24 August 2016

Sebelumnya saya telah menulis tentang apa yang “Perlu Diketahui Tentang Waerebo”. Inilah petualangan saya di Waerebo...
Waerebo

Setelah dari Pulau Nuca Molas, saya dan kedua teman kembali ke penginapan untuk bersiap-siap meninggalkan penginapan. Dengan penuh keberanian dan kemauan yang tinggi, saya ingin sekali mengunjungi Waerebo. Berbagai pertimbangan pun muncul, sehingga saya mengambil keputusan untuk ke Waerebo seorang diri, sedangkan kedua teman saya yang bersama-sama selama kegiatan dari Labuan Bajo sampai di Nuca Molas kembali ke tempat mereka masing-masing.
Waerebo Lodge

Saya pun di antar oleh salah seorang teman (sebelum dia kembali ke Labuan Bajo) dengan menggunakan motor ke tempat terakhir yang bisa diakses kendaraan. Sebelumnya kami mampir ke keluarga teman saya dan kebetulan salah seorang keluarga teman saya ini siap untuk menjadi porter saya dalam perjalanan. Kami melanjutkan perjalanan menuju ke Waerebo, sayangnya saat tiba di jembatan pertama, kondisi jembatan sedang diperbaiki, sehingga sampai disinilah saya diantar. Sambil menunggu porter yang masih di belakang, saya beristirahat sejenak. Hujan pun turun, saya menuju kolong jembatan untuk berteduh. Ada sedikit rasa kecewa ketika hujan turun, tetapi tetap semangat untuk ke Waerebo.

Jembatan yang saya tempati berteduh ini bukanlah akses terakhir kendaraan menuju Waerebo dikarenakan sedang dalam perbaikan, maka kebanyakan wisatawan berhenti disini. Kesempatan ini pun tak disia-siakan oleh penduduk sekitar, beberapa penduduk menawarkan jasa ojek untuk sampai ke titik terakhir akses kendaraan.
 
Jembatan yang sedang diperbaiki

Beberapa saat menunggu, porter saya datang. Kami bersepakat untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki tanpa menggunakan ojek. Selama perjalanan kami pun diguyur hujan, setidaknya ini memberi keuntungan buat kami tidak kepanasan, walaupun sedikit kecapean karena jalan yang terus menanjak. Jalanan sampai ke akses terakhir kendaraan sudah beraspal. Sekitar 30 menit berjalan kaki, sampailah kami di titik terakhir akses kendaraan. Di tempat ini pun sedang ada pembangunan jembatan yang masih dalam proses pengerjaan.
Ojek menuju titik akses terakhir kendaraan


Jalanan yang masih beraspal

Disinilah awal mula trekking sesungguhnya menuju Waerebo. Jalanan yang sempit, beralaskan tanah, tak beraspal, dan mendaki ditambah hujan terus mengguyur menjadi tantangan tersendiri bagi kami yang hanya dua orang ini. Dari titik akses kendaraan sampai ke Waerebo berjarak sekitar 4,8 km. Kalau tidak salah setiap 100 meter terdapat patok penunjuk jarak ke Waerebo.
Penunjuk jarak ke Waerebo

Ditengah rintikan hujan dengan penuh semangat walaupun terasa lelah, kami terus melangkahkan kaki kami, menyusuri setiap jalan menuju Waerebo. Alam yang masih alami, di sisi kiri jurang dan di sisi kanan bukit menjadi pemandangan selama perjalanan. Kami melewati beberapa air terjun mini dan jalanan yang terkena longsor, tetapi masih bisa dilalui.
Air terjun mini


Tanah longsor


Menyeberangi jembatan

Saya melepas sepatu karena terasa berat kemasukan air hujan, porter saya pun berbaik hati meminjamkan sendalnya kepada saya. Kami terus berjalan, melewati salah satu titik yang katanya satu-satunya titik yang dijangkau oleh sinyal telfon. Kami tidak memiliki kesempatan untuk membuktikan hal tersebut karena hujan dan tujuan kami sekarang secepatnya sampai di Waerebo sebelum malam tiba. Sekitar 2,3 km menuju Waerebo, jalanan tergolong mudah untuk dijangkau karena penurunan. Perjalanan sekitar 2 jam 40 menit akhirnya kami sampai di pondok tempat menunggu tamu.
Pondok melepas lelah


Pondok tersebut merupakan tempat beristirahat wisatawan sebelum turun ke Kampung Waerebo. Sebuah pentungan tergantung di salah satu sisi pondok yang akan dibunyikan sebagai tanda bahwa ada tamu yang akan turun ke Kampung Waerebo. Kami menuju pondok tersebut untuk sedikit melepas lelah. Ternyata tidak hanya kami yang ke Waerebo hari ini, di pondok tersebut terlebih dahulu sampai 2 rombongan, masing-masing sepasang suami istri dari Belanda dan 3 orang laki-laki yang tidak terpaut jauh usia dengan saya dari Malaysia dan Singapura dengan porter masing-masing.

Beberapa saat beristirahat, kami semua turun ke Kampung Waerebo. Perasaan takjub melihat alam dan rumah adat Waerebo yang unik serta perasaan puas mengingat perjuangan hingga sampai di sini trekking dalam waktu yang cukup lama ditambah guyuran hujan. Kami menuju salah satu rumah untuk melalui upacara adat, upacara ini memang sudah kewajiban yang akan dilalui wisatawan ketika berkunjung dan memulai aktivitas selama di Waerebo. Upacara ini bertujuan untuk manjatkan doa dan meminta persetujuan dari nenek moyang masyarakat Waerebo. Dalam upacara tersebut, pengujung memberikan uang seikhlasnya sebagai persembahan dan rasa syukur.
 
Waerebo di sore menjalang malam hari

Setelah upacara adat, kami menuju salah satu rumah yang telah ditunjukkan oleh pengelola sebagai tempat kami beristirahat. Memasuki rumah tersebut, sudah ada 2 rombongan yang lebih dulu tiba. 2 orang perempuan kakak adik dari Belgia dan 1 orang dari Jerman ditemani 1 guide dari Indonesia.

Berisitrahat sejenak, bersih-bersih badan dan kami pun disuguhkan makan malam. Dengan duduk melingkar, kami para wisatawan menikmati makanan yang disajikan oleh tuan rumah. Disini ada rasa kebersamaan antar wisatawan, bercerita, bercanda dan sebagainya.
Makan malam

Makan malam berakhir, kami pun kembali dikumpulkan duduk melingkar oleh seorang anak muda sebagai guide Waerebo. Dia menjelaskan dan menceritakan semua tentang Waerebo, mulai dari sejarah, rumah adat, masyarakat, hewan sakral Waerebo dan sebagainya. Diakhir pertemuan ini, saya memberikan oleh-oleh yang saya bawa dari Kupang, beberapa buku bacaan untuk anak-anak. Kami pun beristirahat untuk memulihkan tenaga selama perjalanan sampai ke Waerebo. Karena bentuk rumahnya melingkar, kami pun tidur melingkar, dengan sebuah bantal, kasur dan selimut yang disiapkan pengelola sudah cukup untuk membuat tidur kami nyenyak dan melindungi kami dari hawa dingin Waerebo.
 
Buku untuk anak Waerebo

Tempat tidur

Paginya. Bangun tidur, bersih-bersih, walaupun tidak mandi karena air sangat dingin cuman cuci muka dan gosok gigi... Hehehe... Saya pun melihat aktivitas masyarakat. Seorang ibu dan anaknya sedang menumbuk kopi Waerebo yang terkenal enak dan menjadi oleh-oleh Waerebo. Saya pun membantu menumbuk kopi. Kopi  ini dari kopi yang sudah disangrai kemudian dihaluskan dengan ditumbuk, lalu disaring untuk menghasilkan bubuk kopi.
Aktivitas masyarakat menumbuk kopi

Selanjutnya saya berkeliling untuk mengambil gambar rumah adat yang unik dan penuh filosofi ini... 
Waerebo

Selesai berkeliling dan memotret, saya dan wisatawan lain kembali ke penginapan untuk sarapan. Sarapan kali ini ditemani dengan suguhan kopi Waerebo. Setelah sarapan, kami bersiap-siap untuk kembali. Tak lupa saya membeli kopi Waerebo pesanan teman saya. Selain kopi, oleh-oleh yang bisa dibawa pulang dari Waerebo, seperti kain Waerebo, selendang, miniatur rumah Waerebo dan sebagainya.
Kopi Waerebo


Oleh-oleh Waerebo

Sebelum pulang, saya memotret keceriaan anak-anak Waerebo dan berfoto bersama mereka.
Foto bersama anak-anak

Dalam perjalanan, salah seorang masyarakat Waerebo menjual jeruk di pekarangan rumah. Saya pun membeli jeruk tersebut... Terdapat pula kopi yang sedang di jemur...

 Kopi yang dijemur

 
Jual jeruk


Perjalanan sekitar 4,8 km sudah menunggu di depan. Namun ini akan sedikit lebih mudah karena cuaca masih pagi dan kami jalan tidak hanya 2 orang saja seperti kemarin pada saat mau berangkat. Rombongan tadi malam semuanya akan balik. Perjalanan yang lebih mudah ini membuat kami lebih cepat tiba di jembatan tempat berhenti kemarin, hanya sekitar 1,5 jam.
 Foto saat kembali dari Waerebo

Petualangan ke Waerebo ini sangat melekat dalam hati saya, sebuah perjalanan yang luar biasa, perjalanan dengan perjuangan. Berjalan kaki, mendaki, diguyur hujan, tetapi semua hilang dengan suguhan yang diberikan Waerebo. Alam, budaya, rumah, masyarakat, dan kehidupan yang tercipta dan berjalan di Waerebo serta bertemu dengan orang-orang baru.
Spot yang masih di jangkau sinyal


Pemandangan dalam perjalanan


 
Kopi Waerebo

Jika ada waktu dan kesempatan serta dukungan dana (terpenting)... Akan ku langkahkan kakiku kembali ke Waerebo....

Setelah perjalanan dari Waerebo petualangan saya berlanjut ke Ruteng, Kab. Manggarai. Ceritanya akan saya posting pada tulisan berikutnya.....

Kisaran Biaya ke Waerebo :
  • Ruteng-Pertigaan (Ruteng-Labuan Bajo-Dintor) Rp. 15.000 (pake angkot)
  • Pertigaan-Dintor Rp. 200.000 (pake ojek)
  • Penginapan di Dintor Rp. 200.000 (Waerebo Lodge)
  • Dintor-Akses Terakhir Kendaraan Rp. 50.000 (pake ojek)
  • Jasa Porter Rp. 150.000-Rp.200.000
  • Uang upacara Rp 20.000-Rp. 50.000
  • Bermalam di Waerebo Rp. 325.000



Tips ke Waerebo...
  • Hindari musim hujan, kalau pun harus berangkat pada saat musim hujan siapkan mantel
  •  Berkunjung pada bulan November ada upacara Penti dan tarian Caci
  • Bawa buku bacaan untuk anak-anak Waerebo
  • Jangan lupa bawa air minum karena perjalanan yang sedikit menguras tenaga
  • Siapkan pakaian untuk meminimalisir hawa dingin
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts