13 November 2015

Kawasan konservasi perairan (KKP) dikelola dengan sistem zonasi dan berperan dalam kelestarian sumber daya laut untuk kesejahteraan masyarakat. Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu merupakan salah satu KKP di bawah pengelolaan dan tanggung jawab Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang sebagai perpanjangan tangan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Salah satu kegiatan BKKPN Kupang adalah penataan batas TNP Laut Sawu sebagai akhir penetapan kawasan konservasi. Penataan batas kali ini berupa pemasangan tata batas sementara dan ground check.

Karena TNP Laut Sawu mencakup 10 kabupaten yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur, yakni Kabupaten Kupang, Kab. Timor Tengah Selatan, Kab. Sumba Timur, Kab. Sumba Tengah, Kab. Sumba Barat, Kab. Sumba Barat Daya, Kab. Rote Ndao, Kab. Sabu Raijua, Kab. Manggarai dan Kab. Manggarai Barat sehingga penataan batas terbagi ke dalam beberapa tim. Saya pun masuk ke dalam tim Kab. Kupang bagian Utara bersama Mas Boby, Kak Yosi dan Kak Vera (teman kantor) serta ikut bersama kami Pak Alex (Dosen Universitas Nusa Cendana). Sebanyak 7 titik penandaan batas sementara dan ground check yang masuk ke dalam Kab. Kupang bagian Utara, namun ada dua titik yang berdekatan sehingga hanya memilih satu titik dari kedua titik tersebut.

Berangkat menggunakan mobil ford everst, perjalanan beberapa jam melewati banyak sungai yang jalannya tidak dihubungkan dengan jembatan. Beruntung pelaksanaannya pada musim kemarau, sehingga sungai bisa dilalui kendaraan. Bayangkan kalau pada musim hujan. Mungkin kami bisa melewati sungai tetapi butuh pengorbanan yang lebih. Inilah tantangan tersendiri yang tim kami hadapi, tapi tidak mengurangi semangat kami untuk menyelesaikan tugas ini sekaligus ber-adventure.

Setelah beberapa jam, kami pun sampai... 

Titik I : Tuakau I. Sebelum menuju titik I, kami berkunjung ke kantor desa untuk minta izin sekaligus menginformasikan kegiatan yang akan kami lakukan. Kepala desa dengan antusias menyambut kedatangan kami dan mengutus seorang kepala dusun untuk menemani kami dalam penandaan batas. Titik ini dapat dijangkau dengan mobil dan hanya beberapa meter berjalan kaki untuk sampai di titik. Titik penandaan berpindah karena titik sebenarnya tidak memungkinkan untuk melakukan penandaan dengan menggunakan pilox. Penandaan baru menggunakan pilox orange pada pohon pandan. 
 
Titik Tuakau I



Kondisi pantai yang landai berpasir putih dan terdapat berbagai vegetasi di sekitar pantai. Kami melihat segerombolan sapi dan beberapa orang yang sedang menangkap ikan dengan jala. Pantai Batu besar nama pantai ini dan berdekatan dengan Tanjung Kurus.
 
Kondisi Tuakau I

Penandaan berlanjut ke..... 

Titik II : Tuakau II. GPS menunjukkan bahwa titik I dan II berdekatan hanya berjarak 3 km jika ditarik garis lurus dan juga kendaraan hanya bisa sampai di titik I, maka kami berjalan kaki menuju titik II. Kami menyusuri pantai, mendaki dan menuruni bukit menuju titik II. Rasa lelah, panas, capek, haus bercampur menjadi satu. Air habis, kamera hampir lowbad dan baterai GPS hampir habis, kami pun tidak melanjutkan perjalanan ke titik II, kami melakukan penandaan sekitar 1,7 km ke titik sebenarnya. 
 
Titik Tuakau II

Pilox orange pada pohon asam menjadi titik penandaan pada titik II ini. Kondisi pantai yang landai berpasi putih dan terdapat beberapa batu karang yang bermunculan saat air surut. Pantai ini bernama Pantai Pasir Panjang.
 
Kondisi Tuakau II

Titik III : Afoan. Memasuki Afoan hari sudah malam sekitar jam 11. Titik III dapat dijangkau dengan mobil hanya beberapa menter berjalan kaki. Kondisi pantai yang landai berpasir. Disekitar pantai terdapat jejak truk pengangkut pasir. Hal ini menyebabkan titik bergeser karena titik sebenranya tepat berada dalam jalur truk tersebut. 
 
Titik Afoan

Penandaan dilakukan menggunakan pilox orange pada pohon. Pantai Soliu nama pantai di titik III ini.
 
Jalur truk pengangkut pasir di Afoan

Menuju titik selanjutnya...

Memasuki perkampungan sekitar Naikliu tengah malam. Kami mencari tempat untuk beristirahat. Tengah malam pasti semua orang sudah terlelap, kecil kemungkinan kami mendapatkan rumah untuk membaringkan tubuh ini. Tetapi kemungkinan kecil itu pun dapat terjadi, kami beruntung masih ada orang yang mencuci motor selarut ini. Kami bertanya tempat untuk beristirahat. Keberuntungan berpihak kepada kami tuan rumah yang baik itu menawarkan rumahnya sebagai tempat tidur kami.

Pagi hari... 

Titik IV dan V : Naikliu. Kami melanjutkan perjalanan penandaan batas ke kedua titik yang berdekatan ini. Titik ini dapat dijangkau dengan berjalan kaki hanya beberapa meter. Karena jarak kedua titik ini hanya 20 meter, sehingga kami memilih titik V sebagai titik untuk penandaan batas sementara karena lebih dekat dan mudah dijangkau. Kedua titik ini mengalami pergeseran karena berada di dalam laut dan dilakukan pada pohon dengan pilox orange. 
 
Titik Naikliu V

Kondisi pantai landai berbatu dan terdapat vegetasi mangrove. Pantai ini bernama Pantai Naikliu, berdektan dengan muara sungai dan pasar naikliu serta kantor pemerintahan Kecamatan Amfoang Utara.
 
Kondisi Naikliu V

Kami mengunjungi pasar naikliu untuk bercakap-cakap dengan warga sekitar mengenai kegiatan yang kami lakukan sekaligus sarapan
 
Pasar Naikliu

Dalam perjalanan, kami menemukan sebuah pantai yang layak untuk mengambil gambar, menghilangkan rasa capek dan pegal. Kami tidak tahu nama pantai ini dan kami pun tidak dapat bertanya karena tidak ada seorang pun yang berada di sekitar pantai. Dengan batu besar sehingga perlu untuk memanjat untuk mendapatkan view yang keren dan di salah satu sudut pantai terdapat batu di dalam laut yang berdiri tegak.
 
Batu dalam laut 

Perjalanan berlanjut ke titik berikutnya.....

Titik VI : Nunuanah. Perjalanan menuju titik ini tidaklah susah karena hanya berjarak 200 meter dari jalan lokal. Titik mengalami pergeseran karena titik sebenarnya berada di dalam laut. Penandaan sementara pada pohon lontar dengan pilox orange. 
 
Titik VI Nunuanah

Kondisi pantai landai berpasir, terdapat vegetasi pohon lontar disekitar pantai.
 
Kondisi Nunuanah

Menuju titik terakhir.....

Titik VII : Netemanu Utara. Berjarak sekitar 300 meter dari jalan lokal sehingga mudah dijangkau dengan berjalan kaki. Titik bergeser karena titik sebenarnya berada di dalam laut sehingga penandaan dilakukan pada pohon asam dengan pilox hijau (pilox orange habis).
 
Titik VII Netemnanu Utara

Kondisi pantai yang bertebing rendah dengan kerikil dan pecahan karang. Titik ini merupakan titik yang berdekatan dengan Timor Leste. Dari titik ini terlihat Pulau Batek yang merupakan salah satu pulau kecil terluar Indonesia yang berbatasan dengan Timor Leste. 
 
Kondisi Netemnanu Utara

Penandaan titik berakhir disini, tetapi perjalanan kami kembali ke Kota Kupang belum berakhir. Kami mengambil jalur melalui Kab. Timor Tengah Selatan karena jalan yang lumayan bagus walaupun mendaki gunung dan udara yang dingin. Kami sampai di Kupang dini hari. 
Sisi lain...
 
Pulau Batek dari sisi Netemnanu Utara


 
Mendaki bukit di Tuakau I dan II

 
Tanjung Kurus di Tuakau I

 
Salah satu kondisi jalan selama tata batas

 
Titik ambil gambar di laut

 
Titik ambil gambar di sungai kering
Reaksi:

2 comments:

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts