13 April 2017

Teaching di SDN Mosso, dilanjutkan dengan traveling ke Perbatasan RI-PNG di Skouw, Pesawat dalam hutan di daerah Doyo dan terakhir ke Pantai Holtekam di Koya. Habis itu kembali ke Abepura istirahat, makan malam dan karokean bersama beberapa tim 1000_guru_papua. Besok, masih ada sisa satu hari untuk berkunjung ke beberapa destinasi wisata di Jayapura dan sekitarnya sebelum kembali ke Biak.
Teaching SDN Mosso


Traveling ke Perbatasan RI-PNG

Paginya. Saya dan Mas Arief (teman volunteer TnT #8) menginap di salah satu tim 1000_guru_papua (Kang Adjie), karena dia bekerja sehingga kendaraan beliau tidak bisa dipinjam, jadinya kami harus mencari kendaraan untuk jalan-jalan. Kami menjelajah di om google mencari tempat rental kendaraan. Ada beberapa pilihan, tetapi tidak memungkinkan. Salah satu hal yang kami dapatkan saat menghubungi salah satu rental kendaraan. Kami (Mas Arief yang bicara) menghubungi nomor kontak yang tertera di website, seorang bapak menjawab telfon. Dari pembicaraan tersebut seakan-akan bapaknya tidak percaya kepada kami, kalau kami benar-benar wisatawan yang datang ke Jayapura. Malahan dia nanya asal kami dan beberapa pertanyaan lainnya. Ujung-ujungnya tidak berhasil juga. Menghubungi kontak yang lain, tetapi cuman sewa mobil (kalo pake mobil mubazir karena cuman kami berdua), adapula motor sedang di pake. Tak ada pilihan lain untuk menghubungi teman… 
Naik motor pinjam


Untungnya Mas Arief punya teman yang bersedia meminjamkan motornya kepada kami untuk berkeliling. Kami pun memulai perjalanan jalan-jalan di Jayapura dan sekitarnya. Mengunjungi destinasi wisata yang ada...

Tujuan pertama kami ke salah satu destinasi wisata yang sedang booming saat ini, Telaga Emfote atau yang lebih dikenal dengan nama Danau Love. Dinamakan demikian karena danau ini menyerupai atau berbentuk hati, walaupun tak sempurna. Danau Love terletak di Atabar, Ebungfau, Jayapura. Danau Love lebih dekat dari Sentani dibanding Jayapura. Kalo mau ke Danau Love dari Jayapura harus ke arah Sentani.
Danau Love

Perjalanan kami dari Abepura menuju ke arah Sentani. Melewati perkampungan, menelusuri Danau Sentani, bertemu dengan pekerja jalanan, naik turun bukit dan lembah, pemandangan perbukitan hijau kekuning-kuningan ala Papua menjadi teman selama dalam perjalanan. Kami sempat singgah untuk mengabadikan momen tersebut, berhenti di atas perbukitan dengan perpaduan Danau Sentani dan perbukitan. 
Perbukitan disekitar Danau Sentani

Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam-an, setidaknya perjalanan aman-aman saja karena jalanan sudah tergolong baik bisa dilalui kendaraan. Kami sempat berhenti bertanya ke warga arah ke danau, disamping itu kami mengandalkan om google maps untuk sampai di Danau Love.

Sebelum memasuki daerah danau dan masih lumayan jauh, kami memasuki perkampungan sekaligus pintu gerbang danau, meskipun tak ada gerbang yang menyambut kami. Hanya ada tulisan berukuran kecil, dimana tulisan tersebut menyampaikan kepada kami dan setiap wisatawan yang berkunjung ke Danau Love untuk membayar retribusi sebagai tiket masuk. Nah di sini tidak bayarnya tidak dihitung per kepala tetapi dihitung per kendaraan untuk motor sebesar Rp. 20.000/unit dan untuk mobil Rp. 50.000/unit.
 
Ketemu papan biaya retribusi dan Bapak  

Saat kami memasuki wilayah tersebut tidak ada seorang pun yang berjaga. Kami hanya melewati seorang bapak yang pulang dari kebun, memanggil-manggil. Kami berhenti dan dia pun mengatakan untuk membayar uang sebagai tiket masuk Danau Love, walaupun tidak ada tanda bukti masuk. Apa boleh buat kami harus membayar…

Kami melanjutkan perjalanan… Sampai di jalan beraspal dan sesuai petunjuk dari om google maps, kami harus belok kanan dengan jalanan yang tidak beraspal lagi hanya batu-batu kecil, tetapi masih bisa dilalui kendaraan sampai di atas perbukitan.
Belok menuju jalan tak beraspal

Sampai di atas bukit, kami hanya disambut oleh sebuah gazebo yang dibangun sebagai tempat beristirahat bagi para wisatawan. Tak ada orang, tak ada seorang pun yang berkunjung saat kami tiba, mungkin karena hari kerja. Tak banyak fasilitas yang ada, hanya beberapa gazebo yang jaraknya lumayan jauh. Tidak ada tempat sampah, papan nama, kamar mandi dan fasilitas pendukung wisata lainnya. Jadi tak perlu diragukan lagi jika sampah berserahkan dimana-mana.
Disambut gazebo

Sebenarnya dari atas bukit tempat kami berada, bentuk love dari Danau Love tidak kelihatan jelas karena kurang tinggi. Mungkin ada spot yang pas untuk melihat bentuk danau, tetapi kami tidak sempat untuk mencari. Mungkin sebaiknya dan kalo memungkinakan bagusnya dibuat menara sehingga wisatawan bisa melihat secara jelas bentuk danau dan setidaknya bisa melihat dari ketinggian pemandangan perbukitan disekitar danau (menurut pendapat saya saja).

Karena diburu oleh waktu dan masih ingin mengunjungi tempat lain, kami bergegas setelah mengambil beberapa foto sebagai dokumentasi kalo sudah pernah ke Danau Love.

video



Pemandangan Danau Love

Tulisan berlanjut dipostingan berikutnya…..
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts