04 February 2016



Kesempatan untuk mengunjungi kawasan paling timur Indonesia, Merauke tercapai juga. Berkat ajakan Daeng Mail (teman kantor), saya dan Mas Kastiyan (teman kantor juga) menemani melakukan kegiatan monitoring desalinasi di Pulau Kolepon yang merupakan kegiatan dari Direktorat Pendayagunaan Pulau-Pulau Kecil, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan. Ajakan ini tidak perlu di tolak, hanya melihat waktu agar tidak ada kegiatan di kantor selama perjalanan dan harus meminta izin ke atasan. Harapan sesuai kenyataan tidak ada kegiatan selama perjalanan dan kami pun mendapatkan izin dari atasan.

Perjalanan panjang sudah menunggu kami. Berangkat dari Kupang menuju Surabaya kemudian ke Jakarta selanjutnya Jayapura dan akhirnya sampai di Merauke. Perjalanan yang begitu panjang dan pastinya melelahkan tidak membuat saya hilang semangat, malah inilah penyemangat saya bisa berpetualang dan mengunjungi berbagai daerah di Indonesia dan berharap suatu saat nanti bisa sampai ke luar negeri.

Kupang-Surabaya-Jakarta-Jayapura-Merauke
Perjalanan dari Kupang ke Surabaya sekitar 2 jam. Sebagai tempat transit, waktu di Surabaya hanya sekitar 40 menit, kemudian melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Sehingga saya tidak memiliki kesempatan untuk berpetualang di Surabaya. Perjalanan dilanjutkan ke Surabaya sekitar sekitar 2 jam. Kesempatan untuk berpetualang di Jakarta terbuka lebar, tiba di Bandara Soekarno-Hatta sekitar jam 12 siang dan akan melanjutkan perjalanan ke Jayapura pada pukul 23.20, setidaknya ada 10 jam untuk berpetulang di Jakarta. Menggunakan Damri dari bandara, saya menuju Stasiun Gambir sebagai awal dari petulangan saya di Jakarta seorang diri. Sembari menikmati makan siang di stasiun, saya mengatur rencana tempat yang akan saya kunjungi. Petualangan pun dimulai, saya menggunakan busway menuju Kota Tua. Dengan bermodalkan kartu busway yang saya gunakan pada saat orientasi di Jakarta, saya mengunjungi beberapa tempat...

Menara Syahbandar. Terletak di Jl. Pasar Ikan, Jakarta Utara. Menuju ke destinasi wisata ini saya berjalan kaki, ya lumayan jauhlah. Sebuah menara bercat merah dan putih berdiri kokoh, inilah Menara Syahbandar. Menara yang digunakan untuk mengamati pergerakan kapal di sekitar laut Jakarta. Namun untuk menaiki menara ini tidak dijinkan. Harga masuk sekitar Rp. 5.000/orang sudah termasuk tiket masuk ke Museum Bahari.

 
Menara Syahbandar

Museum Bahari. Jarak yang tidak jauh dari Menara Syahbandar hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit berjalan kaki dan masih satu kompleks dengan Menara Syahbandar. Terletak di Jl. Pasar Ikan No. 1. Sebelum memasuki museum, seorang petugas mengatakan bahwa dilarang mengambil gambar di dalam museum, ketika mengambil gambar maka akan berbunyi alarm secara otomati. Sehingga saya tidak mengambi gambar di dalam hanya di luar museum saja. Koleksi museum ini pastinya berbau bahari atau laut, seperti alat pelayaran, kapal, dll.
 
Museum Bahari

Setelah puas mengelilingi Museum Bahari, saya menuju...

Kota Tua. Destinasi wisata yang wajib dikunjungi ketika berpetualangan ke Jakarta yang terletak di Jakarta Barat. Untuk mengunjungi Kota Tua ada beberapa alternatif, seperti menggunakan commuter line turun di Stasiun Kota Tua atau menggunakan Trans Jakarta turun di Halte Kota. Disekitar Kompleks Kota Tua banyak tersebar destinasi wisata, seperti Museum Jakarta, Museum Wayang, Museum Seni Rupa dan Keramik. Di tengah kompleks Kota Tua terdapat halaman yang cukup luas, disitu berbagai kreativitas masyarakat warga Jakarta terlihat untuk memperoleh rejeki. Ada yang menggunakan kostum pengantin, kostum badut dengan berbagai karakter seperti doraemon, terdapat pula penyewaan sepeda yang dapat digunakan untuk berkeliling ditambah berbagai barang dipasarkan serta penjual makanan. Semakin sore Kota Tua semakin ramai pengunjung.
 
Kota Tua

Toko Merah. Bangunan dua tingkat ini tidak seperti toko pada umumnya hanya sebuah bangunan yang pastinya seluruh atap dan dindingnya berwarna merah. Ketika saya mengunjungi Kota Tua hari sudah sore, yang terlihat pintu toko tertutup dan beberapa mobil antik terparkir di depan toko.
Toko Merah

Sore harinya, saya mengunjungi Plaza Atrium yang terletak di Jl. Senen Raya. Menuju ke sana saya menggunakan trans jakarta. Kemacetan sudah  menjadi hal yang biasa di Jakarta, itupun menemani perjalanan saya ke atrium. Berkeliling di Atrium hanya untuk membeli buku, tetapi buku yang saya cari tidak ada. Tak terasa sudah jam 7 malam. Saya kembali ke Stasiun Gambir mencari Damri menuju bandara untuk melanjutkan perjalanan ke Jayapura.

Pukul 23.20 kami pun berangkat ke Jayapura, rasa ngantuk membuat saya tertidur pulas di atas pesawat dan tidak terasa kami sudah memasuki wilayah Papua. Matahari lebih cepat memancarkan sinarnya mungkin karena Papua berada di wilayah paling timur Indonesia sebagai arah matahari terbit. Dari atas pesawat gunung dan hutan di Papua masih terlihat hijau dan alami jauh dari tangan-tangan jahil, tetapi bisa saja suatu saat nanti hutan ini akan hilang jika situasi mendesak. Semoga hutan di Papua tetap terjaga kelestariannya.

Kami pun memasuki area Bandar Udara Sentani, Jayapura lokasi bandara sungguh indah berbatasan dengan laut dan pegunungan dua daerah yang cukup berbeda. Udara dingin terasa disini. Transit 20 menit saya turun dari pesawat untuk buang air kecil, sebenarnya bisa ke toilet pesawat, tapi saya ingin melihat dan menginjakkan kaki Jayapura bukan hanya di pesawat. Di sekitar bandara dan ruang tunggu suasana bandara cukup ramai. Ada yang menunggu sanak saudara yang baru saja tiba maupun mengantar yang akan berangkat. Setelah transit, perjalanan dilanjutkan ke Merauke dan tiba sekitar pukul 08.50. Perjalanan yang cukup panjang dari Kupang hingga tiba di Bandara Mopah, Merauke. Sebuah tulisan “Izakod Bekai Izakod Kai” yang berarti “Satu Hati Satu Tujuan” menyambut kedatangan kami.
Bandara Mapoh, Merauke

Untuk petualangan dan apa saja yang kami lakukan di Merauke akan saya tulis di tulisan saya selanjutnya....

Merauke-Makassar-Surabaya-Kupang
Setelah kegiatan di Merauke selesai, kami pun bergegas untuk kembali ke Kupang. Perjalanan pulang tidak kalah lama dengan perjalanan datang. Dari Merauke kami transit di Makassar sehari. Setidaknya saya memiliki kesempatan untuk berjalan-jalan di Makassar ataupun bertemu dengan teman.

Sebelum menuju hotel, kami menuju warung makan yang menyediakan makanan khas Makassar, Pallubasa.
Pallubasa

Pantai Losari. Karena kami menginap di sekitar Pantai Losari, maka untuk menuju ke sana hanya berjalan kaki. Simbol wisata Makassar menjadikan Pantai Losari sebagai tempat yang wajib dikunjungi di Makassar. Pantai hasil rekalamasi ini diubah menjadi anjungan. Terdapat mesjid terapung, rumah seni Makassar dan tulisan suku yang mendiami daratan Sulawesi Selatan beserta ciri khas masing-masing suku, seperti rumah adat, hewan, dan tari-tarian.

Pantai Losari

Toraja : Oleh-oleh Khas Makassar. Kunjungan selanjutnya ke pusat oleh-oleh yang tidak jauh dari Pantai Losari tepatnya di Jl. Somba Opu. Tempat ini menjual berbagai barang dan makanan khas Makassar dan sekitarnya, seperti miniatur rumah tongkonan toraja dan kapal phinisi, baju kaos makassar, peci, kopi toraja, makanan kacang sembunyi dan otak-otak. Harganya pun terjangkau.
TORAJA : Oleh-oleh Khas Makassar

Rumah Hantu di Mall Panakkukang (MP). Malam hari saya bertemu dengan teman-teman paduan suara (ICM) di Mall Panakkukang. Kami menuju rumah hantu yang berada di dalam mall. Dari depan terlihat susana yang menyeramkan dan memberanikan diri untuk masuk. Yang pasti hantunya bukan hantu benaran, hanya diperankan oleh manusia. Ada tuyul, kuntilanak, pocong, dan lain-lain. Tetapi tetapi membuat beberapa pengunjung berteriak histeris di dalam maupun saat kelaur dari rumah hantu.
Mall Panakkukang
Rumah Hantu MP

Setelah transit di Makassar pukul 07.30 WITA kami melanjutkan perjalanan ke Surabaya dan tiba pukul 08.00 WIB. Transit di Surabaya cukup lama sehingga kami beristirahat sejenak dan makan siang. Setelah itu menuju Kupang.

Perjalanan yang cukup jauh tetapi menyenangkan mengunjungi beberapa daerah di Indonesia. Inilah Indonesia, negara kepulauan yang sungguh indah dan beranekaragam... Berharap suatu bisa mengunjungi daerah lain di Indonesia.
Reaksi:

0 komentar:

Post a Comment

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts