30 March 2016



Sekitar 9 bulan berada di kota ini akhirnya berkesempatan untuk mengikuti dan menyaksikan kegiatan ini untuk pertama kalinya.
Prosesi Jalan Salib IV

Tanggal 24-25 Maret 2016, pemuda Gereja Masehi Injili di Timor atau di singkat GMIT Klasis Kota Kupang mengadakan kegiatan dalam rangka memperingati hari kematian Yesus Kristus. Prosesi Jalan Salib nama kegiatan tersebut dengan melibatkan pemuda dari berbagai jemaat yang berada di Klasis Kota Kupang. Tema yang diangkat adalah “12 Jam Penderitaan Tuhan Yesus”. Jalan Salib merupakan agenda tahunan pemuda GMIT Klasis Kota Kupang dan tahun ini menjadi tahun ke IV prosesi jalan salib dilaksanakan.

Sekitar pukul 19.30 (24 Maret 206) awal prosesi jalan salib dimulai bertempat di Taman Nostalgia Kota Kupang. Sebagai pembukaan ada pemaparan laporan ketua panitia mengenai kegiatan jalan salib dilanjutkan dengan sambutan Bapak Jonas Salean selaku Walikota Kupang, Ernest Blegur selaku BP Pemuda GMIT Klasis Kota Kupang, Pdt. Ellyanora Manu-Nalle selaku Ketua Klasis Kota Kupang. Acara dilanjutkan dengan ibadah singkat dalam bentuk refleksi penderitaan Yesus Kristus. 
Sambutan Walikota Kupang (Bapak Jonas Salean) 

Drama 12 jam penderitaan Tuhan Yesus dimulai. Diawali dengan pembacaan penulis naskah, tata rias, lighting, dll (seperti tim pembuatan film) dan tak lupa perkenalan para pemeran. Pemeran Tuhan Yesus, 12 murid Tuhan Yesus, Maria, Imam Besar, Pontius Pilatus dan istrinya, prajurit dan masih banyak lagi seperti para pelaku dalam perjalanan penderitaan Tuhan Yesus. Pemeran yang disebutkan namanya menuju depan panggung sambil memperagakan adegan seperti peran mereka masing-masing.  
Pemeran Pontius Pilatus beserta istri

Pemeran Yudas Iskariot

Beberapa scene drama tersebut mengangkat cerita saat Tuhan Yesus menyembuhkan seorang yang berpenyakit ayan, khotbah Yesus di bukit, Yudas Iskariot menjual Tuhan Yesus dengan 30 keping perak, perjamuan Tuhan Yesus bersama murid-murid-Nya, doa Yesus di Taman Getsemani sampai penangkapan Tuhan Yesus.
Adegan perjamuan Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya

Hal yang menarik saat adegan penangkapan Tuhan Yesus, 3 orang prajurit datang dengan menunggang kuda lengkap dengan kostum prajurit ala pasukan romawi. Selain itu, ada choir yang menyanyikan beberapa lagu disela-sela perubahan adegan.
Para penunggang kuda

Choir
 
Ada pula dua grup trumpet, yaitu Blessing Trumpet Amboina dari Ambon dan Arumbai Trumpet Iwasma yang merupakan ikatan warga Maluku di Kupang, mereka hadir memberi warna tersendiri dengan bunyi alat musik yang syahdu.
Blessing Trumpet Amboina

Setelah penangkapan Tuhan Yesus dilanjutkan dengan cerita perjalanan Tuhan Yesus sampai penyaliban di Bukit Golgota. Dalam cerita ini para pemeran mulai berjalan kaki ke beberapa gereja yang telah ditentukan sebagai etape prosesi jalan salib. Etape tersebut adalah GMIT Kota Baru – GMIT Anugerah – GMIT Koinonia – GMIT Kefas – GMIT Ebenhaezar – GMIT Kota Kupang – GMIT Bait’el Nunhila – GMIT Lahairoi Namosain (tempat saya gereja). Para pemeran tidak hanya melewati gereja-gereja tersebut, tetapi pada masing-masing gereja ada adegan yang dilakukan, seperti di GMIT Lahairoi Namosian adegan Simon dari Kirene memikul salib Yesus.
GMIT Jemaat Lahairoi Namosain

Sekitar pukul 06.30 (25 Maret 2016) sampailah di akhir prosesi jalan salib Tuhan Yesus, Penyaliban dan Kematian Tuhan Yesus. Penyaliban bertempat di Bukit Imperial Mansion, Namosain. Tak jauh dari bukit tersebut terdapat gua buatan yang nantinya akan menjadi tempat kuburan Tuhan Yesus. 
Yesus disalibkan

Yesus dikuburkan

Setelah prosesi jalan salib, dilaksanakan ibadah jumat agung yang dipimpin oleh Ibu Pendeta Amelia Retha Siokain dan para majelis gereja dari GMIT Lahairoi Namosian.
Ibadah Jumat Agung

Antusiasme warga Kota Kupang untuk menyaksikan prosesi jalan salib patut diacungi jempol. Warga rela menunggu dipinggir jalan hingga larut malam, beberapa warga tidak mengenal lelah untuk berjalan kaki bersama para rombongan pemeran sampai di tempat penyaliban Tuhan Yesus.
Pemeran dan warga yang ikut jalan kaki

Kreativitas warga pun terlihat disini, salah satu lorong yang sempat saya kunjungi untuk memotret dengan membuat lampion yang berbentuk bulat dan salib menghiasi lorong tersebut dan diujung lorong berdiri kokoh tiga buah salib yang dihiasi dengan lampu hias. Selain itu, berjejer obor dari botol dan kaleng yang dibuat oleh warga menghiasi beberapa pinggir jalan sebagi etape prosesi jalan salib.
Kemeriahan lorong Kota Kupang

Deretan obor di pinggir jalan

Kegiatan semacam ini, diharapakan bukan hanya seremonial saja, tetapi benar-benar menjadi ajang untuk menumbuhkan iman kepada Tuhan Yesus, memberikan ruang bagi generasi muda untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi keluarga, gereja dan masyarakat. Bahkan kegiatan seperti ini bisa dijadikan sebagai atraksi wisata religi yang dapat meningkatkan wisatawan yang berkunjung ke Kota Kupang. 
Pemeran Tuhan Yesus

Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts