26 October 2015

Indonesia negara yang memiliki banyak perbedaan bahasa, suku, adat dan agama, tetapi dari perbedaan tersebut Indonesia harusnya tetap menjadi satu. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu menjadi landasan bahwa di tengah kemajemukan tersebut ada ras saling menghargai, menghormati dan kesatuan sebagai warga negara Indonesia.

Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha dan KongHu Cu merupakan enam agama yang diakui di Indonesia secara hukum. Setiap agama pasti mengajarkan kepada penganutnya untuk melakukan kebaikan, tidak satupun agama yang mengajarkan hal buruk untuk dilakukan dalam kehidupan di dunia ini.

Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) salah satu gereja beraliran Kristen Protestan yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur, seperti halnya Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dari Batak, Sumatera Utara dan Gereja Toraja (GT) dari Toraja, Sulawesi Selatan. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa suku lain dapat beribadah di gereja tersebut. Seperti saya dari Gereja Toraja karena sementara waktu saya menetap di Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, maka saya memilih untuk beribadah di GMIT karena di Kupang tidak ada Gereja Toraja. GMIT Jemaat Lahairoi Namosain menjadi pilihan saya sebagai tempat ibadah selama saya di Kupang dikarenakan lokasi yang tidak begitu jauh dari tempat tinggal saya.

Ada hal berbeda yang saya saksikan ketika mengikuti ibadah hari minggu di Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Jemaat Lahairoi Namosain Klasis Kota Kupang yang terletak di Kelurahan Namosain, Kecamatan Alak pada tanggal 25 Oktober 2015. Ibadah saat itu menggunakan adat Suku Sabu , salah satu suku yang mendiami daratan Pulau Timor dan sekitarnya di Provinsi NTT. Mulai dari pengkotbah, majelis, prosesi memasuki gereja, liturgi  bahkan tempat persembahan yang digunakan sangat berbeda dari biasanya dan kali ini semuanya berkaitan dengan Suku Sabu.

Pengkhotbah sebagai orang yang menyampaikan firman Tuhan biasanya hanya menggunakan pakaian seperti pakaian resmi pada umumnya. Kali ini ada perbedaan pengkhotbah menggunakan pakaian adat Sabu dilengkapi dengan mahkota di kepala dan kain khas Sabu yang diletakkan di pundak sebelah kiri.
 
Pengkhotbah


Majelis yang bertugas membantu pengkhotbah dalam rangkaian ibadah menggunakan kain panjang yang diletakkan di leher dan beberapa dari mereka menggunakan rok yang bermotif khas Sabu.
Ibu Pendeta menggunakan kain di leher dan rok motif Sabu

Prosesi pembukaan ibadah pun berbeda, biasanya majelis dan pengkotbah memasuki gereja dari depan jemaat, kali ini mereka masuk melalui pintu depan gereja atau dari arah belakang jemaat. Ketika mereka memasuki gereja yang terbagi dalam dua baris di depan mereka berdiri masing-masing dua anak perempuan yang lengkap dengan pakaian adat dan aksesoris Sabu tanpa alas kaki. Sambil berjalan menuju depan jemaat keempat anak tersebut menari dan diiringi musik tradisional khas Sabu. Suatu pemandangan yang jarang saya saksikan ketika mengikuti ibadah selama di Kupang.
 
Salah satu penari lengkap dengan pakaian adat Sabu

Pundi atau tempat persembahan juga diganti menggunakan wadah yang bercirikan Suku Sabu. Kalau biasanya menggunakan pundi dari kain yang banyak di jual di toko-toko yang menyediakan perlengkapan ibadah Kristen, maka wadah tersebut diganti menggunakan wadah yang terbuat dari daun lontar yang dianyam sedemikian rupa sehingga dapat dijadikan sebagai wadah. Dalam bahasa setempat dinamakan Haik. Pada umumnya masyarakat setempat menggunakannya sebagai tempat tuak. Sayangnya saya tidak sempat mengambil gambar wadah tersebut.

Selain itu, liturgi ibadah menggunakan dua bahasa, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Sabu. Karena saya datang belakangan, maka saya tidak mendapatkan liturgi. Saya hanya menyanyikan lagu ketika menggunakan Bahasa Indonesia, tetapi ketika menggunakan Bahasa Sabu saya hanya terdiam.
 
Liturgi menggunakan dua bahasa

Saya merasa terkesima ketika melihat semua ini. Saya merasa bahwa gereja disamping sebagai tempat ibadah umat Kristen tanpa meninggalkan kesan religius, gereja juga dapat digunakan sebagai media untuk tetap mempertahankan budaya masyarakat setempat dimana gereja tersebut berdiri. 

Hal ini memperlihatkan kepada generasi penerus bahwa budaya itu penting untuk tetap dilestarikan dan menjadi sesuatu yang membanggakan. Disamping itu, ini merupakan salah satu cara agar budaya tidak tersingkirkan tetapi tetap bertahan di tengah perkembangan zaman dan teknologi yang sewaktu-waktu dapat menelan budaya di Indonesia.

 
Majelis, Pengkhotbah dan Penari dengan nuansa adat Sabu


Save Our Culture
Save Indonesia
Reaksi:

2 comments:

  1. Yuupz...dengan semakin berkembangnya teknologi dan zaman, maka semakin terkikis dan tersingkir pula budaya bangsa kita yang seharusnya dilestarikan dan dipertahankan. terima kasih buat penulis untuk tulisan2nya... sangat bermanfaat untuk diwariskan kepada anak cucu kita !

    ReplyDelete
  2. Terima kasih banyak....

    Mohon di sebarkan sehingga makin banyak yg baca. Hehehe

    Jgan lupa follow blog sya ya kakak..

    ReplyDelete

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts