23 March 2016



Merauke kata yang tidak asing bagi kita, orang Indonesia. Kata ini lebih dikenal dari adanya lagu dengan lirik yang menyebut kata Merauke... Salah satu petikan lagunya seperti ini ”Dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau”. Daerah yang terletak di wilayah Indonesia timur masuk kedalam wilayah adminsitrasi Provinsi Papua yang beribukota di Jayapura. Jarak yang cukup jauh dari ibukota provinsi. 
Bandara Mopah, Merauke

Tulisan “Izakod Bekai Izakod Kai” yang berarti “Satu Hati Satu Tujuan” menyambut kedatangan kami di Bandar Udara Mopah, Merauke pada tanggal 02 Desember 2015. Suasana di bandara tidak terlalu ramai dan fasilitas masih kurang. Sementara beberapa fasilitas bandara dalam proses perombakan dan perbaikan. Perjalanan kami lanjutkan ke kantor sekretariat Percepatan Pengembangan Kawasan Kelautan dan Perikanan Terintegrasi (P2K2PT), Merauke. Selama perjalanan, ada hal berbeda yang saya lihat, selama ini ketika saya maupun kebanyakan orang mendengar kata Papua maka terlintas dalam pikiran kita pegunungan yang hijau dan jarang ada rumah. Tetapi disini, di Merauke berbeda, jalanan yang rata tanpa gunung dan rumah warga yang terlihat ramai berjejeran di sepanjang jalan. Setidaknya inilah bagian dari Papua yang sedang dalam proses perkembangan.
Kantor Sekretaris P2K2PT

Kantor P2K2PT menjadi tempat tinggal kami selama 1 malam dan 2 malam di hotel. Setelah beristirahat sejenak, kami menuju kantor Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Merauke untuk bertemu dengan kepala dinas membahas kedatangan kami di Merauke. Kondisi jalan pun masih terlihat rata, walaupun sedikit sepi. Pembangunan sementara di lakukan di beberapa sudut jalan.
DKP Kab. Merauke

Setelah pertemuan selesai, kami menuju pelabuhan Merauke. Terlihat beberapa anak-anak sedang berenang di sekitar pelabuhan yang airnya terlihat keruh, tetapi mereka tetap menikmati  dan dengan riang melompat dari atas beberapa kayu yang tertancap. Di samping dermaga bersandar sebuah kapal dengan kondisi berkarat. Entah kapal itu masih dalam kondisi baik atau tidak, atau kapal itu sudah rusak sehingga hanya berdiam diri di sekitar pelabuhan tanpa adanya pelayaran yang dilakukan.
Pelabuhan Merauke

Perjalanan kami lanjutkan ke tempat pembuatan es batu yang berada di Kelurahan Samkai. Tempat ini berfungsi sebagai gudang pembuatan es batu yang dapat dibeli oleh warga sekitar yang kebanyakan berprofesi sebagai nelayan untuk mengawetkan hasil tangkapan di laut. Walaupun produksi dari es batu tersebut masih minim, tetapi setidaknya bisa memenuhi kebutuhan es batu warga.
Pabrik Pembuatan Es Balok

Pantai Yambuti atau Pantai Lampu Satu berada di depan tempat pembuatan es ini, jadi saya hanya berjalan kaki tidak sampai 2 menit. Dinamakan Pantai Lampu Satu karena tidak jauh dari pantai terdapat satu menara mercusuar yang pada malam hari menjadi lampu di sekitar lokasi tersebut. Kondisi pantai yang landai dengan pasir cokelat yang sangat halus. Angin disekitar pantai sangat kencang, sehingga harus hati-hati apabila berada di pantai. Jangan sampai pasir yang tertiup angin masuk ke dalam mata.
Pantai Lampu Satu

Setelah itu, kami kembali ke kantor P2K2PT untuk bersiap-siap menuju hotel. Hotel yang kami tuju adalah Swiss Bell Merauke. Jaraknya tidak begitu jauh dari kantor P2K2PT dan pastinya jalan masih rata tidak ada tanjakan maupun penurunan.

Malam harinya, kebetulan saya memiliki keluarga yang tinggal di Merauke. Jadi saya manfaatkan untuk bertemu. Kami mengunjungi tempat makan yang menyediakan makanan khas Merauke, Sate Rusa. Ini pertama kali saya makan jenis sate ini. Rasanya enak dan pastinya menggugah selera. Selain itu, di sini tersedia menu ikan bakar. Ternyata harga makanan di sini tidak terlalu mahal, tidak seperti yang diberitakan bahwa harga kebutuhan di Papua secara umum sangat tinggi. Selesai makan kami kembali ke hotel untuk beristirahat.
Sate Rusa

Kegiatan kami sebenarnya datang ke Merauke adalah mengunjungi Pulau Kolepon. Perlu diketahui bahwa Pulau Kolepon merupakan salah satu pulau kecil terluar yang dimiliki oleh Indonesia, pulau ini berbatasan dengan Australia. Jadi satu-satunya harapan kami hanya menggunakan kapal dan informasi yang kami dapatkan bahwa kapal berangkat hari Sabtu, 05 Desember 2015. Kami menunggu beberapa hari.......

Tanggal 03 Desember 2015. Kami menuju salah satu destinasi wisata favorit di Merauke bernama Sota. Sota menjadi destinasi wisata favorit karena merupakan daerah perbatasan antara Indonesia dan Papua New Guinea. Berjarak sekitar 80 km dari Merauke dan dapat ditempuh selama kurang lebih 1 sampai 1 setengah jam. Menggunakan mobil, kami meluncur ke Sota. Selama perjalanan jalan masih rata dan cukup baik. Kami melewati hutan lindung. Sepanjang hutan tersebut pastinya ditumbuhi hutan yang sedikit kurang subur, mungkin karena masih musim kemarau dan hujan jarang turun. Yang berbeda dan menarik adalah jajaran sarang semut, yang menjadi ciri khas Merauke terlihat dengan jelas dengan tinggi yang berbeda-beda.

Tak terasa kami sudah memasuki wilayah Sota. Sebelum masuk, kami harus melapor ke pos TNI AD yang menjaga wilayah perbatasan dengan menitipkan salah satu KTP dan menghitung jumlah orang yang akan masuk ke wilayah perbatasan. Melanjutkan perjalanan, kami masih membayar uang parkir kepada warga yang berjaga disitu sebelum masuk.  
Pos TNI 

Dari kejauhan berdiri kokoh tiang, dimana berkibar dengan gagah berani bendara Merah Putih dan Tulisan “Selamat Datang Di Sota Perbatasan RI-PNG” menyambut kami. Dibelakang tulisan Selamat datang terdapat pula tulisan “Bahasa Indonesia Penjaga Persatuan dan Kesatuan NKRI”.
Welcome to Sota

 
Bahasa Indonesia

Banyak spot yang dapat dimanfaatkan untuk berfoto ria, selain kedua tulisan tersebut diatas, terdapat pula tugu empat sisi dengan satu sisi tertulis “Team Survey Indonesia”, satu sisi tertulis “Aus Survey Team” dan dua sisi lainnya tertulis titik koordinat berdirinya tugu tersebut sebagai perbatasan RI-PNG.
Tugu Tim Survey Indonesia-Aus

Selain itu, terdapat titik nol kilometer berupa coran berbentuk bulat. Semakin ke arah PNG berdiri dengan kerasnya sarang semut yang sangat tinggi sekitar 3 meter, ini pun menjadi spot yang wajib untuk mengambil gambar.
Kilometer 0 Indonesia

Disini juga terdapat sebuah rumah semut yang sangat tinggi. Berdiri kokoh di antara perbatasan Indonesia-PNG. Menjadi salah satu spot untuk berfoto. Menjadi bukti bahwa kami sudah berkunjung ke daerah perbatasan ini. Rumah semut menjulang tinggi bahkan bisa mencapai beberapa puluhan meter. Tahukah anda bahwa rumah semut ini menjadi ikon Merauke 
Rumah Semut

Ini dia jalan ke arah PNG
Arah PNG
 
Di sekitar sudah ada beberapa fasilitas wisata yang dibangun, seperti kursi beton, lopo-lopo dan toilet. Pun tak ketinggalan masyarakat yang memanfaatkan daerah ini sebagai destinasi wisata untuk menjual berbagai souvenir yang menjadi ciri khas Merauke, seperti sarang semut yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, tas noken khas papua, baju dan topi yang bertuliskan “RI-PNG”, minatur Tifa alat musik tradisional asal papua, beberapa buah-buahan seperti semangka dengan ukuran jumbo dan masih banyak lagi.
Beberapa oleh-oleh yang dapat dibeli di Sota

Sarang semut salah satu oleh-oleh dari Sota sebagai obat

Setelah puas, kami kembali ke Merauke. Namun di tengah jalan, berdiri sebuah tugu dengan puncaknya burung garuda. Ini dia tugu kembar yang hanya ada dua di Indonesia yang satu di Sabang dan yang satunya lagi di sini di Merauke. Kesempatan yang langka bisa berfoto di sini. Walaupun kondisi tugu ini sudah usang dimakan oleh waktu tetapi tetap berdiri dengah kokoh menjadi penanda bahwa dari Sabang sampai Merauke adalah wilayah NKRI. Di samping tugu tersebut, berdiri sebuah prasasti dengan tulisan lirik lagu Satu Nusa Satu Bangsa bersama dengan tanggal diresmikannya tugu kembar Merauke, 16 Desember 1994.
Tugu kembar yang berada di Merauke

Kami melanjutkan perjalanan kembali ke Kota Merauke. Setelah beristirahat, sore harinya kami menuju sungai yang rencananya akan di bangun sebuah keramba jaring apung (KJA) untuk budidaya ikan yang nantinya dijadikan sebagai objek wisata. Disekitaran sungai terhampar lebat pohon mangrove dan beberapa sisi sudah ditebang. Saya teringat perkataan salah seorang warga yang bersama-sama dengan kami bahwa di Merauke destinasi wisata yang ada sangat minim, hanya Pantai Lampu Satu atau Sota daerah perbatasan. Setelah dibukanya destinasi wisata baru dengan objek budidaya perikanan dan wisata mangrove dapat menambah distinasi wisata yang ada di Merauke. Kami kembali ke penginapan setelah puas mengunjungi bantaran sungai untuk beristirahat.

Hari Jumat, 04 Desember 2015. Walaupun saya tidak melaksanakan sholat jumat, saya tetap berangkat ke mesjid bersama dengan teman sekalian makan siang dan check out dari hotel. Mesjid yang kami tuju adalah Mesjid Raya Al-Aqsha Merauke. Mesjid berlantai dua yang didominasi warna cokelat dengan air mancur di tengah pelataran mesjid.
Mesjid Agung Merauke

Sementara teman saya sholat saya berjalan-jalan di sekitar mesjid dan menuju Tugu Lingkaran Brawijaya yang letaknya tepat di depan Mesjid. Tugu dengan Angka 969 memiliki arti Merauke umur panjang, 9 berarti damai dan sejahtera sedangkan 6 memiliki arti keseimbangan, dan di puncak tugu terdapat replika bola dunia yang berarti Merauke harus mendunia serta tulisan 1902 sebagai tahun lahirnya Kota Merauke, tepatnya tanggal 12 Februari 1902. Kami menuju kantor P2K2PT sebagai penginapan kami selama 2 malam.
Tugu Brawijaya

Rencana untuk berangkat ke Pulau Kolepon ternyata dibatalkan karena sesuatu dan lain hal. Sehingga kami harus membatalkan perjalanan tersebut. Dan rencana akan balik ke Kupang tanggal 6.

Malam harinya, kami mengunjungi Phoenam salah satu tempat nongkorng anak muda bahkan orang tua dengan konsep yang lebih modern. Phoenam sebagai kedai kopi sangat ramai dikunjungi oleh kaula muda maupun tua di Merauke. Konsep yang lebih modern dan pastinya free wifi menjadi magnet tersendiri. Kami kembali ke penginapan setelah selesai nongkrong.
Phoenam Merauke

Suasana di dalam Phoenam

05 Desember 2016 kami hanya bersitirahat di penginapan. Malam harinya kami mencari oleh-oleh sebagai buah tangan telah mengunjungi Merauke. Kami tidak menemukan toko yang menjual souvenir Merauke, seperti baju dan lain sebagainya. Hanya sebuah toko oleh-oleh makanan, Hawai Bakery. Ternyata toko ini sudah membuka cabang di Merauke. Oleh-oleh andalan dari tanah Papua, dengan menu Abon Gulung yang sudah terkenal di Indonesia. Tidak ada seninya ketika mengunjungi Papua tanpa membawa oleh-oleh ini. Rasanya yang mantap dan maknyus membuat makanan ini diburu oleh para wisatawan. Harganya pun ya sesuai dengan harga Papua. Setelah itu kami kembali ke penginapan.
Hawai Bakery di Merauke

06 Desember 2016. Kami meninggalkan Merauke menuju Kupang. Kami hampir ketinggalan pesawat karena ternyata pesawat yang kami tumpangi jadwal keberangkatannya dimajukan.

Inilah perjalanan kami di Merauke. Tanah paling timur Indonesia, berbeda dengan tanah Papua pada umumnya. Tanah dengan kontur yang rata tanpa pegunungan. Pengalaman yang sangat luar biasa bisa mengunjungi Merauke. Berharap suatu saat nanti kembali ke tanah ini dengan petualangan yang lebih seru dan pastinya mengunjungi Pulau Kolepon.
Reaksi:

2 comments:

  1. Mantap artikelnya om, kalau boleh, saya ingin ralat sedikit, yg pertama untuk bandaranya namanya Mopah, bukan Mapoh, mungkin ada kekeliruan dalam penulisan.

    Yang kedua, mungkin yg dimaksud berjejer di sepanjang jalan itu Rumah semut (musamus), bukan sarang semut, kalau rumah semut berdiri di atas tanah, sedangkan sarang semit diatas pohon yg biasa dijadikan sebagai obat.

    Mungkin itu yg bisa sy tambahkan. Ditunggu kedatangan berikutnya di Merauke. :)

    ReplyDelete

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts