27 February 2017

Telaga di Biak Utara

Setelah dari Air Terjun Sripori, seperti di blog sebelumnya Air Terjun Tersembunyi, Air Terjun Sripori. Kami melanjutkan perjalanan ke Telaga di Biak Utara. Kali ini saya tidak menyebutkan nama dan lokasi telaganya secara rinci karena menurut kesepakatan bahwa tidak usah mencantumkan, takut nantinya ketika diketahui yang lain dan ingin berkunjung ujung-ujungnya datang merusak, itulah kekhawatiran kami. Bukannya tidak mau berbagi informasi atau pelit, tetapi ini untuk kebaikan kita semua (hubungannya apa yakkk hehehe), maksudnya untuk kebaikan alam. Sebut saja namanya Telaga di Biak Utara sebagai nama samaran 😊😊😊…….

Menelusuri Sungai Pute, Rammang-Rammang


Satu lagi tempat wisata yang lagi blooming di Sulawesi Selatan, bernama Rammang-Rammang. Terletak di Kabupaten Maros yang dapat ditempuh dari Makassar, Ibukota Provinsi Sulawesi Selatan dengan sangat mudah sekitar 1 jam 30 menit menggunakan kendaraan bermotor atau angkutan umum. Jangan khawatir untuk nyasar, anda bisa bertanya ke abang pete’-pete’ (angkot)  pasti mereka sudah tau. Kalo anda menggunakan kendaraan pribadi ato sewa tidak akan sulit karena di pinggir jalanan masuk lorong aka nada tulisan “Wisata Karts Rammang-Rammang” atau lebih mudahnya ada papan nama bertuliskan “Bosowa Semen” yang berukuran lebih besar, anda hanya perlu mata untuk memperhatikan tulisan tersebut. Rammang-Rammang terletak di sebelah kanan jika dari arah Makassar.

21 February 2017

Selain destinasi wisata yang banyak dan tidak akan habisnya jika di eksplore, Toraja pun memiliki adat istiadat yang patut untuk disaksikan, adat yang unik dan menarik perhatian. Jika travelling ke Toraja tak ada salahnya untuk mencari informasi ke orang atau internet soal pelaksanaan budaya yang akan digelar. Sambil anda menikmati destinasi wisata, anda juga bisa belajar dan dapat menyaksikan secara langsung, bukan hanya menonton di televisi. Adat istiadat Toraja tidak ada kalahnya dengan daerah lain di Indonesia. Beberapa diantaranya memang sudah sangat terkenal, seperti adat upacara kematian (Rambu Solo’) dan membersihkan mayat (Ma’ Nene).
Ma' Pasilaga Tedong

Kali ini saya akan bercerita tentang salah satu adat dalam rangkaian upacara Rambu Solo’, yakni Adu Kerbau atau dalam Bahasa Toraja disebut Ma’ Pasilaga Tedong. Adat ini memang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Toraja. Adat yang sudah dilaksanakan secara turun temurun. Dulunya biasa hanya dapat disaksikan saat adanya Rambu Solo’ dan itupun tidak sembarang keluarga bisa melaksanakan, ada jumlah kerbau bisa menjadi syarat untuk Ma’ Pasilaga Tedong. Tetapi sekarang beberapa kegiatan dilaksanakan di Toraja khusus untuk adu kerbau.

17 February 2017

Kemeriahan bulan Desember bukan hanya dapat dirasakan dan dinikmati di Kabupaten Tana Toraja, apalagi kabupaten ini menjadi tuan rumah diselenggarakannya acara Lovely December. Sehingga banyak kegiatan yang dapat diikuti oleh masyarakat maupun wisatawan dari luar daerah bahkan luar negeri, seperti Festival Foto Foto Wisata “Alam dan Budaya Tana Toraja”, toraja night run, toraja colour run 2016 dan masih banyak lagi. Tak ketinggalan kabupaten tetangganya yang masih satu rumpun suku Toraja, yakni Kabupaten Toraja Utara untuk mengisi bulan Desember dengan beberapa kegiatan, seperti Festival Kembang Api yang telah saya posting sebelumnya.
National Art Festival (Sumber : allevents.in)

Tak hanya itu, salah satu kegiatan di Toraja Utara yang menarik perhatian saya adalah Toraja National Art Festival 2016. Saking tertariknya, saya dua kali mengunjungi festival ini. Pertama pergi sendiri tetapi bertemu beberapa keluarga dan teman di lokasi, kedua pergi bersama sepupu (Kurni) setelah menyaksikan Festival Kembang Api di Lapangan Bakti Rantepao, seperti yang telah saya posting.

Toraja National Art Festival 2016 merupakan kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah Kabupaten Toraja Utara bersama beberapa seniman dan pihak yang mendukung. Kegiatan ini berlokasi di Art Center Kota Rantepao, Kabupaten Toraja Utara yang beralamat di Jl. Landorundun belakang pertokoan. Waktu pelaksanaan sekitar 2 minggu dari 22 Desember 2016 – 3 Januari 2017 dengan tema “Bangga Indonesia, Bangga Toraja”.

Apa yang menarik perhatian saya dari festival ini ???

Pertama, Tema. Dari Temanya saja pasti menarik perhatian “Bangga Indonesia, Bangga Toraja”. Kenapa menarik ??? Karena kalau bicara soal Toraja sangat menarik perhatian saya, terlebih saya Torajanese dan yang tertarik mungkin bukan hanya saya tetapi kebanyakkan orang. Dari tema ini pasti akan ada beberapa hal yang ditampilkan yang pastinya sangat berhubungan erat dengan Toraja, baik alam, wisata, seni dan budaya. Hal ini pun terbukti….

Kedua, Buffalo Painting. Pertama kali melihat Buffalo Painting… yaaaa disini. Apa ini, mungkin kalian akan bertanya ???. Ini adalah salah satu karya seni yang bernilai estetika tinggi. Kalo kebanyakan media lukis adalah benda mati, seperti kain, kayu dan sebagainya. Tetapi media kali ini adalah Kerbau sebagai makhluk hidup yang menjadi ciri khas dari Suku Toraja. Kerbau menjadi salah satu hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan masyarakat Toraja, kerbau digunakan dalam beberapa upacara adat, seperti Rambu Solo’ (acara kematian). Buffalo Painting, menjadi salah satu yang menarik bagi saya dan pengujung lainnya, Tubuh kerbau di balut dengan beragam warna, merah, hijau, kuning dan biru mulai dari kaki, ekor, tubuh, muka sampai tanduk tak lepas dari kuas dengan beberapa motif.
Buffalo painting

Ketiga, Ide dan Kreativitas. Sebuah karya seni pasti muncul dari ide dan kreativitas, demikian pun yang dimunculkan dalam festival ini, selain buffalo painting ada juga karya seni berupa kumpulan bebek warna-warni yang terbuat dari kayu yang ditancapkan disekitaran halaman gedung dilengkapi dengan tumpukan jerami, seolah-olah sedang mencari makan. Ada pula kumpulan semut yang disusun sangat rapi di papan. Tak sampai disitu, daun ijuk kering yang ketika dilihat tidak memiliki apa-apa, tetapi ditangan seniman tercipta sebuah karya seni yang luar biasa, anyaman daun ijuk yang masih melekat di tulang daun.

Empat, Filosofi dari Art Festival. Karya seni (buffalo painting, bebek, semut, anyaman) yang ditampilkan dan dilihat oleh para pengujung tidak lepas dari filosofi dan makna. Dari spanduk yang saya lihat dan sempat say abaca dan dokumentasikan, terlihat tulisan yang berisi makna dari karya seni yang luar biasa ini. Buffalo painting : Bangga Indonesia-Bangga Toraja, Persembahan Anak Bangsa untuk Seni Budaya Indonesia. Semut : Sendiri Tiada Arti, Perpecahan Awal Kerapuhan, Bahu Membahu Membangun Negeri, Kekompakkan Modal Kekuatan. Bebek : Beragam Warna-Beragam Suara, Perbedaan Hanya Sisi Pandang, Keragaman Sebuah Anugrah, Damai Hakikat Terindah. Anyaman : Saling Mengisi-Saling Berbagi, Indah Karena Tertata, Kuat Karena Bersama. Filosofi yang penuh makna, bukan hanya untuk dibaca, tetapi wajib untuk diterapkan dalam kehidupan sehingga kedamaian tercipta. Damailah Toraja, Damailah Indonesia.
Bebek

Semut

Anyaman

Selain itu, beberapa karya seni lain yang dapat dilihat disekitar halaman gedung, seperti sebuah lukisan kepala kerbau dengan mulut yang terbuka yang medianya dari kayu. Mulut kerbau sengaja dilubangi sehingga para pengunjung dapat berfoto, seolah-olah sedang berada di dalam mulut kerbau.
Di dalam mulut kerbau

Keempat hal menarik di atas baru yang terlihat dari luar gedung Art Center Kota Rantepao, belum yang ada di dalam gedung. Apa yang ada di dalam gedung, berupa kumpulan berbagai lukisan dengan berbagai bentuk, warna dan pastinya makna.

Beberapa lukisan yang sempat saya abadikan….

Ada yang berkaitan dengan Toraja, seperti Lukisan Seorang Perempuan Toraja lengkap dengan baju adat sambal menari di depan tanduk kerbau yang sering diletakkan di tiang bagian depan Tongkonan (rumah adat Toraja); Lukisan Seorang nenek telah lanjut usia dengan guratan muka dan rambut pith mengenakan baju dan penutup kepala berwarna hitam; Lukisan Adu kerbau yang dalam Bahasa Toraja disebut Pasilaga Tedong menjadi atraksi yang banyak menyedot penonton untuk menyaksikannya.
Gadis Toraja

Oma Toraja

Adu Kerbau (Ma' Pasilaga Tedong)

Tak hanya lukisan yang berbau Toraja yang dipajang, tetapi beberapa lukisan lainnya, seperti Lukisan Bapak Jokowi (Presiden Indonesia sekarang) sambal memegang kain merah dan didepannya terdapat seekor banteng; Lukisan Bapak Syahrul Yasin Limpo (Gubernur Sulawesi Selatan sekarang) menoleh sambil tersenyum; Lukisan Bapak Agus Arifin Nu’mang (Wakil Gubernur Sulawesi Selatan) bersama istri.
Bapak Jokowi dan Banteng

Bapak Syahrul Yasin Limpo

Bapak Agus Arifin Nu'mang bersama Istri


Dan masih banyak lagi lukisan, kalo dijelaskan satu per satu mungkin akan menghabiskan ratusan lembar…. Hehehehe

Toraja Art Festival 2016 bisa dibilang lebih dari sebuah festival seni. Bukan hanya menunjukkan karya seni yang memukau dan memiliki nilai seni yang tinggi, tetapi lebih dari itu ada filosofi dengan makna yang menjadi pelajaran bagi kita semua yang ingin disampaikan para seniman. Bukan hanya menunjukkan karya seni belaka, tetapi menunjukkan jati diri Toraja secara khusus mulai dari adat, alam, budaya sampai masyarakatnya yang memiliki nilai-nilai kehidupan yang terus dipelihara sampai sekarang ini dan semoga tidak terputus dan tidak hilang sampai kapan pun. 

16 February 2017

Tak banyak yang dapat saya tuliskan terkait kegiatan yang satu ini, Festival Kembang Api Toraja Utara. Tulisan saya sebelumnya kebanyakan bercerita tentang kegiatan di Tana Toraja, nah tulisan satu ini adanya di Toraja Utara. Ohhh iya… Sekedar informasi bahwa Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara  dulunya masih satu kabupaten, yakni Kabupaten Tana Toraja, tetapi karena ada pemekaran maka daerah ini dibagi menjadi dua kabupaten. Walaupun demikian kedua kabupaten ini tak bisa dipisahkan dari masa lalu dan adat istiadat, keduanya sama-sama Sang Torayan.
Patung Salib Raksasa Buntu Singki, Rantepao

Toraja memang tak akan habis dibahas jika berbicara mengenai wisatanya. Mulai dari wisata alam, wisata sejarah, wisata budaya, dan wisata religi, semuanya bisa ditemukan di Toraja. Pemerintah dan masyarakatnya pun turut andil dalam pengembangan dan promosi wisata. Melalui Lovely December sebagai kegiatan tahunan yang dijadikan sebagai ajang untuk menunjukkan kayanya wisata di Toraja menjadi magnet bagi para pelancong baik dari dalam negeri maupun luar negeri untuk menginjakkan kaki di Toraja.
Patung Tuhan Yesus Buntu Burake, Toraja

Satu lagi destinasi wisata di Toraja yang naik daun sekarang ini, Patung Tuhan Yesus. Salah satu wisata religi yang menjadi tujuan banyak wisatawan. Terkait patung ini banyak pendapat mengatakan bahwa merupakan patung tertinggi di dunia mengalahkan Patung Tuhan Yesus di Brasil. Menurut informasi yang saya dapatkan dari berbagai sumber, Patung Tuhan Yesus tertinggi adalah Patung Christ The King yang terletak di Portugal dengan tinggi total 110 meter. Patung Tuhan Yesus di Tana Toraja memiliki tinggi 23 meter dengan landasan 17 meter sehingga total 40 meter. Namun patung ini menjadi patung tertinggi jika letaknya diukur dari permukaan laut, karena terletak di atas Buntu Burake dengan ketinggian 1.100 meter diatas permukaan laut (mdpl) .

Patung Tuhan Yesus di Tana Toraja berdiri kokoh di atas Buntu Burake menghadap ke Kota Makale, tepatnya di Kelurahan Buntu Burake, Kecamatan Makale, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Patung ini diresmikan pada bulan Agustus 2015. Akhir bulan Desember 2016, saya berkesempatan untuk menginjakkan kaki pertama kali, tepatnya tanggal 26 Desember 2016. Modal nekad dan penasaran serta tak afdol jika sudah di Toraja baru tidak mengunjungi Patung Tuhan Yesus ini dan pastinya sudah menjadi salah satu tujuan yang harus saya kunjungi, apalagi saya orang Toraja masa tidak ke sini. Jadilah saya pergi sendirian menggunakan motor. 

Untuk tiba di atas area patung dari Kota Makale tidaklah susah, dari kota bisa lewat samping Telkom Makale mengikuti jalan sampai ketemu pintu gerbang bertuliskan “Selamat Datang Kawasan Wisata Religi Buntu Burake” sampai di sini jalanan dan sedikit ke atas masih beraspal. Setelah itu jalanan masih berbatu-batu, tetapi jangan khawatir karena jalanan masih dalam proses pengerjaan, nantinya akan bagus kok.
Gerbang

Sampai di tempat parkir, kita harus melalui sekitar 1000 anak tangga untuk sampai di atas Patung Tuhan Yesus. Tak ada pungutan untuk masuk ke kawasan wisata ini, seperti tiket dan uang parkir, semuanya gratissssss.
Parkiran

Dipinggir tangga banyak masyarakat yang menjajankan jualan, ada makanan dan minuman, topi, kacamata, dan asksesoris sebagai oleh-oleh dari tempat ini, seperti baju.
Mendaki Tangga, Lapak Jualan dan Patung Tuhan Yesus sudah terlihat

Sampai di puncak, kita akan dimanjakan dengan pemandangan yang luar biasa, pemandangan pegunungan yang hijau dan Kota Makale.
Pegunungan Hijau dan Kota Makale

Walaupun destinasi ini masih dalam proses pengerjaan dan belum selesai dengan sempurna. Namun saat saya berkunjung, banyak wisatawan yang datang pula karena pas hari libur. Bukan hanya yang beragama Kristen, tetapi agama lain pun berkunjung. Bukan cuman anak-anak, pemuda dan orang tua, saya pun melihat seorang nenek yang masih kuat untuk melangkahkan kakinya ke setiap anak tangga. Sungguh membuat bangga dan haru, masa tua tak menyurutkan niat untuk mengunjungi dan menginjakkan kaki di Patung Tuhan Yesus. Saya pun sempat mengambil moment ini…..
Nenek yang masih semangat dan kuat

Banyak hal yang dapat anda lakukan jika sudah berada di atas, mau berfoto, mengambil video, mendaki bukit-bukit batu ataupun sekedar duduk-duduk di gazebo yang ada.
Mendaki bukit batu

Duduk di gazebo

Namun sayangnya, sekitaran patung ini tak lepas dari pandangan yang kurang mengenakkan, banyak sampah yang berserahkan dimana-mana. Banyak botol-botol dan bungkusan makanan ringan yang bertumpuk, ada tempat sampah yang disediakan pengelola, berupa besi yang didalamnya diletakkan karung, tetapi sudah rusak. Pengunjung pun harusnya punya kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarang. Sehingga sekitar kawasan wisata ini sedap di pandang mata.
Tumpukan sampah

Dengan adanya Patung Tuhan Yesus, menjadi simbol bahwa Tuhan selalu membekati Toraja dan masyarakatnya. Semoga damai dan sejahtera selalu melekat dalam kehidupan Toraja dan adanya rasa saling menghargai antar umat beragama. Jadi perbedaan bukan digunakan sebagai alat untuk menceraiberaikan, melainkan dijadikan kekuatan untuk hidup saling berdampingan.

So, kalau ke Toraja wajib berkunjung ke Patung Tuhan Yesus…
Ini bukan di Brasil, tetapi di Toraja…

Tidak usah jauh-jauh ke luar negeri, di Indonesia pun ada lhoooo… 

Hasil jepretan...






13 February 2017

Satu lagi rangkaian acara Lovely December 2016 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kab. Tana Toraja yang sangat didukung oleh masyarakatnya untuk mempromosikan keunikan dan kekayaan wisata Toraja sehingga orang berbondong-bondong untuk datang ke Toraja. Kalo sebelumnya saya telah mengikuti dan memposting Glow In The Dark, Toraja Night Run sebagai salah satu rangkaian acara Lovely December, kali ini pun saya akan melanjutkan perjalanan saya mengikuti Lovely December.
Toraja Color Run (Sumber : IG color_run_toraja_2016)

09 February 2017

Sebelumnya saya telah memposting tentang Promosi Wisata Toraja via Lovely December di Tana Toraja sebagai salah satu upaya pemerintah dan masyarakat untuk mempromosikan wisata Toraja. Banyak kegiatan yang dilaksanakan dalam memeriahkan acara tersebut, salah satunya adalah Toraja Night Run. Kali ini saya akan bercerita tentang Toraja Night Run yang saya ikuti.
Toraja Night Run (Sumber : http://www.torajanightrun.com/)

Karena kebetulan saat itu saya libur kerja, jadi saya sempatkan untuk pulang kampung ke Toraja, karena memang saya keturunan Toraja (bukan keturunan bangsawan yakkk). Setidaknya Toraja Night Run menjadi salah satu pilihan saya untuk mengisi liburan selama di Toraja dan mencoba untuk olahraga malam, lari malam (bukan lari dari kenyataan) meregangkan dan merelaksasikan otot kaki dan tubuh…

Jauh-jauh hari sebelum liburan, saya sudah mencari informasi di internet mengenai Lovely December 2016, dari rundown acara akan banyak kegiatan yang akan dilaksanakan. Salah satu pilihan saya adalah Toraja Night Run. Saya pun kemudian mencari informasi lebih detail, mencari di internet dan Instagram. Saya pun menemukan informasi yang saya butuhkan. Lewat akun instagram torajanightrun, kegiatan akan dilaksanakan tanggal 26 Desember 2016 start dan finish di Plaza Kolam Makale. Lokasi pelaksanaan tak masalah buat saya karena besar di Toraja, sehingga sudah tau lokasi.
Toraja Night Run (Sumber : http://www.torajanightrun.com/)

Dari informasi yang tertera di akun Instagram, ada 3 pilihan paket tiket, yakni Couple Pack seharga Rp. 250.000, Vip Pack seharga Rp. 175.000 dan Reguler Pack seharga Rp. 100.000. Karena berbagai pertimbangan, saya tidak punya pasangan untuk pergi alias couple maka pilihan Couple Pack diblacklist, begitupun dengan paket Vip Pack karena gak suka yang berbau-bau vip dan hemat dana. Akhirnya pilihan saya jatuh ke Reguler Pack, harganya yang terjangkau, sesuai denga isi kantong. Adapun isi paketannya, T-shirt, 5 Glow Stick, Glow Sun Glasses, Glow Powder, Glow Bracklet, Goddy Back dan BIB Number.

Informasi pelaksanaan, mulai dari tempat dan waktu pelaksanaan, harga dan paketan tiket sudah beres, tinggal sediakan uang dan pengambilan tiket. Rumah saya yang lumayan jauh dari kota, sekitar 7 km menjadi masalah untuk membeli tiket, malas jauh, jalanan dalam perbaikan  dan terkadang macet.
Isi paket Reguler Pack (Sumber : http://www.torajanightrun.com/)

Sampai hari H, tiket belum di tangan, tetapi jalan tetap terbuka.  Saat itu saya ada urusan ke kota. Sebelumnya tidak ada niat untuk membeli tiket karena sudah mau kegiatan, saya mencoba untuk registrasi online tapi lama dan ribet harus transfer dan sebagainya. Saya jalan-jalan sekitaran kolam makale dan saya pun melihat panitia Toraja Night Run masih sementara persiapan kegiatan nanti malam, untungnya di situ ada stand penjualan tiket, tanpa piker panjang saya pun menghampiri dan membeli tiket. Tiket sudah ditangan, saatnya kembali ke rumah untuk persiapan olahraga malam, night run.

Sore harinya, saya pun menuju lokasi kegiatan seorang diri tanpa teman. Namun keberuntungan masih di tangan saya, saat saya menuju stand pembelian tiket untuk melihat-lihat mungkin masih ada stick yang dijual, pada saat itu pula saya bertemu teman semasa SMP dulu, Ince dan Feni, mereka hanya berdua. Otomatis dong saya bergabung dengan mereka, daripada epes lari sendiri, malam lagi. Hehehehe….
Saya, Feni, Rince (Teman SMP)

Start pun di mulai, walapun sedikit ngaret. Rute Toraja Night Run berawal dari Plaza Kolam Makale-Jln. To’ Kaluku-Terminal Makale-Putar di Pengadilan-Plaza Kolam Makale, jaraknya sekitar 5 km. Tapi yang aneh disini, namanya Night Run, tetapi kebanyakan peserta, termasuk saya malah jalan harusnya dinamakan Night Walk. Banyaknya debu karena jalanan sementara diberbaiki menjadi salah satu alasan peserta jalan bukannya lari di samping malas dan takut jatuh karena malam walaupun lampu jalanan cukup membantu pengilhatan.
Glow in the dark

Jalanan Kota Makale malam hari dipenuhi orang berbaju putih (pastinya masih menyentuh tanah), semua warna warni, mulai dari glow stick warna warni, bracelet warna warni, powder warna warni sampai kacamata warna warni, pemandangan yang menjadi pusat perhatian bagi pengendara motor dan mobil yang masih berlalu lalang. Tak tau berapa jam sehingga kami pun sampai di garis finish, di depan panggung Toraja Night Run. Tak terasa, keringat pun sedikit yang keluar, karena malam hari plus kebanyakan jalan bukan lari.

Selanjutnya peserta di ajak untuk Tari Zumba yang memang dimasukkan oleh panitia menjadi salah satu agenda. Bergoyang ala-ala Zumba, dihiasi taburan glow powder yang sengaja di buang paniti untuk menambah kemeriahan Toraja Night Run.
Zumba

Acara pembagian door prize. Waktu yang sudah malam dan perut melilit karena kelaparan, kami menuju warung penjual bakso b*** untuk makan malam, kembali mengisi energi yang terkuras (walaupun tak banyak). Setelah itu menuju parkiran untuk ambil motor dan pulang ke rumah.
Harus ambil moment

Ambil moment lagi

Sebenarnya masih ada acara yang disiapkan panitia, yakni Pertunjukan Teater Tari Pongtiku. Tetapi karena sudah malam jadi kami tidak sempat untuk menikmati pertunjukkan tersebut, rumah juga jauh….
Pertunjukan Teater Tari Pongtiku

Ini cerita saya di Toraja Night Run, mana ceritamu ??? Hehehe
Toraja memang tak habis-habisnya untuk mempromosikan sektor pariwisata
Masyarakatnya pun sangat mendukung
Harus ke Toraja, Toraja menyimpan banyak harta wisata yang tak kalah dari daerah lain

Meoli ko Toraya. Ahihihihiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii

08 February 2017

Indonesia sebagai negara kepulauan sudah tentu dianugrahi potensi laut yang memukau., terbentang dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote. Tersimpan berbagai spesies biota laut dengan bentuk, warna dan ukuran didalamnya. Mulai dari ukuran yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang sampai ukuran yang super besar. Ada plankton, karang, ikan, dan mamalia.

Keindahan tersebut tidak lepas dari masalah yang sering dihadapi oleh hewan laut, seperti penangkapan ikan dengan menggunakan bom dan potassium, pengambilan telur penyu untuk konsumsi, sampah dan limbah yang dibuang ke laut, dan masih banyak lagi..

Lumba-lumba sebagai mamalia laut pun tak luput dari ancaman… Apakah anda setuju dengan sirkus lumba-lumba ??? Memindahkan lumba-lumba ke habitat buatan yang pastinya berbeda kondisi lingkungannya ??? Membiarkan lumba-lumba jauh dari habitat aslinya ??? Menonton lumba-lumba mungkin memang menyenangkan bagi kita, tetapi bagi lumba-lumba sebagai objek tontonan apakah menyenangkan juga ??? Tentu tidak… Layaknya kita yang dipindahkan dari daratan ke lautan sebagai tontonan hewan laut, pasti tidak menyenangkan. Lebih baik membiarkan lumba-lumba hidup di perairan terbuka, jika ingin menonton datang langsung ke lautaan. Sembari menonton lumba-lumba, kita juga bisa menikmati pemandangan laut…

Terus apa yang harus kita lakukan… Say No To Dolphins Circus !!!!! Say No To Dolphins Show !!!!! Save Dolphins !!!!! Jangan Menonton Dan Katakan Stop Untuk Sirkus Lumba-Lumba !!!!!


01 February 2017

Siapa yang tidak kenal dengan Toraja, bahkan sampai ke luar negeri pun Toraja di kenal. Siapa yang tidak ingin ke Toraja, semua pasti mau. Toraja sebagai salah satu kabupaten yang ada di Sulawesi Selatan dengan waktu tempuh sekitar 8- 10 jam dari Makassar via darat.

Toraja ibarat surga titipan Tuhan di Indonesia yang menyimpan keindahan alam dan kekayaan budaya yang luar biasa dan nggak ada di belahan dunia manapun. Karena itu, jangan mati sebelum ke Toraja

Inilah kutipan dari Bapak Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Sulawesi Selatan. Memang iya harus ke Toraja ??? Apa saja yang menjadi daya trik, sehingga orang berbondong-bondong ingin menginjakkan kaki di Toraja ??? Bahkan Gubernur SulSel mengatakan hal demikian ???
Patung Lakipadada

Tak perlu diragukan lagi. Toraja menyimpan beragam destinasi wisata yang unik dan patut diacungi jempol. Bahkan Toraja menjadi andalan pariwisata Indonesia, selain Bali. Banyak hal yang anda akan dapatkan ketika berkunjung ke Toraja. Budaya, salah satu yang terkenal adalah Rabu Solo’ (Pesta Kematian), dimana bagi orang Toraja yang memiliki darah bangsawan atapun ditunjang dengan perekonomian yang memadai, tak tanggung-tanggung mengeluarkan uang yang banyak untuk membeli kerbau, babi dan sebagainya. Tetapi disini juga terlihat kebersamaan, rasa kekeluargaan suku Toraja. Kuburan Batu, Beberapa orang Toraja dikubur di dalam batu yang telah dipahat atau menggantung di batu, semakin tinggi letak kuburan, maka strata sosial orang tersebut semakin tinggi. Ini bisa ditemukan di objek wisata Ke’te’ Kesu’ dan Lemo.

Selain Pulau Biak yang terletak di sekitaran Teluk Cendrawasih dan membentang di Samudra Pasifik, terdapat sebuah pulau yang hanya terpisah beberapa meter dari Pulau Biak. Iyaaaa. Pulau Supiori, pulau ini hanya dipisahkan dengan jembatan sepanjang 100 meter dengan Pulau Biak, di atas Selat Sorendiweri. Walaupun katanya tak seramai Biak (padahal Biak tak seramai yang kalian bayangkan… hehehehe… coba saja buktikan), tapi jangan salah dengan Supiori. Kalau sudah jalan-jalan ke Biak, sempatkanlah untuk melanjutkan perjalanan dan berkunjung ke Supiori. Supiori pun menyajikan keindahan yang tidak terhitung.
Salah satu pemandangan Supiori

Transportasi ke Supiori bisa via darat dari Biak dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Jangan khawatir jalanan Biak-Supiori sudah bersahabat, jalan beraspal. Inilah salah satu hal yang menarik perhatian saya selama berada di Biak, jalanan sudah sampai ke pelosok-pelosok. 

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

-Nando Torajanese||Traveler|| Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Ingin keliling Indonesia dan bisa menginjakkan kaki ke beberapa negara

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts