13 March 2017

Pulau Pasi

Biak memang tak akan habisnya untuk dijelajahi. Destinasi wisata tersebar dimana-mana yang beragam, ada wisata alam, wisata religi, wisata sejarah dan wisata bahari. Wisata bahari di Biak tidak kalah dengan wisata bahari yang ada di daerah lain di Indonesia. Biak memiliki pantai yang masih bersih dengan hamparan pasir putih. Biak memiliki kepulauan yang tidak kalah indahnya dengan Raja Ampat, bernama Kepulauan Padaido.

Kepulauan Padaido terletak di sebelah tenggara Pulau Biak yang berbatasan langsung dengan Samudra Pasifik, meliputi 2 Distrik, yakni Distrik Padaido dan Distrik Aimando. Jumlah pulau sekitar 23-an dan hanya 8 yang berpenduduk yang lain pulau kosong atau pulau yang hanya dimanfaatkan nelayan sebagai tempat singgah saat melaut. Karena beberapa alasan, seperti untuk melestarikan sumber daya ikan dan ekosistem, melindungi dan mengelola eksosistem perairan yang memiliki keanekaragaman hayati, jadilah Kepulauan Padaido menjadi Kawasan Konservasi Perairan Nasional, bernama Taman Wisata Perairan (TWP) Kepulauan Padaido.

Kawasan Konservasi Perairan Nasional merupakan kawasan perairan yang dilindungi, dikelola dengan sistem zonasi untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya ikan dan lingkungan secara berkelanjutan. Kawasan konservasi perairan terdiri dari beberapa macam, salah satunya Taman Wisata Perairan (TWP) dengan tujuan untuk dimanfaatkan bagi kepentingan wisata perairan dan rekreasi. Tepatlah bila Kepulauan Padaido menyandang status tersebut ditambah lagi keindahan baik di bawah maupun di atas permukaan laut.

Beberapa destinasi wisata dan hal yang dapat dilakukan saat berkunjung ke TWP Padaido, seperti berenang, snorkeling, menyelam di Goa Bawah Laut Wundi (Wundi Cave), menyelam bangkai kapal di Pulau Rasi, menikmati sunrise dan sunset, menginjakkan kaki di hamparan pasir putih, berjemur atau sekedar melihat dan turun tangan langsung melakukan kegiatan sehari-hari masyarakat, mollo (menyelam) gurita dan kerang, asar (asap) ikan dan sebagainya.

Dengan banyaknya jumlah pulau yang ada, tak mungkin untuk dapa mengelilingi dan bertandang di setiap pulau hanya sehari saja. Makanya untuk menikmati TWP Kepulauan Padaido harus menyiapkan waktu yang lama untuk dapat berkunjung atau memilih beberapa hari untuk menginap di salah satu pulau dan esok, esok dan esok lagi bertandang ke pulau lainnya sampai semua pulau dikunjungi. Inilah yang saya dan teman lakukan (Ryon dan Kak Leman). Kami memilih mengunjungi satu pulau selama 2 hari. Pilihan kami jatuh ke Pulau Pasi tepatnya di Kampung Samberpasi. Pulau ini memiliki keindahan tersendiri dengan hamparan pasir putih dan beberapa spot snorkeling dengan terumbu karang yang masih bagus, ditambah lagi di kampung ini sedang ada pembangunan penginapan dari Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor.

Karena waktu tempuh yang cukup jauh sekitar 2-2,5 jam perjalanan dari Biak, jika menyewa perahu pasti merogoh dompet. Jadilah untuk menghemat biaya, kami menumpang di salah satu perahu nelayan yang akan menuju ke Pulau Pasi untungnya pas keberangkatan kami merupakan hari pasar di Pasar Bosnik. Pagi-pagi saya dan Maryon sudah menuju pasar untuk mencari perahu. Cukup sulit untuk menemukan perahu yang dapat mengantarkan kami karena cuaca masih kurang bersahabat sehingga nelayan yang menjajankan hasil laut dari pulau hanya sedikit. Berkeliling pasar dan bertanya kesana kemari, bertemulah kami dengan seorang bapak yang bersedia mengantarkan kami ke Pulau Pasi walaupun si bapak tinggalnya di pulau sebelah (Pulau Mbromsi). Kami kembali ke kota untuk persiapan keberangkatan.
Meluncur ke Pulau Pasi

Kembali ke Pasar Bosnik menumpang di perahu nelayan sekitar pukul 13.20 kami berangkat mengarungi lautan. Rencananya kami menginap selama 3 hari 2 malam di Kampung Samberpasi, Pulau Pasi mumpung lagi libur. Perjalanan memakan waktu yang cukup lama karena cuaca sedikit tidak bersahabat sekitar pukul 16.00. Memasuki Pulau Pasi dari kejauhan terlihat hamparan pasir putih seolah menyambut kedatangan kami dengan pepohonan di salah satu sisi pulau. Sebelumnya saya sudah pernah menginjakkan kaki di Pulau Pasi, tetapi di sis pulau yang berbeda tepatnya di Kampung Pasi walaupun hanya singgah sebentar dan melanjutkan perjalanan ke pulau lainnya.

Sampai di pinggir pantai kami menurunkan barang dari perahu, memberikan sedikit uang sebagai ongkos perahu, selanjutnya perahu yang kami tumpangi melanjutkan perjalanan ke Pulau Mbromsi. Kami menuju ke rumah Bapak Kepala Sekolah SD yang ada di Kampung Samberpasi karena masih ada hubungan keluarga dengan Ryon. Bercerita sebentar, bertemu dengan kepala kampung untuk meminta izin serta mendirikan tenda yang telah saya bawa.
Keseruan anak-anak Kampung Samberpasi

Makan malam kami disuguhi makanan dari Bapak Kepala Sekolah ditambah makanan yang telah kami beli dan masak dengan kompor portable yang kami bawa dari kota. Malamnya menginap di tenda, karena suhu di dalam tenda panas, saya pun memilih untuk tidur di luar menggunakan lazybag, setelah suhu di dalam tenda terasa nyama untuk tidur barulah saya masuk. Tidur di dalam tenda awalnya alam mendukung, tetapi menjelang subuh angin kencang datang, kami harus menggeser tenda ke tempat yang lebih terlindung. Bapak kampung pun ikut terbangun, khawatir tenda kami bermasalah, mengajak untuk tidur di salah satu penginapan. Tetapi kami tetap bertahan tidur di tenda hingga pagi hari, tenda tetap berdiri kokoh.

Pagi harinya sarapan. Lanjut, menikmati keindahan pulau dengan snorkeling di sekitar dermaga. Anak-anak pun tak kalah serunya ikut berenang. Beberapa spot snorkeling yang tepat di sekitar dermaga karena kondisi karang masih bagus. Puas berenang, kami kembali ditawari makan.
Snorkling

Sehabis makan dan membersihkan diri. Kami melanjutkan kegiatan dengan berkunjung ke sisi lain pulau, tepatnya di Kampung Pasi. Jalanan penghubung kampung di Pulau Pasi tergolong bagus, sebagian sudah di aspal dan sebagian lagi dalam proses penyelesaian dan nantinya akan dibuat jalan lingkar pulau. Dengan berjalan kaki, kami menelusuri jalanan menuju Kampung Pasi. Jaraknya lumayan jauh sekitar 3 km, tetapi kaki kami terus melangkah hingga akhirnya tiba.
Jalanan di Pulau Pasi

Tak ada tujuan yang pasti, hanya sekadar jalan-jalan. Kami menuju dermaga yang ada di Kampung Pasi. Terlihat anak-anak sedang sibuk memancing ikan dengan alat pancing seadanya. Hanya menggunakan tali nilon yang dililit di kaleng ataupun di bambu dengan umpan dari irisan kecil ikan-ikan yang telah dipancing. Terlihat keseruan mereka memancing dan sepertinya mudah saja bagi mereka mendapatkan ikan. Saya pun mencoba meminjam pancingan. Ternyata tak semudah yang terlihat, mungkin ada trik khusus untuk bisa mendapatkan ikan dengan cepat. Sudah berkali-kali saya mencoba bahkan umpan sudah habis, tetapi saya belum mendapatkan ikan walaupun hanya secuil. Tetap sabar menunggu, pasti berhasil. Alhasil saya pun beruntung, seekor ikan tersangkut di kail saya walaupun ukurannya terbilang kecil, tetapi setidaknya saya berhasil. Saya kembali mencoba, tetapi belum bertambah-tambah. Karena sudah merasa jenuh saya berhenti, mengembalikan pancingan. Kami pun kembali ke sebelah, Kampung Samberpasi.
Asik memancing

Sorenya, kami hanya nongkrong di dermaga, beristrahat sambil menunggu sunset.
Menikmati sunset

Malamnya, kami kembali diajak makan oleh Bapak Kepala Sekolah. Menu kali ini special, Ikan Bakar. Sebelumnya bapak kepala sekolah telah memancing ikan disekitar perairan pulau. Katanya hasil tangkapan tak seberapa karena kondisi kurang mendukung, padahal kalo di lihat lumayanlah. Kami bantu mengipas, mengoles dan memanggang ikan. Setelah matang kami pun menikmati bersama-sama. Disinilah kebersamaan dan keakraban terjalin.

Setelah makan malam, kami menuju dermaga menikmati malam. Karena disekitar dermaga terlihat banyak ikan. Kami pun meminjam pancingan pak kepala sekolah untuk memancing. Karena umpan tidak ada, beberapa teman pulau terlebih dahulu mencari umpan di sekitar perairan. Umpan sudah ada, kami pun memancing. Seperti sebelumnya, memancing tidaklah semudah yang terlihat. Butuh kesabaran untuk mendapatkan ikan. Untungnya saya berhasil mendapatkan seekor ikan dengan ukuran yang tak seberapa. Setidaknya ada hasil walaupun cuman satu ekor daripada tidak sama sekali. Kami masih memancing beberapa saat, akan tetapi belum ada perkembangan hasil tangkapan, kami pun menyudahi memancing.
Bakar-bakar ikan

Kembali ke tenda untuk beristriahat. Malam kedua menginap di Pulau Pasi dengan menggunakan tenda, alam mendukung sampai pagi hari. Hanya rintik-rintik saat dini hari itupun hanya sebentar. Masalahnya ada di nyamuk. Berusaha untuk tidur, tetapi tetap tidak bisa. Gigitan dan suara nyamuk mengganggu, saya pun beberapa kali bangun dan berusaha untuk membunuh nyamuk satu per satu. Setelah kondisi dalam tenda mendukung, barulah saya bisa tidur. Padahal harus bangun cepat-cepat untuk kembali ke Kota Biak.

Paginya… Bangun, membereskan tenda dan bersiap-siap untuk kembali. Kami kembali menumpang ke perahu nelayan yang akan menuju ke Pasar Bosnik untuk menjual Kopra dan hasil tangkapan berhubung hari ini hari pasar. Kami pamit ke bapak kepala sekolah dan kepala kampung serta masyarakat sekitar yang telah menerima dan membantu kami selama berada di Pulau Pasi, tepatnya di Kampung Samberpasi. Harus kembali kesini lagi.
Disambut sunrise

Perahu yang kami tumpangi perlahan-lahan meninggalkan bibir pantai Kampung Samberpasi menuju ke Kota Biak. Cuaca sangat mendukung, ombak tidak terlalu besar dan langit cerah secerah hati yang sudah mengunjungi Kampung Samberpasi. Beberapa jam perjalanan, perahu yang kami tumpangi bersandar di pasar, kami tiba dengan selamat. Berterima kasih dan memberikan ongkos tumpangan ke bapak yang perahunya telah bersedia menjadi tumpangan kami dan kami kembali ke tempat kami masing-masing.

Tips saat berkunjung ke Kampung Samberpasi ataupun Pulau yang ada di TWP Padaido : Waktu keberangkatan, usahakan pilih waktu yang tepat saat cuaca mendukung (sekitar bulan Maret ke atas); Hemat transportasi, karena belum transportasi regular menuju Padaido untuk berhemat bisa menumpang di kapal nelayan walaupun tetap mengeluarkan ongkos tumpangan tetapi setidaknya lebih murah daripada menyewa perahu; Hari keberangkatan, Berangkat pada hari pasar (Selasa, Kamis atau Sabtu); Penginapan, bisa menginap di rumah warga atau bawa tenda sendiri; Makanan selama di Pulau, tak perlu khawatir jika pulau yang dituju berpenduduk bisa makan di rumah warga (bawa dana ekstra) atau masak sendiri dengan membawa peralatan dari kota; Bawa Peralatan Snorkling, karena tujuan kita adalah wisata bahari, wajib untuk membawa peralatan tersebut (masker, snorkel dan fins) untuk melihat keindahan bawah laut TWP Padaido; Menjadi Wisatawan bertanggungjawab, jangan merusak lingkungan, jangan membuang sampah sembarang dan tetap jaga kelestarian lingkungan.

Galeri Kampung Samberpasi



Reaksi:

7 comments:

  1. Replies
    1. D bilang alami sih gak jga... Kena sdh ada yg rusak gara2 alat tangkap yg tdk ramah lingkungan 😬😢😥

      Delete
  2. Iya mbak... Klo k Biak ini salah satu destinasi wisata yg patut dkunjungi... Masuk ke dalam kawasan konservasi perairan nasional Taman Wisata Perairan (TWP) Kepulauan Padaido 😊😊😊

    ReplyDelete
  3. Dari dulu aku selalu pengen bikn tenda di atas pasir di pinggiri pesisir. sampe sekarang belum kesampean

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Harus itu mas klhtan seru... Rumah.x jauh dari pantai yak ???

      Delete
  4. Kan.. Lazybag nya kembaran.. hahaha..

    Jadi kangen pantai.. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha... Jangan2 tempat beli sama... Harga.x pun sama.... 😂😂😂

      Ayo ke pantai mbak 😊😊😊

      Delete

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts