01 November 2018


Setelah hibernasi kurang lebih 6 bulan. Akhirnya blog ini terupdate juga. Memang benar kalau menulis itu butuh ketekunan, seberapa pun banyaknya tulisan itu karena ketika sudah mulai malas untuk menulis akan terbawa suasana dan pada akhirnya keinginan menulis pun hilang sama sekali. Susahnya adalah mengembalikan semangat untuk memulai tulisan. Seperti yang saya alami, bayangkan 6 bulan tidak menghasilkan tulisan satu pun. Ini bukan tentang kesibukan tidak ada waktu menulis juga bukan soal bahan tulisan yang tidak ada, tetapi memang rasa malas tersebut tertimbun dan membatu selama itu, sekali lagi 6 bulan.

Pada akhirnya, menulis sama halnya dengan menanam sesuatu. Diawali dengan memilih biji yang akan ditanam itulah kisah yang akan ditulis, membibit sebagai merangkai huruf per huruf menjadi kalimat, menanam bibit tersebut menjadi tanaman seperti menyusun kalimat menjadi paragraf dan menjadi sebuah kisah yang utuh. Tak sampai disitu, tanaman yang baru ditanam perlu perhatian lebih, bagaimana merawat dengan baik, memberi pupuk, menyiram dengan air sehingga terhindari dari layu bahkan mati dan tak bisa tumbuh lagi. Begitu pun dengan tulisan, setelah menjadi sebuah kisah tidak hanya berhenti disitu, perlu kisah-kisah yang lain yang harus ditulis. Menjaga semangat dan ketekunan menulis sehingga tidak padam oleh rasa malas.

Yang diatas cuman kata pengantar bisa sebagai motivasi untuk tetap menulis sekecil apapun... 

Nah selanjutnya... Isi tulisan ini hanyalah...

Perjalanan saya menelusuri daratan Flores pun berlanjut. Sehabis dari Kelimutu dan mengunjungi beberapa tempat wisata di sekitaran Ende ala-ala backpacker. Dengan menggunakan travel, sayapun melanjutkan perjalanan ke Bajawa. Kevin, teman saya di Ende mengantarkan saya ke terminal untuk mencari mobil yang akan saya gunakan. Terminal yang saya datangi ini kelihatan seperti bukanlah terminal pada umumnya, lebih tepat disebut tempat parkir mobil menunggu penumpang. Tidak ada bagunan layaknya terminal, mobil hanya parkir di pinggir jalan sambil mencari para supir mencari mencari dan menunggu penumpang yang akan menuju daerah tujuan. Hanya saja terdapat beberapa warung yang menjual berbagai makanan dan minuman serta tempat duduk (gasebo) yang sederhana sebagai tempat para penumpang beristirahat sebelum mobil jalan.

Saya masih menunggu sekitar 2 jam di terminal ini, masih sempat baring-baring dan tertidur sebentar sebelum mobil yang saya gunakan berangkat. Perjalanan dari Ende ke Bajawa akan ditempuh selama kurang lebih 3 jam, perjalanan yang lumayan jauh dan pastinya bisa dimanfaatkan untuk tidur. Pemandangan laut masih sempat saya lihat pada awal keberangkatan dan akhirnya saya tertidur juga.

Tujuan saya ke Bajawa tak lain dan tak bukan untuk mengunjungi salah satu kampung adat yang terkenal, Kampung Bena dengan rumah adat yang khas. Perjalanan saya sendiri tanpa ditemnai seorang pun. Untungnyaa di Bajawa saya sudah kontak dengan salah satu pegiat literasi, Bapak Apollo yang kebetulan tinggal di dekat Kampung Bena. Bapak Apollo pun berkenan dan mengajak saya untuk tinggal di rumah beliau sekaligus nanti akan dijemput di terminal.

Perjalanan selama 3 jam sebenarnya tak terlalu terasa lama karena saya kebanyakan tidur, sudah memasuki daerah Bajawa baru saya terbangun. Saya pun turun di terminal kota, tapi ternyata saya salah turun terminal. Harusnya saya turun di salah satu terminal sebelum memasuki kota dan lebih dekat untuk menuju Kampung Bena. Saya turun dari mobil travel dan bertanya ke salah seorang warga cara menuju terminal yang telah saya lewati tadi. Saya harus naik ojek lagi untuk putar balik. Sampai di terminal, ternyata yang jemput saya adalah anak dari Bapak Apollo, bernama Elfrid. Kami pun menuju rumah mereka dengan menggunakan motor. Diatas motor saya bercerita mengenai perjalanan saya untuk eksplore Flores seorang diri dan ini hari kedua saya ada di Tanah Flores.
Kabut Kampung Tradisional Bena

Bajawa merupakan ibukota dari Kabupten Ngada, salah satu kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bajawa ternyata lebih dingin dari pada Ende. Bajawa merupakan daerah yang yang dimana setiap kampungnya menjadi kampung tradisional dengan rumah adat. Layaklah bila Bajawa disematkan sebagai surganya kampung tradisional. Seperti yang akan saya kunjungi kali ini, Kampung Bena. Motor tetap melaju menuju Kampung Bena, jalanan sudah termasuk bagus, beraspal. Hawa dingin sudah mulai terasa dan kabut sudah mulai turun karena sudah menjelang sore.

Kami tiba di Kampung Bena yang menjadi tujuan saya. Tiba sekitar pukul 7 kabut sudah mulai turun, tetapi kami tetap melangkahkan kaki. Memasuki kompleks kampung adat kita akan disuguhkan dengan rumah ada berbentuk limas. Kami memasuki kompleks terlihat beberapa warga sedang berkumpul dan anak-anak sedang bermain bola. Kami menuju tempat daftar wisatawan sekaligus membayar tiket masuk seharga Rp. 20.000/orang. Saya sebagai wisatawan diberikan sebuah kain yang nantinya akan diikat di pinggang atau dikalungkan di leher, kain inipun akan dipakai selama berkeliling kompleks.
Kampung Tradisional Bena

Setelah menulis data diri sebagai wisatawan domestik, saya bersama Elfrid berkeliling di kompleks rumah adat yang berjumlah sekitar 40 buah dengan posisi yang saling berhadapan. Rumah adat Bena berbentuk limas dengan atap dari alang-alang dengan dinding dari papan. Ditengah-tengah halaman terdapat tumpukan batu dan menhir-menhir yang digunakan sebagai media dalam upacara adat. Adapula Nga’du yang berbentuk seperti sebuah batu runcing yang menjulang sebagai simbol nenek moyang laki-laki dan Bha’ga bentuknya menyerupai miniatur rumah sebagai simbol nenek moyang perempuan.

Ketika saya berkunjung terlihat beberapa masyarakat yang sedang menenun khususnya perempuan beberapa dari mereka masih remaja. Menenun merupakan mata pencaharian kaum perempuan di tempat ini dan menjadi kewajiban untuk tau menenun sehingga hal ini pun diajarkan secara turun temurun dan melambangkan kedewasaan bagi seorang perempuan. Proses menenunpun masih tradisional dengan bahan dari alam, lamanya menenun tergantung jenis, motif dan ukuran kain yang akan dibuat bisa sampai berbulan-bulan sehingga ini pun membutuhkan kesabaran dan ketelitian. Kamu laki-laki mata pencaharian yakni berladang dengan menanam jagung, umbi-umbian dan kacang-kacangan, kopi dan kemiri. Hasil baik menenun biasanya dipanjang di depan rumah sehingga pelancong yang datang bisa membelinya, sedangkan untuk hasil berladang nantinya akan dijual di sekitar rumah atau dibawa ke Kota Bajawa.
Anak Perempuan Sedang Menenun

Karena hari semakin malam dan kabut pun sudah mulai turun, kami pun melanjutkan perjalanan ke rumah Efrid sebagai tempat saya menginap. Saya disambut oleh Bapak Appolo dan istri. Saya menemukan keluarga baru ditempat baru ini, mereka menerima saya dengan penuh kehangatan. Tak ada beban di raut wajah mereka, padahal saya baru-baru berkenalan padahal itu lewat pesan di whatsapp.

Paginya hari saya masih berkesempatan untuk berjalan-jalan benar-benar jalan kaki sebelum melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo. Kali ini saya masih ditemani Efrid menunjungi sekolah yang dekat dari rumah tempat saya menginap untuk melihat sekolah yang ditempat Pak Appolo mengajar, saat berkunjung proses mengajar sedang berlangsung. Kemudian kami lanjut ke salah satu kampung adat yang tak jauh dari sekolah hanya berjalan kaki bernama, Kampung Gurusina. Seperti halnya di Kampung Bena. Rumah disini berbentuk limas dengan atap yang terbuat dari rumput-rumputan dan dinding dari kayu, bagian depan beberapa rumah terdapat tanduk kerbau yang dipajang. Mungkin berasal dari kerbau yang digunakan saat upacara adat. Sedikit berbeda dengan Kampung Bena, saat saya berkunjung ke Kampung Gurusina saya hanya melihat seorang ibu yang sedang menenun di depan rumah. Dari Kampung Gurusina ini pun terlihat dengan gagahnya Gunung Inerie yang berarti ibu yang cantik dengan ketinggian 2.245 mdpl berbentuk piramida.
Bersama Erfid

Setelah berfoto ria, kami kembali ke rumah untuk bersiap-siap menuju bandara karea jarak bandara dengan tempat saya menginap lumayan jauh. Saya sempat membeli oleh-oleh berupa gantungan kunci dari serabut atau akar-akar pohon yang dibuat oleh masyarakat di sekitar Kampung Gurusina yang masih menggunakan bahan dari alam dalam proses pewarnaan.
Kampung Tradisional Gurusina

Kembali ke rumah dan melanjutkan perjalanan menuju bandara untuk selanjutnya. Karena memang jiwa-jiwa petualang, kami masih mengunjungi satu tempat wisata lagi karena mumpung dilewati saat menuju bandara.
Spot Foto, Manu Lalu

Manu Lalu menjadi tujuan terakhir saya sebelum berangkat ke bandara meninggalkan Bajawa. Manu Lalu dalam bahasa setempat berarti Ayam Jantan. Sebenarnya tempat ini merupakan sebuah kompleks villa yang berada di atas dataran tinggi. Namun dengan penuh kreativitas villa tersebut disulap menjadi tempat yang patut untuk dikunjungi ketika berada di sekitar Jerebuu. Dari atas tempat ini dari atas bukit, kita akan melihat pemandangan lembah hijau, bukit-bukit serta rumah penduduk di kejauhan serta pemandangan Gunung Inerie. Banyak spot foto ditempat ini, tetapi yang paling terkenal dan paling dicari pengunjung adalah sebuah patung ayam jantan yang berdiri kokoh, seperti nama tempat ini. Entah berselfie, duduk maupun berdiri di atas ayam jantan ini pun bisa dilakukan. Selain itu spot foto berbentuk hati, tempat duduk dan sayap. Beberapa bagian dari tempat ini pun masih dalam proses pengerjaan, seperti jalan setapak dan taman bunga. Saat berkunjung tak seorang pun wisatawan yang ada jadinya sepi. Mungkin karena kami datang kepagian atau apalah. Tak perlu merogoh kocek untuk menikmati panorama yang disuguhkan, hanya dengan membayar Rp. 5.000/orang.
Gunung Inerie

Saya melanjutkan perjalanan setelah mengambil gambar walaupun masih ingin lama di tempat ini, tetapi karena dikejar waktu, sehingga kami harus sesegera mungkin beranjak menuju bandara yang memakan waktu sekitar sejam lebih.

Tak hanya Kampung Tradisional Bena dan Gurusina yang ada di Bajawa, bahkan setiap kampung  yang tersebar di Bajawa memiliki perkampungan layaknya kampung tradisional dengan rumah-rumah adat dalam satu kompleks. Tak ayal jika Bajawa layak mendapat predikat sebagai Surganya Kampung Tradisional

Petualangan saya di tanah Flores masih akan berlanjut… So stay tune on my blog :)
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

-Nando Torajanese||Traveler|| Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Ingin keliling Indonesia dan bisa menginjakkan kaki ke beberapa negara

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts