10 December 2016

Pendidikan adalah hal yang sangat penting untuk kemajuan suatu bangsa. Pendidikan yang bermutu akan menghasilkan bibit-bibit penerus yang bermutu pula. Begitu pun dengan negara kita tercinta, Indonesia. Pendidikan menjadi perhatian yang sangat besar dari pemerintahan sejak dari dulu. Hal ini bisa dibuktikan dengan beberapa kebijakan yang diambil, seperti wajib belajar sembilan tahun, biaya pendidikan gratis dari jenjang Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP), anggaran pendidikan yang tinggi, penerimaan tenaga pengajar yang tergolong banyak dibanding dengan instansi lainnya, adanya dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah), dan masih banyak lagi.
Foto dulu....

Namun yang perlu dipertanyakan dan dilihat secara keseluruhan. Apakah dengan berbagai macam kebijakan tersebut ??? Apakah mungkin keputusan yang diambil tersebut, pendidikan di Indonesia sudah bermutu ???. Beberapa dari kita akan menjawab iya dan sebagian besar menjawab tidak. Iya ketika kita tinggal di daerah perkotaan atau daerah yang benar-benar memiliki sistem pendidikan yang berkualitas, sedangkan tidak bagi kita yang tinggal di daerah pelosok tanah air ini yang melihat secara langsung proses pendidikan yang berjalan. Papua sebagai wilayah timur Indonesia menjadi sorotan dan perhatian bagi kita semua ketika berbicara mengenai ketertinggalan bukan hanya tertinggal dari segi infrastruktur maupun sumberdaya manusia, kesehatan bahkan pendidikan.

25 November 2016

Kali Biru atau Kalibiru, tulisannya pisah atau bersambung… Entahlah… yang penting ini bukan Kalibiru di Yogyakarta. Kali Biru di Biak beda, kalo di Jogja adanya di daerah pegunungan dan pemandangannya berupa Dana, tetapi Kali Biru di Biak adanya disekitaran daerah laut dan pemandangannya berupa goa yang didalamnya terdapat air, seperti kolam renang dengan air yang berwarna biru, itulah namanya disebut Goa Kali Biru atau Kolam Biru Warmbekra.
Birunya, Goa Kali Biru

Letaknya tak jauh dari Kota Biak, tepatnya berada di Kampung Paray, Distrik Biak Kota. Sekitar 20 menit menggunakan kendaraaan. Sebenarnya untuk menemukan tempat ini tidaklah susah karena lokasinya di pinggir jalan. Namun karena tak ada papan petunjuk, sehingga menyulitkan wisatawan untuk menemukan Goa Kali Biru.

18 November 2016



Biak memang menjadi saksi bisu Perang Dunia (PD) Ke-II. Peninggalan sejarah perang dunia ini bertaburan di tanah ini. Sebut saja Goa Jepang, salah satu destinasi wisata sejarah di Biak. Tempat ini menyimpan berbagai peninggalan PD II, seperti rudal, topi tentara, bahkan beberapa tulang belulang korban perang masih tersimpan disini (seperti tulisan saya sebelumnya). Tak hanya itu, beberapa foto menunjukkan proses upacara pembakaran tulang belulang dan pemisahan tulang dari arang yang dilakukan oleh keluarga korban yang rela datang ke Indonesia dan dibantu oleh beberapa warga sekitar. Perang sengit ini memakan banyak korban dari pihak Jepang dan Amerika yang berseteru.
Monumen PD Ke II

Nah… untuk menghormati dan menghargai perjuangan mereka, walaupun bukan orang Indonesia. Maka di Biak pun di bangun sebuah monumen yang diberi nama “Monumen Perang Dunia Ke-II”. Terletak di Kampung Paray, Distrik Biak Kota. Untuk mencapai tempat ini cuman membutuhkan waktu sekitar 20 menit. 

11 November 2016

Indonesia menjadi salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang pernah merasakan getirnya penjajahan. Perjalanan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan tidak terlepas dari jasa para pahlawan, itulah sebabnya untuk memberi penghormatan dan dedikasi bagi para pahlawan yang gugur, tepat tanggal 10 November setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Pahlawan.
Peninggalan sejarah

Ketika kita kembali ke puluhan tahun silam saat Indonesia masih terjajah, negara datang ke Indonesia untuk menikmati dan menguras kekayaan sumber daya alam yang ada. Tidak sampai disitu, penjajah pun menguras tenaga pribumi untuk dijadikan sebagai pekerja dengan sistem yang tak seperti sekarang ini, sistem kerja paksa. Namun negara penjajah tidak tenang begitu saja, masih banyak negara yang ingin berkuasa di tanah Indonesia, sebut saja Portugis, Belanda dan beberapa negara lainnya.

06 November 2016

Tulisan ini berisi cerita ketika mengikuti perjalanan perayaan HUT Kemerdekaan RI ke-71 di salah satu pulau kecil di Indonesia….. Cerita berawal ketika saya bekerja di Biak, Papua.

Kemeriahan kemerdekaan tak hanya dirasakan ketika berada di kota besar di tengah suasana riuh, akan tetapi kemeriahan tersebut pun dapat terasa ditengah kesunyian pelosok negeri ini. Semangat kemerdekaan tak hanya terlihat di tengah kelimpahan, akan tetapi semangat tersebut masih bisa terlihat ditengah keterbatasan negeri ini.

03 November 2016

Setelah menikmati Air Terjun Wafsarak, kami kembali ke Kota Biak. Karena dalam perjalanan menuju kota, pasti melewati salah satu tempat wisata maka kami berinisatif untuk singgah. Namanya, Pantai Wari.
Pantai Wari


Tak perlu susah payah untuk menemukan pantai ini dikarenakan letaknya yang strategis, di pinggir jalan raya. Pantai Wari terletak di Desa Warsa, Biak Utara. Kurang lebih 1 jam dari Kota Biak. Jalanan menuju pantai ini tergolong bagus dengan jalan beraspal, namun tetap hati-hati karena bisa saja ada hewan yang berkeliaran di jalanan. Jika tertabrak akan mendapat sanksi adat (keistimewaan Papua).

15 October 2016

Perjalanan pun kami lanjutkan setelah dari Batu Picah. Jalanan yang mendukung dan pastinya cuaca. Tak jauh dari tempat wisata sebelumnya hanya sekitar 30 menit, kami sampai di Air Terjun Wafsarak. Seperti Batu Picah, tak susah untuk menemukan lokasi air terjun ini karena letaknya yang tak jauh dari jalan raya, ditambah papan bertuliskan “Badan Pengelola Objek Wisata Bahari & Air Terjun WAFSARAK” berdiri di pinggir jalan yang memudahkan para pengunjung. Air Terjun Wafsarak terletak di Kampung Amoi, Distrik Warsa.
 Gerbang  Air Terjun Wafsarak

Memasuki kawasan air terjun, seperti di Batu Picah tak ada pengelola yang menjaga pintu masuk sehingga kami tak membayar alias free. Walaupun begitu, seharusnya beberapa pengelola diberikan tugas untuk berjaga, setidaknya menyodorkan tiket masuk untuk mendukung pengelolaan air terjun sekaligus menyediakan buku tamu yang nantinya digunakan untuk melihat seberapa banyak wisatawan yang berkunjung tiap hari. Tapi itu hanya harapan saya.

04 October 2016

Hari-hari berikutnya di Biak tak saya sia-siakan. Menjelajah tempat wisata dan pastinya menarik untuk dikunjungi. Waktu yang tepat untuk liburan hanya pada hari libur kantor (Sabtu dan Minggu) atau hari raya lainnya. Itu pun kalau ada motor kantor, ada kemauan, dan cuaca mendukung untuk jalan-jalan serta ada teman. Kali ini semua hal tersebut tersusun dengan rapi. Petualangan pun di mulai...

Bersama dengan teman kantor (Agusto), kami pun memantapkan langkah dan roda motor untuk menuju ke Batu Picah. Informasi destinasi wisata ini saya dapatkan dari salah satu akun instagram yang memposting tempat wisata di Biak. Dengan menggunakan motor, kami pun memulai perjalanan.
 
Jalan menuju Batu Picah


30 September 2016

Papua sebagai pulau yang berada di belahan timur Indonesia tentunya menyimpan sejuta tempat-tempat indah yang wajib dikunjungi bagi para traveler. Tak ketinggalan wisata alam lautnya, semua orang pasti mengenal Raja Ampat yang terletak di Provinsi Papua Barat. Tempat ini menjadi surga bagi para pecinta alam laut dengan pulau-pulau kecil yang menawan dan tersusun rapi di perairan Raja Ampat. Namun ternyata di Papua bukan hanya Raja Ampat yang memiliki keindahan alam laut yang luar biasa, salah satunya adalah Biak Numfor.
TWP Padaido

Biak Numfor merupakan salah satu kabupaten yang masuk ke dalam pemerintahan Provinsi Papua yang beribukota Biak. Biak Numfor terpisah dari daratan utama Papua yang berada di Teluk Cendrawasih. Mungkin hanya beberapa orang yang tahu kalau Biak memiliki salah satu kepulauan yang tak kalah dari Raja Ampat. Kepulauan Padaido namanya, terletak di bagian tenggara pulau Biak. Terbagi ke dalam 2 distrik yakni Distrik Padaido atau biasa disebut Padaido Bawah yang lebih dekat dengan daratan Biak dan Distrik Aimando atau Padaido Atas lebih jauh dari daratan Biak. Kepulauan Padaido terdiri dari sekitar 30an pulau, tetapi yang berpenduduk hanya 8 pulau dari dua distrik.


18 September 2016

Laut Indonesia memang luas, itu hal yang tak bisa dipungkiri lagi. Bayangkan luas laut Indonesia sekitar 2/3 dari luas seluruh wilayah Indonesia, sedangkan luas daratannya hanya 1/3. Inilah salah satu alasan yang menjadikan Indonesia patut dijuluki sebagai negara maritim terbesar di dunia. Laut Indonesia menyimpan banyak kekayaan dan keindahan, kaya akan terumbu karang yang masuk ke dalam coral triangle, kaya akan hewan endemik, kaya akan biota laut lainnya yang kesemuanya ini menambah indahnya alam laut Indonesia. Disamping itu, Indonesia kaya akan pulau-pulau membentuk kepulauan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote.
 
Taman Wisata Perairan Kepulauan Padaido

Salah satu kepulauan yang dimiliki Indonesia adalah Kepulauan Padaido. Kepulauan ini masuk ke dalam Kawasan Konservasi Perairan... Kawasan Konservasi Perairan ??? Mungkin beberapa di antara kita bertanya apa itu kawasan konservasi... Saya sedikit menjelaskan dari beberapa sumber yang saya baca.

07 September 2016

Sampailah saya di Biak setelah perjalanan dari Makassar. Biak merupakan wilayah yang masuk ke dalam pemerintahan Provinsi Papua. Walaupun pulau tersendiri, terpisah dari daratan utama Papua yang terdiri dari 2 kabupaten, yakni Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Supriori. Tujuan saya ke Kota Biak, Kab. Biak Numfor tempat saya bekerja (pekerjaan nanti saya akan tulis di post selanjutnya)

06 September 2016

Satu tahun bekerja di Kupang, saatnya saya dipindahkan ke Satuan Kerja di Biak, Papua. Perjalanan saya dari Kupang ke Biak tidak langsung, tetapi transit di Makassar beberapa hari karena hari libur. Perjalanan pagi dari Kupang sampe sore di Makassar. Menuju rumah sepupu untuk tinggal sekalian ketemu keluarga selama beberapa hari di Makassar.
 
Anjungan Pantai Losari

Walaupun hanya beberapa hari, ini pun saya manfaatkan untuk bertemu dengan teman-teman selama kurang lebih 4 tahun di Makassar, Kota Para Daeng. Bertemu dengan teman kuliah dan membuat acara makan-makan (yang traktir bukan saya tapi teman). Soalnya tanggal tua.... Hehehe...

Mencari buku di Gramedia, Makassar Town Square atau disingkat MTOS. Salah satu pusat perbelanjaan modern (mall) di Makassar yang banyak dikunjungi para pelancong karena letaknya yang strategis. Disamping itu, saya pun berkesempatan untuk makan malam bersama teman SMA (cuman 2 orang) sekaligus teman satu kampus saat kuliah walaupun beda fakultas dan jurusan...

05 September 2016

Setelah perjalanan dari Waerebo pada tulisan Petualangan Seru di Waerebo. Saya nebeng di salah satu rombongan yang akan menuju Labuan Bajo, Kab. Manggarai Barat yang nantinya akan melewati jalan ke arah Ruteng.... Kami pun berangkat menggunakan mobil... Setelah beberapa menit, sampailah kami di pangkalan ojek... Saya turun di situ untuk melanjutkan perjalanan ke Ruteng, sedangkan mereka melanjutkan perjalanan ke Labuan Bajo.

Saya menggunakan ojek dengan didahului tawar menawar. Kami pun sepakat sewa Rp. 150.000 sampai dipertigaan Ruteng-Dintor-Labuan Bajo. Perjalanan tergolong lama ditambah lagi beberapa jalanan yang belum di aspal, jalanan berkelok-kelok, penurunan dan tanjakan.

Sesampai dipertigaan, saya bertanya kendaraan menuju Ruteng ke beberapa penduduk yang sedang menunggu kendaraan, kebanyakan dari mereka akan menuju Labuan Bajo yang berlawanan arah dengan tujuan saya. Mereka mengatakan bahwa kendaraan ke Ruteng banyak, tinggal menunggu saja di pinggir jalan. Saya pun berjalan-jalan sedikit ke depan dan tak lama kendaraan umum (angkot) muncul dan saya naik. Suasana dalam angkot sangat padat. Perjalanan menuju Ruteng sekitar 30 menit.

24 August 2016

Sebelumnya saya telah menulis tentang apa yang “Perlu Diketahui Tentang Waerebo”. Inilah petualangan saya di Waerebo...
Waerebo

Setelah dari Pulau Nuca Molas, saya dan kedua teman kembali ke penginapan untuk bersiap-siap meninggalkan penginapan. Dengan penuh keberanian dan kemauan yang tinggi, saya ingin sekali mengunjungi Waerebo. Berbagai pertimbangan pun muncul, sehingga saya mengambil keputusan untuk ke Waerebo seorang diri, sedangkan kedua teman saya yang bersama-sama selama kegiatan dari Labuan Bajo sampai di Nuca Molas kembali ke tempat mereka masing-masing.
Waerebo Lodge

22 August 2016

Siapa yang pernah mendengar kata Waerebo ??? Siapa yang ingin  dan sudah pernah ke Waerebo ??? Apa saja yang didapatkan ketika berkunjung ke Waerebo ??? Mengapa orang ingin ke Waerebo ??? Adakah cerita-cerita yang tersimpan dari history of Waerebo... Inilah beberapa pertanyaan yang terlintas di benak saya ketika membaca mendengar dan membaca beberapa tulisan tentang Waerebo. Sebuah tulisan mengungkapkan bahwa “Waerebo lebih dulu dunia (red. luar negeri) ketimbang di dalam negeri”.... Rasa penasaran dan ingin tahu tentang dan petualangan menuju Waerebo muncul ketika membaca cerita-cerita orang.... Ingin rasanya untuk bisa menikmati Waerebo secara langsung....
Waerebo

Kesempatan pun saya dapatkan untuk menginjakkan kaki secara langsung, merasakan nuansa dan melihat kehidupan masyarakat Waerebo... Sekembalinya kami dari Pulau Nuca Molas, saya pun dengan penuh semangat dan keinginan untuk mengunjungi Waerebo. Kedua teman saya kembali, saya hanya seorang diri untuk melanjutkan perjalanan, dengan berbagai pertimbangan saya pun mengambil keputusan untuk harus berpetualangan ke Waerebo.. 


16 August 2016

Perjalanan saya ke Pulau Nuca Molas berawal ketika ada kegiatan dari kantor......
Pulau Nuca Molas


Berangkat via udara dari Bandara El Tari, Kota Kupang menuju Bandar Udara Komodo di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat. Setelah sampai di bandara Komodo, kami melanjutkan perjalanan menyusuri daratan Folres dari Kabupaten Manggarai Barat ke arah Kabupaten Manggarai dengan menggunakan motor...

12 August 2016

Sebelumnya petualangan ala Backpacker di Bandung (Part 1) telah saya ceritakan, semalaman beristirahat. Paginya kami pun bersiap-siap untuk melanjutkan petualangan kami yang kedua dan terakhir sebelum beranjak dari Bandung. Check out dari penginapan, memesan ojek online dan menuju tujuan pertama kami, Museum Geologi. Menggunakan ojek online dengan biaya sekitar Rp. 15.000, kami pun meluncur.
Museum Geologi

Di depan museum terdapat beberapa barang yang dipamerkan, seperti  sebuah pin bowling raksasa berwarna hitam berdiri dengan kokoh. Menuju loket pembelian tiket, kami pun membayar sekitar Rp. 5.000 dan masuk ke museum, kami pun menitipkan barang-barang kami ke tempat penitipan barang untuk mengurangi beban yang kami bawa. Memasuki museum para pengunjung akan di sambut sebuah koleksi berukuran besar berupa kerangka gajah.
Kerangka Gajah

10 August 2016

Sehabis Cerita dari Prajabatan (Seminar Hasil dan Penutupan) di Sukamandi, esoknya saya dan seorang teman (Mas Ulung) berangkat menuju Bandung menggunakan bus dari Cidopo. Perjalanan disekitar 4 jam, selama perjalanan sebagaian besar yang saya lakukan adalah tidur di atas bus. Sampailah kami di Terminal Bus Leuwi Panjang, suasana tidak terlalu ramai. Dari sini, kami melanjutkan perjalanan ke tempat penginapan yang sebelumnya telah saya cari di om google menggunakan ojek online. Namun di tengah perjalanan, motor yang saya pakai bermasalah (ban bocor), sementara teman saya sudah duluan. Berbekal om maps saya menuju penginapan dengan berjalan kaki mengingat jarak yang tidak terlalu jauh dari tempat saya berhenti sekaligus berhemat walaupun tak seberapa.

Sekitar 10 menit, tibalah saya di penginapan “Araya Huis Homestay”. Sebelumnya teman saya sudah check in kamar dan kami memilih kamar yang cukup murah seharga Rp. 100.000/malam, pertimbangan hanya untuk menginap semalam dan sekali lagi berhemat. Kamar yang kami pesan hanya terdiri dari 1 kasur, jadinya kami harus share kasur…. Letak Homestay ini di Jalan Belakang Pasar, Kebon Jeruk, Andir.

Setelah beristirahat sejenak, kami pun memulai perjalanan kami di Bandung. Tujuan pertama kami adalah Farm House, salah satu wisata yang saat ini sangat popular di Bandung. Mengingat karena waktu sudah sore dan jika kami naik kendaraan umum alias angkot mungkin kami masih dalam perjalanan Farm House sudah tutup, maka kami menggunakan ojek online. Letaknya yang di daratan tinggi, maka tanjakan dan udara yang sejuk ditambah hujan rintik-rintik menemani perjalanan kami. Sekitar 30 menit perjalanan, sampailah kami di Farm House
Petunjuk Arah Farm House

03 August 2016

Sebelum melanjutkan petualangan ke Bandung, ternyata saya lupa tulisan ini… Tulisan wajib bagi para backpacker yang ingin melakukan traveling ke Jakarta dan memiliki dana yang terbatas. Salah satu pilihan penginapan yang relatif murah, tetapi fasilitas dan pelayanannya tidak murahan. Tak perlu khawatir penginapan ini asik dan unik.

Traveling menjadi salah satu kebutuhan di era sekarang ini. Hal ini pun tak terbatas pada usia tertentu, mulai dari anak-anak, orang dewasa sampai orang lanjut usia, baik wanita maupun pria bisa melakukan kegiatan traveling. Setiap orang memiliki alasan yang berbeda-beda mengapa melakukan traveling, ada yang ingin menghilangkan rasa lelah selama melakukan rutinitas di kantor, mengusir rasa bosan, menghilangkan stress, ingin menikmati alam, dan masih banyak lagi.
Six Degrees Backpackers Hostel


Banyak orang berpikir bahwa kebanyakan traveling akan menghambur-hamburkan atau menghabiskan uang. Tetapi itu tidak selamanya bisa dibenarkan, tergantung orang yang melakukan traveling dan tipe traveling yang dilakukan. Salah satu tipe traveling yang bisa di kata hemat dan mengeluarkan sedikit biaya adalah traveling ala Backpacker.

02 August 2016

Tahap ini adalah Tahap III sekaligus tahap terakhir dari diklat Pra Jabatan, sebelumnya Tahap I (On Campus) terima materi di BDA Sukamandi, Tahap II (Off Campus) magang di Jakarta, dan Tahap III kembali ke BDA Sukamandi presentasi hasil aktualisasi). Tahap III ini dijadwalkan selama 4 hari dari 21–24 Juni 2016 termasuk penutupan.

Setelah kegiatan Off Campus yaitu aktualisasi nilai dasar ANEKA selesai, kami para peserta Prajabatan kembali ke BDA (Balai Diklat Aparatur) Sukamandi untuk melakukan seminar hasil aktualisasi.

21 Juni 2016, berangkat dari Jakarta (Stasiun Gondangdia) menuju Stasiun Cawang dan melanjutkan dengan numpang mobil teman (Mas Danang) seangkatan prajabatan bersama 2 teman lainnya (Bang Rodo dan Mbak Ratih). Berangkatlah kami ke Sukamandi.


Komunitas yang satu ini tak kalah keren dari komunitas yang lain. Berawal dari  akun inspirasi dengan memberitakan realita pendidikan pedalaman Indonesia sampai membentuk komunitas dengan melakukan aksi nyata secara langsung di lapangan. Komunitas tersebut didirikan oleh Jemi Ngadiono dan diberi nama 1000 guru. Beberapa kegiatan dari komunitas ini, seperti Traveling and Teaching (TnT) kegiatan ini berupa mengajar dan jalan-jalan, Smart Center memberi makanan bergizi bagi anak-anak, dan beberapa kegiatan lainnya.

Kumpulan dari para pemuda dan yang pastinya masih berjiwa muda memberikan sesuatu yang berarti bagi pendidikan anak-anak di pedalaman. Melihat secara langsung, kondisi sekolah, kondisi guru, dan kondisi anak-anak yang boleh di kata tak seperti pendidikan di perkotaan. Namun, di sini bukan kekurangan tersebut yang kami lihat, tetapi semangat anak-anak dalam mengejar cita-cita walaupun dalam berbagai kekurangan tersebut. Membagikan ilmu, menumbuhkan semangat, memberi inspirasi bagi anak-anak, serta menyisihkan sedikit berkat bagi anak-anak di pedalaman dengan berbagi donasi beberapa hal yang kami berikan kepada mereka sebagai rasa peduli.


21 July 2016



Setelah kegiatan On Campus dan presentasi rancangan aktualisasi selesai, maka kami peserta diklat prajabatan kembali ke tempat asal kami (bukan pulang kampung ya). Beberapa kembali ke tempat kerja dan beberapa yang lain memilih magang di tempat terdekat. Termasuk saya memilih magang di Jakarta selama 2 minggu, daripada kembali ke Kupang (hemat tenaga terlebih hemat biaya) dan itu pun sudah disetujui oleh atasan di Kupang.
Presentasi rancangan aktualisasi

Dari Sukamandi sampai di Jakarta

Berangkat dari Sukamandi menggunakan mobil rental bersama teman menuju Jakarta. Karena macet maka kami sampe di Jakarta malam hari tepat di Stasiun Gambir. Bertemu teman saat kuliah menuju tempat tinggal saya di Jakarta

14 July 2016


Setelah backpackeran dari Semarang dan Yogyakarta. Melanjutkan kegiatan mengikuti diklat Prajabatan salah satu instansi pemerintah. Dikarenakan sebelum saya backpackeran, barang-barang saya titipkan ke teman di Jakarta, maka saya kembali ke Jakarta dulu sebelum menuju tempat pelaksanaan diklat prajabatan.

Pelaksanaaan Prajabatan di Balai Diklat Aparatur (BDA) Sukamandi, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jl. Raya 2 Sukamandi, Ciasem – Subang, Jawa Barat. Diklat Pra Jabatan yang saya ikuti ini merupakan Angkatan VII dari VIII angkatan. Pra Jabatan terbagi menjadi dua tahapan, yakni On Campus di BDA Sukamandi dan Off Campus di tempat kerja atau tempat magang sesuai dengan unit kerja masing-masing. Tahapan On Campus Angkatan VII berlangsung dari tanggal 10 s/d 26 Mei 2016 dan 12 Juni s/d 15 Juni 2016 sedangkan tahapan Off Campus berlangsung dari  28 Mei s/d 11 Juni 2016.
Balai Diklat Apratur, Sukamandi

Tulisan ini akan menceritakan kegiatan kami selama On Campus

Tanggal 9 Mei 2016 pun, setelah dari Jakarta dan mengambil barang yang saya titipkan di teman sebelumnya, saya menuju Terminal Kampung Rambutan, Jakarta untuk mencari bus menuju BDA Sukamandi. Bus pun saya dapatkan dan sampai di Sukamandi sekitar jam 14.00. Beberapa peserta diklat lainnya yang sudah datang terlebih dahulu. Langsung registrasi dengan menyerahkan berkas yang telah disiapkan sebelumnya, kemudian menuju asrama untuk beristirahat sebelum melanjutkan kegiatan. Angkatan VII ini terdiri dari 35 orang dari KKP ditambah 1 orang dari BIN sehingga totalnya 36 orang yang berasal dari berbagai daerah, lokasi kerja tersebar dimana-mana, berbagai latar belakang pendidikan, memiliki sikap dan kebiasaan yang berbeda-beda pendidikan, tetapi kami di sini adalah satu. 
Peserta Prajabatan Angkatan VII

13 July 2016



Jumat, 8 Juli 2016 untuk mengisi kekosongan jadwal di penghujung liburan. Bersama dengan beberapa teman-teman dari komunitas 1000guru Kupang, kali ini tujuan kami ke arah selatan Pulau Timor. Menuju ke salah satu tempat yang kata teman yang ikut katanya bagus yang bernama Puncak Fatubrao.

Berangkat dari Kupang kearah Kabupaten Kupang, di Pasar Oesao belok kanan menuju Amarasi Selatan sebagai lokasi Puncak Fatubrao. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam dari Kota Kupang, jalanan mendukung untuk memperlambat perjalanan kami. Tanjakan, penurunan, jalan berkelok-kelok, berbatu-batu, tanah, berlubang menjadi teman perjalanan kami, jalan beraspal dan menyusuri pantai. Tak ayal saya pun sekali jatuh dari motor (katanya harus tulis dua kali jatuh, satunya lagi seorang kakak yang berniat menolong tapi malah menjatuhkan), walaupun tak parah dan pastinya tidak mengurangi semangat saya untuk sampai di puncak itu.

Setelah tiba ditempat terakhir yang dapat diakses oleh kendaraan, kami memarkir motor. Berjalan kaki sekitar 5 menit menuju Puncak Fatubrao. Puncak Fatubrao merupakan sebuah tebing batu yang apabila di atas puncak ini, kita akan melihat pemandangan yang luar biasa, perpaduan antara lautan dan pegunungan.
Jalan kaki menuju Puncak Fatubraon


12 July 2016



Setelah kegiatan Gerakan Pungut Pantai di Pantai Namosian, pada hari Sabtu, 9 Juli 2016, komunitas Beta NTT kembali melanjutkan kegiatan Tour. Kegiatan ini berlangsung pada hari Minggu, 10 Juli 2016 terbuka untuk umum. Dari pengumuman yang dipajang di beberapa media sosial, menginfokan bahwa tempat kumpul di depan LIPPO Kupang pukul 09.30 dengan konstribusi Rp. 25.000/peserta yang diperuntukkan untuk konsumsi dan transportasi. Adapun tempat yang akan dikunjungi adalah Gua Jepang dan Belanda, Mata Air Sagu dan Pantai Manikin.
Brosur Tour Beta NTT
(Sumber : FB Arianto)

Saya mengikuti kegiatan ini, berangkat dari kosan menuju meeting point menggunakan motor dan motornya diparkir di LIPPO agara aman saat ditinggalkan. Beberapa pengurus dan peserta sudah hadir serta sebuah bus sudah terparkir yang akan mengantarkan peserta tur ke tiga destinasi wisata yang ada di NTT.
Peserta Tour 



Salah satu tahapan yang diikuti oleh awardee LPDP adalah Persiapan Keberangkatan atau disingkat PK. Kegiatan ini menjadi tahapan untuk mempersiapkan diri bagi para penerima beasiswa. Salah satu kegiatan yang dilaksanakan dalam tahap ini adalah setiap angkatan mengadakan semacam kegiatan, seperti yang diadakan oleh PK-69 (Persiapan Keberangkatan Angkatan 69).
Balin Bahari

Kegiatan yang diberi nama “Pesta Wisata Bahari” dilaksanakan selama seharian pada Sabtu, 4 Juni 2016 pukul 08.00 s/d 15.30 bertempat di Wisma Hijau Kampus Diklat Bina Swadaya, Jl. Raya Bogor KM. 30, Mekarsari, Cimanggis, Depok. Kegiatan ini pun terbuka untuk umum dan tanpa dipungut biaya sepeser pun alias gratis.
Pesta Wisata Bahari 
(Sumber : IG @balinbahari)

11 July 2016



Siapa yang tidak ingin melanjutkan pendidikan ke jenjan yang lebih tinggi, baik S-2 maupun S-3. Semua orang mendambakan dan menginginkan serta berlomba-lomba untuk bisa melanjutkan pendidikan (termasuk saya). Baik itu mengambil pendidikan atau kuliah di dalam negeri maupun di luar negeri (lebih keren kalo di luar negeri). Saat ini beasiswa untuk melanjutkan pendidikan bertebaran dimana-mana baik beasiswa yang diberikan oleh pemerintah maupun pihak swasta bahkan ada tawaran beasiswa dari beberapa Negara bagi para pencari beasiswa di Indonesia.

Salah satu beasiswa bergengsi dan paling banyak diminati oleh para pencari beasiswa di Indonesia adalah Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP. Mungkin beberapa dari pembaca bertanya apa Beasiswa LPDP itu, apa persyaratannya dan bagaimana cara pendaftarannya serta apa tahap yang dilalui untuk mendapatkan beasiswa LPDP dan masih banyak lagi. Berikut saya akan menjelaskan sedikit tentang Beasiswa LPDP


09 July 2016



Tak semua perkataan orang sekarang tentang anak muda bisa dibenarkan. Beberapa orang yang lebih dewasa berpendapat bahwa anak muda zaman sekarang memiliki sikap dan sifat yang suka tidak peduli kepada sesama terlebih lingkungan, jalan-jalan ke tempat yang lebih modern, menghabiskan waktu berkutat dengan handphone. Namun masih ada segelintir anak muda yang mampu melakukan hal-hal yang bermanfaat dengan membentuk komunitas.

Selama saya berdomisili di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Kota Kupang ada beberapa komunitas yang dibentuk oleh orang-orang muda yang melakukan hal-hla yang positif. Saya merasa salut dan patut mengacungi jempol kepada mereka anak-anak muda yang masih peduli dengan keadaan sekitar dan memberi sedikit waktu dan pengetahuan untuk masyarakat dan lingkungan.

Salah satu lagi komunitas yang saya temui di Kupang, adalah Beta NTT. Slogan dari komunitas ini “Beta Bangga Beta NTT”. Komunitas ini lebih menitikberatkan kegiatan wisata atau tempat wisata yang ada di NTT. Mereka mengenalkan, menyadarkan dan membenahi destinasi wisata yang ada. Mengenalkan kepada publik, menyadarkan masyarakat (mulai dari anak-anak sampai orang tua) dan membenahi tempat wisata. Adapun ketua dari komunitas ini adalah Arianto S.
Beta NTT



Bangun pagi…..

Minggu, 8 Mei 2016. Bersiap untuk ibadah. Seperti hasil survey kemarin, gereja yang akan saya tempati beribadah di Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat “Marga Mulya” Yogyakarta yang terletak di Jl. Jend. Ahmad Yani No. 5, tak jauh dari tempat saya menginap, sehingga saya berjalan kaki.
GPIB Jemaat Marga Mulya

Sesampai di halaman gereja, jemaat belum ada yang datang, masih sepi, hanya majelis yang bertugas. Tertulis di papan pengumaman bahwa ibadah pagi mulai pukul 06.30, tetapi seorang majelis mengatakan bahwa ibadah jam 06.30, biasanya akan mulai pada pukul 07.00. Saya pun kembali ke jalanan sekitar Malioboro. Kebetulan karena hari minggu, maka kawasan Malioboro dijadikan warga sekitar untuk berolahraga, ada senam.
Senam Pagi di Jl. Malioboro

Saya kembali ke gereja, ibadah berjalan dengan kusyuk.
Warta Jemaat GPIB Jemaat "Marga Mulya"

Setelah ibadah selesai, saya pun kembali ke penginapan.  Tetapi sebelumnya saya berkunjung ke Pasar Beringharjo di Jl. Margo Mulyo untuk membeli oleh-oleh.
Pasar Beringharjo pada malam hari

Selanjutnya saya membeli sedikit kue khas Yogyakarta, seperti Bakpia, Ampyang dan beberapa kue lainnya.
Oleh-Oleh Yogyakarta

Kembali ke penginapan. Packing untuk menuju terminal Giwangan yang terletak di Giwangan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta untuk kembali ke Jakarta. Sebelumnya saya sudah membeli tiket Yogyakarta seharga Rp. 150.000 dengan menggunakan Bus Putra Bangsa. Bus akan berangkat pada pukul 15.36 dari Terminal Giwangan dan akan sampai di Jakarta esok hari.

Esoknya saya akan berangkat ke Sukamandi untuk mengikuti Diklat Prajabatan.

Cerita dan keseruan selama, Prajabatan akan saya muat di postingan berikutnya….



Lanjutan…….

Sehabis berkeliling di Museum Sonobudoyo, saya melanjutkan perjalanan ke Keraton yang berada tidak jauh dari museum hanya dibatasi oleh lapangan. Di tengah lapangan tersebut, terdapat 2 buah pohon beringin di samping kiri dan kanan yang di pagar, seperti gerbang masuk keraton.
Pohon Beringin

Tiket masuk keraton terbagi menjadi dua, yakni karcis masuk Tepas Kaprajuritan Karatan Ngayogyakarta sebesar Rp. 5.000/orang dan karcis izin video/foto Museum Siti Hinggil Pagelaran sebesar Rp. 2.000, jadi total Rp. 7.000.
Tiket Masuk Keraton

08 July 2016



Bangun pagi

Bersiap-siap menuju Candi Prambanan sesuai dengan rencana tadi malam bersama teman (dua bersaudara Pepi dan Hose). Perjalanan di mulai dari Halte Malioboro menggunakan Trans Jogja dan turun di Halte Prambanan dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Disini, saya kembali bertemu teman baru, seorang bule dan 2 orang Indonesia. Jika jalan kaki dapat ditempuh sekitar 10 menit. Di Halte Prambanan, beberapa pilihan transprotasi menuju Candi Prambanan, seperti becak motor, ojek atau andong. Kami pun (berempat)  bersepakat menggunakan andong menuju candi dengan biaya sekitar Rp. 20.000.
Candi Prambanan

Memasuki kompleks Candi Prambanan, kami berpisah. Saya masih menunggu teman (Pepi dan Hose) di loket pembelian tiket. Tak lama, mereka pun datang menggunakan motor. Kami menuju loket pembelian tiket . Harga tiket masuk Rp. 30.000 untuk orang dewasa dan Rp. 12.500 untuk anak-anak (3-6 tahun) ada juga harga untuk rombongan pelajar minimal 20 orang disertai surat dispensasi dikenakan biaya masuk sebesar Rp. 12.500/orang. Jam buka loket Candi Prambanan 06.00 – 17.15.
 
Salah Satu Sudut Kompleks Candi Prambanan

07 July 2016



Perjalanan dari Semarang menuju Yogyakarta menggunakan Semarjoglo terbilang cukup lama. Selama perjalanan saya kebanyakan tidur dibanding menikmati dan melihat pemandangan sekitar. Mungkin karena sedikit rasa lelah selama berjalan-jalan di Semarang. Jalanan sedikit macet dikarenakan hari ini liburan panjang sehingga orang-orang memilih untuk liburan dan Yogyakartalah pilihan kebanyakan orang, termasuk saya setelah Semarang.
Jalan Malioboro, Yogyakarta

Bus Semarjoglo yang mengantar kami tiba di perwakilan Yogyakarta malam hari, entah jam berapa saya lupa. Saya beristirahat sejenak dan bertanya kepada pegawai bus, masih ada Trans Jogja jam segini. Dia menjawab sudah tidak ada. Ada ojek yang menawarkan diri, namun harganya lumayan mahal, saya pun mengurungkan diri. Untungnya saya punya aplikasi ojek online, sehingga ini menjadi pilihan saya dan harganya pun lebih murah di banding ojek. Saya pun menuju pusat Kota Yogyakarta, Malioboro. Malioboro menjadi tujuan saya yang pertama sekaligus mencari penginapan. Menurut beberapa sumber informasi yang saya baca bahwa di Malioboro terdapat banyak penginapan dengan harga yang cukup miring.

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

-Nando Torajanese||Traveler|| Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Ingin keliling Indonesia dan bisa menginjakkan kaki ke beberapa negara

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts