02 March 2017

Salah Satu Sudut, Air Terjun Sripori

Biak yang terletak di Papua tak kalah dengan daerah lain di Indonesia. Banyak tempat yang memiliki keindahan yang patut untuk dikunjungi. Terlebih kebanyakan tempat tersebut masih jauh dari jangkauan orang sehingga kealamiannya masih terjaga. Perjalanan untuk menelusuri setiap destinasi wisata di Biak kembali berlanjut. Saya bersama dengan teman-teman yang besar di Biak dan pastinya suka berpetualang, mengunjungi tempat-tempat yang bisa memanjakan mata dan menyejukkan jiwa (sok pujangga). Kali ini kami akan menelusuri Air Terjun Sripori.

Dalam Bahasa Biak Srip artinya tebing tinggi. Air Terjun Sripori terletak di Kampung Sor, Distrik Yaosi. Perjalanan dari Kota Biak menuju Biak Utara dengan waktu tempuh sekitar 1 jam-an. Tidak perlu khawatir untuk mencapai tempat ini karena jalanan sudah beraspal dan tergolong bagus. Untuk menemukannya cukup mudah. Saat memasuki Kampung Sor disebelah kanan jalan ada Sekolah Dasar (lupa nama SDnya), samping kanan SD tersebut ada lorong kecil, itulah jalanan menuju Air Terjun Sripori. Kendaraan masih bisa masuk sampai di tempat prakir, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Saat kami berangkat karena tak seorang pun yang tau tempat dan belum pernah datang ke sini, maka masih bertanya kesana kemari untuk bisa menemukan. Untungnya saat kami berangkat hari sekolah dan saat kami tiba para murid sudah pulang. Jadi beberapa anak-anak dapat mengantar kami ke air terjun, bisa dikata menjadi tour guide. Dari tempat memarkir kendaraan, kami melanjutkan dengan berjalan kaki menelusuri hutan dan menyeberangi sungai. Air dari air terjun ini pun menopang kehidupan masyarakat sekitar, dijadikan sebagai sumber mata air untuk di minum, mencuci dan sebagainya.
Junior Tour Quide

Menyeberangi Sungai

Menelusuri Hutan


Perjalanan dengan berjalan kaki sedikit terhambat karena melewati sungai dengan batuan yang licin, menerobos hutan. Sekitar 10 menit, kami sudah sampai di kawasan air terjun. Beberapa anak-anak yang mengantarkan kami menceburkan diri ke dalam kolam yang terbentuk secara alami.
Anak-anak yang Menceburkan Diri 

Sayangnya saat kami mengunjungi Air Terjun Sripori, bukan musim penghujan sehingga air tidak begitu banyak dan deras. Tetapi tidak menyurutkan semangat kami untuk tetap menelusuri air terjun ini. Kami melanjukan perjalanan untuk mencapai air terjun yang berada di puncak. Mendaki bebatuan yang licin, menyeberangi sungai, menjejaki jembatan dari kayu yang tumbang. Untuk memudahkan para pengujung mendaki, masyarakat sekitar membuat tangga-tangga
Harus mendaki

Mirisnya saat mendaki bebatuan, saya sempat melihat beberapa tulisan yang sengaja diukir di atas batu oleh para pengunjung  yang telah datang. Mungkin sebagai bukti dan di tahu orang lain kalau mereka sudah pernah datang kesini. Sayangkan itu bisa mengurangi nilai estetika, walau pun di atas benda mati.
Ukiran di Batu

Sampailah kami di puncak air terun, kembali disambut dengan air yang tidak begitu banyak. Tetapi tetap disyukuri, bagaimana kalau pas kami datang airnya tidak ada, mendingan ada walaupun tak banyak (hehehehehehe).

Tak ketinggalan kamera pun mulai beraksi, kamera ponsel dan dslr. Berbagai pose pun tampak, selfie, pake kacamatan dan sebagainya. Berendam di dalam kolam kecil, berdiri di bawah air terjun sehingga air yang jatuh kena kepala dan badan. Inilah yang kami lakukan saat berada di air terjun ini.
Take a Picture

Berfoto bersama anak-anak yang mengantar
Take Picture with Them

Melihat tingkah laku mereka mencari udang kecil yang berada di genangan air
Cari Udang

Walaupun belum puas. Karena kami harus melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, takutnya waktu tidak cukup,  kami pun kembali.

Oh iya… Sekedar informasi air terjun ini belum terjamah, belum dikelola dengan baik oleh pemerintah. Terbukti tak ada satu pun fasilitas yang tersedia, seperti papan nama, tempat sampah, toilet dan jalanan pun masih jelek. Alangkah baiknya jika mendapat perhatian dari pemerintah untuk mengembangkan destinasi wisata ini. Tetapi saat Air Terjun Sripori sudah blooming di kalangan masyarakat Biak, kami berharap untuk tetap menjaga kelestarian dengan tidak merusak tumbuhan, tidak meninggalkan sampah, tidak mencoret atau mengukir batu-batu atau apapun itu yang bisa merusak estetika air terjun ini. Itulah ketakutan teman-teman (Kak Icha, Kak Cristen, Kaka Pay, Kak Joseph dan kakak-kakak lainnya) yang bersama-sama dengan saya mengunjungi tempat ini.

Kekhawatiran dan keprihatinan kami, saat suatu destinasi wisata sudah blooming dan banyak menarik minat wisatawan di Biak. Perlahan-lahan destinasi tersebut akan mengalami kerusakan karena beberapa pengunjung yang tidak bertanggung jawab, seperti yang terjadi di Telaga Binsiu . Awalnya terlihat bagus, pohon-pohon tumbuh di dalam telaga, tetapi setelah blooming, apa yang terjadi ??? Pohon-pohon tersebut patah dan tumbang karena dipanjat oleh penunjung. Mereka datang untuk mendapat foto yang keren sebagai bukti sudah berkunjung, upload di berbagai sosial media, mendapat like dan komentar yang banyak padahal ujung-ujungnya merusak. Itu bukan wisatawan sejati hanya wisatawan abal-abal.

Harapan kami hal ini tidak terjadi di tempat destinasi wisata yang lain, Telaga Binsiu menjadi pelajaran untuk kita, bukan menjadi awal kehancuran destinasi wisata di Biak. Mari tetap menjaga kelestarian alam, kelestarian destinasi wisata yang ada di Biak sebagai ciptaan Sang Pencipta.

Saya teringat akan tulisan yang berisi tentang “Kode Etik Petualang” dari Pesona Indonesia :
Jangan Ambil Apapun Kecuali Gambar, Jangan Tinggalkan Apapun Kecuali Jejak, Jangan Bunuh Apapun Kecuali Waktu
Nikmati Keindahannya, Jaga Kelestariannya, Jadilah Wisatawan Yang Bertanggung Jawab

Semoga ini menjadi pegangan kita saat berkunjung ke setiap destinasi wisata sebagai petualang yang bertanggung jawab, menjadi wisatawan sejati.
Reaksi:

6 comments:

  1. Belum begitu terekspos ya Mas. Indah banget dan sueger airnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak... Khawatir Klo sdh terekspos, takut.x jdi rusak... Nanti beberapa wisatawan yg dtg tidk brtnggung jawab... Datang dan merusak... Tapi mudah2an tdk terjadi...

      Delete
  2. Sejuk suasananya, yang seperti ini harus dijaga baik2 agar tetap terawat dan makin mempesona :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus... Tapi beberapa wisatawan kurang bertanggung jawab... Yg penting dtg dpt foto yg bagus upload dpt like & comment yg banyak walaupun dibalik utk mendapatkan jepretan merusak alam

      Delete
  3. Duh patahnya gara-gara dipanjatin? Kok sedih ya bacanya. Harusnya sadar diri sih. Harusnya kan kalo banyak pengunjung yang dateng berarti banyak yang merhatiin. Eh kok malah jadi banyak yang rusakin. :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. Patah gara2 di panjat... Itu lagi... Banyak yg dtg pasti karena bagus, tetapi bagus.x akan rusak kalo yg dtg wisatawan yg tdk bertanggung jawab. Bukan petualang sejati... 😢😤😣

      Delete

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

Setiawan Mangando-Nando Torajanese||Traveler||Blogger Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Punya impian : mengajak kedua orang tua berlibur, fasih berbahasa Inggris, keliling Indonesia dan merayakan natal di luar negeri yang bersalju

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts