15 October 2016

Perjalanan pun kami lanjutkan setelah dari Batu Picah. Jalanan yang mendukung dan pastinya cuaca. Tak jauh dari tempat wisata sebelumnya hanya sekitar 30 menit, kami sampai di Air Terjun Wafsarak. Seperti Batu Picah, tak susah untuk menemukan lokasi air terjun ini karena letaknya yang tak jauh dari jalan raya, ditambah papan bertuliskan “Badan Pengelola Objek Wisata Bahari & Air Terjun WAFSARAK” berdiri di pinggir jalan yang memudahkan para pengunjung. Air Terjun Wafsarak terletak di Kampung Amoi, Distrik Warsa.
 Gerbang  Air Terjun Wafsarak

Memasuki kawasan air terjun, seperti di Batu Picah tak ada pengelola yang menjaga pintu masuk sehingga kami tak membayar alias free. Walaupun begitu, seharusnya beberapa pengelola diberikan tugas untuk berjaga, setidaknya menyodorkan tiket masuk untuk mendukung pengelolaan air terjun sekaligus menyediakan buku tamu yang nantinya digunakan untuk melihat seberapa banyak wisatawan yang berkunjung tiap hari. Tapi itu hanya harapan saya.
Jalanan menuju air terjun

Banyak pengunjung yang datang pada saat kami berkunjung. Suasana ramai dan gemericik air menyatu terdengar di telinga. Kami hanya melihat dan tak berenang. Melihat tingkah laku dari para pengunjung, ada yang melompat dari air terjun, berenang, berfoto bersama, selfie bahkan ada yang hanya datang duduk. Namun tak seperti kami.


Keseruan para pengunjung

Tak puas melihat semua itu, teman mengajak saya untuk mengunjungi tingkatan 2 dari Air Terjun Wafsarak. Butuh beberapa menit untuk berjalan kaki, terlihat disekitar alam yang sejuk. Ketika sampai pemandangan yang berbeda terlihat di depan mata. Jika tadi sangat ramai di tingkatan 1, disini sepi hanya kami berdua yang berkunjung. Tak ada orang yang berenang, melompat dan berfoto. Airnya pun lebih jernih.
Melanjutkan perjalanan ke tingkat dua

Sebuah pohon yang tumbah bersandar di dinding dan beberapa batang pohon tergeletak di dasar air terjun. Dasar air terjun ini terlihat sempit dan dangkal, sehingga tidak memungkinkan para pengunjung untuk melompat dan berenang. Mungkin ini alasan mengapa tingkatan 2 ini jarang dihampiri pengunjung ditambah lagi butuh perjuangan berjalan kaki menelusuri aliran air terjun untuk sampai disini.






 
Pemandangan sekitar air terjun

Beberapa fasilitas yang ada di air terjun ini, seperti gasebo dan tempat duduk. Toilet yang kondisinya tidak terawat.
 Fasilitas  tak terawat dengan baik

Kami mengambil foto dan mencuci muka tanpa berenang. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke salah satu tempat wisata lainnya sebelum kembali ke Kota Biak.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts