29 February 2016


07 Februari  2016 sekitar pukul 06.30 kami berangkat dari Lopo Mutis menuju Danau Oelnonon. Kabut yang turun dengan jarak pandang yang sangat pendek menemani perjalanan kami menuju Danau Oelnonon. Beberapa kali Pak Driver (Panggilan supir yang mengantar kami) berhenti untuk melihat arah jalan akibat tebalnya kabut khas pegunungan.
Pemandangan Danau Oelnonon

Perjalanan selama kurang lebih 45 menit, akhirnya kami tiba di sekitaran Danau Oelnonon. Kondisi sekitar sangat gelap. Hanya ada berkas cahaya yang kemungkinan alat penerang dari seseorang yang sedang berjalan. Kami sedikit memajukan mobil ke depan. Tiba di gerbang yang di tutup dengan beberapa batang kayu. Disamping jalan tersebut terdapat sebuah rumah. Rumah tersebut merupakan rumah yang ditinggali oleh orang yang dipercayakan untuk menjaga Danau Oelnonon dan sekitarnya yang merupakan bagian pengelolaan dari Kehutanan. Kami meminta izin untuk menginap di sekitaran danau. Bapak penjaga danau tersebut kembali mengantar kami untuk masuk ke dalam lahan yang dapat digunakan untuk mendirikan tenda dan disitu juga terdapat sebuah lopo-lopo.

Mendirikan tenda, memasak untuk makan malam. Kemudian menuju tenda untuk tidur.

Paginya... Berkeliling danau. Menikmati udara pagi yang pastinya bebas polusi, melihat pemandangan sekitar danau dan memotret pemandangan danau di pagi hari. 
 
Danau Oelnonon


Air yang menggenangi danau terlihat sedikit. Kemungkinan karena hujan yang turun masih kurang. Sebuah daratan kecil yang di atasnya berdiri sebuah lopo berukuran kecil terlihat di dalam danau. Namun sayangnya, kami tidak bisa menginjakkan kaki di daratan tersebut, tidak ada jembatan penyeberangan. Saya kurang tau cara masyarakat mendirikan lopo tersebut.
Lopo Kecil dari Kejauhan

Di dalam danau pun berdiri 2 batang pohon yang sudah mati, seolah-olah menjadi tambahan objek untuk memotret. Entah mengapa pohon itu masih kokoh berdiri walaupun sudah tidak hidup lagi.
Pohon Mati Di Tengah Danau

Disamping pohon ini, terdapat sebuah batu besar yang dari sisi batu ini kita dapat memotret danau. Juga dari salah satu sisi inilah kita dapat melihat pemandangan pegunungan yang menjadi nilai tambah danau ini. Ada perpaduan pemandangan antara danau dan gunung serta air dan batu. Gunung batu yang menjulang dengan puncak yang tidak terlalu tinggi. 
Perpaduan Danau dan Gunung

Dibelakang batu terdapat sebuah lopo yang masih beralasakan tanah. Dijadikan tempat berteduh atau duduk ketika datang berwisata di Danau Oelnonon. 
Lopo

Sebuah papan kecil berisi aturan-aturan yang berlaku di danau ini tergantung di sebuah pohon. Isi peraturan tersebut diantaranya : dilarang berenang, dilarang mancing tanpa izin, dilarang membuang sampah sembarang, menjaga sopan santun, dilarang terkejut, wisata hanya dapat dibuka hingga pukul 17.00, serta sebelum masuk ke kawasan danau harus melapor ke kepala dusun terlebih dahulu. Dibawah papan tersebut tertulis siapa yang menulis aturan tersebut. Mereka adalah mahasiswa KKN (Kuliah Kerja Nyata) dari Universitas Negeri Solo, yang ditempatkan di dusun ini. Hal yang sungguh menyentuh orang yang berada dan tinggal jauh dari tempat ini malah mereka melakukan suatu hal yang sangat berarti untuk destinasi wisata ini yang lebih peduli akan destinasi wisata ini. 
Danau Oelnonon Punya Aturan

Dari tulisan peraturan di atas, kami setidaknya melanggar 2 aturan. Pertama kami masuk kawasan danau tanpa persetujuan kepala dusun, kedua kami masuk danau sudah lewat pukul 17.00. Tetapi bukannya tanpa alasan kami tetap masuk ke dalam danau ini, saya masih ingat perkataan bapak penjaga danau bahwa rumah kepala dusun agak jauh dari danau dan kondisi sudah malam ditambah lagi tidak ada alat penerang di sekitar jalan. Selain itu, karena sudah malam dan memang kami berencana untuk menginap di danau ini tanpa sepengetahuan kami bahwa kunjungan hanya di batasi sampai pukul 17.00. Sehingga bapak penjaga tetap mengijinkan kami untuk masuk ke dalam kawasan danau.
Pintu Gerbang

Disekitaran terdapat pagar yang mengelilingi jalanan disamping danau. Menjadi pembatas antara jalanan dan danau. Pagar dari tanaman hidup dan beberapa kayu serta besi. Setidaknya ini membuat orang tidak mudah masuk ke danau.

Kami terus berjalan menuju jalan utama. Disamping jalan tersebut terdapat rumah penjaga yang salah satu sumber cahaya yang kami lihat tadi malam. Di depan jalan tersebut terdapat gerbang yang sederhana. Terbuat dari kayu dengan tulisan “Selamat Datang Dusun IV Desa Pariwisata, Fatukoto, TTS”. Tak jauh dari gerbang tersebut, tepatnya di depan danau, terdapat dua papan bertuliskan “Selamat Datang di CEKDAM KAENKA Dusun 4 Oelnonon dan “Jagalah Kebersihan”, kedua tulisan ini masih dibuat dengan cara yang sederhana. Gerbang dan tulisan tersbut lagi-lagi dibuat oleh mahasiswa KKN dan pastinya dibantu oleh masyarakat sekitar. Tetapi setidaknya inilah usaha mereka untuk mengenalkan destinasi wisata ini yang kemungkinan besar masih banyak orang yang kurang tahu.
Tulisan di Depan Danau
Di jalan ini, saya bertemu dengan pemilik rumah sekaligus penjaga danau ini. Bapak Albertinus Kabunani namanya. Pria berusia 56 tahun ini dipercaya oleh pihak pengelola untuk menjaga danau ini. “Saya dipercaya untuk menjaga danau ini oleh Kehutanan sebagai pengelola tempat wisata ini dan sekitarnya. Rumah yang saya tempati adalah rumah dinas yang sementara waktu diberikan oleh pihak Kehutanan untuk saya tinggali karena dekat dengan lokasi wisata” terang Bapak Albertinus. Selian itu, Bapak Albertus mengatakan kepada kami bahwa biaya untuk menginap di danau ini sekitar Rp. 150.000. 
Jalanan Sekitar Danau

Saya kembali ke tenda, yang lain sudah sibuk masak untuk makan siang. Setelah puas memotret alam sekitar Danau Oelnonon, kami bergegas untuk kembali ke Kupang. Mencuci bekas makanan, membongkar tenda dan pastinya membersihkan area sekitaran danau untuk menjaga agar danau tetap terjaga kebersihannya.
Jangan Buang Sampah Sembarang

Sekitar pukul 09.12 kami kembali ke Kupang. Perjalanan ke Kupang masih memberikan pemandangan yang mempesona, dari atas bukit di pinggir jalan setidaknya kami berhenti beberapa kali untuk mengambil gambar. Selain itu, kami berhenti di salah satu sudut jalan yang menjajankan buah-buahan (saya hanya turun dan memotret tidak membeli). Kami tiba di Kupang sekitar pukul 14.00.
Tenda Kami

Perjalanan dari Kupang-Gunung Mutis-Danau Oelnonon-Kupang setidaknya memberikan pengalaman yang luar biasa bagi saya. Melihat indahnya dan menghargai alam sebagai ciptaan Tuhan serta menjalin kerjasama dan kepedulian. Tenaga pastinya banyak terkuras selama perjalan, tetapi setidaknya terobati dari apa yang kami lihat dan rasakan seiring perjalanan tersebut berlangsung.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts