04 October 2016

Hari-hari berikutnya di Biak tak saya sia-siakan. Menjelajah tempat wisata dan pastinya menarik untuk dikunjungi. Waktu yang tepat untuk liburan hanya pada hari libur kantor (Sabtu dan Minggu) atau hari raya lainnya. Itu pun kalau ada motor kantor, ada kemauan, dan cuaca mendukung untuk jalan-jalan serta ada teman. Kali ini semua hal tersebut tersusun dengan rapi. Petualangan pun di mulai...

Bersama dengan teman kantor (Agusto), kami pun memantapkan langkah dan roda motor untuk menuju ke Batu Picah. Informasi destinasi wisata ini saya dapatkan dari salah satu akun instagram yang memposting tempat wisata di Biak. Dengan menggunakan motor, kami pun memulai perjalanan.
 
Jalan menuju Batu Picah


Jalanan menuju tempat ini sudah tergolong bagus , jalanan sudah beraspal. Walaupun begitu, kita harus hati-hati saat berkendara karena jika kita menabrak hewan ataupun manusia kita akan kena sanksi adat. Setelah perjalanan sekitar 1 jam dari pusat Kota Biak, sampailah kami di Batu Picah. Tidak susah untuk mendapatkan lokasi ini dikarena terletak di pinggir jalan hanya beberapa langkah saja untuk tepat berada di dekat pecahan air. Batu Picah persisnya berada di Kampung Sor, Biak Utara.

Memasuki wisata Batu Picah, sebuah gerbang tanpa nama akan menyambut para pelancong.  Tak ada orang ataupun pengelola yang menjaga gerbang ini, hanya ada sebuah kotak papan yang ditempel tulisan diletakkan di pinggir gerbang. Mungkin sebagai biaya parkir atau masuk. Kami memarkir motor dan berjalan. Terdapat beberapa gasebo atau tempat duduk yang disediakan pengelola sebagai tempat pengunjung beristirahat dan bersantai ria.
Gerbang Batu Picah

Gasebo

Gasebo

Sebuah kolam renang yang bersambungan langsung dengan laut dan beralaskan pasir putih hanya  dinding cor pada bagian dinding bertingkat-tingkat yang membatasinya dengan darat. Sayangnya saat kami berkunjung, air sedikit sekali. Tak memungkinkan untuk berenang. Kami terus berjalan untuk mencapai pinggir laut, melihat lebih dekat ombak.
Kolam

Disinilah pemandangan dan sensasi ombak yang berbeda dapat dilihat dan dirasakan secara langsung dan jelas. Karena di depan daratan Batu Picah adalah perairan terbuka, maka ombak yang datang besar dan tinggi sehingga saat menghantam batu karang di pinggir daratan, maka ombak akan pecah. Inilah asal nama Batu Picah. Picah dalam bahasa Biak artinya Pecah. Selain itu, pecahan ombak akan sampai sekitar daratan dengan adanya lubang kecil yang bersambungan dengan daratan sehingga ketika ombak datang dan pecah, maka akan tersembur dari lubang kecil ini.




Pemandangan pun terlihat dan terkesan luar biasa karena adanya deratan batu karang yang kokoh di sepanjang pantai. Semakin sore, pecahan ombak akan semakin besar.
  


Banyak pengujung yang datang kesini, ada yang hanya datang sekedar untuk menikmati sensasi ombak pecah, berfoto bersama dan selfie bahkan bermain air bahkan berdiri dan duduk di dekat pecahan ombak. Untuk itu, perlu hati-hati saat berkunjung karena bisa saja terkena pecahan ombak bahkan terseret ombak.
Pengunjung menikmati ombak pecah

Sensasi yang luar biasa ini akan semakin lengkap, jika di sekitar lokasi bersih tanpa sampah. Sayangnya saat saya berkunjung, saya masih melihat sampah yang berada tidak pada tempatnya. Kesadaran dari para pengunjung sangat diperlukan, tak terlepas dari pengelola untuk menyediakan tempat sampah.
Sampah

Setelah puas menikmati sensasi ombak pecah, kami pun melanjutkan perjalanan ke beberapa tempat yang tak kalah luar biasanya yang dimiliki Biak.
 
Pemandangan sekitar Batu Picah
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts