26 March 2019

Biak, Papua - Jumat, 22 Maret 2019 bertempat di Lapangan Bola Radar 242 Tanjung Barari, Jl. Condronegoro, Samofa, Kab. Biak Numfor, Pusat Pengendalian Pembangunan Ekoregional (P3E) Papua mengadakan aksi tanam pohon dalam rangka kampanye lingkungan dalam upaya mendukung Pemerintah Kabupaten Biak Numfor mewujudkan Kota Biak yang bersih dan hijau.
Peserta Aksi Penanaman Pohon

Aksi penanam pohon ini pun diikuti oleh beberapa instansi terkait, seperti Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kab. Biak Numfor, Rektor IISIP Biak, Komandan Satuan Radar 242 TNI AU, Kepala Balai Besar KSDA Papua, Kepala KPHL Kab. Biak Numfor, Kepala UPTD Taman Burung dan Taman Anggrek, WWF Biak, Pimpinan PT. Wapoga Mutiara Industri, Sakawanabakti Cab. Biak,  Kepala Kelurahan dan Masyarakat Kampung Samofa, dan komunitas Romawa Byak Peduli.

Dalam sambutannya Bapak Ir. Marthen Marisan mewakili kepala P3E Papua mengatakan bahwa beberapa hari besar terkait lingkungan hidup dan kehutanan, seperti hari bakti rimbawan, hari hutan nasioanal dan hari air sehingga dalam rangka memperingati hari tersebut dilakukan serangkaian kegiatan termasuk kampanye lingkungan dengan aksi tanam pohon. Kegiatan ini mengajak semua stakeholder berperan aktif, memiliki tugas dan tanggung jawab dalam menjaga lingkungan dari kerusakan. Upaya untuk memberikan rasa nyaman, indah bersih dan hijau tidak bisa dilakukan sekelompok orang. Berbicara mengenai lingkungan dan hutan semua saling terkait, multi stakeholder harus saling bersinergi dan saling membantu.
Penanaman Pohon

"Kegiatan ini sebagai langkah awal untuk langkah selanjutnya sehingga memberikan manfaat untuk generasi mendatang, memberikan kesejukan dan udara segar khususnya untuk warga Kota Biak" harapnya

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan foto bersama dan penanaman pohon yang ditanam di sekitar Samofa . Jenis pohon yang ditanam seperti pohon glondokan dan pohon palem. 
Pohon Ditanam


Kecil Menanam, Dewasa Memanen
Dewasa Menanam, Tua Memanen
Tua Menanam, Anak Cucu Memanen


25 February 2019

Nah karena masih panas-panasnya memperingati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang jatuh pada tanggal 21 Februari, walaupun peduli sampah itu tidak memandang hari, tidak hanya satu hari, kepedulian terhadap sampah harus everytime and everywhere. Maka tulisan ini tidak jauh-jauh dari sampah.
Kunjungan ke TPA Aibyowki

Ada yang tau sampah itu apa ? Menurut UU No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, yang dimaksud dengan sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. 

Biasanya kita buang sampah dimana ? ditempat sampah atau disembarang tempat, berpikir kalo yang dibuang misalnya hanya satu bungkus permen yang berukuran kecil tidak akan berpengaruh kepada lingkungan maupun kita, jadi jika semua kita manusia berpikir seperti itu apa yang terjadi ? Sampah dimana-mana...

Jika kita membuang sampah di tempatnya, di tempat pembuangan sampah (bak sampah) yang telah disediakan pemerintah. Ada yang bertanya kemana sampah-sampah tersebut dibawa ? Apa yang akan dilakukan pada sampah-sampah tersebut ? Apakah masih ada proses lebih lanjut ?
Pintu Gerbang TPA Aibyowki

23 Februari 2019 kemarin, kembali bersama dengan teman-teman dari komunitas peduli lingkungan bernama Romawa Byak Peduli yang sebelumnya telah melakukan aksi peduli lingkungan berupa bersih pantai di Pantai Samber, Distrik Yendidori, Kab. Biak Numfor - Papua dalam rangka menyambut HPSN. Kali ini kami mengunjungi TPA  Aibyowki, sekedar informasi TPA bukanlah singkatan dari Tempat Pembuangan Akhir tetapi singkatan dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). 

Bersih Pantai Samber bisa baca disini Biak Peduli Lingkungan Menyambut HPSN 2019

Beberapa istilah pada UU No 18 Tahun 2008 yang perlu kita ketahui sehingga tidak salah persepsi, Tempat Penampungan Sementara (TPS) merupakan tempat sebelum sampah diangkut ke tempat pendauran ulang, pengolahan dan/atau tempat pengolahan sampah terpadu; Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) adalah tempat dilaksanakannya kegiatan pengumpulan, pemilahan, penggunaan ulang, pendauran ulang, pengolahan dan pemrosesan akhir sampah; dan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) adalah tempat untuk memroses dan mengembalikan sampah ke media lingkungan secara aman bagi manusia dan lingkungan. 
Lokasi TPA Aibyowki

TPA Aibyowki, satu-satunya TPA yang ada di Kabupaten Biak Numfor, tepatnya berlokasi di Desa Darfuar, Distrik Samofa sekitar 15 menit dari kota Biak ke arah utara. Pengoperasian TPA Aibyako sejak 2005 dengan luas 4 hektar, jumlah pegawai 9 orang. Lokasi ini sudah disediakan pemerintah dengan memperhatikan beberapa pertimbangan, salah satunya jauh dari pemukiman sehingga tidak akan mengganggu masyarakat.

Di tempat inilah sampah-sampah rumah tangga yang dibuang di tempat penampungan yang disediakan oleh pemerintah diangkut kemudian diproses lebih lanjut. Sampah-sampah yang diangkut biasanya dari daerah Biak Kota sampai Yendidori. Truck sampah akan datang setiap hari, hitungan total sampah yang diangkut sekitar 5 m kubik jika sampah yang diangkut full per satu truck sampah. Dari pemandangan yang terlihat sampah di TPA ini tidak terkumpul atau tertumpuk di satu tempat, tetapi tersebar. Menurut penuturan salah satu petugas bahwa dulunya terdapat galian sedalam 5 meter sebagai tempat untuk menumpuk sampah, tetapi karena lama kelamaan penuh sehingga sampah dibuang kemana-mana. Mungkin ini salah satu yang perlu perhatian.
Proses Pembakaran

Selanjutnya, proses yang dilakukan di tempat ini adalah dilakukan pemilahan sampah yang masih bisa didaur ulang, seperti botol plastik, kaleng, karet ban, karton dan sebagainya akan dipisahkan kemudian akan dibawa ke Bank Sampah yang salah satunya berada di belakang Pasar Darfuar untuk didaur ulang. Sampah yang dibawa kesana akan dijual dengan harga per kilo berkisar Rp. 2.000 -  Rp. 2.500. Selain itu, dilakukan pembakaran untuk sampah-sampah yang tidak bisa digunakan lagi dengan cara manual. 
Pemilahan Sampah

Apa harapan mereka yang bekerja di TPA Aibyowki ? "Masyarakat peduli sampah, jangan buang sampah di luar bak yang telah disediakan oleh pemerintah, sebaiknya langsung buang ke dalam bak, sehingga petugas tidak terlalu repot dalam pengangkutan" harap Bapak Hizkia Msen salah satu petugas TPA.
Bersama Komunitas Romawa Byak Peduli

Apa yang perlu dilakukan dan diperhatikan ? Masyarakat wajib membuang sampah pada tempatnya, sebisa mungkin dibuang ke tempat penampungan yang telah disiapkan pemerintah, perlu dilakukan pemisahan antara sampah organik dan non organik sehingga memudahkan untuk pemilahan, kalo sampah organik mungkin bisa menjadi pupuk. Perlu tindakan saat kondisi di TPA  tidak bersahabat, ada bau dan lalat (perlu penyemprotan) dan yang tidak kalah untuk diperhatikan adalah safety dari petugas TPA itu sendiri. Lebih baik lagi kalau sebisa mungkin untuk mengurangi penggunaan bahan-bahan atau barang yang akan menghasilkan sampah.
Sampah Rumah Tangga

21 February 2019

Hari ini tanggal berapa ? Tanggal 21 Februari kan ?

Ada yang tau gak 21 Februari diperingati sebagai hari apa ? Nah dari kalender nasional, 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Dari beberapa sumber HPSN dipicu oleh adanya tragedi longsornya sampah di TPU Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat pada tanggal 21 Februari 2005 yang menelan banyak korban, merenggut nyawa lebih dari 100 jiwa. Dari tragedi tersebut Kementerian Lingkungan Hidup mencanangkan 21 Februari 2006 sebagai HPSN yang pertama kali.

Berbicara mengenai sampah. Memang sudah menjadi masalah global terbesar yang sedang kita hadapi sekarang ini. Banyak yang berpikir bahwa tidak ada pengaruhnya jika saya membuang sampah sembarang, toh cuman satu orang saja. Nah, bayangkan jika semua penduduk bumi yang jumlahnya sekitar 7 milliar berpikiran yang sama. Dunia akan penuh dengan sampah dan akan melebihi jumlah manusia.

Bagaimana dengan Indonesia ? Menurut laporan penelitian yang diterbitkan oleh Sciencemag pada Februari 2015 bahwa Indonesia berada pada peringkat kedua dunia penyumbang sampah plastik ke laut setelah Tiongkok.

Pernah tidak kita menghitung konsumsi sampah yang kita hasilkan dalam sehari ? Atau jenis sampah apa yang sering kita hasilkan ? Riset Greeneration sebagai non government organization yang mengikuti isu sampah bahwa satu orang Indonesia rata-rata menghasilkan 700 kantong plastik per tahun.

Apa dampak dari sampah yang ada ? Pernah dengar tentang ditemukannya paus di Wakatobi ? Salah satu dampaknya itu, bangkai paus ditemukan di Perairan Pulau Kapota, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 19 November 2018. Kalian tau apa isi perutnya ? Ada sampah gelas plastik, botol plastik, kantong plastik, sendal jepit, karung nilon, tali rafia, dan sebagainya. 

Jadi apa yang harus kita lakukan ? Diawali dari kebiasaan dan kesadaran diri sendiri untuk sebisa mungkin meminimalisir penggunaan barang-barang yang bisa mengurangi sampah, tidak membuang sampah sembarang. Menggunakan totebag saat belanja, menggunakan tumbler dan tempat makan sendiri, menggunakan sedotan stainless dan sebagainya.

Selanjutnya butuh aksi untuk membuat gerakan membersihkan sampah yang sudah terlanjur mengotori lingkungan. Pantai dan laut menjadi salah satu sasaran empuk bagi keberadaan sampah, baik itu dari wisatawan, masyarakat yang sengaja membuang sampah sembarang ataupun terbawa oleh arus. 

Tepat hari Sabtu, 16 Februari 2019, menjadi sabtu yang berfaedah. Setidaknya bermanfaat untuk alam sekaligus menikmati alam itu sendiri. Berawal dari postingan seorang teman (charlydemkorwasekaligus pelopor di grup WA tentang kegiatan perdana dari komunitas Biak Peduli Lingkungan. Kegiatan ini dilaksanakan di Samber, Distrik Yendidori, Kabupaten Biak Numfor - Papua dan sekaligus untuk menyambut Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tahun 2019. 

Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 30-an orang yang terdiri dari pemuda Biak, masyarakat setempat dan anak-anak. Kegiatan diawali dengan penyampaian dari tim dan kepala kampung.

"Komunitas ini dinamakan Biak Peduli Lingkungan dengan visi menjadi pemuda-pemudi yang berwawasan, kritis dan proaktif dalam mewujudkan pelestarian lingkungan hidup yang berkelanjutan" sebut Yusuf Rumbiak salah seorang pelopor kegiatan ini.

Turut hadir dalam kegiatan ini Dinas Lingkungan Hidup Kab. Biak Numfor yang diwakili oleh Bapak Yensen. Beliau menyampaikan terima kasih karena sudah berinisiatif membantu karena sampah bukan hanya tanggung jawab DLH, tetapi tanggung jawab kita semua yang berada di Biak.

"Hari ini sebagai permulaan dan contoh untuk kegiatan kedepannya bisa terus berlanjut ke pantai yang lain" harapnya.


Kegiatan ini dilakukan dengan mengumpulkan sampah yang berada di pantai dan selanjutnya akan diangkut ke bank sampah yang ada di Biak. Beberapa sampah yang ditemukan, seperti popok bayi, jaring, kain, bungkusan plastik, botol plastik dan lain-lain. 

Biak Peduli Lingkungan menunjukkan bahwa, setidaknya masih ada pemuda/i yang peduli lingkungan. Peduli lingkungan itu tidak hanya lewat perkataan, tetapi butuh aksi nyata. 

Tong peduli lingkungan. Kalo kam ???

19 February 2019

Setelah hibernasi zzzzzzzzz..... Muncul lagi... 
Kali ini cerita tentang .traveling and teaching 1000 Guru Papua Subregional Biak

1000 Guru, salah satu komunitas yang peduli pendidikan di pedalaman Indonesia yang didirikan oleh Jemi Ngadiono berawal dari postingan di twitter 1000_guru tentang kondisi pendidikan saat mengajar di pedalaman. Lambat laun 1000 Guru berkembang dan membentuk regional di beberapa daerah di Indonesia yang hingga saat ini sudah terdapat 39 regional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Nah salah satu program yang menarik menurut saya dari komunitas 1000 Guru adalah .traveling and teaching (TnT). Program ini berupa jalan-jalan sambil mengajar. Kegiatan ini mengajak anak-anak muda yang suka jalan-jalan untuk melakukan traveling++  atau traveling yang berfaedah. Kita tidak hanya mengunjungi destinasi wisata tujuan, tetapi akan diajak untuk melakukan kegiatan sosial, bersosialisasi dengan masyarakat yang ada di sekitar lokasi wisata. Kegiatan ini biasanya dilakukan selama 2-3 hari, dimana pada hari pertama keberangkatan, hari kedua teaching dan hari ketiga traveling. Teaching dilakukan di sekolah dasar dengan beberapa item kegiatan, seperti pemeriksaan kesehatan, mengajar, penyuluhan kesehatan, games dan nonton bersama serta donasi. Teaching lebih fokus bersama dengan anak-anak sekolah. Setelah itu, besoknya baru traveling.
Tim dan Volunteer

Dalam kegiatan TnT ini pun akan dilakukan perekrutan volunteer, baik yang mengajar, medis maupun dokumentator. Perekrutan terbuka untuk semua kalangan profesi dan tidak terbatas daerah. Misalnya nih kalian domisili Aceh bisa daftar sebagai volunteer untuk TnT di Papua dan sebaliknya, tidak ada sekat profesi dan wilayah. Karena komunitas ini independen, jadi untuk mendukung kegiatan dapat berjalan, biasanya dilakukan pencarian dana seperti jualan merchandise, jualan kue dan htm dari volunteer yang nantinya akan digunakan untuk transportasi, akomodasi, konsumsi, kaos, sertifikat dan sebagainya.

Kali ini pun saya berkesempatan untuk ikut kegiatan .traveling and teaching. TnT ini merupakan TnT ke 7 yang saya ikuti baik sebagai volunteer maupun panitia. TnT perdana yang saya ikuti di TnT #4 di SD Rium, NTT sebagai volunteer, berlanjut pada TnT #5 di SDN Kelas Jauh Raibasin, NTT sebagai tim+volunteer yang dilaksanakan oleh 1000 Guru Regional Kupang. Kemudian berlanjut pada TnT #8 di SDN Mosso, Papua yang dilaksanakan oleh 1000 Guru Papua subregional Jayapura sebagai volunteer. Pindah ke Biak, ikut TnT #10, TnT #13, TnT #17 dan sekarang TnT #18 yang dilaksanakan oleh 1000 Guru Papua subregional Biak.

Pada hari Sabtu-Minggu, 9 - 10 Februari 2019, TnT #18 dilaksanakan di SD Negeri Samares, Distrik Biak Timur, Kab. Biak Numfor - Papua sebagai lokasi teaching, sedangkan untuk traveling kami mengunjungi 2 destinasi wisata sekaligus yang lokasinya tidak berjauhan, Pantai Samares dan Telaga Biru Wopersnondi. 

Perjalanan dimulai pada Sabtu pagi menuju ke SD Negeri Samares menggunakan truck tenda sekitar 1 jam-an. Jalanan sudah bagus dan tidak terlalu jauh dari Kota Biak. Tiba di sekolah siswa/i sudah berbaris rapi. Menurut data yang diterima saat survey jumlah siswa 86 orang, sedangkan yang berbaris yah tidak semua, cuman setengah lebih sedikit dari total keseluruhan. Sementara itu sekitar 26 anak-anak muda yang terdiri dari 17 orang volunteer mengajar dan medis serta 9 orang panitia ikut dalam kegiatan .traveling and teaching #18. Iya... Volunteer yang ikut kali ini berasal dari beberapa daerah tetapi kebanyakan dari Biak, ada yang dari Jayapura, Supiori dan terjauh dari Purbalingga (cheebin_kwiyowo). Profesi pun bermacam-macam ada yang memang guru, ada yang konsultan, mahasiswa, pegawai swasta, pegawai negeri, dokter dan bermacam-macam berkumpul menjadi satu.
Teaching

Kegiatan diawali dengan apel dan perkenalan masing-masing volunteer dan tim serta persembahan dari peserta yang membawakan medley lagu nasional dan lagu daerah. Kemudian dilanjutkan dengan teaching yang terbagi dalam 4 sesi, sesi pertama belajar menyenangkan dimana sebelum pemberian materi anak-anak diajak untuk belajar sambil bermain, baik lewat lagu maupun games; sesi kedua tematik, sesi ini berbeda di masing-masing kelas dimana panitia menentukan tema yang akan diajarkan di dalam kelas (sebelum pelaksanaan TnT dilakukan technical meeting) seperti mengeja huruf, bangun datar dan bangun ruang, mengenal budaya, flora dan fauna, serta pengenalan Indonesia; sesi ketiga cita-cita dan pohon harapan, volunteer menjelaskan pekerjaan dan profesi lainnya, kemudian siswa akan menuliskan nama dan cita-cita di daun harapan selanjutnya ditempel pada pohon harapan; sesi 5 heart to heart (motivasi), dalam sesi ini volunteer akan memberikan motivasi dan selanjutnya pembagian donasi yang telah disiapkan berupa alat tulis menulis dan snack. Nah, dalam mendukung proses mengajar panitia menyiapkan alat peraga dasar seperti poster dan peta Indonesia. Donasi pun diberikan ke sekolah berupa bendera, alat tulis dan alat kebersihan. Diakhir teaching, dilakukan foto bersama (setiap moment perlu diabadikan bukan sekadar pamer, tetapi nantinya akan dikenang).
Skrining Kesehatan

Sehabis teaching dilanjutkan dengan skrining kesehatan oleh volunteer medis dokter umum (edelennauli ray.asaf ithasulfianita wulandari_md) dan dokter gigi (drgpanduazhar). Disini terdapat kisah memilukan sekaligus menyedihkan, saat dokter gigi melakukan pemeriksaan, saat ditanya berapa kali sikat gigi, beberapa anak-anak menjawab tidak pernah. Alasannya mereka tidak punya sikat gigi terlebih pasta gigi di rumah :( Apa yang harus dilakukan ???
Penyuluhan Sikat Gigi

Sore hari kegiatan dilanjutkan dengan penyuluhan kesehatan, terdiri dari cara cuci tangan dan sikat gigi yang baik dan benar. 

Ada tujuh langkah untuk cuci tangan
Mulai dari depan hingga ke belakang
Sela-sela jari, buku-buku jari
Kuku-kuku jari, jempol pergelangan

Sepenggal lagu untuk cuci tangan sehingga lebih menarik dan mudah diingat oleh siswa/i, sedangkan untuk sikat gigi langsung oleh dokter gigi.

Setelah itu dilanjutkan dengan games. Volunteer dengan siswa/i akan berbaur dan dibagi ke dalam beberapa kelompok  untuk bermain games bersama. Mencari koin di dalam tepung dan estafet balon, tak lupa yel-yel dari masing-masing kelompok. Kegiatan hari Sabtu bersama siswa/i diakhiri dengan cap salam lima jari di spandu, kemudian foto bersama dan penutupan.
Games

Malam, harinya volunteer untuk tukar kado, evaluasi kegiatan dan sesi curhat-lah. Banyak kata semoga yang keluar dari mulut dan pasti diamini bersama :)
Evaluasi

Minggu.... Waktunya untuk traveling (yang Kristen ibadah dulu)

Lokasi traveling sekitar 30 menit dari lokasi teaching, jalanan sudah tergolong bagus.  Tiket masuk berkisar antara 20.000 - 50.000, hitungannya per kendaraan bukan per orang. Menggunakan truck tenda, perjuangan traveling pun dimulai. Diawali dengan hujan yang turun pada saat perjalanan, dilanjutkan dengan jalan kaki sekitar 2 km ditengah guyuran hujan, sampai-sampai spanduk dan matras pun jadi payung. Jalanan yang berkelok, penurunan dan licin, beberapa jalan berseberangan dengan jurang, ini menjadi alasan sehingga mobil tidak membawa kami sampai ke lokasi parkir. Pasti sangat melelahkan, lutut serasa mau patah, jantung mau copot. Tetapi... Setelah tiba di Pantai Samares (lokasi traveling 1) setidaknya terbayar dengan keindahan.... Disini kami bermain games dan makan siang bersama. Dilanjutkan ke Telaga Biru Wopersnondi, destinasi wisata andalan di Biak. Termasuk salah satu telaga dengan warna air terbiru di Indonesia. Foto dan berenang disini sebelum pulang. Semua terbayar...

Pantai Samares (sumber : saesars)

Telaga Biru Wopersnondi (sumber : saesars)

Jika ada yang bertanya. Mengapa kau ikut dan apa yang kau dapatkan dari kegiatan 1000 Guru ?. Saya menjawab, banyak. Mendapat teman baru, berkenalan dengan orang-orang yang berasal dari latar belakang yang berbeda tetapi memiliki tujuan yang sama, salah satu cara untuk ikut berpartisipasi dalam dunia pendidikan walaupun hanya sebentar setidaknya sudah ada langkah yang kami ambil, pasti jalan-jalan sambil berbagi (jalan-jalan berfaedah), belajar dari mereka untuk mensyukuri apa yang dimiliki, melihat tingkah laku walaupun dalam keterbatasan khususnya fasilitas, tetapi mereka tetap semangat dan ceria. Apa yang kita miliki bukan hanya untuk kita saja, tetapi kita perlu berbagi untuk orang lain yang membutuhkan.


Jadi bagaimana ?  Masih tidak mau untuk ikut kegiatan 1000 Guru ? Pasti banyak yang didapatkan... Yg sudah pernah ikut apa tujuan kalian ikut ? dan Apa yang kalian dapatkan ? (bisa tulis dikomentar..)

Bacaan terkait

Momen TnT #18

Pohon Harapan

Donasi

Makan Bersama

Stempel 5 Jari

Penutupan

Balik dari lokasi traveling

Tim

01 November 2018


Setelah hibernasi kurang lebih 6 bulan. Akhirnya blog ini terupdate juga. Memang benar kalau menulis itu butuh ketekunan, seberapa pun banyaknya tulisan itu karena ketika sudah mulai malas untuk menulis akan terbawa suasana dan pada akhirnya keinginan menulis pun hilang sama sekali. Susahnya adalah mengembalikan semangat untuk memulai tulisan. Seperti yang saya alami, bayangkan 6 bulan tidak menghasilkan tulisan satu pun. Ini bukan tentang kesibukan tidak ada waktu menulis juga bukan soal bahan tulisan yang tidak ada, tetapi memang rasa malas tersebut tertimbun dan membatu selama itu, sekali lagi 6 bulan.

Pada akhirnya, menulis sama halnya dengan menanam sesuatu. Diawali dengan memilih biji yang akan ditanam itulah kisah yang akan ditulis, membibit sebagai merangkai huruf per huruf menjadi kalimat, menanam bibit tersebut menjadi tanaman seperti menyusun kalimat menjadi paragraf dan menjadi sebuah kisah yang utuh. Tak sampai disitu, tanaman yang baru ditanam perlu perhatian lebih, bagaimana merawat dengan baik, memberi pupuk, menyiram dengan air sehingga terhindari dari layu bahkan mati dan tak bisa tumbuh lagi. Begitu pun dengan tulisan, setelah menjadi sebuah kisah tidak hanya berhenti disitu, perlu kisah-kisah yang lain yang harus ditulis. Menjaga semangat dan ketekunan menulis sehingga tidak padam oleh rasa malas.

Yang diatas cuman kata pengantar bisa sebagai motivasi untuk tetap menulis sekecil apapun... 

Nah selanjutnya... Isi tulisan ini hanyalah...

Perjalanan saya menelusuri daratan Flores pun berlanjut. Sehabis dari Kelimutu dan mengunjungi beberapa tempat wisata di sekitaran Ende ala-ala backpacker. Dengan menggunakan travel, sayapun melanjutkan perjalanan ke Bajawa. Kevin, teman saya di Ende mengantarkan saya ke terminal untuk mencari mobil yang akan saya gunakan. Terminal yang saya datangi ini kelihatan seperti bukanlah terminal pada umumnya, lebih tepat disebut tempat parkir mobil menunggu penumpang. Tidak ada bagunan layaknya terminal, mobil hanya parkir di pinggir jalan sambil mencari para supir mencari mencari dan menunggu penumpang yang akan menuju daerah tujuan. Hanya saja terdapat beberapa warung yang menjual berbagai makanan dan minuman serta tempat duduk (gasebo) yang sederhana sebagai tempat para penumpang beristirahat sebelum mobil jalan.

Saya masih menunggu sekitar 2 jam di terminal ini, masih sempat baring-baring dan tertidur sebentar sebelum mobil yang saya gunakan berangkat. Perjalanan dari Ende ke Bajawa akan ditempuh selama kurang lebih 3 jam, perjalanan yang lumayan jauh dan pastinya bisa dimanfaatkan untuk tidur. Pemandangan laut masih sempat saya lihat pada awal keberangkatan dan akhirnya saya tertidur juga.

Tujuan saya ke Bajawa tak lain dan tak bukan untuk mengunjungi salah satu kampung adat yang terkenal, Kampung Bena dengan rumah adat yang khas. Perjalanan saya sendiri tanpa ditemnai seorang pun. Untungnyaa di Bajawa saya sudah kontak dengan salah satu pegiat literasi, Bapak Apollo yang kebetulan tinggal di dekat Kampung Bena. Bapak Apollo pun berkenan dan mengajak saya untuk tinggal di rumah beliau sekaligus nanti akan dijemput di terminal.

Perjalanan selama 3 jam sebenarnya tak terlalu terasa lama karena saya kebanyakan tidur, sudah memasuki daerah Bajawa baru saya terbangun. Saya pun turun di terminal kota, tapi ternyata saya salah turun terminal. Harusnya saya turun di salah satu terminal sebelum memasuki kota dan lebih dekat untuk menuju Kampung Bena. Saya turun dari mobil travel dan bertanya ke salah seorang warga cara menuju terminal yang telah saya lewati tadi. Saya harus naik ojek lagi untuk putar balik. Sampai di terminal, ternyata yang jemput saya adalah anak dari Bapak Apollo, bernama Elfrid. Kami pun menuju rumah mereka dengan menggunakan motor. Diatas motor saya bercerita mengenai perjalanan saya untuk eksplore Flores seorang diri dan ini hari kedua saya ada di Tanah Flores.
Kabut Kampung Tradisional Bena

Bajawa merupakan ibukota dari Kabupten Ngada, salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bajawa ternyata lebih dingin dari pada Ende. Bajawa merupakan daerah yang yang dimana setiap kampungnya menjadi kampung tradisional dengan rumah adat. Layaklah bila Bajawa disematkan sebagai surganya kampung tradisional. Seperti yang akan saya kunjungi kali ini, Kampung Bena. Motor tetap melaju menuju Kampung Bena, jalanan sudah termasuk bagus, beraspal. Hawa dingin sudah mulai terasa dan kabut sudah mulai turun karena sudah menjelang sore.

Kami tiba di Kampung Bena yang menjadi tujuan saya. Tiba sekitar pukul 7 kabut sudah mulai turun, tetapi kami tetap melangkahkan kaki. Memasuki kompleks kampung adat kita akan disuguhkan dengan rumah ada berbentuk limas. Kami memasuki kompleks terlihat beberapa warga sedang berkumpul dan anak-anak sedang bermain bola. Kami menuju tempat daftar wisatawan sekaligus membayar tiket masuk seharga Rp. 20.000/orang. Saya sebagai wisatawan diberikan sebuah kain yang nantinya akan diikat di pinggang atau dikalungkan di leher, kain inipun akan dipakai selama berkeliling kompleks.
Kampung Tradisional Bena

Setelah menulis data diri sebagai wisatawan domestik, saya bersama Elfrid berkeliling di kompleks rumah adat yang berjumlah sekitar 40 buah dengan posisi yang saling berhadapan. Rumah adat Bena berbentuk limas dengan atap dari alang-alang dengan dinding dari papan. Ditengah-tengah halaman terdapat tumpukan batu dan menhir-menhir yang digunakan sebagai media dalam upacara adat. Adapula Nga’du yang berbentuk seperti sebuah batu runcing yang menjulang sebagai simbol nenek moyang laki-laki dan Bha’ga bentuknya menyerupai miniatur rumah sebagai simbol nenek moyang perempuan.

Ketika saya berkunjung terlihat beberapa masyarakat yang sedang menenun khususnya perempuan beberapa dari mereka masih remaja. Menenun merupakan mata pencaharian kaum perempuan di tempat ini dan menjadi kewajiban untuk tau menenun sehingga hal ini pun diajarkan secara turun temurun dan melambangkan kedewasaan bagi seorang perempuan. Proses menenunpun masih tradisional dengan bahan dari alam, lamanya menenun tergantung jenis, motif dan ukuran kain yang akan dibuat bisa sampai berbulan-bulan sehingga ini pun membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Kamu laki-laki mata pencaharian yakni berladang dengan menanam jagung, umbi-umbian dan kacang-kacangan, kopi dan kemiri. Hasil baik menenun biasanya dipanjang di depan rumah sehingga pelancong yang datang bisa membelinya, sedangkan untuk hasil berladang nantinya akan dijual di sekitar rumah atau dibawa ke Kota Bajawa.
Anak Perempuan Sedang Menenun

Karena hari semakin malam dan kabut pun sudah mulai turun, kami pun melanjutkan perjalanan ke rumah Efrid sebagai tempat saya menginap. Saya disambut oleh Bapak Appolo dan istri. Saya menemukan keluarga baru ditempat baru ini, mereka menerima saya dengan penuh kehangatan. Tak ada beban di raut wajah mereka, padahal saya baru-baru berkenalan padahal itu lewat pesan di whatsapp.

Paginya hari saya masih berkesempatan untuk berjalan-jalan benar-benar jalan kaki sebelum melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo. Kali ini saya masih ditemani Efrid menunjungi sekolah yang dekat dari rumah tempat saya menginap untuk melihat sekolah yang ditempat Pak Appolo mengajar, saat berkunjung proses mengajar sedang berlangsung. Kemudian kami lanjut ke salah satu kampung adat yang tak jauh dari sekolah hanya berjalan kaki bernama, Kampung Gurusina. Seperti halnya di Kampung Bena. Rumah disini berbentuk limas dengan atap yang terbuat dari rumput-rumputan dan dinding dari kayu, bagian depan beberapa rumah terdapat tanduk kerbau yang dipajang. Mungkin berasal dari kerbau yang digunakan saat upacara adat. Sedikit berbeda dengan Kampung Bena, saat saya berkunjung ke Kampung Gurusina saya hanya melihat seorang ibu yang sedang menenun di depan rumah. Dari Kampung Gurusina ini pun terlihat dengan gagahnya Gunung Inerie yang berarti ibu yang cantik dengan ketinggian 2.245 mdpl berbentuk piramida.
Bersama Erfid

Setelah berfoto ria, kami kembali ke rumah untuk bersiap-siap menuju bandara karea jarak bandara dengan tempat saya menginap lumayan jauh. Saya sempat membeli oleh-oleh berupa gantungan kunci dari serabut atau akar-akar pohon yang dibuat oleh masyarakat di sekitar Kampung Gurusina yang masih menggunakan bahan dari alam dalam proses pewarnaan.
Kampung Tradisional Gurusina

Kembali ke rumah dan melanjutkan perjalanan menuju bandara untuk selanjutnya. Karena memang jiwa-jiwa petualang, kami masih mengunjungi satu tempat wisata lagi karena mumpung dilewati saat menuju bandara.
Spot Foto, Manu Lalu

Manu Lalu menjadi tujuan terakhir saya sebelum berangkat ke bandara meninggalkan Bajawa. Manu Lalu dalam bahasa setempat berarti Ayam Jantan. Sebenarnya tempat ini merupakan sebuah kompleks villa yang berada di atas dataran tinggi. Namun dengan penuh kreativitas villa tersebut disulap menjadi tempat yang patut untuk dikunjungi ketika berada di sekitar Jerebuu. Dari atas tempat ini dari atas bukit, kita akan melihat pemandangan lembah hijau, bukit-bukit serta rumah penduduk di kejauhan serta pemandangan Gunung Inerie. Banyak spot foto ditempat ini, tetapi yang paling terkenal dan paling dicari pengunjung adalah sebuah patung ayam jantan yang berdiri kokoh, seperti nama tempat ini. Entah berselfie, duduk maupun berdiri di atas ayam jantan ini pun bisa dilakukan. Selain itu spot foto berbentuk hati, tempat duduk dan sayap. Beberapa bagian dari tempat ini pun masih dalam proses pengerjaan, seperti jalan setapak dan taman bunga. Saat berkunjung tak seorang pun wisatawan yang ada jadinya sepi. Mungkin karena kami datang kepagian atau apalah. Tak perlu merogoh kocek untuk menikmati panorama yang disuguhkan, hanya dengan membayar Rp. 5.000/orang.
Gunung Inerie

Saya melanjutkan perjalanan setelah mengambil gambar walaupun masih ingin lama di tempat ini, tetapi karena dikejar waktu, sehingga kami harus sesegera mungkin beranjak menuju bandara yang memakan waktu sekitar sejam lebih.

Tak hanya Kampung Tradisional Bena dan Gurusina yang ada di Bajawa, bahkan setiap kampung  yang tersebar di Bajawa memiliki perkampungan layaknya kampung tradisional dengan rumah-rumah adat dalam satu kompleks. Tak ayal jika Bajawa layak mendapat predikat sebagai Surganya Kampung Tradisional

Petualangan saya di tanah Flores masih akan berlanjut… So stay tune on my blog :)

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

-Nando Torajanese||Traveler|| Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Ingin keliling Indonesia dan bisa menginjakkan kaki ke beberapa negara

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts