23 June 2016



Kawasan konservasi perairan adalah kawasan perairan yang dilindungi, dikelola dengan sistem zonasi untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya ikan dan lingkungannya secara berkelanjutan. Salah satu jenis kawasan konservasi adalah Taman Nasional Perairan (TNP), menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor PER.02/MEN/2009 tentang Tata Cara Penetapan Kawasan Konservasi Perairan menjelaskan bahwa TNP merupakan kawasan konservasi perairan yang mempunyai ekosistem asli, yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian,ilmu pengetahuan, pendidikan, kegiatan yang menunjang perikanan yangberkelanjutan, wisata perairan, dan rekreasi. Kawasan konservasi perairan yang merupakan Taman Nasional Perairan adalah Laut Sawu yang mencakup 10 kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Hal ini didukung dengan adanya Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI No. 6/KEPMEN-KP/2014 tentang Rencana Pengelolaan dan Zonasi Taman Nasional Perairan Laut Sawu dan Sekitarnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2014 – 2034.
Rencana Pengelolaan dan Zonasi TNP Laut Sawu (Sumber Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 6/KEPMEN-KP/2014)

Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu merupakan salah satu kawasan konservasi perairan di bawah pengelolaan Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang sebagai unit pelaksana teknis Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Salah satu hal yang melatarbelakangi ditetapkannya sebagian Laut Sawu sebagai kawasan konservasi perairan dikarenakan perairan Laut Sawu merupakan lokasi migrasi setasea atau mamalia laut, baik paus maupun lumba-lumba.

Hal ini menjadi daya tarik tersendiri dan bisa saja dikembangkan menjadi salah satu icon wisata di NTT khususnya di Laut Sawu dengan mempertimbangan berbagai hal, mulai dari aspek sumber daya, lingkungan, masyarakat dan daya dukung pariwisata. Wisata melihat mamalia laut merupakan wisata yang banyak diminati oleh para wisatawan terlebih wisatawan luar negeri.

Kesempatan untuk melihat paus dan lumba-lumba lebih dekat kembali saya dapatkan. Berawal dari seorang peneliti yang akan meneliti kenampakan mamalia laut di TNP Laut Sawu, saya pun di ajak untuk ikut serta.

Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Oeba menuju Pulau Batek (salah satu pulau terluar Indonesia yang berbatasan dengan Timor Leste), kemudian menuju Pulau Rote, Kabupaten TTS dan kembali ke Pelabuhan Oeba, dari tanggal 6 – 11 April 2016.

06 April 2016
Berangkat dari Pelabuhan Oeba pada malam hari dan langsung menuju ke arah Pulau Batek.

07 April 2016
Pagi hari dalam perjalanan menuju Pulau Batek sekitar pukul 06.30, kami disambut sekelompok lumba-lumba berjumlah 6 ekor. Kapal dihentikan sejenak untuk mengambil gambar dan data. Gerombolan lumba-lumba tersebut menghindari kapal kami kemungkinan mereka merasa terganggu. 
Lumba-lumba 

Selanjutnya sekitar pukul 07.10, 3 ekor paus terlihat dari kapal kami, paus tersebut tidak bergerak sehingga tampak seperti bongkahan kayu yang mengapung di permukaan laut. Tak berselang berapa menit, kami kembali disuguhkan kenampakan lumba-lumba pada pukul 07.25 dan 07.46 dengan jumlah yang lebih banyak sekitar 60 dan 13 ekor dengan atraksi melompat ke udara dan tingkah laku melompat tinggi ke udara dan berenang mencari makan. 
Paus di TNP Laut Sawu

Pada pukul 08.00, kami kembali melihat 6 ekor paus yang mengapung di permukaan. Sekitar 30 menit kemudian, kami bertemu lumba-lumba sebanyak 60 ekor dengan atraksi melompat tinggi ke udara dan berenang mencari makan. Pukul 09.23, seekor paus kami lihat dikejauhan seperti bongkahan kayu yang mengapung di permukaan air laut.
Ekor Paus 

Sekitar pukul 11.58 tampak di kejauhan Pulau Batek, pulau yang menjulang tinggi dengan permukaan (tumbuhan) yang tampak dominan hijau. Berbeda saat pertama kali menginjakkan kaki di pulau ini, permukaan terlihat berwarna cokelat karena musim kemarau. Di sekitar pulau ini, kami tidak melihat setasea sama sekali. Ada harapan untuk berhenti sejenak dan bisa menginjakkan kaki kembali di pulau ini, tetapi karena kondisi yang tidak memungkinkan ditambah susahnya kapal bersandar sehingga kami pun melanjutkan perjalanan
Pulau Batek 
 
Kami pun beristirahat sejenak dan makan siang. Baru pada sore hari pukul 15.42 dan 15.50, terlihat paus berjumlah 6 dan 2 ekor yang mengapung di permukaan. Itulah kenampakan setasea yang terlihat hari ini. Kami mencari tempat untuk menyandarkan kapal dan berisitirahat.
Paus

08 April 2016
Bangun dan bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan melihat kenampakan setasea di TNP Laut Sawu. Kami disambut mentari pagi yang indah di pagi hari ini dalam perjalanan.
Sunrise

Di hari ini, selama perjalanan kami hanya bertemu lumba-lumba sebanyak 6 kali pada pukul 06.25, 07.19, 09.30, 10.02, 12.46 dan 14.23 dengan jumlah antara 6 – 100 ekor, tingkah laku yang mereka lakukan ada yang berenang bermigrasi mencari mangsa, ada yang melompat tinggi ke udara, dan ada yang sedang mencari makan.
Sunrise

Selain itu, seekor burung terbang disekitaran kapal kami, mendekat dan hinggap di haluan kapal.
Burung laut

Dalam perjalanan, kami menemukan sebuah rumpon. Ini kami manfaatkan untuk memancing karena kru kapal mengatakan bahwa jika ada rumpon setidaknya ada ikan ditambah burung laut beterbangan disekitar rumpon tersebut. Benar adanya, alhasil kami mendapatkan beberapa ekor ikan tuna sirip kuning (yellow fin) sebagai lauk.

09 April 2016
Seharian ini dari pagi hingga sore hari, kami tidak pernah melihat kenampakan paus. Tak terasa, kami sudah memasuki perairan Pulau Rote. Perairan yang di kenal dengan arus dan gelombang yang besar karena merupakan salah satu pulau terluar Indonesia. Kami di sambut dengan hujan yang lebat dan angin yang kencang. Tapi syukur kami dapat melaluinya.
Sambutan memasuki Pulau Rote

Terlihat daratan paling selatan Indonesia, Pulau Rote. Terlihat dikejauhan sebuah menara pandang dan rumah jaga sera mess milik TNI yang menjaga daerah terluar Indonesia ini.
Daratan Paling Selatan Indonesia

Kapal bergerak pelan menuju tempat kami berisitrahat untuk tidur. Di depan sebuah pulau yang unik, pulau yang tersusun dari bebatuan menjulang tinggi.
Pulau di Rote

10 April 2016
Kami disambut terpaan sinar matahari pagi, melihat pemandangan dan warna langit yang mempesona mata.
Terpaan matahari di pagi hari

Tak satu pun setasea yang tampak seharian ini.

Kami hanya disuguhkan gelombang tinggi yang mengombang-ambingkan kapal kami di tengah lautan setelah meninggalkan Pulau Rote menuju Kabupaten Timor Tengah Selatan. Lautan terbuka tanpa adanya pelindung membuat ombak tinggi ditambah laangsung berhadapan dengan samudra hindia. Tak ayal-ayal hal ini membuat saya mabuk laut, mual dan muntah tapi tak merasa pusing.
Saya

Hal ini pulalah yang mengakhiri perjalanan kami karena berbagai pertimbangan. Sehingga kami harus berputar haluan kembali ke Kupang tepatnya di Pelabuhan Oeba.

Sebuah perjalanan yang luar biasa, hidup di lautan dan tidur di atas kapal, mandi seadanya. Walaupun di akhir perjalanan saya mabuk tetapi ini menjadi perjalanan yang seru melihat aus dan lumba-lumba dari dekat. Salah satu keunggulan dari TNP Laut Sawu yang dapat dikembangkan dengan berbagai pertimbangan yang telah saya sebutkan di atas.

Semoga waktu berikutnya bisa menikmati perjalanan ini lagi…
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts