11 November 2016

Indonesia menjadi salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang pernah merasakan getirnya penjajahan. Perjalanan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan tidak terlepas dari jasa para pahlawan, itulah sebabnya untuk memberi penghormatan dan dedikasi bagi para pahlawan yang gugur, tepat tanggal 10 November setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Peninggalan sejarah

Ketika kita kembali ke puluhan tahun silam saat Indonesia masih terjajah, negara datang ke Indonesia untuk menikmati dan menguras kekayaan sumber daya alam yang ada. Tidak sampai disitu, penjajah pun menguras tenaga pribumi untuk dijadikan sebagai pekerja dengan sistem yang tak seperti sekarang ini, sistem kerja paksa. Namun negara penjajah tidak tenang begitu saja, masih banyak negara yang ingin berkuasa di tanah Indonesia, sebut saja Portugis, Belanda dan beberapa negara lainnya.

Tak hanya saat penjajahan, bangsa lain menginjakkan kaki di Indonesia. Perang Dunia (PD) pun mendatangkan para negara-negara yang berseteru ke Indonesia. Jepang dan Amerika menjadi negara tersebut dikarenakan posisi Indonesia yang strategis, sehingga dijadikan sebagai benteng pertahanan. Tak tanggung-tanggung, para seteru membangun pertahanan tak hanya di atas tanah dengan membangun benteng yang kokoh tetapi di bawah tanah (goa) pun mereka manfaatkan sebagai tempat bersembunyi dari musuh. Salah satu bukti yang masih ada sampai sekarang, seperti yang dapat ditemukan di Biak, Papua. Terdapat goa peninggalan tentara Jepang yang digunakan sebagai tempat persembunyian dan pertahanan dari gempuran Amerika.

Goa Jepang dikenal juga dengan nama Goa Binsari dan masuk kedalam Kampung Wisata Binsari, terletak di Jl. Goa Jepang No. 47, Distrik Samofa, Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua (lengkap amat, biar gak nyasar). Goa ini merupakan benteng pertahanan Jepang pada Perang Dunia Ke-II. Tak jauh dari Kota Biak ditambah jalanan sudah bagus.
Papan Nama Kampung Wisata Binsari

Sedikit informasi sejarah tentang Kampung Wisata Binsari dari tulisan di sekitar kantor pengelola. Terbentuk pada tahun 2011. Binsari diambil dari nama goa alam “Abiab Binsari” yang telah dikenal masyarakat sebelum PD Ke-II. Ada cerita mistik dibalik nama ini. Menurut kepercayaan masyaraakt sekitar, bahwa goa ini dahulunya dihuni oleh seorang nenek perempuan sehingga disebut Binsar (perempuan) dan Sar (tua), dimana nenek tersebut kadang terlihat dan kadang tidak terlihat. Kemudian pada PD Ke-II, goa ini digunakan Jepang sebagi benteng pertahanan dan pusat logistik karena posisi goa yang sangat strategis di ketinggian dan daapt digunakan untuk melakukan pemantauan ke daerah pantai dan laut. Goa dijadikan markas oleh sekitar 3000 tentara dibawah pimpinan Kolonial Naoyuke Kusume. Setelah ketahuan oleh Amerika bahwa daerah ini menjadi pusat logistik Jepang, maka Amerika menajtuhkan serangan bom pada tanggal 7 Juni 1944.

Tak jauh dari kantor dan bersama teman, akhirnya saya dapat menginjakkan kaki di tempat bersejarah ini, Goa Jepang. Perjalanan tak memakan waktu lama karena lokasinya berada di dalam kota ditambah jalanan sudah bagus. Sampai disana tak banyak wisatawan yang berkunjung. Di pinggir jalanan, terdapat beberapa papan petunjuk yang dapat memudahkan wisatawan menemukan tempat ini. Memasuki kawasan wisata, kita sudah disambut dengan beberapa benda yang berhubungan dengan perang terjejer di halaman sebelum memasuki goa. Ada rudal, jergen, topi tentara, bekas botol dan kaleng serta beberapa benda peninggalan tentara Jepang. Benda-benda tersebut sudah terlihat berkarat termakan oleh waktu.
Halaman Goa Jepang


Peninggalan yang ditemukan di Goa Jepang

Perjalanan berlanjut memasuki Goa Jepang. Menelusuri jalan setapak, terlihat beberapa tulisan di sepanjang jalan, seperti “Cintailah Sejarah Masa Lalu”… Masa lalu harus dicintai lohJJJ. Terdapat pula tempat duduk dan gasebo yang telah dibangun yang dijadikan pengunjung sebagai tempat beristirahat, melepas lelah setelah berjalan di sekitar goa.
Jalan setapak sekitar goa

Gasebo tempat istirahat

Terdapat sebuah monumen dari batu dan disandarkan tiga papan tancap bertuliskan huruf Jepang yang tidak saya tau artinya yang dikelilingi pagar. Namun di luar pagar tersebut, sebuah tulisan menjelaskan bahwa pagar ini dibangun oleh Pasukan Infantri Timur 2929, Perkumpulan Pengenang Korban Perang di Irian Jaya pada Juni 1989.
Monumen yang dibangun oleh Pasukan Infantri

Belum sampai ke dalam goa, kami masih harus berjalan menuruni anak tangga untuk mencapai mulut goa.. Memasuki mulut goa, harus hati-hati karena dasar goa tanah yang lembab sehingga licin. Tak banyak yang dapat dilihat di sini, hanya beberapa bekas drum dan serpihan piring pecah. Bom, senjata dan peralatan perang lainnya serta tulang belulang tak ditemukan di dalam goa ini. Menurut informasi yang saya dapatkan bahwa semua itu sudah diangkut ke luar goa, seperti benda-benda yang terlihat di halaman sebelum memasuki goa.
Tangga menuju mulut goa

Sisa peninggalan di dalam goa

Dari dalam goa, kita dapat menengadah ke atas dan melihat lubang besar yang dimana sekitar lubang tersebut tumbuh pepohonan, mungkin lubang ini terbentuk akibat dari bom Amerika saat menyerang goa ini sebagai pusat logistik Jepang. Di antara lubang tersebut, tumbuh pula berbagai jenis tanaman.
Lubang akibat serangan Amerika

Setelah habis melihat kondisi di dalam gua, saya keluar dari goa, berjalan menyusuri jalan setapak dan mampir melihat dari mulut lubang ke bawah goa akibat bom. Sehabis itu, saya menuju sebuah bangunan kecil, dimana dalam ruangan tersebut terdapat beberapa tengkorak dan rangka manusia. Ini merupakan rangka dari tentara Jepang yang belum diambil oleh keluarga mereka.
Pemandangan goa dari atas


Rangka Tentara Jepang yang meninggal dunia

Selanjutnya menuju ruang informasi sekaligus membayar tiket masuk. Di dalam ruangan tersebut, terpampang berbagai macam informasi dan peninggalan lainnya terkait Goa Jepang ini. Ada senjata, sendok, garpu, mangkok, pisau dan sebagainya.
Ruang informasi

 Peninggalan yang dipajang

Terdapat pula foto terkait upacara pembakaran tulang belulang (kerangka jenazah tentara Jepang pada PD Ke-II) pada tahun 1942 – 1944 dan pemisahan tulang dari arang setelah pembakaran.
Foto pemisahan tulang dengan arang

Untuk masuk ke dalam Goa Jepang, wisatawan wajib membayar tiket masuk. Tiket masuk pun tidak merata bagi semua wisatan. Wisatawan lokal sebesar Rp. 25.000/orang untuk dewasa dan Rp. 10.000/orang untuk anak-anak, sedangkan wisatawan mancanegara sebesar Rp. 100.000/orang untuk orang Jepang dan Rp. 50.000/orang untuk wisatawan bukan Jepang. Selain itu, ada paket untuk pengambilan video/rekaman sebasar Rp. 400.000 dan foto pra-wedding Rp. 300.000. Harga yang terbilang merogoh kocek yak untuk wisatawan lokal terlebih saya ini…. Hehehe. Mudah-mudahan pengelola ataupun pemerintah memikirkan harga tiket masuk… Kalau bisa sih sedikit dipotonglah… JJJ

Inilah jejak peninggalan sejarah di Biak yang masih dapat disaksikan sebagai saksi sejarah masa lalu. Jejak sejarah Perang Dunia Ke-II. Jejak sejarah pertempuran antara Jepang dan Amerika. Jejak sejarah yang tak boleh dilupakan. Jejak sejarah yang sudah menjadi bagian dari sejarah perjalanan bangsa Indonesia.
 Jergen Peninggalan Tentara Jepang


Botol-botol


Foto upacara pembakaran tulang belulang

Selamat Hari Pahlawan… Jangan lupakan sejarah dan pembuat sejarah, para pahlawan…
Reaksi:

1 comment:

  1. sebenarnya banyak sekali tempat pariwisata yang menarik di nusantara, tapi karena minimnya informasi jadi jarang diketahui oleh khalayak ramai..
    sip deh informasinya

    ReplyDelete

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts