11 April 2016

Mendaki akhir-akhir ini menjadi salah satu kegiatan yang banyak digemari. Terlebih ketika munculnya film 5 cm yang bercerita mengenai petulangan 5 sahabat dengan salah satu alur ceritanya mendaki Gunung Semeru. Saya yang tinggal di daerah pegunungan tepatnya di Toraja belum pernah merasakan namanya mendaki gunung. Sampai suatu hari....
Gunung Mutis

Petualangan saya mendaki gunung pertama kalinya di mulai. Libur panjang pada tanggal 6-7 Februari 2016, saya bersama teman kantor memanfaatkan dengan mendaki Gunung Mutis yang terletak di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Gunung ini merupakan gunung tertinggi di Provinsi NTT dengan tinggi 2.427 mdpl (meter diatas permukaan laut).
Siap-siap berangkat

Perjalanan kami di mulai. 6 Februari 2016 sekitar pukul 07.30, kami berangkat dari Kupang menggunakan mobil rental dengan harga sewa sekitar 1 jutaan per hari. Perjalanan panjang dan melelahkan sudah menunggu kami. Jalanan yang berkelok-kelok, terkadang mulus terkadang berbatu menemani perjalanan kami. Beberapa dari kami harus turun dari mobil karena jalanan yang tidak mendukung seperti jalan tanjakan yang belum di aspal. Kami memasuki Kota Soe sebagai ibukota Kab. TTS sekitar pukul 11.00. Kami berhenti untuk makan siang dan membeli sirih pinang. Sirih pinang bisa dibilang merupakan salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat NTT, hal ini dikarenakan sirih pinang biasanya disajikan dalam upacara adat ataupun menjadi oleh-oleh yang akan diberikan kepada tuan rumah ketika mengunjungi rumah orang NTT sekaligus sebagai rasa persaudaraan dan penghargaan bagi mereka.

Tak terasa perjalanan sekitar 6 jam berhasil kami lalui. Pukul 13.30 tiba di Lopo Mutis sebagai tempat beristirahat dan melapor ke tetua adat setempat serta menyerahkan sirih pinang yang kami beli di pasar. Di depan rumah berdiri sebuah tulisan “Homestay Lopo Mutis Pusat Informasi” dan memasuki homestay beberapa rumah kecil sederhana yang disedikan sebagai tempat menginap bari para pendaki yang berkeinginan untuk beristirahat sebelum melanjutkan pendakian. Kami disambut beberapa masyarakat yang menggunakan kain khas NTT yang dibalut di pinggang menutupi celana. Terlihat di kursi seorang bapak yang sudah lanjut usia tetapi terlihat masih segar dan bersemangat, beliau adalah Bapak Mateos Anin selaku tetua adat. Kami berbincang-bincang mengenai rencana pendakian kami ke Gunung Mutis. “Penduduk tertua yang masih hidup dari leluhur masyarakat Gunung Mutis adalah saya” Kata Bapak Mateos. “Saya sempat berkeliling ke beberapa daerah di Indonesia” tambahnya.
Lopo Mutis

Terkait pendakian kami, karena sekarang musim hujan Bapak Mateos menyarankan untuk mendaki Gunung Mutis besok pagi dan sebaiknya menginap di Lopo dulu, walaupun perjalanan kemungkinan bisa dilanjutkan dengan menginap di Benteng (tempat yang biasanya digunakan para pendaki untuk beristirahat). Kami pun berembuk untuk mendapatkan kesepakatan dengan pilihan menginap di lopo, berangkat besok subuh dan langsung turun dari gunung tanpa berkemah atau melakukan perjalanan hari ini, berkemah di benteng dan besok pagi melanjutkan ke puncak gunung dan langsung. Setelah berdisuksi kami mengambil keputusan untuk melakukan perjalanan hari ini. Setidaknya tenda yang kami bawa dapat bermanfaat ketika menginap di Benteng. Tak lupa kami mengatakan ke Bapak Mateos bahwa kami butuh porter untuk menemani kami selama pendakian. Kami menyepakati menggunakan 3 porter. Tarif sekitar Rp. 100.000/porter dan kalau porternya menginap bersama pendaki maka ditambah minimal Rp. 50.000/porter.

Sebelum pendakian kami disuguhkan makanan ringan oleh Bapak Mateos bersama keluarga, kami pun menikmati sajian tersebut. Kami tidak menggunakan mobil tetapi berjalan kaki dikarenakan saran dari Bapak Mateos bahwa beberapa titik jalanan tidak mendukung untuk menggunakan mobil yang kami rental.
Berbincang dengan Bapak Mateos dan penduduk sekitar

Sekitar pukul 14.50 kami melanjutkan perjananan pendakian Gunung Mutis. Sebelumnya kami melapor ke kantor Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam (BBKSDA) NTT Resort Konservasi Wilayah sebagai pengelola dari Cagar Alam Mutis untuk melaporkan bahwa kami akan melakukan pendakian ke Gunung Mutis.
Kantor BKSDA

Perjalanan yang cukup melelahkan, jalan yang berbatu-batu, jalan yang beralaskan tanah, tanjakan dan penurunan menjadi karpet merah bagi kami. Tetapi semua itu setidaknya hilang sendiri dengan suasana yang begitu alami yang kami rasakan selama perjalanan. Udara yang terhirup begitu segar dan pastinya bebas dari polusi, hutan yang masih hijau, pepohonan yang beranekaragam jenis dan bentuk menjadi pemandangan yang menakjubkan. Hembusan napas lelah dan suara langkah kaki kami ditambah kicauan burung menemani perjalanan kami, entah burung-burung tersebut memberi tanda bahwa mereka menyambut kedatangan kami atau mengisyaratkan kepada kami bahwa ini adalah wilayah mereka, kami jangan merusak lingkungan mereka. Sekitar pukul 17.00 kami tiba di benteng tempat yang kami rencanakan untuk mendirikan tenda. Selama perjalanan beberapa kali kami harus berhenti beristirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga. Karena kondisi masih terang, kami bersepakat untuk melanjutkan perjalanan dan rencananya kami akan menginap di Padang Lelofui.
Benteng

Perjalanan sekitar 3 jam dari Lopo Mutis sampai ke Padang Lelofui. Pukul 18.30 kami tiba di Padang Lelofui. Kondisi sekitar sudah gelap. Kami mencari tempat yang aman dan cocok untuk mendirikan tenda, beristirahat di sini dan masak untuk makan malam. Pukul 21.00 saya pun membaringkan tubuh di dalam tenda untuk kembali mengistirahatkan tubuh yang telah berjuang sekitar 9 jam mulai perjalanan dari Kupang ke tempat kami berada sekarang. Mengumpulkan energi untuk kembali melanjutkan perjalanan yang sesungguhnya mendaki Gunung Mutis.
Padang Lelofui

Minggu, 08 Februari 2015 sekitar pukul 04.30 kami bangun dan bersiap-siap untuk mendaki. Tanpa sarapan hanya meneguk segelas air. Mempersiapkan bekal berupa makanan ringan dan air sebagai perlengkapan kami selama perjalanan ke maupun dari gunung. Pukul 05.00 kami berangkat.

Perjalanan ini lebih menguras banyak tenaga, jalan didominasi oleh tanjakan dan sedikit memutar. Perjalanan sekitar 30 menit, kami tiba di sebuah puncak bukit, yang pastinya belum puncak gunung. Sunrise sudah menyapa kami. Sebenarnya rencana kami ingin melihat sunrise di puncak Gunung Mutis, tetapi rencana tersebut diluar dugaan. Setidaknya kami dapat melihat sunrise di sini. Di tempat ini juga terdapat sebuh tugu dan beberapa kuburan. Menurut porter yang menemani kami, kuburan tersebut adalah kuburan orang Belanda yang tinggal di sekitaran kaki gunung.
Sunrise di kaki Gunung Mutis

Kami melanjutkan perjalanan.... Melewati bekas rumah orang Belanda yang sudah ditutupi tanaman yang tubuh subur.

Melanjutkan perjalanan sekitar 30 menit, kami tiba di pintu gerbang Gunung Mutis. Porter pun berbicara kepada kami untuk meletakkan sedikit makanan yang kami bawa, saya pun mengeluarkan permen dan makanan ringan, meletakkannya di batu besar yang memang menjadi pintu gerbang Gunung Mutis.
Gerbang Mutis

Kami beristirahat sejenak. Kemudian melanjutkan perjalanan. Jalanan yang terus mendaki menguras tenaga. Kami beberapa kali beristirahat. Menikmati bekal yang kami persiapkan. Sesekali memotret apa yang kami lihat. Pemandangan hutan yang lebat dan kembali kicauan burung menyambut kedatangan kami.
Istirahat sebelum melanjutkan perjalanan

Sekitar pukul 08.00 atau perjalanan selama 3 jam dari Padang Lelofui. Kami tiba di puncak 1 Gunung Mutis. Di sini tidak ada tugu, yang ada hanya sebatang kayu yang berdiri dengan tumpukan batu di sekitarnya. Saya pun bergegas mengambil beberapa gambar sekaligus menunggu teman yang masih di belakang kami. Setelah kami semua sudah berada di puncak 1. Kami beristirahat sejenak untuk menuju puncak 2 yang jaraknya hanya beberapa meter.
Puncak I

Akhirnya sekitar hampir pukul 09.00.... Kami pun tiba di puncak 1 sebagai puncak yang sesungguhnya dari Gunung Mutis. Terdapat sebuah tugu dari beton yang terlihat sudah lama di buat, tulisan “Puncak Mutis 2.427 MDPL” dan sebuah plat bertuliskan “Duta Teknik”. Sekitaran puncak ditumbuhi banyak pepohonan dan tanaman. Karena Gunung Mutis bukan gunung aktif sehingga gunung ini menjadi habitat yang cocok bagi tanaman.
Puncak II

Perjalanan yang cukup panjang dari Kupang ke Lopo Muti sekitar 6 jam, dari Lopo Mutis ke Padang Lelofui sekitar 3 jam, dari Padang Lelofui ke Puncak Gunung Mutis sekitar 4 jam. Total perjalanan yang kami tempuh setidaknya sekitar 13 jam. Perjalanan yang cukup panjang, melelahkan, menguras tenaga. Tetapi ketika tiba di puncak semuanya terbayar ada rasa bangga dan lega.

Kami mengambil gambar dari puncak ini.... Sebelum kami kembali...

Perjalanan kembali ke Kupang telah menunggu. Setelah puas melihat pemandangan dan pastinya berfoto ria. Kami kembali sekitar pukul 09.30 dan tiba di Padang Lelofui sekitar pukul 12.00. Waktu tempuh yang lebih cepat dibanding ketika berangkat. Mungkin karena penurunan jadi cepat sampai.
Tenda di Padang Lelofui

Kami masak untuk makan siang. membersihkan lokasi tenda dan bersiap-siap untuk kembali ke Kupang. Kembali berjalan kaki menelusuri jalan. Ketika kembali dan sudah memasuki daerah Benteng, hujan turun terpaksa kami harus berteduh untungnya di sekitar daerah tersebut ada gua. Sambil berteduh kami sambil menikmati kopi panas sekalian mengusir dinginnya udara pegunungan.
Makan sebelum pulang

Hujan reda... Kami melanjutkan perjalanan kembali.. Sekitar pukul 06.00 atau sekitar 4,5 jam perjalanan dari Padang Lelofui kami sampai di Lopo Mutis. Sebelumnya kami telah melapor kembali ke pihak Balai KSDA bahwa kami telah turun selesai melakukan pendakian.

Pendakian ke Gunung Mutis kali ini merupakan petualangan yang tidak pernah saya lupakan. Sebagai pendakian saya yang pertama rasa senang dan tentunya rasa penasaran dan keinginan untuk mendaki gunung lain yang ada di Indonesia. Terlepas dari semua itu, disini saya belajar bagaimana bekerjasama dan peduli kepada sesama, terlebih bagaimana menghargai alam ini sebagai ciptaan Tuhan yang harus dijaga dan dilestarikan. Tuhan menyertai dan alam mendukung pendakian kami, selama perjalanan kondisi cuaca yang tetap cerah dari keberangkatan, menuju dan kembali dari puncak. 

Setelah kami berisitrahat sejenak. Kami meminta izin untuk pulang....

Usut punya usut ternyata kami tidak akan langsung balik ke Kupang, tetapi berdasarkan kesepakatan, kami akan mengunjungi dan akan menginap di salah satu destinasi wisata yang tidak jauh dari Lopo Mutis. Desa Wisata Desa Fatukoto : Danau Oelnonon.

Perjalanan dan keseruan kami di Danau Oelnonon telah saya ceritakan dipostingan sebelumnya...

Ini beberapa moment yang sempat saya abadikan....

Perjalanan





Pemandangan















Gerbang Gunung Mutis



Istirahat
Reaksi:

8 comments:

  1. Halo bro.
    Bagus juga pengalamannya.
    Kapan2 bolehlah saya diajak ke mutis.
    Udah 4 tahun di kupang, belum pernah ke sana.
    Hehee.

    Salam.

    ReplyDelete
  2. Keren perjalanannya.
    Kapan2 bolehlah saya diajak ke mutis.
    Saya udah 4 tahun di kupang, belum pernah ke mutis. Hehee.

    Salam.

    ReplyDelete
  3. Keren perjalanannya.
    Kapan2 bolehlah saya diajak ke mutis.
    Saya udah 4 tahun di kupang, belum pernah ke mutis. Hehee.

    Salam.

    ReplyDelete
  4. Perijinan di BBKSDA bagaimana ya mas

    ReplyDelete
  5. Perizinan di BBKSDA bagaimana ya mas?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kmrin pas k atas cuman isi buku tamu di pos BKSDA. Minta izin jga k tetua adat sblum naik

      Delete

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts