22 August 2016

Siapa yang pernah mendengar kata Waerebo ??? Siapa yang ingin  dan sudah pernah ke Waerebo ??? Apa saja yang didapatkan ketika berkunjung ke Waerebo ??? Mengapa orang ingin ke Waerebo ??? Adakah cerita-cerita yang tersimpan dari history of Waerebo... Inilah beberapa pertanyaan yang terlintas di benak saya ketika membaca mendengar dan membaca beberapa tulisan tentang Waerebo. Sebuah tulisan mengungkapkan bahwa “Waerebo lebih dulu dunia (red. luar negeri) ketimbang di dalam negeri”.... Rasa penasaran dan ingin tahu tentang dan petualangan menuju Waerebo muncul ketika membaca cerita-cerita orang.... Ingin rasanya untuk bisa menikmati Waerebo secara langsung....
Waerebo

Kesempatan pun saya dapatkan untuk menginjakkan kaki secara langsung, merasakan nuansa dan melihat kehidupan masyarakat Waerebo... Sekembalinya kami dari Pulau Nuca Molas, saya pun dengan penuh semangat dan keinginan untuk mengunjungi Waerebo. Kedua teman saya kembali, saya hanya seorang diri untuk melanjutkan perjalanan, dengan berbagai pertimbangan saya pun mengambil keputusan untuk harus berpetualangan ke Waerebo.. 

Sebelum saya menulis mengenai perjalanan saya menuju Waerebo, terlebih dahulu saya akan berbagi pengetahuan dan informasi seputar apa yang Perlu di Ketahui Tentang Waerebo. Sejarah, Alam, Rumah Khas dan Unik, Adat dan Ritual, dan masih banyak lagi. Semua ini saya dapatkan dari cerita langsung dari salah seorang pemuda yang bisa dibilang guide bagi para wisatawan yang berkunjung ke Waerebo dan membaca buku tentang Waerebo yang disiapkan oleh pengelola di Waerebo... Ini dia hal yang perlu diketahui tentang Waerebo..... 

Buku Tentang Waerebo

Lokasi Waerebo
Waerebo merupakan kampung tradisional yang terletak di Kampung Waerebo, Satar Lenda, Kabupaten Manggarai. Provinsi Nusa Tenggara Timur. Waerebo terletak di ketinggian 1.117 mdpl pada suatu teras landai di lereng gunung dengan puncak tertinggi bernama Golo Ponto (1.782 mdpl) dan Tongger Kina (1.511 mdpl).

Sejarah Waerebo
Nenek moyang dari Waerebo bernama Empo Maro yang berasal dari Minangkabau, Sumatera. Bersama dengan beberapa kerabat mengarungi lautan dan berlabuh di Labuan Bajo, Flores. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke arah utara hingga tiba di suatu tempat bernama Waraloka. Empo Maro berpindah-pindah dari satu kampung ke kampung lainnya mulai dari Waraloka  menuju Nangapa’ang, kemudian bergeser ke Todo, Popo, Liho, Modo, Golo Ponto, Ndara, Golo Pando, Golo Damu dan kemudian menetap di Waerebo hingga beranak-cucu sampai sekarang.

Pariwisata di Waerebo
Keindahan alam dan budaya yang dimiliki serta warganya yang masih mempertahankannya sampai sekarang menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung ke Waerebo.  Seorang fotografer asal Jepang bernama Matsuda Shuikhi tercatat sebagai pengujung pertama Waerebo, selanjutnya sejak Catherine Allerton, seorang antropolog asal Inggris mempublikasikan hasil penelitiannya tentang Waerebo menjadikan awal datangnya wisatawan. Hingga pada tanggal 27 Agustus 2012 badan PBB untuk pendidikan dan kebudayaan, UNESCO, menganugrahi Waerebo sebagai peraih Award of Excellence pada UNESCO Asia-Pasific Awards for Cultural Heritage Conservation yang merupakan penghargaan tertinggi dalam bidang konservasi warisan budaya. Sampai sekarang wisatawan berbondong-bondong untuk menikmati alam dan budaya Waerebo.

Alam Waerebo


Keanekaragaman Hayati Waerebo
Survey keanekaragaman hayati pada tahun 2013, menemukan 42 jenis pohon penyusun ekosistem Waerebo. Pada ruas antara ketinggian 761 m (Wae Lomba) dan 1.099 (Poco Roko), banyak dijumpai pohon-pohon Natu (Planchonella firma). Ketang (Planchonella obovata), Maras (Dysoxylum sp) dan Worok (Dysoxylum nutans). Sementara di ketinggian 1.000 meter berdiri kokoh pohon Moak (Dacrycarpus imbricatus), Rukus (Adinandra javanica) bersama pohon khas pegunungan seperti Kenti (Leptospermum flavescens). Sementara tanaman budidaya yang kadang di jual seperti Jeruk, Pisang, Markisa, Labu, Terung Ubi Kayu, Ubi Jalar, dan sebagainya. Keanekaragaman burung tercatat sebanyak 38 jenis burung, dimana 2 jenis diantaranya, yaitu Gagak Flores (Corvus florensis) dan Celepuk Flores (Otus alfredi) adalah spesies endemik Flores. Kicauan burung-burung ini menemani perjalanan saat menuju maupun kembali dari Waerebo. Dari sisi kicauan burung Nkiong (Pachycephala nudigula) dengan suara yang merdu, lantang dan bervariasi. Terdapat pula Babi Hutan/Motang (Sus celebensis), Monyet Ekor Panjang/Kode (Macaca fascicularis), Musang/Kula (Paradoxurus hermaphroditus) dan Landak/Rutung (Hystrix javanica).
Burung di Waerebo (Sumber : Buku Tentang Waerebo)

Arsitektur Rumah Adat Waerebo
Waerebo masih mempertahankan bentuk rumah tradisional Manggarai yang disebut Mbaru Niang. “Mbaru” berarti rumah dan “Niang” berarti tinggi dan bulat. Mbaru Niang merupakan rumah berbentuk kerucut meruncing ke arah atas sebagai lambang perlindungan dan persatuan antar warga Waerebo. Lantai bangunan yang berbentuk lingkaran merupakan simbol keharmonisan dan keadilan antar warga dan keluarga di dalam Mbaru Niang. Sejak didirikan oleh leluhur mereka pada tahun 1920 dan mewariskan tujuh bangunan Mbaru Niang yang masih tetap lestari meskipun tiga diantaranya sempat rusak, kemudian direvitalisasi. Tujuh bangunan Mbaru Niang konon merupakan pencerminan kepercayaan leluhur untuk menghormati tujuh arah puncak gunung di sekeliling kampung yang dipercaya sebagai “para pelindung”. Di dalam Mbaru Niang tersebut terdapat 5 tingkatan dari bawah ke atas dan di lantainya yang berbentuk lingkaran dibagi-bagi dalam beberapa bagian.


Arsitektur Rumah Adat (Sumber : Buku Tentang Waerebo)  

Ritual Upacara Penti
Penti merupakan upacara adat Manggarai untukmengungkapkan rasa syukur. Upacara ini dilaksanakan sebagai perayaan pesta tahun baru dalam mensyukuri segala keberhasilan selama satu tahun penuh dan memulai kehidupan pada tahun berikutnya. Penti dilaksanakan pada bulan Beko atau November yang merupakan awal bulan dalam siklus perhitungan bulan masyarakat Waerebo. Upacara Penti dilaksanakn selama satu hari penuh dengan beberapa tahapan upacara, yakni pemberkatan terhadap sumber mata air, keselamatan kampung dan roh jahat. Masyarakat berkumpul di rumah Gendang untuk menuju tempat pemberkatan dengan diiringi nyanyian Sanda yang hanya dinyanyikan saat upacara Penti berlangsung. Setelah itu upacara dilanjutkan dengan tarian Caci. Saat matahari sudah mulai terbenam, dilakukan upacara pemberkatan rumah Gendang dengan melakukan ritual penyembelihan ayam. Tundak Penti atau puncak acara Penti dilakukan pada malam hari, seluruh masyarakat berkumpul di dalam Niang Gendang lalu menyembelih babi jantan dan betina, menyanyikan lagu khusus seperti Sanda Lima dan diakhiri dengan doa.

Tarian Caci
Tarian Caci merupakan salah satu kebudayaan Manggarai yang menampilkan adu ketangkasan antara dua orang laki-laki dalam mencambuk dan menangkis cambukan lawan secara bergantian. Caci diidentikkan dengan keperkasaan laki-laki karena berkaitan dengan keberanian, kejantanan dan daya tarik bagi perempuan. Ragam syarat yang harus dimiliki penari Caci seperti tubuh kuat, pandai menyerang lawan dan bertahan, luwes melakukan gerakan tari serta dapat menyanyikan lagu daerah. Selama atraksi berlangsung diiringi musik gendang, gong dan nyanyian seperti Lando dan Mbaku.

Atribut dari penari Caci mengenakan celana panjang berwarna putih di padu dengan kain songke diikat sepanjang lutut melambangkan kepolosan, kemakmuran, ketulusan hati, kesantunan dan sikap patuh orang Manggarai. Pada bagian pinggang terpasang Ndeki berbentuk seperti kunci kuda terbuat dari rotan dengan bulu kambing melambangkan kejantanan dan keperkasaan. Pada bagian pinggang belakang disematkan untaian lonceng yang akan bergemincing mengikuti gerakan penarih. Tubuh bagian atas dibiarkan ttelanjang karena tubuh tersebut adalah sasaran bagi serangan lawan. Pada bagian keapala para penari mengenakan topeng Panggal yang melambangkan kharisma dan kekutan orang Manggarai. Penari dipersenjatai dengan cambuk (Larik) yang terbuat dari kulit kerbau yang dikeringkan dengan anyaman rotan di ujungnya. Penari juga dibekali perisai (Nggiling) yang terbuat dari kulit kerbau yang dieringkan dan berbentuk bundar untuk menahan serangan lawan. Tereng berbentuk busur terbuat dari rotan atau dahan bambu dipakai untuk menangkis atau menahan gempuran lawan.

Filosofi Tarian Caci sebagai komunikasi antara Tuhan dan Manusia. “Ca” berarti satu, “Ci” berarti Uji. Jadi Tuhan menguji para pemain apakah mereka bersalah atau tidak. Salah satu lambang ujian ini adalah cambukan yang melambangkan kilatan petir. Kilat adalah penghakiman dari Tuhan, juga menghubungkan langit dan bumi. Caci adalah simbol Tuhan, kesatuan ibu pertiwi dan bapak langit.

Kopi Waerebo
Dalam perjalanan menuju Waerebo, kita akan melalui perkebunan kopi masyarakat. Iklim yang mendukung dan tanah yang subur membuat kopi yang tumbuh di Waerebo sangat baik. Masyarakat setempat mulai menanam kopi ketika Raja Todo mendapatkan bibit kopi dari Raja Bima di bawah kekuasaan Kerajaan Gowa pada abad 18. Jenis kopi ini merupakan kualitas unggulan seperti Arabica dan disebut Kopi Raja. Saat ini hanya tinggal sedikit saja terbatas di sekitar kompleks rumah Gendang. Masyarakat mulai menanam berbagai jenis kopi pada masa penjajahan Portugis dan Belanda.
Kopi Waerebo

Musang, Binatang Sakral Waerebo
Saat tinggal di Popo, Empo Maro dan kerabat mengalami peristiwa yang menyebabkan warga Waerebo hingga saat ini tidak berani menyakiti dan memakan daging Musang. Awal kisahnya dari sebuah konflik yang terjadi saat ada seorang ibu yang susah melahirkan padahal telah melewati masa kehamilan normal. Empo Maro mengambil keputusan untuk membelah perut sang ibu agar sang anak bisa dilahirkan dengan selamat. Akhirnya sang anak dapat berhasil selamat sedangkan ibunya tidak. Beberapa tahun berselang, keluarga dari sang ibu marah kepada keluarga Empo Maro setelah mengetahui proses persalinan yang salah dan berencana menyerang Empo Maro. Musang datang memberi kabar kepada keluarga Empo Maro bahwa akan ada serangan terhadapa mereka sehingga mereka segera meningalkan kampung dan berhasil selamat. Kisah Musang yang telah menjadi penyelamat keluarga Empo Maro diwariskan hingga saat ini dan musang menajdi salah satu binantang yang disakralkan di Waerebo.

Pesan dari Masyarakat Adat
Bantulah Kami dalam Menjalankan Prosedur Keamanan, Keselamatan serta Kenyamanan Selama Perjalanan dan Kunjungan Anda ke Waerebo, dengan :
Gunakan jasa pemandu lokal, membeli produk masyarakat lokal, selain kunjungan anda akan lebih bernilai anda juga turut membantu perekonomian masyarakat lokal

Tidak membawa senjata tajam/senjata api, minuman keras dan narkotika

Kunjungan untuk mengadakan penelitian, pembuatan film atau pelatihan mohon melakukan pemberitahuan kepada pengurus adat dan mengikuti prosedur yang berlaku


Bantu Kami Menjaga Kelestarian Hutan Alam dan Kampung Adat, dengan :
Tidak membuang sampah sembarangan, tidak memetik tumbuhan dan menggangu satwa liar serta membuat coretan/tulisan di pohon dan batu

Hindari membuat api tanpa ijin, jangan buang puntung rokok sembarang, karena rumah adat terbuat dari material yang mudah terbakar


Hormati Budaya Kami dan Bantu Kami Menjaga Kelestarian Sosial dan Budaya Selama Kunjungan Anda, dengan :
Setiap pengujung yang baru tiba di kampung Waerebo harus ke rumah Gendang terlebih dahulu untuk melakukan upacara adat penghormatan leluhur (Waelu’u) setelah itu baru diperkenankan beraktivitas di kampung

Tidak melakukan aktivitas di Compang (Altar di depan rumah Gendang) karena kawasan Compang disucikan secara adat

Menggunakan pakaian yang sopan serta bersikap ramah

Memintalah ijin sebelum anda mengambil foto seseorang

Bantu mendidik anak-anak kami dengan tidak memberikan sesuatu (permen, uang, mainan atau kue) tanpa seijin orang tua mereka

Bagaimana ke Waerebo
Untuk menuju Waerebo anda bisa menggunakan pesawat turun di Bandara Komodo, Labuan Bajo, Kab. Manggarai Barat atau Bandara Ruteng, Kab. Manggarai. Kemudian melanjutkan perjalanan dengan mobil atau motor sewaan ke Dintor , tetapi agak sedikit mahal. Bisa anda turun di pertigaan Ruteng-Dintor-Labuan Bajo dan menggunakan oto kayu (transprotasi publik) menuju Dintor. Dari Dintor dilanjutkan dengan trakking sekitar 8 km menuju Waerebo. Jika anda ingin beristirahat dulu sebelum memulai trakking, anda bisa menginap di Waerebo Lodge.
Waerebo Lodge
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts