16 May 2018

Setelah sebelumnya saya telah menulis bagaimana perjalanan saya, pertama kali menginjakkan kaki di Danau Kelimutu. Danau yang memiliki keunikan warna dan kepercayaan masyarakat sekitar danau terkait danau itu sendiri. Perjalanan kami pun berlanjut, saya masih ditemani Kevin. Seorang mahasiswa yang baik hati menampung dan menemani perjalanan saya selama di Ende.

Danau Kelimutu bukanlah satu-satunya destinasi wisata yang ada di Ende. Ada banyak pilihan, seperti yang kami kunjungi. Kami tak menyia-nyiakan waktu untuk menjelajah wisata yang ada sehabis dari Kelimutu. Kami masih sempat mengunjungi beberapa tempat wisata yang berada ataupun yang kami lewati sebelum kami tiba di Kota Ende.

Pemandian Air Panas Lia Sembe. Tempat ini akan kita lewati ketika berkunjung ke Danau Kelimutu. Ini tujuan kami yang pertama karena letaknya yang tidak begitu jauh dari jalan raya, kendaraan bisa masuk sampai pos pembelian tiket. Kami pun membayar tiket masuk sebesar Rp. 2.000/orang. Menuruni anak tangga untuk tiba di pemandian. Pemandian ini berdekatan dengan rumah warga dan warga sekitar menjadikan tempat ini untuk mandi dan mencuci pakaian. Pemandian ini memiliki 2 kolam yang ukurannya berbeda, kolam pertama ukurannya lebih besar dan berada di atas sehingga menjadi tempat pertama yang dialiri dari penampungan sumber mata air panas, biasanya digunakan oleh masyarakat dewasa untuk mandi; kolam kedua berada dibawah yang dipisahkan sekat beton dan berukuran lebih kecil untuk anak kecil dan untuk mencuci.
Pemandian Air Panas Lia Sembe

Entah mengapa air ini menjadi panas, saat berkunjung tak banyak masyarakat yang berada disekitaran pemandian sehingga tidak sempat bertanya. Kami menyempatkan diri untuk mandi berhubung saat keberangkatan kami dari Ende menuju Danau Kelimutu, kami belum mandi. Berenang dan berendam di air panas, ala refleksi. Sayangnya, pemandian ini tidak terawatt dengan baik, walaupun sudah ada himbauan dari papan yang berada disitu untuk tetap menjaga kebersihan, tetapi sampah plastik khususnya bungkus sabun berserakan dimana-mana. Ditambah lagi kamar mandi yang tidak bersih dan tidak ada air. Padahal jika dikelola dengan baik bisa menjadi pilihan destinasi wisata yang patut untuk didatangi setelah mengunjungi Danau Kelimutu.  

Kampung Moni.  Kampung terakhir sebelum Danau Kelimutu, sehingga di kampung ini terdapat beberapa penginapan dan menjadi salah satu tempat untuk menginap sebelum ke Danau Kelimutu. Seperti yang saya sudah tulisan di blog saya sebelumnya, alternatif penginapan untuk menuju Danau Kelimutu, bisa menginap di Kota Ende atau pilih menginap di Kampung Moni. Terdapat banyak pilihan penginapan disini, mulai penginapan yang sederhana dengan harga terjangkau maupun penginapan sekelas hotel dengan tarif yang sesuai dengan fasilitas yang ada. Untuk harga sendiri saya kurang tau karena tidak sempat menginap di kampung ini, tetapi menurut beberapa informasi, ada yang seharga Rp. 70.000/malam. Entahlah apa benar ato salah.
Kampung Moni

Mungkin banyak yang tidak tau kalau ternyata di Kampung Moni terdapat salah satu perkampungan rumah adat (lupa namanya). Rumah adat ini tepat berada di Kampung Moni dan tak jauh dari jalan raya. Kami sempat berkunjung, disambut oleh seorang bapak yang kemungkinan keluarga yang punya rumah adat ini. Desain rumah adat ini seperti rumah adat di Flores pada umumnya, berbentuk limas dengan puncak yang kecil beratap daun. Terdapat beberapa menhir. Pun sebuah halaman yang berbentuk lingkaran dan diatasnya disusun batu sedemikian rupa yang kemungkinan digunakan pada saat upacara adat.

Air Terjun Murundao. Masih di dalam kompleks Kampung Moni, terdapat sebuah air terjun, bernama Air Terjun Murundao. Tak susah untuk mendapatkan air terjun ini, cukup berpatokan pada pohon karet di pinggir jalan sebelah kanan ke arah Kampung Moni. Ditambah terdapat papan nama berwarna biru walaupun berukuran kecil, tetapi masih jelas terlihat. Atau tepatnya berada di depan Rainbow Café and Restaurant. Untuk menuju ke air terjun ini, kita harus menuruni anak tangga karena letak yang berada di bawah. Tiba di bawah sangat sepi, kami hanya berpapasan dengan sepasang wisatawan mancanegara yang mengatakan bahwa air terjunnya lagi tutup. Kami tetap melangkahkan kaki menuju air terjun, menyeberang jembatan. Tak banyak yang kami lakukan di tempat ini, hanya mengambil gambar. Memang air terjun letaknnya di dalam dan memang tutup, tapi ada satu air terjun (entah tergolong air terjun atau tidak) yang ada di depan tetapi tidak begitu tinggi walapun aliran airnya lumayan deras.
Jalan Menuju Air Terjun Murundao

Kampung Tradisional Wologai. Setelah dari Air Terjun Murundao, kami pun melanjutkan perjalanan ke Kota Ende. Kami masih sempat singgah di salah satu kampung tradisional, bernama Wologai. Kampung ini terletak di Detununu, Dusun Wologai, RT 02/RW 04. Perjalanan dari Kampung Moni ke Kampung Tradisional Wologai sekitar 30 menit. Saat kami berkunjung, sekitar kampung ini sangat sepi tak seorang wisatawan pun yang ada atau kami yang terlalu duluan datang. Terdapat kotak berwarna biru yang bertuliskan kotak sirih pinang leluhur (dalam bahasa setempat : wuga nata du’a ria). Kotak ini tepat berada di samping anak tangga sebelum memasuki kompleks. Kotak ini sebagai persembahan atau bisa dikata tiket masuk dari wisatawan yang berkunjung karena disini tidak ada penagih tiket.

Memasuki kompleks kampung, kita akan melihat beberapa rumah adat khas NTT yang menurut saya desainnya dan bahan bangunan yang digunakan tidak jauh berbeda dari rumah adat NTT pada umumnya. Bentuknya yang limas dan atap dari dedaunan. Terdapat pula batu yang disusun sedemikian rupa bertingkat-tingkat yang digunakan sebagai tempat upacara adat. Namun sayangnya, Kampung Tradisional Wologai ini tidak terawat, terlihat dari rumput dan tumbuhan yang mulai meninggi ditambah lagi beberapa bangunan rumah adat yang mulai rusak. Seharunya, keluarga ataupun masyarakat memperhatikan hal ini. Disamping sebagai desinasi wisata yang potensial, setidaknya mereka menjaga peninggalan leluhur yang wajib untuk dilestarikan.
Kampung Tradisional Wologai

Perjalanan kami pun berlanjut ke Kota Ende. Selama perjalanan mata disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa. Pegunungan, air terjun, sungai sepanjang perjalanan memanjakan mata. Tidak ada yang kami kunjungi lagi sampai benar-benar tiba di kota. Tiba di Kota Ende, saya mengembalikan motor rental, lanjut ke kosan Kevin berkemas menuju terminal. Masih sempat bertemu teman yang sama-sama kerja di Kupang dulu. Tak ketinggalan salah satu destinasi yang belum sempat saya kunjungi karena alasan kemarin tutup,

Rumah Pengasingan Bung Karno. Rumah ini terletak di tengah kota dan tidak sulit untuk menemukan karena ada papan petunjuk. Rumah bercat putih, berpintu dua dan memiliki jendela tiga buah di bagian depan dengan kain garis berwarna hijau putih menjadi ciri khas ruma ini. Memasuki rumah, kita akan diperlihatkan beberapa pajangan berupa foto Bung Karno, buku koleksi Bung Karno, meja dan kursi, tempat tidur dan beberapa benda miliki Bung Karno lainnya. Menuju kebelakang terlihat taman, kamar mandi dan sumur. Kami tak berlama-lama disini, karena saya akan melanjutkan perjalanan. Kami membayar uang sukarela, kemudian ke terminal. 
Rumah Pengasingan Bung Karno

Sempat makan siang karena mobil travel belum ada. Kemudian kembali ke terminal. Menunggu sekitar 2 jam-an barulah mobil berangkat. Petualangan 1 hari 1 malam di Ende sebenarnya tidak cukup untuk menjelajahi Ende, perlu waktu yang lebih. Tetapi karena keburu waktu jadinya harus meninggalkan Ende. Terima kasih untuk Kevin yang telah menemani perjalanan saya selama di Ende, semoga bisa kembali bersua.

Tujuan selanjutnya adalah... Penasaran ? Tunggu cerita selanjutnya, cerita eksplore Flores seorang diri.

Budget
Tambahan Rental Motor Ende Rp. 100.000
Bensin 1 liter Rp. 15.000
Tiket Pemandian Air Panas Lia Sembe Rp. 2.000/orang
Kampung Moni Rp. 0
Air Terjun Murundao Rp. 0
Kotak Sirih Pinang Rumah Adat Wologai Rp. 10.000
Uang Sukarela Rumah Pengasingan Bung Karno Rp. 20.000
Makan Siang Rp. 35.000/2 orang

Beberapa Dokumentasi di Sekitaran Danau Kelimutu dan Ende 

Pemandian Air Panas Lia Sembe



Kampung Moni



Air Terjun Murundao




Kampung Tradisional Wologai






Rumah Pengasingan Bung Karno







Terimal di Ende


Pemandangan di Ende


Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

-Nando Torajanese||Traveler|| Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Ingin keliling Indonesia dan bisa menginjakkan kaki ke beberapa negara

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts