18 November 2015

Tata batas kembali berlanjut ke titik yang terakhir, Sulamu. Titik ini sebenarnya titik pertama tata batas, tetapi karena beberapa pertimbangan, seperti jarak yang relatif dekat dari Kota Kupang sehingga kami memilih titik ini sebagai titik terakhir untuk penandaan batas sementara. Sebenarnya titik ini tidak sedekat yang dibayangkan.

Terletak di Desa Sulamu, Kecamatan Sulamu, Kab. Kupang. Berangkat pada tanggal 19 September 2015 bersama Mas Boby, Pak Alex dan saya menggunakan motor gede.

Sebelum menuju titik, kami terlebih dahulu mengisi energi di Rumah Makan Pondok Jagung yang berada di Jl. Timor Raya Km. 29,5 Oesao. Menikmati sarapan dengan menu khas Nusa Tenggara Timur, Se'i B***, Jagung Bose, Jagung Katemak dan Ikan Lawar Sarden dengan harga yang cukup terjangkau mulai dari Rp. 5.000,- sampai Rp. 35.000,- dengan kualitas terjamin. Mungkin anda akan bertanya seperti apa makanan khas NTT tersebut. Tunggu saja, saya akan menjelaskan kepada anda, tetapi di tulisan yang akan datang ya... 

Kembali ke tata batas. Kami melanjutkan perjalanan menuju Sulamu. Jalanan yang sebagian besar belum di aspal menjadi tantangan sekaligus petualangan tersendiri bagi kami untuk tiba di titik Sulamu. Jalanan berbatu, berkerikil, pendakian, penurunan menyambut perjalanan kami. 
 
Jalan menuju titik sulamu


Dalam perjalanan, berpapasan beberapa kali dengan anak sekolahan yang baru pulang menuntut ilmu, "Selamat Siang Kakak", begitulah sapaan mereka kepada kami sebagai orang asing yang memasuki wilayah mereka. Itulah semangat dan rasa hormat yang keluar dari mulut dan tergambar dari wajah anak-anak. Tanpa kenal lelah, mereka berjalan kaki menempuh jarak berkilometer untuk menjadi orang yang nantinya berhasil membahagiakan dan membanggakan bagi orang tua, keluarga dan lingkungan. Inilah anak Indonesia dari Nusa Tenggara Timur sekaligus bagian paling selatan Indonesia.

Melewati daerah latihan Kodam IX/Udayana dan Pulau Tikus dan pemukiman nelayan yang didominasi oleh Suku Bajo dari Sulawesi yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari titik penandaan.
 
Daerah latihan kodam IX/Udayana

Butuh waktu sekitar tiga jam untuk tiba di titik sulamu. Menuju titik dapat diakses dengan berjalan kaki dari jalan lokal sekitar 20 meter. Penandaan sementara bergeser karena titik sebenarnya berada di dalam laut, penandaan dilakukan di atas batu karang dengan menggunakan pilox hijau. Kondisi pantai yang landai, berpasir putih dan batu karang dan adanya tumbuhan mangrove yang tidak jauh dari titik serta Pulau Tikus di sebelah kanan titik. Daratan Kota Kupang pun terlihat di depan titik ini.
 
Penandaan sementara titik

Penandaan sementara selesai, kami kembali ke dan menuju ke salah satu rumah warga yang masih berada di Desa Sulamu. Seorang bapak yang berprofesi sebagai nelayan yang telah lama tinggal di Desa Sulamu, tetapi bersuku Bajo. Setelah bercakap-cakap kami kembali ke Kota Kupang.
 
Rumah penduduk sekitar Sulamu

Dalam perjalanan, kami berhenti sejenak di Gereja Katolik Santo Petrus, Pariti-Sulamu untuk mengambil gambar.
 
Gereja Katolik Santo Petrus

Selain itu, dalam perjalanan saya melihat angkutan umum sebagai transportasi yang digunakan penduduk, tetapi angkutan umum ini berbeda dengan angkutan umum pada umumnya.....
 
Angkutan umum di Sulamu

Penandaan batas sementara dan ground check Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu Tim Kupang Bagian Utara berakhir disini.....

Sisi lain Titik Sulamu.....
 
 
Daratan Kota Kupang di depan titik sulamu


 
Kondisi jalan menuju titik Sulamu


 
Jalan beraspal menuju titik Sulamu


 
Mangrove di sekitar titik

 
Pulau Tikus




Reaksi:

2 comments:

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts