21 November 2015

Bali... Kata yang tak asing bagi kita masyarakat Indonesia bahkan penduduk di luar Indonesia. Mendengar kata Bali pasti kita teringat akan pantainya, Pantai Kuta atau tariannya, Tari Kecak. Siapa yang tidak tahu Bali ??? Siapa yang tidak ingin ke Bali ??? Salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia dan sudah terkenal ke seantero dunia. Semua orang ingin mengunjungi tempat ini, tidak hanya mendengar cerita dari orang lain, tetapi melihat Bali lebih dekat.
 
Salah satu patung jalan di Bali 


20 November 2015

Setelah kegiatan lokakarya di Makassar selesai, saatnya semua peserta kembali ke daerah masing-masing, kecuali saya. Saya tidak langsung balik ke Kupang, tetapi saya memutuskan untuk tinggal beberapa hari di Makassar. Empat hari dari Rabu sampai Sabtu kesempatan saya untuk bertemu keluarga sekaligus berpetulangan di Makassar.

Makassar dengan julukan Kota Daeng yang menjadi salah satu kota metropolitan di Indonesia menyimpan berbagai destinasi wisata para pelancong, seperti wisata sejarah di Benteng Rotterdam dan Benteng Somba Opu, wisata pantai di Pantai Losari dan Tanjung Bayang, wisata pulau di Pulau Lae-lae dan Pulau Samalona, wisata kuliner di Daya Festival dan Anjungan Losari, wisata belanja tradisional di Pasar Butung dan wisata belanja modern di Mall Panakkukang dan Makassar Town Square, wisata religi di Gereja Katolik Kare dan Mesjid Raya serta masih banyak destinasi wisata yang tersedia di Makassar.

Dan inilah petualangan saya selama 4 hari di Makassar.....


19 November 2015

Lokakarya Penyusunan Roadmap dan Rencana Kerja Pengelolaan KKPN pada Wilayah Kerja pada Balai KKPN Kupang adalah salah satu program kerja dari Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang tempat saya bekerja. Program ini dimaksudkan untuk menyususn desain/roadmap dan rencana kerja pengelolaan efektif kawasan konservasi perairan nasional di wilayah kerja BKKPN tahun 2016-2019. Saya mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan ini

Kegiatan ini dilaksanakan Minggu-Rabu, 20-23 September 2015 di Makassar tepatnya di Hotel Swiss Belliny yang terletak di Jl. Boulevard Raya No. 55 Panakukkang.

Peserta dari BKKPN Kupang termasuk saya berangkat dari Bandara El Tari, Kupang transit ti Bandara Juanda, Surabaya kemudian menuju Bandar Udara Sultan Hasanuddin, Makassar. Perjalanan dari Kupang ke Surabaya sekitar 1 jam 45 menit dari pukul 06.30 dan tiba pukul 08.00. Dari Surabaya ke Makassar berangkat jam sekitar jam 13.00.

Setidaknya ada waktu 5 jam untuk ber-adventure dan mengeksplor Surabaya. Waktu tersebut tidak saya lewatkan begitu saja. Bersama Mas kodir (Teman Kantor), kami berpetulangan di Surabaya.

Berawal dari Bandara Juanda menggunakan Damri menuju Terminal Purabaya, waktu tempuh sekitar 15 menit dengan ongkos sekali jalan Rp. 25.000,-/orang. Dari terminal Purabaya perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan Bus sekitar 30 menit dengan ongkos Rp. 6.000,-/orang menuju Terminal Joyo Boyo. Dari Terminal Joyo Boyo, kami berjalan kaki menuju.....

Patung Sura dan Buaya. Lambang Surabaya yang terletak di Jl. Setail terdiri dari dua binantan, yakni Hiu dan Buaya yang saling menyerang. Patung ini menjadi landmark dan setiap wisatawan yang datang ke Surabaya harus menginjakkan kaki dan mengambil gambar di tempat ini, kalau tidak petulangan di Surabaya serasa tidak akan lengkap. Banyak orang berkunjung tidak hanya untuk berfoto tetapi ingin melihat lebih dekat icon Surabay ini. Bagi warga sekitar kesempatan ini tidak disia-siakan, mereka menawarkan jasa fotografi untuk menambah penghasilan. Saya pun tidak ketinggalan untuk berfoto ria, tetapi tidak menggunakan jasa fotografi tersebut, saya hanya meminta bantuan Mas Kodir.
 
Patung Sura dan Buaya


18 November 2015

Tata batas kembali berlanjut ke titik yang terakhir, Sulamu. Titik ini sebenarnya titik pertama tata batas, tetapi karena beberapa pertimbangan, seperti jarak yang relatif dekat dari Kota Kupang sehingga kami memilih titik ini sebagai titik terakhir untuk penandaan batas sementara. Sebenarnya titik ini tidak sedekat yang dibayangkan.

Terletak di Desa Sulamu, Kecamatan Sulamu, Kab. Kupang. Berangkat pada tanggal 19 September 2015 bersama Mas Boby, Pak Alex dan saya menggunakan motor gede.

Sebelum menuju titik, kami terlebih dahulu mengisi energi di Rumah Makan Pondok Jagung yang berada di Jl. Timor Raya Km. 29,5 Oesao. Menikmati sarapan dengan menu khas Nusa Tenggara Timur, Se'i B***, Jagung Bose, Jagung Katemak dan Ikan Lawar Sarden dengan harga yang cukup terjangkau mulai dari Rp. 5.000,- sampai Rp. 35.000,- dengan kualitas terjamin. Mungkin anda akan bertanya seperti apa makanan khas NTT tersebut. Tunggu saja, saya akan menjelaskan kepada anda, tetapi di tulisan yang akan datang ya... 

Kembali ke tata batas. Kami melanjutkan perjalanan menuju Sulamu. Jalanan yang sebagian besar belum di aspal menjadi tantangan sekaligus petualangan tersendiri bagi kami untuk tiba di titik Sulamu. Jalanan berbatu, berkerikil, pendakian, penurunan menyambut perjalanan kami. 
 
Jalan menuju titik sulamu


13 November 2015

Kawasan konservasi perairan (KKP) dikelola dengan sistem zonasi dan berperan dalam kelestarian sumber daya laut untuk kesejahteraan masyarakat. Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu merupakan salah satu KKP di bawah pengelolaan dan tanggung jawab Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang sebagai perpanjangan tangan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Salah satu kegiatan BKKPN Kupang adalah penataan batas TNP Laut Sawu sebagai akhir penetapan kawasan konservasi. Penataan batas kali ini berupa pemasangan tata batas sementara dan ground check.

Karena TNP Laut Sawu mencakup 10 kabupaten yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur, yakni Kabupaten Kupang, Kab. Timor Tengah Selatan, Kab. Sumba Timur, Kab. Sumba Tengah, Kab. Sumba Barat, Kab. Sumba Barat Daya, Kab. Rote Ndao, Kab. Sabu Raijua, Kab. Manggarai dan Kab. Manggarai Barat sehingga penataan batas terbagi ke dalam beberapa tim. Saya pun masuk ke dalam tim Kab. Kupang bagian Utara bersama Mas Boby, Kak Yosi dan Kak Vera (teman kantor) serta ikut bersama kami Pak Alex (Dosen Universitas Nusa Cendana). Sebanyak 7 titik penandaan batas sementara dan ground check yang masuk ke dalam Kab. Kupang bagian Utara, namun ada dua titik yang berdekatan sehingga hanya memilih satu titik dari kedua titik tersebut.

Berangkat menggunakan mobil ford everst, perjalanan beberapa jam melewati banyak sungai yang jalannya tidak dihubungkan dengan jembatan. Beruntung pelaksanaannya pada musim kemarau, sehingga sungai bisa dilalui kendaraan. Bayangkan kalau pada musim hujan. Mungkin kami bisa melewati sungai tetapi butuh pengorbanan yang lebih. Inilah tantangan tersendiri yang tim kami hadapi, tapi tidak mengurangi semangat kami untuk menyelesaikan tugas ini sekaligus ber-adventure.

Setelah beberapa jam, kami pun sampai... 

Titik I : Tuakau I. Sebelum menuju titik I, kami berkunjung ke kantor desa untuk minta izin sekaligus menginformasikan kegiatan yang akan kami lakukan. Kepala desa dengan antusias menyambut kedatangan kami dan mengutus seorang kepala dusun untuk menemani kami dalam penandaan batas. Titik ini dapat dijangkau dengan mobil dan hanya beberapa meter berjalan kaki untuk sampai di titik. Titik penandaan berpindah karena titik sebenarnya tidak memungkinkan untuk melakukan penandaan dengan menggunakan pilox. Penandaan baru menggunakan pilox orange pada pohon pandan. 
 
Titik Tuakau I


04 November 2015

Libur lebaran (idul fitri) hari yang ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia, bagi umat muslim menjadi hari kemenangan dan bagi non muslim termasuk saya menjadi libur panjang yang dapat dimanfaatkan untuk keluar dari rutinitas sehari-hari.
 
Sunset di salah satu sudut Kota Kupang


Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

-Nando Torajanese||Traveler|| Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Ingin keliling Indonesia dan bisa menginjakkan kaki ke beberapa negara

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts