17 February 2017

Kemeriahan bulan Desember bukan hanya dapat dirasakan dan dinikmati di Kabupaten Tana Toraja, apalagi kabupaten ini menjadi tuan rumah diselenggarakannya acara Lovely December. Sehingga banyak kegiatan yang dapat diikuti oleh masyarakat maupun wisatawan dari luar daerah bahkan luar negeri, seperti Festival Foto Foto Wisata “Alam dan Budaya Tana Toraja”, toraja night run, toraja colour run 2016 dan masih banyak lagi. Tak ketinggalan kabupaten tetangganya yang masih satu rumpun suku Toraja, yakni Kabupaten Toraja Utara untuk mengisi bulan Desember dengan beberapa kegiatan, seperti Festival Kembang Api yang telah saya posting sebelumnya.
National Art Festival (Sumber : allevents.in)

Tak hanya itu, salah satu kegiatan di Toraja Utara yang menarik perhatian saya adalah Toraja National Art Festival 2016. Saking tertariknya, saya dua kali mengunjungi festival ini. Pertama pergi sendiri tetapi bertemu beberapa keluarga dan teman di lokasi, kedua pergi bersama sepupu (Kurni) setelah menyaksikan Festival Kembang Api di Lapangan Bakti Rantepao, seperti yang telah saya posting.

Toraja National Art Festival 2016 merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah Kabupaten Toraja Utara bersama beberapa seniman dan pihak yang mendukung. Kegiatan ini berlokasi di Art Center Kota Rantepao, Kabupaten Toraja Utara yang beralamat di Jl. Landorundun belakang pertokoan. Waktu pelaksanaan sekitar 2 minggu dari 22 Desember 2016 – 3 Januari 2017 dengan tema “Bangga Indonesia, Bangga Toraja”.

Apa yang menarik perhatian saya dari festival ini ???

Pertama, Tema. Dari Temanya saja pasti menarik perhatian “Bangga Indonesia, Bangga Toraja”. Kenapa menarik ??? Karena kalau bicara soal Toraja sangat menarik perhatian saya, terlebih saya Torajanese dan yang tertarik mungkin bukan hanya saya tetapi kebanyakkan orang. Dari tema ini pasti akan ada beberapa hal yang ditampilkan yang pastinya sangat berhubungan erat dengan Toraja, baik alam, wisata, seni dan budaya. Hal ini pun terbukti….

Kedua, Buffalo Painting. Pertama kali melihat Buffalo Painting… yaaaa disini. Apa ini, mungkin kalian akan bertanya ???. Ini adalah salah satu karya seni yang bernilai estetika tinggi. Kalo kebanyakan media lukis adalah benda mati, seperti kain, kayu dan sebagainya. Tetapi media kali ini adalah Kerbau sebagai makhluk hidup yang menjadi ciri khas dari Suku Toraja. Kerbau menjadi salah satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Toraja, kerbau digunakan dalam beberapa upacara adat, seperti Rambu Solo’ (acara kematian). Buffalo Painting, menjadi salah satu yang menarik bagi saya dan pengujung lainnya, Tubuh kerbau di balut dengan beragam warna, merah, hijau, kuning dan biru mulai dari kaki, ekor, tubuh, muka sampai tanduk tak lepas dari kuas dengan beberapa motif.
Buffalo painting

Ketiga, Ide dan Kreativitas. Sebuah karya seni pasti muncul dari ide dan kreativitas, demikian pun yang dimunculkan dalam festival ini, selain buffalo painting ada juga karya seni berupa kumpulan bebek warna-warni yang terbuat dari kayu yang ditancapkan disekitaran halaman gedung dilengkapi dengan tumpukan jerami, seolah-olah sedang mencari makan. Ada pula kumpulan semut yang disusun sangat rapi di papan. Tak sampai disitu, daun ijuk kering yang ketika dilihat tidak memiliki apa-apa, tetapi ditangan seniman tercipta sebuah karya seni yang luar biasa, anyaman daun ijuk yang masih melekat di tulang daun.

Empat, Filosofi dari Art Festival. Karya seni (buffalo painting, bebek, semut, anyaman) yang ditampilkan dan dilihat oleh para pengujung tidak lepas dari filosofi dan makna. Dari spanduk yang saya lihat dan sempat say abaca dan dokumentasikan, terlihat tulisan yang berisi makna dari karya seni yang luar biasa ini. Buffalo painting : Bangga Indonesia-Bangga Toraja, Persembahan Anak Bangsa untuk Seni Budaya Indonesia. Semut : Sendiri Tiada Arti, Perpecahan Awal Kerapuhan, Bahu Membahu Membangun Negeri, Kekompakkan Modal Kekuatan. Bebek : Beragam Warna-Beragam Suara, Perbedaan Hanya Sisi Pandang, Keragaman Sebuah Anugrah, Damai Hakikat Terindah. Anyaman : Saling Mengisi-Saling Berbagi, Indah Karena Tertata, Kuat Karena Bersama. Filosofi yang penuh makna, bukan hanya untuk dibaca, tetapi wajib untuk diterapkan dalam kehidupan sehingga kedamaian tercipta. Damailah Toraja, Damailah Indonesia.
Bebek

Semut

Anyaman

Selain itu, beberapa karya seni lain yang dapat dilihat disekitar halaman gedung, seperti sebuah lukisan kepala kerbau dengan mulut yang terbuka yang medianya dari kayu. Mulut kerbau sengaja dilubangi sehingga para pengunjung dapat berfoto, seolah-olah sedang berada di dalam mulut kerbau.
Di dalam mulut kerbau

Keempat hal menarik di atas baru yang terlihat dari luar gedung Art Center Kota Rantepao, belum yang ada di dalam gedung. Apa yang ada di dalam gedung, berupa kumpulan berbagai lukisan dengan berbagai bentuk, warna dan pastinya makna.

Beberapa lukisan yang sempat saya abadikan….

Ada yang berkaitan dengan Toraja, seperti Lukisan Seorang Perempuan Toraja lengkap dengan baju adat sambal menari di depan tanduk kerbau yang sering diletakkan di tiang bagian depan Tongkonan (rumah adat Toraja); Lukisan Seorang nenek telah lanjut usia dengan guratan muka dan rambut pith mengenakan baju dan penutup kepala berwarna hitam; Lukisan Adu kerbau yang dalam Bahasa Toraja disebut Pasilaga Tedong menjadi atraksi yang banyak menyedot penonton untuk menyaksikannya.
Gadis Toraja

Oma Toraja

Adu Kerbau (Ma' Pasilaga Tedong)

Tak hanya lukisan yang berbau Toraja yang dipajang, tetapi beberapa lukisan lainnya, seperti Lukisan Bapak Jokowi (Presiden Indonesia sekarang) sambal memegang kain merah dan didepannya terdapat seekor banteng; Lukisan Bapak Syahrul Yasin Limpo (Gubernur Sulawesi Selatan sekarang) menoleh sambil tersenyum; Lukisan Bapak Agus Arifin Nu’mang (Wakil Gubernur Sulawesi Selatan) bersama istri.
Bapak Jokowi dan Banteng

Bapak Syahrul Yasin Limpo

Bapak Agus Arifin Nu'mang bersama Istri


Dan masih banyak lagi lukisan, kalo dijelaskan satu per satu mungkin akan menghabiskan ratusan lembar…. Hehehehe

Toraja Art Festival 2016 bisa dibilang lebih dari sebuah festival seni. Bukan hanya menunjukkan karya seni yang memukau dan memiliki nilai seni yang tinggi, tetapi lebih dari itu ada filosofi dengan makna yang menjadi pelajaran bagi kita semua yang ingin disampaikan para seniman. Bukan hanya menunjukkan karya seni belaka, tetapi menunjukkan jati diri Toraja secara khusus mulai dari adat, alam, budaya sampai masyarakatnya yang memiliki nilai-nilai kehidupan yang terus dipelihara sampai sekarang ini dan semoga tidak terputus dan tidak hilang sampai kapan pun. 
Reaksi:

11 comments:

  1. Mas, kerbaunya apa nggak rewel waktu dilukis? kok bisa ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kurang tau jga mbak... Pas k tkp sdh d lukis...

      Delete
  2. Replies
    1. Ahihihih... Meoli ko Toraya... Meoli ko Toraja... Tole na ri manassa... hehehe

      Delete
  3. Replies
    1. Ahihihih... Meoli ko Toraya... Meoli ko Toraja... Tole na ri manassa... hehehe

      Delete
    2. hahahahahaha,,, nang manassa liuya ke di tole-tolei

      Delete
  4. Kerennnnn

    Agak mirip sama budaya Minang kabau ya, nuansa Kerbau Kerbaunya terasa wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih bang...
      D Minangkabau ada adu kerbau jga ???

      Salam kenal

      Delete
  5. Bufallow painting itu kerbau beneran yah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas pakenya kerbau beneran, seperti foto diatas

      Delete

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts