06 April 2017

Bersama anak-anak Kampung Mosso

Luas daratan Indonesia lebih kecil dibanding luas lautan dengan perbandingan 1/3 : 2/3. Terlepas dari hal tersebut, daratan Indonesia menjadi pemukiman bagi masyarakat dengan kekayaan yang luar biasa, hutan yang luas, tanah yang subur, alam bahari yang mempesona dan sebagainya. Namun demikian beberapa diantaranya sudah mengalami penurunan karena tangan-tangan yang kurang bertanggung jawab. Penduduk Indonesia tersebar dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai Pulau Rote. Ada yang tinggal di perkotaan ada pula yang tinggal dipedesaan, ada yang tinggal di daerah yang sangat berkembang ada pula yang tinggal di pedalaman, ada yang tinggal dekat dengan ibukota ada pula yang tinggal di daerah perbatasan.

Beberapa daerah daratan di Indonesia merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, seperti Kalimantan yang berbatasan dengan Malaysia, Nusa Tenggara Timur berbatasan dengan Timor Leste dan Papua yang berbatasan dengan Papua New Guinea. Berbicara tentang daerah perbatasan, pasti yang terlintas adalah daerah yang tertinggal, tidak berkembang dan masih banyak lagi pikiran negatif yang muncul di kepala. Memang pendapat tersebut tidaklah keliru, tetapi tidak seburuk yang dipikirkan. Beberapa daerah perbatasan di Indonesia terlihat sudah maju dan bahkan dalam proses pembangunan untuk menjadi daerah yang berkembang.

Salah satu keunikan tersendiri dari daerah yang berada di perbatasan mengenai bahasa yang digunakan masyarakat dalam berkomunikasi. Tak bisa dipungkiri pasti ada pengaruh dari negara tetangga dalam bahasa sehari-hari. Inilah yang saya temui ketika berkunjung ke salah satu kampung perbatasan yang ada di Papua, bernama Kampung Mosso. Secara administrasi Kampung Mosso masuk ke dalam pemerintahan Kota Jayapura, Provinsi Papua. Kampung ini berbatasan dengan Papua New Guinea. Di daerah Papua sebenarnya terdapat dua pintu perbatasan yang legal, salah satunya di Mosso dan satunya lagi di Sota, Kabupaten Merauke yang berada di sebelah selatan Pulau Papua.
Anak Kampung Mosso

Kembali ke Kampung Mosso. Kunjungan saya ke kampung ini bukan hanya untuk datang berkunjung, melihat kehidupan dan bahasa masyarakat setempat. Tetapi saat itu saya mengikuti kegiatan dari salah satu komunitas yang peduli pendidikan di daerah pedalaman dan perbatasan, komunitas 1000guru region 1000_guru_papua. Kegiatan kami adalah Traveling and Teaching (TnT) yang menjadi salah satu program dari komunitas ini. Jalan-jalan sambil berbagai, berbagi motivasi, berbagi pengetahuan, berbagi canda dan tawa, berbagi kebahagiaan. Setidaknya travelingnya lebih bermakna dan pastinya bukan traveling biasa.
Lokasi Traveling and Teaching

Nah… Soal bahasa yang ada di Kampung Mosso ini menurut penuturan dari masyarakat sekitar, setidaknya ada 3 bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi ditengah-tengah masyarakat. Bahas tersebut adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Mosso dan Bahasa Tok Pisin (English Pisin).

Saya lebih tertarik dengan bahasa Tok Pisin. Bahasa ini merupakan bahasa negara tetangga, Papua New Guinea. Karena berada diperbatasan dan beberapa masyarakat di Kampung Mosso memiliki kekerabatan dan keluarga yang di PNG, maka bahasa ini masih melekat bagi masyarakat. Selain itu, untuk membeli keperluan sehari-hari masyarakat dari Kampung Mosso harus ke daerah perbatasan untuk menjual hasil bumi atau apapun itu atau membeli keperluan sehari-hari. Pasarnya terletak di daerah perbatasan, dimana bertemunya masyarakat dari Indonesia dengan PNG untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Tok Pisin, walaupun beberepa diantara mereka masih mengerti bahasa Indonesia.

Bahasa Tok Pisin kalau didengar sepintas, seperti Bahasa Inggris tetapi dengan beberapa perubahan dan pastinya tanpa memperhatikan tenses. Ketika mendengarnya agak lucu dan aneh, tetapi setidaknya kalo basic Bahasa Inggris mereka mengerti. Berikut beberapa kata-kata dalam Bahasa Tok Pisin yang sempat saya dengar dan himpun (hehehehe) dari anak-anak tempat kami melakukan Traveling and Teaching.
Anak-anak Kampung Mosso

Wanem Nem Bilong Yu ? : Siapa Nama Kamu ? (Wanem : What, Nem : Name, Bilong : Belong, Yu : You)
Yu Orait ? : Apa Kabar ?
Mi Orait Tasol : Saya Baik
Mama Go Long Gaden : Mama Pergi Ke Pasar
Yu Go Long Skul : Kamu Pergi Ke Sekolah
Go Long Tu : Pergi ke Gereja
Kisim Kumu : Sayur
Tenkyu : Terima Kasih
Yu Bilong Wanem Hap ? : Kamu Berasal dari Mana ?
Mi Mangi Indonesia : Saya Berasal dari Indonesia

Itu sedikit contoh kalimat dalam Bahasa Tok Pisin

Untuk perkenalan bisa seperti ini :
Nem Bi Long Mi Miriam (Nama saya Miriam)… Deid Be Long Me Fifteen (Umur Saya 15 Tahun)… Mi Stab Moso (Saya Tinggal di Moso)… Mi Skul Long Indonesia Negeri Moso (Saya sekolah di SDN Moso)
Anak Kampung Mosso


Terdengar berbeda dari Bahasa Inggris, tulisannya pun berbeda, tulisannya seperti pengucapannya. Tapi kata-kata di atas bisa anda gunakan ketika traveling ke Papua New Guinea… Menambah referensi kalimat dalam Bahasa Tok Pisin dari Papua New Guinea.
Reaksi:

2 comments:

  1. Wah aku baru tau bahasa Tok Pisin ini, makasih infonya nambah lagi pengetahuan untuk Indonesia Timur :)
    lucu juga y bahasanya pasti logatnya pun khas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mbak... Klo mau bljr lbih bnyak, lgsung dtg k TKP... Bahasanya kayak inggris2 gmna... Hehehe

      Delete

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts