27 February 2017

Menelusuri Sungai Pute, Rammang-Rammang


Satu lagi tempat wisata yang lagi blooming di Sulawesi Selatan, bernama Rammang-Rammang. Terletak di Kabupaten Maros yang dapat ditempuh dari Makassar, Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan dengan sangat mudah sekitar 1 jam 30 menit menggunakan kendaraan bermotor atau angkutan umum. Jangan khawatir untuk nyasar, anda bisa bertanya ke abang pete’-pete’ (angkot)  pasti mereka sudah tau. Kalo anda menggunakan kendaraan pribadi ato sewa tidak akan sulit karena di pinggir jalanan masuk lorong aka nada tulisan “Wisata Karts Rammang-Rammang” atau lebih mudahnya ada papan nama bertuliskan “Bosowa Semen” yang berukuran lebih besar, anda hanya perlu mata untuk memperhatikan tulisan tersebut. Rammang-Rammang terletak di sebelah kanan jika dari arah Makassar.

Tanda lorong masuk Rammang-Rammang

Perjalanan saya ke Rammang-Rammang bersama Mudin, teman waktu zaman kuliah. Perjalanan berawal dari Barru karena saya mengikuti kegiatan kampus (walaupun sudah alumni, tua pula), daripada bolak balik dan ini kesempatan saya untuk berkunjung. Jadilah saya dari Barru langsung ke Rammang-Rammang setidaknya menghemat biaya dan waktu.

Dari Barru saya naik motor lebih tepatnya dibonceng oleh Mudin, tetapi karena mengantuk (habis begadang), mungkin belum setengah perjalanan saya memilih untuk menggunakan angkutan umum (pete’-pete’), Mudin tetap pake motor. Kami sudah berjanji untuk ketemu di depan lorong masuk Rammang-Rammang. Setidaknya saya bisa tidur sejenak di atas pete’-pete’ selama dalam perjalanan. Saya masih harus nyambung angkot, dari Barru-Pangkep kemudian Pangkep-Maros. Saat turun dari angkot dan mau nyambung angkot lagi, ada kejadian lucu. Karena saya tidur dan dibangunkan oleh sopir untuk pindah angkot, saya pun langsung pindah.

Tiba di angkot baru, teringat handphone. Saya pikir sudah ketinggalan di angkot sebelumnya. Untungnya jarak angkot sebelumnya dan sekarang masih berdekatan, sehingga masih bisa nanya ke supir untuk berhenti sejenak, saya mau periksa angkot. Saya periksa tetapi hasilnya nihil, saya tidak menemukannya. Saya kembali ke angkot yang baru, supir dan penumpang lainnya bertanya ke saya untuk periksa tas baik-baik, siapa tau terselip. Ehhh, usut punya usut HP saya ada di tas kamera… Jadi malu dehhh sambal tunduk kepala dan tersenyum tipis… Gara-gara dibangunkan tadi, sehingga tidak fokus (ada #AQUA hehehehe). Jadi sekedar tips : Kalo traveling sendirian harusnya barang-barang berharga, seperti dompet dan handphone disimpan baik-baik atau sebaiknya ditempatkan dalam satu tempat yang sama dan kalo sudah di pake letakkan dalam tempat tersebut, jangan letakkan di tempat lain sehingga tidak pusing untuk mencari.

Lanjut… Sebelumnya saya sudah bertanya ke sopir untuk turun di jalan ke Rammang-Rammang (sopir sudah tau), Setelah tiba di depan pinggir lorong, saya tidak melihat Mudin, kemudian saya hubungi untuk jemput di depan. Karena untuk menuju Rammang-Rammang kita harus menelusuri sungai, jadi tujuannya mencari dermaga penyeberangan. Jarak dari pinggir jalan raya menuju dermaga tidak jauh hanya sekitar 5 menit naik motor. Sebenarnya ada 2 dermaga yang disedikan pengelolah, Dermaga 1 dekat pinggir jalan yang lebih jauh dari Rammang-Rammang, sedangkan Dermaga 2 harus masuk lorong jaraknya lebih dekat dari Rammang-Rammang. Pilihan kami jatuh ke Dermaga 1, pertimbangan dekat dan lebih lama untuk menyusuri sungai.

Tiba di Dermaga 1. Terlihat beberapa kapal yang mengantar wisatawan berlabuh, beberapa wisatawan sudah menaiki perahu ada pula yang sudah selesai berkunjung. Disekitar dermaga terdapat stand penyewaan topi sehingga tidak perlu kepanasan ada pula warung yang menyediakan berbagai makanan dan minuman jadi tak usah khawatir kelaparan saat berkunjung dan menelusuri Rammang-Rammang.
Dermaga 1

Untuk mencapai Rammang-Rammang, kita harus menelusuri Sungai Pute, terdapat perahu yang akan mengantar jemput. Tak perlu repot-repot untuk tawar menawar karena pengelola sudah mematok harga sewa perahu, perahu dengan kapasitas 1-4 orang seharga Rp 200.000/perahu, kapasitas 5 -7 orang seharga Rp. 250.000/perahu, kapasitas 8-10 orang seharga Rp. 300.000/perahu ada pula tarif liputan dan Prawedding sehrag Rp. 350.000/perahu. Berdasarkan informasi yang saya dapatkan terdapat sekitar 120 perahu yang beroperasi di kedua dermaga, 70 perahu diantaranya terdapat di Dermaga 1. Selain itu, banyak peraturan yang telah ditetapkan pengelola baik dalam pengelolaan maupun pelayanan kepada wisatawan, seperti Surat Keputusan Tentang Jumlah dan Standar Operasi Perahu Jolloro Kawasan Wisata Kampung Karst Rammang-Rammang_Salendrang.

Kami menaiki perahu,  arena kami hanya berdua sehingga perahu yang mengantar kami berkapasitas 1-4 orang. Sebenarnya di kawasan wisata ini banyak pilihan destinasi wisata yang bisa dikunjungi, seperti Taman Batu Kampung Laku, Telaga Bidadari, Gua Kelelawar, Kampung Berua, Situs Pasaung, Padang Ammarrung dan beberapa destinasi lainnya. Jadi sambil menelusuri Sungai Pute, kita bisa singgah di beberapa tempat wisata yang berada di pinggir sungai, seperti Taman Batu Kampung Laku, Telaga Bidadari.

Perahu kami pun melaju dengan perlahan menelusuri Sungai Pute. Disepanjang pinggiran sungai, wisatawan disuguhi pemandangan yang hijau, rumah penduduk, pohon nipah, keramba budidaya ikan dan terkadang kita akan menemukan batu yang terletak di dalam sungai sehingga perahu harus berhati-hati jangan sampai menabrak batu-batu tersebut.
Menelusuri Sungai

Tak menunggu beberapa lama, sampai ditujuan kami yang pertama, Taman Batu Kampung Laku. Perahu kami perlahan bersandar di dermaga yang telah disiapkan pengelola. Kami menuju taman tersebut, sedangkan barang-barang kami yang lain beserta perahu dan pengemudi menunggu. Mungkin kalian akan bertanya, Taman Batu ???... Iya, biasanya kalo kita berkunjung atau memikirkan tentang taman, otomatis yang terlintas dalam pikiran adalah bunga, pohon, dan rumput hijau. Tetapi disini berbeda, taman disini dipenuhi dengan bebatuan dengan ukuran dan bentuk yang beranekaragam, ada yang kecil ada pula yang besar, ada yang menjulang tinggi ada yang rendah, ada yang terletak di atas tanah adapula yang berada di dalam air. Inilah alasan mengapa disebut Taman Batu yang terletak di Kampung Laku (bukan laku ato tidak laku, seperti lagu Wali Ku Tak Laku-Laku… Hehehehe).
Welcome to Taman Batu Kampung Laku

Penampakan Batuan di Taman Batu Kampung Laku


Menapaki batu-batu, memanjat batu-batu dan berfoto dengan batu-batu yang dilakukan saat berada di taman ini. Setelah berkunjung kami melanjutkan perjalana, sebelumnya beranjak, kami memberikan sedikit rejeki sebagai uang rokok (read. uang sukarela) ke bapak yang menunggu taman batu ini, sebelumnya telah diberitahukan oleh pengantar kami.
Batu di Tengah Air

Perjalanan berlanjut… Melewati Cafe Rammang-Rammang, Telaga Bidadari, Dermaga 2, tetapi tujuan kami menuju Kampung Berua. Menelusuri sungai, lewat di bawah jembatan, melewati pohon nipah, memasuki lorong batu, sampai di Kampung Berua.
Kembali Menelusuri Sungai

Ala Negeri Dongeng, Kampung Berua

Sudah banyak perahu yang bersandar di dermaga yang artinya wisatawan banyak yang berkunjung. Terdapat loket retribusi, setiap pengunjung membeli tiket seharga Rp. 3.000/orang. Di sini terlihat kampung yang di kelilingi oleh bebatuan. Dari luar terlihat hanya batu-batu yang menjulang tinggi, tetapi ketika masuk ke dalam ada sebuah kampung yang sungguh indah, hamparan persawahan, rumah-rumah, pepohonan nan hijau layaknya sebuah negeri dongeng. Ada pula masjid, warung makan, gazebo dan penginapan yang dikelola oleh masyarakat.
Perahu yang Parkir di Kampung Berua

Destinasi wisata di sini tidak hanya Kampung Berua, tetapi tak jauh ada beberapa destinasi lainnya, seperti Gua Kelelawar, Taman Ammarung dan Situs Pasaung (terlihat di papan petunjuk). Kami menapaki jalan setapak, jalan persawahan. Sayangnya tak berapa lama alam kurang mendukung, hujan pun turun, kami mencari tempat berteduh. Hujan datang, hujan berhenti, hujan datang lagi selama kami berada di kampung ini, alhasil sepatu kami dipenuhi tanah. Kami memilih untuk mencari makan, makanan panas (mie rebus… ditraktir Mudin… Hehehe) untuk memberi rasa hangat karena dingin kampungnya sudah dingin ditambah hujan yang datang mengguyur.
Pilihan Destinasi Wisata Lainnya 

Setelah hujan reda, kami menuju Padang Ammarrung. Kembali menapaki jalanan setapak, menyeberangi jembatan, sedikit mendaki. Sampailah kami di padang ini. Tak seperti yang saya bayangkan, saya mengira aka nada rumput nan hijau, ternyata pohon dengan ukuran yang masih kecil tumbuh tanpa adanya rumput dengan alas batu-batu berwarna hitam. Ammarrung dalam Bahasa setempat berarti suara besar saat air jatuh karena disekitar tempat ini akan kedengaran, iulah sehingga dinamakan Ammarrung.
Padang Ammarrung

Saya sempat berbicara dengan salah seorang bapak (lupa namanya) yang memang menjadi penjaga Padang Ammarrung. Bapak ini sambil menjaga juga menjual beberapa makanan dan minuman, tak sampai disitu ternyata pondok (lumayan luas) yang ditempati bapak dan istri menjual bisa dijadikan tempat menginap bagi wisatawan yang berminat untuk bermalam. Pondok terbuka hanya ditutupi terpal. Harganya cukup terjangkau hanya Rp. 60.000/kelompok yang terdiri dari tak lebih dari 10 orang, jika lebih menambah sedikit  biaya. Harga tersebut hanya biaya penginapan tidak termasuk makan. Tak ketinggalan tulisan untuk mengingatkan para wisatawan untuk melestarikan tempat ini.
Pondok yang Bisa Disewa

Walaupun belum puas berkeliling karena waktu dan takutnya hujan lagi, kami harus memutar arah, kembali. Menuju dermaga, naik perahu dan menelusuri sungai. Di tengah perjalanan hujan datang mengguyur, perahu kami tetap melaju sampai di Dermaga 1.

Melanjutkan perjalanan ke Makassar….

Kawasan Wisata Alam Rammang-Rammang wajib dikunjungi jika berada di Makkasar terlebih Maros. Banyak destinasi wisata yang tersaji dan kebanyakan merupakan wisata alam. Datang menikmati alam, melihat ciptaan Sang Pencipta, bersatu dan berinteraksi dengan alam. Saat berkunjung, kami pun tak sempat singgah dan mengunjungi beberapa destinasi lainnya. Berharap bisa kembali kesini lagi dan bermalam… Hehehe

Galeri Rammang-Rammang







Reaksi:

2 comments:

  1. duh indahnya pengen banget bisa kesana :)

    ReplyDelete
  2. Ia mbak... Harus ksna apalagi klo sdh D Makassar. Tempat ini salah sat pilihan tujuan wisata

    ReplyDelete

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts