01 April 2016



Senin (28/03/2016) bisa dikatakan salah satu hari terkumpulnya kreativitas berbagai dedominasi gereja bahkan sekolah-sekolah yang berada di daratan Timor. Melalui acara Pawai Kemenangan yang diselenggarakan oleh Badan Pengurus Pemuda Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Kota Kupang. 
Hasil Kreativitas GMIT Lahairoi Namosain

Acara ini dilaksanakan sebagai rasa syukur atas kemenangan Tuhan Yesus atas maut melalui kebangkitan-Nya (Paskah). Jalur Pawai dari Jl. El Tari (Kantor Gubernur) – Jl. Jenderal Soedirman – Jl. Moch Hatta – Jl. Urip Sumohardjo – Jl. A. Yani – Jl. Timor Raya (Depan Hotel Swiss-Belinn Kristal Kupang). Dalam kegiatan ini, masing-masing jemaat diberikan tema yang tertulis dalam Alkitab. Saya sempat bertanya kepada panitia jumlah peserta sekitar 100 tim yang terdaftar, tetapi tidak semua dapat hadir.
GMIT Lahairoi Namosain

GMIT Lahairoi Namosian mendapatkan tema “Angin Ribut Diredakan”. Bercerita tentang kisah Yesus bersama murid-murid-Nya yang sedang menyeberang danau menggunakan kapal dan tiba-tiba ditengah perjalanan angin ribut datang menghambat perjalanan mereka saat Yesus terlelap tidur, para murid ketakutan akan tenggelam dan binasanya mereka. Mereka memanggil dan membangunkan Yesus, ketika Tuhan Yesus berdiri di atas perahu dan menghardik angin ribut untuk berhenti, maka dalam sekejap angin ribut tersebut berhenti. Murid-murid bertanya-tanya dan kebingungan, siapakah Yesus sebenarnya.
Angin Ribut Diredakan

Untuk itu, jemaat Lahairoi Namosian mendesign semirip mungkin. Sebuah mobil truk disulap menjadi tempat cerita tersebut. Diatas bak truk di bangun sebuah perahu lengkap dengan layar, jala, dayung dan sebagainya seperti perahu di dunia nyata tak ketinggalan alat musik untuk puji-pujian selama pawai melengkapi kontainer kapal.
Truk yang disulap menjadi kapal diatas lautan

Sekitar pukul 12.30, kami rombongan GMIT Lahairoi Namosain menuju Jl. Eltari menggunakan 2 mobil truk untuk peserta yang akan jalan kaki dan 1 mobil kontainer kapal.
Berangkat menggunakan truk

Di jalan menuju lokasi

1 jam perjalanan kami tiba di Jalan El Tari, terlihat beberapa mobil hias sesuai dengan tema dan rombongan lainnya sudah tiba terlebih dahulu. Tiba di lokasi saya sempat jalan-jalan untuk memotret mobil hias dan peserta. Beberapa peserta menggunakan kostum pakaian adat Nusa Tenggara Timur dan prajurit.
Pakaian adat di NTT

Prajurit

Pukul 14.30 satu persatu peserta dilepas. Saya sempat mengambil gambar beberapa peserta yang menggunakan kostum...

Panglima perang Goliat

Yusuf dan Maria

Pakaian adat Batak (Gereja HKBP)

Herodes

Mobil hias pun tak kalah menarik dengan berbagai tema.....

Musa dan Dua Loh Batu

Yunus dalam Perut Ikan

Berita Kelahiran Tuhan Yesus oleh Malaikat

Yusuf Menjadi Gubernur Mesir

Dan masih banyak lagi....

Setidaknya sebanyak dua kali hujan datang mengguyur lokasi pawai sebelum dan selama pawai berlangsung. Beberapa peserta berteduh menggunakan terpal sambil jalan dan beberapa peserta lainnya tidak memperdulikan hujan. 
Hujan mengguyur lokasi start

Baru sekitar pukul 17.30 rombongan kami (GMIT Jemaat Lahairoi Namosain) memulai perjalanan pawai dengan nomor urut 67. Melintasi panggung, para pemeran berakting sesuai dengan tema GMIT Lahairoi Namosain dengan suara angin ribut yang datang, murid-murid berteriak, kapal mulai bergoyang seolah-olah terombang ambing di tengah lautan, murid mengeluarkan air yang masuk ke dalam perahu. Para penonton tidak menyangka adanya air yang akan dibuang ke jalan, beberapa penonton tidak sempat menghindar. Hal ini membuat sontak penonton tertawa dan bersorak. Yesus dibangunkan oleh murid-murid, Yesus menghardik angin dan berhenti, goyangan kapal pun berhenti. Tepuk tangan yang meriah dari penonton dapat menikmati tema ini yang tidak jauh berbeda dengan cerita dalam alkitab. Setelah itu rombongan kami melanjutkan perjalanan sambil bernyanyi mengangkat pujian.
Mobil Hias GMIT Lahairoi Namosain

 Rombongan GMIT Lahairoi Namosain

Beberapa kali kami harus berlari mengejar mobil hias, berhenti dan duduk sejenak...
Beristirahat

Menunggu sambil bernyanyi

Tak lupa para pemeran mengulang drama “Angin Ribut Diredakan”. Membuat orang tertawa, menghindar dari siraman air dan bertepuk tangan serta bersorak seakan-akan melihat secara langsung angin ribut diredakan oleh Yesus sekitar 2.000 tahun yang lalu.
Tuhan Yesus dan salah seorang murid_Nya

Perahu bergoyang

Angin ribut diredakan

Perjalanan yang cukup jauh dan membutukan tenaga yang banyak. Tetapi kami tetap berjalan dengan penuh semangat dan penuh kegembiraan ditambah puji-pujian yang keluar dari mulut kami. Selama perjalanan dari garis start sampai finish, jalan dipenuhi warga yang antusias menyaksikan setiap mobil hias dan peserta pawai yang lewat.
Warga yang sedang menonton

Untuk kegiatan besar seperti ini, pasti akan memberikan dampak yang buruk dari orang-orang yang kurang bertanggunjawab dengan sampah sebarangan. Sampah berada dimana-mana. Tetapi sampah tidak perlu dikhawatirkan dalam kegiatan ini, menurut penjelasan salah seorang panitia yang saya tanya terkait bagaimana dengan sampah yang dihasilkan dari pawai ini. “Panitia sudah menyediakan mobil sampah di belakang peserta pawai terakhir yang akan membersihkan semua sampah yang ada di jalan” kata dia.

Foto lain yang sempat saya ambil.....
Puji-pujian

Grup marching band

Pakaian adat NTT

Pakaian adat NTT

.......

Pakaian adat NTT

Prajurit

Perempuan Yerusalem

.....

.....

Pemeran Tuhan Yesus dan Murid dari GMIT Lahairoi Namosain
 
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts