21 February 2017

Selain destinasi wisata yang banyak dan tidak akan habisnya jika di eksplore, Toraja pun memiliki adat istiadat yang patut untuk disaksikan, adat yang unik dan menarik perhatian. Jika travelling ke Toraja tak ada salahnya untuk mencari informasi ke orang atau internet soal pelaksanaan budaya yang akan digelar. Sambil anda menikmati destinasi wisata, anda juga bisa belajar dan dapat menyaksikan secara langsung, bukan hanya menonton di televisi. Adat istiadat Toraja tidak ada kalahnya dengan daerah lain di Indonesia. Beberapa diantaranya memang sudah sangat terkenal, seperti adat upacara kematian (Rambu Solo’) dan membersihkan mayat (Ma’ Nene).
Ma' Pasilaga Tedong

Kali ini saya akan bercerita tentang salah satu adat dalam rangkaian upacara Rambu Solo’, yakni Adu Kerbau atau dalam Bahasa Toraja disebut Ma’ Pasilaga Tedong. Adat ini memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Toraja. Adat yang sudah dilaksanakan secara turun temurun. Dulunya biasa hanya dapat disaksikan saat adanya Rambu Solo’ dan itupun tidak sembarang keluarga bisa melaksanakan, ada jumlah kerbau bisa menjadi syarat untuk Ma’ Pasilaga Tedong. Tetapi sekarang beberapa kegiatan dilaksanakan di Toraja khusus untuk adu kerbau.

Saya beruntung saat liburan lebih tepatnya pulang kampung ke Toraja pada bulan Desember-Januari tahun lalu. Ada salah satu tetangga kampung yang mengadakan upacara kematian dan tak ketinggalan  adu kerbau. Kesempatan ini  tidak saya lewatkan begitu saya, harus ikut menyaksikan secara langsung, walaupun masa kecil sudah pernah lihat. Lokasi adu kerbau di Bo’ne, Kelurahan Lemo, Kecamatan Makale Utara, Tana Toraj. Pelaksanaannya 2 hari berturut, harus ikut full.

Dengan menggunakan motor, hari pertama saya pergi bersama bapak saya (Petrus Simpan) dan Rio, parkir motor di Gereja Toraja Jemaat Kambiolangi Pa’gasingan; hari kedua bersama sepupu (Kurni) dan parkir di pinggir jalanan. Kemudian melanjutkan dengan jalan kaki menelusuri deretan persawahan karena tidak memungkinkan motor untuk bisa sampai di lokasi pelaksanaan.

Selama 2 hari ketika sampai di lokasi, sungguh luar biasa sudah banyak masyarakat yang datang, bukan hanya pria tetapi wanita, bukan hanya orang tua tetapi anak-anak pun ikut menonton dengan antusias. Penonton duduk di beberapa tempat yang disedikan keluarga, ada pula yang duduk di atas bukit karena takut jika kerbau lari, bahkan ada yang berdiri berdekatan dengan arena adu kerbau. Bukan hanya masyarakat sekitar tempat adu kerbau, tetapi beberapa masyarakat berasal dari seantero daerah di Toraja, coba bayangkan bagiamana ramainya.
Penonton yang berdiri dekat arena

Kerbau yang beradu bukan hanya kerbau yang disiapkan oleh keluarga. Tetapi beberapa kerbau yang ikut adalah kerbau dari beberapa daerah di Toraja (Kab. Tana Toraja dan Kab. Toraja Utara) yang memang menjadi kerbau petarung yang sudah melanglang buana ke berbagai tempat hanya untuk mengikuti adu kerbau. Tempat ini menjadi ajang bagi orang yang empunya kerbau untuk menunjukkan kepada masyarakat kekuatan kerbau mereka.

Kerbau yang tampil, beberapa dari mereka mempunyai nama, seperti Angin Hitam, J-Punk, Amuba, Batman, BTP dan beberapa nama lainnya. Jadi bukan hanya manusia yang bernama, tetapi kerbau pun punya nama.
J-Punk versus Angin Hitam

Adu kerbau dilaksanakan di persawahan yang sudah panen dan untuk menjaga keamanan, panitia membuat sebuah arena yang dipagari dengan bambu dan kayu hanya dibuatkan dua pintu sebagai tempat masuknya kerbau saat mau beradu. Adu kerbau dipimpin oleh seseorang yang menentukan kerbau yang mana yang akan bertanding dan masuk ke dalam arena. Kalah menangnya kerbau, dapat di lihat dari kerbau yang pertama kali keluar dari arena saat kerbau sudah beradu adalah kerbau kalah, sedangkan kerbau yang dapat bertahan di dalam arena merupakan pihak pemenang.

Kerbau yang masuk ke dalam arena, biasanya ditemani oleh dua orang yang menjadi pengantar sekaligus pemberi sembangat dan kata-kata kepada kerbau untuk tetap beradu. Tak tau kata-kata apa yang keluar dari mulut merek, apakah kerbau mengerti… Hahahaha Saat kerbau memasuki arena teriakan penonton pun mulai riuh mendukung para kerbau.
Pengantar dan pemberi semangat kepada kerbau

Awalnya kerbau yang masuk ke dalam arena belum menunjukkan akan beradu, mereka terlihat malu-malu, saling mengendus, saling cuek, ada pula yang makan rumput dan sisa batang padi yang ada di dalam arena. Tetapi jangan khawatir…… Lama-kelamaan kerbau pun adu jotos dengan kepala dan tanduk saling menunjukkan kekuatan, saling menusuk dan saling dorong-mendorong. Teriakan penonton semakin kencang ketika kerbau sudah saling mengadu dan tak ada yang mau kalah. Pada akhirnya pasti ada yang mengalah juga dengan berlari-lari mencari jalan keluar, ada yang keluar lewat pintu dan ada juga yang keluar dengan menerobos pagar arena. Hasilnya beberapa kerbau terlihat berdarah di bagian tubuh.
Masih malu-malu dan mencari makan

Saling mengendus

Mulai bertarung dan adu kekuatan

Akhirnya ada yang lari dan kalah

Walaupun beberapa spanduk telah dipasang dengan tulisan “Dilarang Main Judi di Tempat Ini” dan “Di Tempat Ini Hanya Adu Kerbau Bukan Tempat Berjudi” bahkan ada tulisan pidana yang akan didapatkan “Bermain Judi Diancam Pasal 303 KUHP dengan Pidana Penjara 4 Tahun”, tetapi semua ini tidak memiliki pengaruh kepada beberapa penonton untuk tetap bermain judi. Ajang ini dijadikan sebagai lumbung untuk mendapatkan uang, ada yang cuman puluhan ribu, ratusan ratusan sampai jutaan rupiah.
Larangan bermain judi

Sanksi Pidana main judi

Adu Kerbau menjadi identitas orang Toraja. Kerbau sebagai salah satu hewan yang memiliki nilai dan berharga tinggi di Toraja. Bukan hanya untuk dijual, dibeli, disembelih dan dimakan, tetapi kerbau menjadi budaya lewat Ma’ Pasilaga Tedong alias Adu Kerbau. Adu Kerbau sebagai rangkaian upacara kematian memiliki makna untuk memberi penghiburan kepada keluarga yang berduka dari keseruan kerbau yang beradu dan teriakan dari penonton. Tetapi yang disayangkan sekarang, adu kerbau pun menjadi ajang berjudi bagi beberapa orang yang memanfaatkan situasi ini. Apakah juga sudah menjadi budaya adu kerbau diisi dengan adu judi ???. Ini perlu diluruskan lagi dan berharap penonton yang datang hanya menikmati adu kerbau tanpa menambah embel-embel judi….
Reaksi:

9 comments:

  1. Seruuu! tapi penjaganya apa nggak bahaya ya di samping kerbaunya gitu. Kalo kena tanduk?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mereka sudah biasa mbak, bisa dikata jadi pawanglah karena mereka juga yang rawat kerbau dari kasi makan sampai mandiin.. Paling lari menghindar klo kerbaunya mau macam2... Hehehe

      Delete
  2. nah...meskipun dilarang pasti ada orang yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk berjudi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah... Beberapa orang mencari kesempatan dalam kesempitan...

      Delete
  3. mantap memang Toraja,,tiada tanding tiada banding..only one in the world

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sudah pasti itu... One and Only One in the World

      Delete
  4. Aku kok malah kasihan ya. Apalagi kalau ada yang sampai berdarah-darah, walaupun mereka cuma hewan, tapi kasihan disuruh bertarung dan dijadikan tontonan. Tapi begitulah adat istiadat di tiap daerah beda2, terkadang bertolak belakang dengan hati nurani aku..

    ReplyDelete

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts