16 June 2016



Perjalanan ini adalah lanjutan dari kegiatan 1000guru Kupang yaitu Traveling and Teaching (TnT) #5 yang dilaksanakan 2-3 April 2016. Dimana, Teaching di SDN Kelas Jauh Raibasin dan Traveling di Air Terjun Mauhalek dan di Padang Fulan Fehan.
Padang Fulan Fehan
 
Setelah menikmati keindahan Air Terjun Mauhalek yang tersembunyi di perbatasan, kami (1000guru Kupang) pun melanjutkan perjalan menuju salah satu tempat yang tidak kalah keren dengan tempat lain di daerah perbatasan. Kalau tadi kami bersentuhan dengan air di dataran yang lebih rendah, sekarang kami akan menuju ke daerah yang lebih tinggi lagi walaupun sama-sama memberikan nuansa yang dingin. Tempat tersebut bernama Padang Fulan Fehan.

Kendaraan kami menuju Padang Fulan Fehan

Masih menikmati jalan berbatu dan berkelok-kelok, naik gunung dan turun lembah dengan suasana pedesaan yang masih asri dengan hawa yang sejuk menemani perjalanan kami. Berangkat sekitar pukul 15.46 dari Air Terjun Mauhalek dan tiba sekitar pukul 16.25. Sebelum memasuki Padang Fulan Fehan, sebuah tulisan dari papan kecil menyambut kedatangan kami “Selamat Datang Di Benteng Berlapis Tujuh dan Padang Fulan Fehan”. Ternyata selain Padang Fulan Fehan, ada sebuah benteng yang berada di sekitarnya bernama Benteng Berlapis Tujuh.
Selamat Datang Di Benteng Berlapis Tujuh dan Padang Fulan Fehan

Fulan Fehan terletak di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, NusaTenggara Timur dan tepat berada di bawah Gunung Lakaan. Memasuki Fulan Fehan hawa dingin menusuk kulit, tetapi udara yang sejuk dan bebas dari polusi dapat kami hirup dan nikmati.

Di sini di Padang Fulan Fehan, kuda berkeliaran dimana-mana menjadi pemandangan yang luar biasa. Ada yang sedang menikmati makan sore dan ada yang menikmati minum air danau yang ada di sekitar padang. Melihat kedatangan kami, kuda-kuda tersebut berlari menjauh.
Kuda dan Gunung Lakaan

Setelah mengangkut barang-barang dari mobil, kami pun harus berjalan untuk mencari tempat mendirikan tenda. Walaupun jaraknya yang tidak terlalu jauh, namun sedikit pendakian membuat nafas kami tersengal.
Mengangkut barang

Cukup sulit untuk mencari lokasi karena padang ini berada di atas tempat terbuka sehingga terpaan angin kencang ditambah jarangnya pohon menjadi masalah. Tak tanggung-tanggung saat sedang berusaha mendirikan tenda, salah satu besi kerangka tenda patah. Kami harus berjuang melawan angin selama proses mendirikan tenda. Tenda yang kami gunakan berjumlah 5 tenda, terdiri dari 1 tenda besar untuk cewek dan 4 untuk cowok. Setelah tenda berdiri kokoh menurut kami, kami mengolah bekal makanan untuk menghilangkan rasa lapar dan rasa dingin dengan bermodalkan mie…
Salah satu tenda yang kami dirikan

Berkumpul di salah satu tenda, makan bersama, minum minuman panas, bercerita dan mendengar cerita lucu sambil tertawa menjadi kegiatan kami pada malam hari di Padang Fulan Fehan. Gerimis hujan dan desauan angin malam pun menemani kebersamaan kami. Puas dan rasa kantuk datang, kami menuju tenda masing-masing untuk beristirahat. Tidur kami tak tenang, angin malam datang seolah menghantui. Beberapa tenda tidak mampu menahan kencangnya angin sehingga perlu untuk diperbaiki. Ini salah satu hal yang didapatkan ketika berada di alam bebas, namun kami tetap menikmati. Sebuah pengalaman dan situasi, bagaimana bersatu dengan alam dan saling membantu di saat seperti ini.

Pagi hari datan. Beberapa dari kami berburu sunrise masih dengan perlengkapan tidur karena kondisi sekitar padang sangat dingin dan yang lainnya masih terlelap tidur. Mengambil gambar sunrise, berfoto bersama dan selfie serta berkeliling menjadi kegiatan kami di pagi hari di Padang Fulan Fehan.
Berburu sunrise

Dari atas Padang Fulan Fehan terlihat pemandangan yang indah dan luar biasa, pegunungan dan rumah warga terlihat sejauh mata memandang.
Pemandangan dari atas Padang Fulan Fehan

Tak luput dari pandangan kami, Gunung Lakaan yang tepat berada tak jauh Padang Fulan Fehan terlihat jelas.
Gunung Lakaan

Tanaman kaktus ternyata dapat dijumpai dan tumbuh subur disini
Kaktus di Padang Fulan Fehan

Selain itu, tak jauh dari Padang Fulan Fehan terdapat benteng bernama Benteng Berlapis Tujuh, tapi saya tidak sempat berkunjung kesana.

Setelah puas berfoto dan berkeliling ria, kami kembali ke tenda, berkemas-kemas untuk kembali. Tak lupa memungut sampah adalah kewajiban bagi kami, bagi para pengunjung ataupun wisatawan yang berkunjung ke suatu tempat wisata untuk tidak meninggalkan sampah. Sekitar pukul 08.00 kami meninggalkan Padang Fulan Fehan, berharap bisa kembali dan bisa menginjakkan kaki di Benteng Berlapis Tujuh dan mendaki Gunung Lakaan.
Back to Home

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts