12 August 2016

Sebelumnya petualangan ala Backpacker di Bandung (Part 1) telah saya ceritakan, semalaman beristirahat. Paginya kami pun bersiap-siap untuk melanjutkan petualangan kami yang kedua dan terakhir sebelum beranjak dari Bandung. Check out dari penginapan, memesan ojek online dan menuju tujuan pertama kami, Museum Geologi. Menggunakan ojek online dengan biaya sekitar Rp. 15.000, kami pun meluncur.
Museum Geologi

Di depan museum terdapat beberapa barang yang dipamerkan, seperti  sebuah pin bowling raksasa berwarna hitam berdiri dengan kokoh. Menuju loket pembelian tiket, kami pun membayar sekitar Rp. 5.000 dan masuk ke museum, kami pun menitipkan barang-barang kami ke tempat penitipan barang untuk mengurangi beban yang kami bawa. Memasuki museum para pengunjung akan di sambut sebuah koleksi berukuran besar berupa kerangka gajah.
Kerangka Gajah

Museum Geologi sendiri terletak di Jl. Diponegoro No. 57, Cihaurgeulis, Cibeunying Kaler, Kota Bandung. Lokasi ini strategis karena disekitarnya terdapat beberapa tempat yang wajib dikunjungi, seperti Taman Lansia, Museum Pos dan Gedung Sate dan itu pun tak kami lewatkan begitu saja. Museum ini diresmikan pada 16 Mei 1929. Museum Geologi menempati 2 lantai dengan ratusan ribu koleksi yang dibagi ke dalam beberapa ruangan, seperti Ruang Peragaan Geologi Indonesia, Ruang Peragaan Sejarah Kehidupan, Ruangan Geologi dan Kehidupan Manusai dengan tema Sumber Daya Geologi, Manfaat dan Bencana Geologi.
Denah Museum Geologi

Saat kami berkunjung beberapa sekolah pun berkunjung ke museum ini, membawa para murid untuk melihat dan belajar menambah pengetahuan yang berkaitan dengan geologi. Saya salut kepada para guru yang masih mengarahkan murid untuk ke museum. Harusnya di sosial media menggunakan #ayokemuseum untuk mengajak anak-anak bahkan orang dewa untuk rajin-rajin berkunjung ke museum selain refreshing dapat juga menambah pengetahuan …..
Anak-anak yang berkunjung ke Museum Geologi

Lanjut perjalanan kami di Museum Geologi. Kami berkeliling, melihat koleksi dan mengambil gambar. Beberapa koleksi yang sempat saya lihat dan abadikan, seperti Poster Pohon Keluarga, Cangkang Kerang-Kerangan Laut, Batuan, Kondisi Barang Akibat Gunung Merapi dan masih banyak lagi. Kalo disebut satu per satu akan menghabiskan banyak halaman… Hehehehehe…
Pohon Keluarga


Cangkang Kerang


Batu


Kondisi barang akibat Gunung Merapi

Puas berkeliling, kami melanjutkan perjalanan ke Museum Pos… Kami berjalan kaki karena jarak yang tidak begitu jauh. Menuju Museum Pos, kami melewati Taman Lansia. Tak tau pasti mengapa namanya demikian, mungkin didedikasikan untuka para lansia di Bandung. Tapi jangan salah jika berpikiran bahwa taman ini isinya (read. pengunjung) semua lansia, ada juga anak-anak dan orang muda kok.
Taman Lansia


Menuju Museum Pos yang terletak di Jalan Cilaki No. 73, Bandung Wetan. Tak perlu merogoh kocek untuk masuk ke museum ini alias gratis. Museum ini terletak di lantai dasar Pos Bandung. Memasuki museum kata teman saya ada sedikit nuansa mistis ditambah pengunjung yang datang pada saat kami berkunjung tak ramai, hanya kami saja.

Koleksi dari museum ini berhubungan dengan kegiatan pos, seperti sepeda yang digunakan mengirim surat, patung-patung pengirim pos dan masyarakat (ini yang menambah kesan mistis), mesin ketik jaman dahulu kala, surat yang ditulis di atas daun dan sebagainya.
Sepeda sebagai alat pembawa surat


Patung aktivitas pos


Tulisan di daun

Berkeliling dan mengambil gambar. Setelah itu melanjutkan perjalanan ke Gedung Sate yang terletak di Jalan Diponegoro No. 22, tak jauh dari Museum Pos hanya berjalan kaki beberapa menit.

Gedung Sate


Gedung Sate merupakan pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat dan menjadi salah satu icon wisata di Bandung. Tak tau pasti dari mana asal nama Gedung Sate tersebut, tetapi salah satu ciri khas dari gedung ini adalah adanya sebuah ornament seperti tusuk sate di atas menaranya. Mungkin inilah yang menjadi muasal nama gedung ini. Disekitaran Gedung Sate tertata taman yang asri. Sayangnya saat kami berkunjung gedung ini tidak terbuka, hanya beberapa security yang sedang berjaga. Kami pun hanya berfoto di depan gedung ini.

 
Bentuk tusuk sate di menara Gedung Sate


Lanjut ke Kebun Binatang Bandung.

Terletak di Jalan Kebun Binatang No.6, Lebak Siliwangi, Coblong, Bandung. Karena jaraknya yang jauh, kami pun menggunakan angkutan umum menuju ke tempat ini. Tiket masuk seharga Rp. 20.000/orang. Saat kami berkunjung suasana kebun binatang sangat sepi, mungkin karena bukan hari raya di tambah lagi puasa. Berkeliling dan mengambil gambar binatang. Untuk melihat hasil potretan saya lebih banyak, bisa kunjungi instagram saya @nando_mangan.
Kebun Binatang Bandung

Beberapa koleksi dari kebun binatang ini, diantaranya harimau, burung, ular, komodo, gajah, unta, monyet, zebra, tapir dan lain-lain.
Burung koleksi KB Bandung


Unta koleksi KB Bandung

Di kebun binatang ini, petualangan kami berakhir. Kami pun menuju stasiun dan berpisah. Saya turun di satsiun untuk kembali ke Jakarta sedangkan Mas Ulung masih akan mengikuti kegiatan di Bandung.
Stasiun Kereta Bandung

Semoga suatu saat bisa kembali ke Kota ini…..
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts