Ende dulu. Destinasi pertama adalah Taman Renungan Bung Karno, kembali berbekal GPS saya pun melajukan motor, tetapi setelah jalan cukup lama tanpa bertanya sama orang. Saya pun memasuki daerah yang saya rasa sudah nyasar. Saya putar balik dan menuju tujuan yang sebenarnya.

 
Tugu di Kota Ende


Taman Renungan Bung Karno, patut dikunjungi jika berada di Kota Ende. Termasuk salah satu destinasi wisatawan dan menjadi kebanggan tersendiri bagi masyarakat Ende. Di taman ini terdapat patung Bung Karno yang sedang duduk dan memandang ke arah laut. Terdapat pula beberapa pohon besar yang berada di dalam taman ini. Merunut dari sejarah, taman ini merupakan taman dimana Bung Karno merenung dan merumuskan Pancasila sebagi ideologi bangsa. Selama 4 tahun dalam masa pengasingan dari tahun 1943 0 1938 di Ende Bung Karno menghabiskan waktunya di taman ini yang terletak di pusat Kota Ende. Cikal bakal Pancasila memiliki jumlah 5 sila, muncul di taman ini juga karena di sekitar tempat merenungnya Bung Karno terdapat pohon sukun yang memiliki  batang berjumlah 5.  Sayangnya pohon sukun tersebut sudah mati, tetapi pemerintah setempat mengganti dengan anakan pohon yang sama di lokasi yang sama pula.

Taman Renungan Bung Karno


Saya melanjutkan perjalanan. Berkunjung ke pantai yang entah nama pantainya apa. Mengelilingi kota Ende. Tujuan saya selanjutnya adalah Rumah Pengasingan Bung Karno, sayangnya setelah tiba, ternyata tidak buka karena bertepatan dengan hari raya. Saya pun kembali ke taman perenungan. Nah disinilah saya bertemu dengan teman baru, namanya Kevin yang masih berstatus mahasiswa. Bercerita sedikit tentang perjalanan saya dan rencana saya untuk ke Kelimutu. Dia menawarkan saya untuk nginap di tempatnya, karena kebetulan saya belum ada penginapan saya pun tak menolak tawaran ini. Jadi rencana ke Kelimutu berubah, sebelumnya berangkat sekarang, jadinya berangkat besok subuh dan Kevin bersedia untuk mengantar saya. Saya menuju tempat dia beristirahat.

Rumah Pengasingan Bung Karno


Bertemu teman baru, Kevin


 Pantai dengan pasir berwarna hitam



Taman Rendo



Malam harinya, kesempatan untuk menikmati Ende di malam hari. Mencari makan sekaligus nongkrong. Tempat yang kami tuju adalah Mokka Coffee, salah satu tempat nongkrong di Ende. Tapi karena kami cari yang ada menu makanan berat, dan di tempat ini tidak ada. Kami pindah dan cari yang lain, pilihan pun jatuh ke salah satu tempat makan (lupa namanya).

Mokka Coffee


Jadinya makan disini



Habis makan balik dan beristriahat untuk melanjutkan perjalanan esok subuh ke Danau Kelimutu.


Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

-Nando Torajanese||Traveler|| Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Ingin keliling Indonesia dan bisa menginjakkan kaki ke beberapa negara

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts