28 October 2015



Indonesia memiliki keberagamannya dan kekayaan yang luar biasa. Tidak hanya kaya akan sumber daya alam tetapi kaya akan keberagaman. Beragam bahasa, beragam agama, beragam suku, beragam bahasa, dan beragam budaya. Keberagaman budaya beberapa wilayah di Indonesia telah terkenal ke seantero dunia, diantaranya pesta kematian Suku Toraja yang mendiami dataran tinggi (pegunungan) Sulawesi Selatan, tepatnya di dua kabupaten, yakni Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara. Tidak hanya di daerah tersebut Indonesia masih memiliki banyak budaya yang tergolong unik dan mungkin sebagain orang belum mengetahuinya.

Ini salah satunya…..


Ketika anda bertemu dengan seseorang, entah itu keluarga, sahabat, teman maupun pacar anda. Mungkin sebagai salam pertemuan, anda akan berjabat tangan dan cipika cipiki (cium pipi kanan-cium pipi kiri). Namun bagi saya dan mungkin anda itu adalah hal yang sudah biasa di kehidupan sehari-hari, kita sering melihat atau bahkan melakukannya.


Namun, jauh di kutub selatan Indonesia tepatnya di Pulau Timor dan sekitarnya, Provinsi Nusa Tenggara Timur terdapat sebuah budaya yang terbilang unik. Suku yang mendiami daerah ini memiliki salam pertemuan yang beda dari kebanyakan salam dari wilayah di Indonesia. Adat unik sebagai pesona indonesia tersebut bernama Cium Idung, tetapi ada beberapa masyarakat yang menyebutnya Cium SabuWalaupun bukan hanya Suku Sabu yang melakukan tradisi ini tetapi beberapa suku, diantaranya Suku Rote dan Suku Sumba yang mendiami Pulau Timor dan sekitarnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Mungkin anda bertanya... Bagaimana Cium Idung tersebut ???... Apa yang membedakan dengan cium pertemuan di daerah Indonesia yang lainnya ???...


Perjalanan hidup saya berlanjut ke salah satu daerah bagian timur Indonesia tepatnya di Kupang dan sekitarnya, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah selesai orientasi kantor di Jakarta dan orientasi lapangan di Lombok, setiap pegawai baru Kementerian Kelautan dan Perikanan di sebar ke tempat tugas masing-masing tergantung pilihan pada saat pendaftaran penerimaan pegawai, aday yang tetap di Jakarta, ada yang ke Sorong, Pekanbaru, Makassar, Bali dan beberapa daerah di Indonesia.

Berhubung saya memilih penempatan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang Satker Padaido Biak, maka saya ke Kupang terlebih dahulu sebelum ke Satker (Entah kapan ke Satker belum tau pasti....)

Saya masih ingat betul waktu keberangkat saya ke Kupang tepat pada hari Minggu, 14 Juni 2015. Berangkat dari Bandara Sokarno Hatta, Jakarta, transit di Bandara Juanda, Surabaya, kemudian sampailah saya di Bandara El Tari, Kupang. Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Kupang. Sebelum pesawat landing, saya sempat melihat pemandangan malam hari Kupang dari atas pesawat. Terlintas dalam benak saya ketika melihat pemandangan tersebut pemikiran bahwa Kupang masih tergolong ramai dengan melihat lampu jalanan dan rumah penduduk serta lalu-lalang kendaraan. Semoga saja seperti itu, tapi kalau pun tidak ramai... Tak masalah....

Setelah menjalani kehidupan di Kupang dan sekitarnya di Provinsi NTT selama beberapa hari bahkan bulan sampai tulisan ini saya buat. Saya dapat menulis beberapa hal mengenai Provinsi NTT-Kupang dan sekitarnya.

Daerah Berkembang
Terlihat  dari pembangunan yang sedang terjadi di Provinsi NTT, seperti yang saya lihat di Kota Kupang baik pembangunan dari segi perumahan, perkantoran maupun pusat perbelanjaan. Satu-satunya mall yang ada di Kupang adalah Mall Flobamora ditambah Lippo Kupang dan Hypertmart sebagai pusat perbelanjaan. Tempat ini ramai dikunjungi masyarakat setempat baik untuk berbelanja maupun hanya sekedar jalan-jalan. Saya juga mendengar kalau di Kupang akan dibangun sebuah bioskop. Mudah-mudahan cepat terealisasi. Untuk menambah tempat nongkrong. Hahahaha

Kutub Paling Selatan Indonesia
Provinsi NTT merupakan daerah paling selatan Indonesia. Sehingga suhu udara sedikit menyengat dan kondisi alam sedikit tandus. Batu karang menajdi substrat yang dominan di di Kupang.
 
Kutub paling selatan Indonesia (Sumber : Google Earth)


26 October 2015

Indonesia negara yang memiliki banyak perbedaan bahasa, suku, adat dan agama, tetapi dari perbedaan tersebut Indonesia harusnya tetap menjadi satu. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu menjadi landasan bahwa di tengah kemajemukan tersebut ada ras saling menghargai, menghormati dan kesatuan sebagai warga negara Indonesia.

Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha dan KongHu Cu merupakan enam agama yang diakui di Indonesia secara hukum. Setiap agama pasti mengajarkan kepada penganutnya untuk melakukan kebaikan, tidak satupun agama yang mengajarkan hal buruk untuk dilakukan dalam kehidupan di dunia ini.

Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) salah satu gereja beraliran Kristen Protestan yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur, seperti halnya Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dari Batak, Sumatera Utara dan Gereja Toraja (GT) dari Toraja, Sulawesi Selatan. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa suku lain dapat beribadah di gereja tersebut. Seperti saya dari Gereja Toraja karena sementara waktu saya menetap di Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, maka saya memilih untuk beribadah di GMIT karena di Kupang tidak ada Gereja Toraja. GMIT Jemaat Lahairoi Namosain menjadi pilihan saya sebagai tempat ibadah selama saya di Kupang dikarenakan lokasi yang tidak begitu jauh dari tempat tinggal saya.

Ada hal berbeda yang saya saksikan ketika mengikuti ibadah hari minggu di Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Jemaat Lahairoi Namosain Klasis Kota Kupang yang terletak di Kelurahan Namosain, Kecamatan Alak pada tanggal 25 Oktober 2015. Ibadah saat itu menggunakan adat Suku Sabu , salah satu suku yang mendiami daratan Pulau Timor dan sekitarnya di Provinsi NTT. Mulai dari pengkotbah, majelis, prosesi memasuki gereja, liturgi  bahkan tempat persembahan yang digunakan sangat berbeda dari biasanya dan kali ini semuanya berkaitan dengan Suku Sabu.

Pengkhotbah sebagai orang yang menyampaikan firman Tuhan biasanya hanya menggunakan pakaian seperti pakaian resmi pada umumnya. Kali ini ada perbedaan pengkhotbah menggunakan pakaian adat Sabu dilengkapi dengan mahkota di kepala dan kain khas Sabu yang diletakkan di pundak sebelah kiri.
 
Pengkhotbah


22 October 2015

Kegiatan adventure saya selanjutnya di Bogor ketika melaksanakan orientasi di Jakarta selama kurang lebih 2 bulan. Bogor merupakan daerah yang terletak di Provinsi Jawa Barat yang mendapatkan julukan kota hujan, dijuluki demikian mungkin karena daerah ini sering hujan, tapi saya tidak tahu secara pasti.

Banyak penduduk Jakarta menghabiskan masa liburan akhir pekan untuk mengunjungi daerah ini. Mungkin karena Bogor daerah yang memiliki udara yang sejuk, apalagi di daerah Puncak Bogor (sayang saya belum pernah ke tempat ini),inilah yang mungkin dimanfaatkan penduduk Jakarta untuk mencari udara segar dan merelaksasikan pikiran dan diri dari hiruk pikuk perkotaan.

Walaupun hanya sekitar dua bulan di Jakarta, saya pun ingin merasakan udara Bogor yang menjadi magnet bagi penduduk Jakarta. Sebanyak dua kali saya mengunjungi Bogor. Kali ini saya tidak sendirian tetapi bersama teman dari Makassar yang melanjutkan pendidikan di Bogor dan teman yang sedang melaksanakan kegiatan di Bogor dan Jakarta. 

1st Adventure 
Petualang pertama bersama senior (Universitas Hasanuddin/UNHAS) yang sedang melanjutkan pendidikan magister di IPB (Bisakah saya ketularan ???).  Saya berangkat seorang diri dari Jakarta menggunakan commuterline dair Stasiun Gondangdia dan turun di Stasiun Bogor. Ini merupakan kali pertama saya menggunakan kereta apa (red. commuterlin) karena di daerah saya (Makassar dan sekitarnya) tidak menggunakan kerta apai. Jarak stasiun Gondangdia ke Stasiun Bogor sekitar 48 km yang dapat ditempuh selama kurang lebih 1 jam dengan melewati beberapa stasiun, diantaranya Stasiun Manggarai, Stasiun Pasar Minggu, Stasiun Univ. Indonesia, dan Stasiun Depok.

Biaya yang dikeluarkan dari Stasiun Gondangdia ke Stasiun Bogor sebesar Rp 15.000, menggunakan kartu commuter dengan rincian biaya commuterlin Rp. 5.000,- dan jaminan kartu Rp. 10.000,-, uang jaminan ini dapat diuangkan kembali setelah sampai di stasiun tujuan dan menukarkan dengan kartu commuter.

Sampai di Stasiun Bogor, saya telah di tunggu oleh beberapa senior (Kak Ety, Kaka Alda, Kak Adam dan Kak Ile). Kami melanjutkan perjalanan menuju kosan senoir yang terletak di sekitaran Kampus IPB Dramaga. Selama dalam perjalanan saya merasa udara Bogor memang berbeda dengan udara di Jakarta, lebih sejuk dan dingin. 
 
Stasiun Bogor


19 October 2015

Adventure saya kembali berlanjut. kali ini yang saya kunjungi adalah destinasi yang masih berada di sekitaran Ibukota Jakarta, tetapi dengan kategori yang berbeda. petualangan kemarin bercerita tentang museum yang ada di Jakarta, tetapi sekarang saya akan beralih ke destinasi wisata non museum. 

Selain museum, Jakarta masih menyimpan banyak destinasi wisata yang patut untuk dikunjungi yang tersebar dimana-mana di tanah Jakarta mulai dari wisata laut, wisata budaya, wisata modern, wisata belanja, wisata religi, wisata sains sampai wisata kuliner. setiap tempat tersebut memiliki keistimewaan yang dapat memikat hati para pelancong untuk dapat mengunjunginya/ berikut beberapa destinasi wisata non museum yang sempat saya kunjungi selama orientasi di Jakarta.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII) terletak di Jakarta Timur tepatnya di Jl. Raya Taman Mini dengan tiket masuk Rp 10.000,-/org. Akses untuk menuju ke TMII dapat menggunakan Trans Jakarta dari halte Harmoni Central Busway dan turun di halte Garuda Taman Mini, dari halte tersebut ke TMII dapat di tempuh dengan berjalan kaki. TMII merupakan miniatur Indonesia, terdapat rumah adat dari berbagai provinsi yang ada di Indonesia, mulai dari Rumah Panggung dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Rumah Joglo dari Jawa Tengah, Rumah Lamin dari Kalimantan Timur, Rumah Tongkonan dari Sulawesi Selatan sampai Rumah Hanoi dari Papua, selain itu terdapat museum, seperti Museum Timor Timur, rumah ibadah dari masing-masing agama yang terdapat di Indonesia, danau yang didalamnya tersebar pulau kecil membentuk negara Indonesia, dan masih banyak lagi atraksi yang terdapat dalam TMII yang menajdi daya tarik tersendiri. Jadi jika anda belum sempat keliling Indonesia, datanglah ke TMII maka anda seakan-akan telah mengelilingi Indonesia dalam waktu yang singkat. 

Kesempatan ketiga saya mengunjungi TMII, kali ini bersama dengan rombongan peserta Perayaan Paskah Persekutuan Umat Kristen Lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Kami menggunakan bus  kantor yang telah disediakan oleh panitia sebagai transportasi bagi peserta paskah yang berangkat dari kantor KKP. Jadi setidaknya saya tidak mengeluarkan uang transportasi sekaligus tiket masuk TMII karena semua ditanggung oleh panitia.
 
Tongkonan (Rumah Adat Prov. Sul-Sel) salah satu koleksi TMII 


05 October 2015


My Job My Adventure. Disamping bekerja sempatkan diri untuk berpetualang. My Job My Adventure Part II, membahas petualangan ke museum yang sempat saya kunjungi selama berada di Jakarta saat melaksanakan orientasi di salah satu instansi pemerintahan selama kurang lebih 2 bulan dari bulan April sampai bulan Juni. untuk mengisi liburan selama orientasi, tidak ada salahnya jika saya mengisinya dengan beradventure ke destinasi wisata yang ada di Jakarta.

JAKARTA. Kata yang tak asing bagi orang Indonesia, kota yang diinginkan oleh sebagain besar penduduk Indonesia untuk dapat menginjakkan kaki di tanah ini. Setiap orang ingin melihat lebih dekat suasana dan keadaan dari Jakarta. Jakarta yang menduduki jabatan sebagai ibukota negara, menerima dampak positif yang sungguh luar biasa, seperti pembangunan yang berkembang pesat sebagai pusat perkantoran dan pemerintahan dengan gedung pencakar langit dimana-mana, pusat perbelanjaan, tempat bertemunya berbagai etnis dari seluruh Indonesia. Disamping itu, dampak negatif tidak dapat dihindari oleh Jakarta, seperti kemacetan dimana-mana, suhu udara yang panas, banjir, sampah dan masih banyak lagi.


Terlepas dari dampak yang diterimanya, Jakarta tidak akan mengecewakan bagi siapa pun yang datang untuk mengunjunginya. Jakarta masih memiliki pesona wisata yang luar biasa bagi para traveler dari berbagai penjuru dunia, baik traveler lokal maupun mancanegara. Wisata alam di Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk, wisata budaya di Setu Babakan, wisata laut di Kepulauan Seribu, wisata sains di Planetarium, wisata modern di Ocean Park Water Adventure, wisata belanja di Tanah Abang, wisata kuliner di Jalan Peconongan, wisata rohani di Gereja Kathedral dan Mesjid Istiqlal dan wisata sejarah seperti Museum Nasional semua itu disuguhkan oleh Jakarta bagi siapa pun yang menginjakkan kaki di tanah Jakarta.

Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

-Nando Torajanese||Traveler|| Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Ingin keliling Indonesia dan bisa menginjakkan kaki ke beberapa negara

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts