31 December 2015

Sebelumnya saya telah membahas tentang kegiatan kami mengenai Monitoring Terumbu Karang dan Ekosistem Terkait Lainnya di Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu yang berlokasi di Pulau Batek sebagai salah satu program kerja dari Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang. Sebagai kelanjutan dari monitoring tersebut, kembali kami melakukan monitoring tetapi dengan objek yang berbeda. Objek kali ini adalah Cetacea...
Bagi orang yang hidupnya bersentuhan dengan dunia kelautan maupun perikanan, pasti sudah mengetahui apa itu Cetacea. Tetapi bagi anda yang hidupnya tidak ada kaitannya dengan laut, mungkin kata ini terasa asing bagi kalian.

Mungkin anda akan bertanya Cetacea itu apa ???
Sejenis makhluk hidup atau benda mati ???
Hewan atau tumbuhan ???
Bisa dimakan atau tidak ???
Dan masih banyak lagi pertanyaan yang terlintas dipikiran anda...


11 December 2015



Apa yang ada di pikiran anda ketika mendengar kata Pulau Kecil Terluar (PKT) Indonesia yang berbatasan dengan negara tetangga ?
  
Pemandangan dari atas Pulau Batek

09 December 2015

Monitoring Terumbu Karang dan Ekosistem Terkait Lainnya di Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu merupakan salah satu program dari Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang. Ekosistem yang menjadi objek monitoring adalah terumbu karang dan lamun yang bertujuan untuk menyediakan data dasar kedua ekosistem tersebut.
 
Pulau Batek

21 November 2015

Bali... Kata yang tak asing bagi kita masyarakat Indonesia bahkan penduduk di luar Indonesia. Mendengar kata Bali pasti kita teringat akan pantainya, Pantai Kuta atau tariannya, Tari Kecak. Siapa yang tidak tahu Bali ??? Siapa yang tidak ingin ke Bali ??? Salah satu destinasi wisata favorit di Indonesia dan sudah terkenal ke seantero dunia. Semua orang ingin mengunjungi tempat ini, tidak hanya mendengar cerita dari orang lain, tetapi melihat Bali lebih dekat.
 
Salah satu patung jalan di Bali 


20 November 2015

Setelah kegiatan lokakarya di Makassar selesai, saatnya semua peserta kembali ke daerah masing-masing, kecuali saya. Saya tidak langsung balik ke Kupang, tetapi saya memutuskan untuk tinggal beberapa hari di Makassar. Empat hari dari Rabu sampai Sabtu kesempatan saya untuk bertemu keluarga sekaligus berpetulangan di Makassar.

Makassar dengan julukan Kota Daeng yang menjadi salah satu kota metropolitan di Indonesia menyimpan berbagai destinasi wisata para pelancong, seperti wisata sejarah di Benteng Rotterdam dan Benteng Somba Opu, wisata pantai di Pantai Losari dan Tanjung Bayang, wisata pulau di Pulau Lae-lae dan Pulau Samalona, wisata kuliner di Daya Festival dan Anjungan Losari, wisata belanja tradisional di Pasar Butung dan wisata belanja modern di Mall Panakkukang dan Makassar Town Square, wisata religi di Gereja Katolik Kare dan Mesjid Raya serta masih banyak destinasi wisata yang tersedia di Makassar.

Dan inilah petualangan saya selama 4 hari di Makassar.....


19 November 2015

Lokakarya Penyusunan Roadmap dan Rencana Kerja Pengelolaan KKPN pada Wilayah Kerja pada Balai KKPN Kupang adalah salah satu program kerja dari Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang tempat saya bekerja. Program ini dimaksudkan untuk menyususn desain/roadmap dan rencana kerja pengelolaan efektif kawasan konservasi perairan nasional di wilayah kerja BKKPN tahun 2016-2019. Saya mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan ini

Kegiatan ini dilaksanakan Minggu-Rabu, 20-23 September 2015 di Makassar tepatnya di Hotel Swiss Belliny yang terletak di Jl. Boulevard Raya No. 55 Panakukkang.

Peserta dari BKKPN Kupang termasuk saya berangkat dari Bandara El Tari, Kupang transit ti Bandara Juanda, Surabaya kemudian menuju Bandar Udara Sultan Hasanuddin, Makassar. Perjalanan dari Kupang ke Surabaya sekitar 1 jam 45 menit dari pukul 06.30 dan tiba pukul 08.00. Dari Surabaya ke Makassar berangkat jam sekitar jam 13.00.

Setidaknya ada waktu 5 jam untuk ber-adventure dan mengeksplor Surabaya. Waktu tersebut tidak saya lewatkan begitu saja. Bersama Mas kodir (Teman Kantor), kami berpetulangan di Surabaya.

Berawal dari Bandara Juanda menggunakan Damri menuju Terminal Purabaya, waktu tempuh sekitar 15 menit dengan ongkos sekali jalan Rp. 25.000,-/orang. Dari terminal Purabaya perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan Bus sekitar 30 menit dengan ongkos Rp. 6.000,-/orang menuju Terminal Joyo Boyo. Dari Terminal Joyo Boyo, kami berjalan kaki menuju.....

Patung Sura dan Buaya. Lambang Surabaya yang terletak di Jl. Setail terdiri dari dua binantan, yakni Hiu dan Buaya yang saling menyerang. Patung ini menjadi landmark dan setiap wisatawan yang datang ke Surabaya harus menginjakkan kaki dan mengambil gambar di tempat ini, kalau tidak petulangan di Surabaya serasa tidak akan lengkap. Banyak orang berkunjung tidak hanya untuk berfoto tetapi ingin melihat lebih dekat icon Surabay ini. Bagi warga sekitar kesempatan ini tidak disia-siakan, mereka menawarkan jasa fotografi untuk menambah penghasilan. Saya pun tidak ketinggalan untuk berfoto ria, tetapi tidak menggunakan jasa fotografi tersebut, saya hanya meminta bantuan Mas Kodir.
 
Patung Sura dan Buaya


18 November 2015

Tata batas kembali berlanjut ke titik yang terakhir, Sulamu. Titik ini sebenarnya titik pertama tata batas, tetapi karena beberapa pertimbangan, seperti jarak yang relatif dekat dari Kota Kupang sehingga kami memilih titik ini sebagai titik terakhir untuk penandaan batas sementara. Sebenarnya titik ini tidak sedekat yang dibayangkan.

Terletak di Desa Sulamu, Kecamatan Sulamu, Kab. Kupang. Berangkat pada tanggal 19 September 2015 bersama Mas Boby, Pak Alex dan saya menggunakan motor gede.

Sebelum menuju titik, kami terlebih dahulu mengisi energi di Rumah Makan Pondok Jagung yang berada di Jl. Timor Raya Km. 29,5 Oesao. Menikmati sarapan dengan menu khas Nusa Tenggara Timur, Se'i B***, Jagung Bose, Jagung Katemak dan Ikan Lawar Sarden dengan harga yang cukup terjangkau mulai dari Rp. 5.000,- sampai Rp. 35.000,- dengan kualitas terjamin. Mungkin anda akan bertanya seperti apa makanan khas NTT tersebut. Tunggu saja, saya akan menjelaskan kepada anda, tetapi di tulisan yang akan datang ya... 

Kembali ke tata batas. Kami melanjutkan perjalanan menuju Sulamu. Jalanan yang sebagian besar belum di aspal menjadi tantangan sekaligus petualangan tersendiri bagi kami untuk tiba di titik Sulamu. Jalanan berbatu, berkerikil, pendakian, penurunan menyambut perjalanan kami. 
 
Jalan menuju titik sulamu


13 November 2015

Kawasan konservasi perairan (KKP) dikelola dengan sistem zonasi dan berperan dalam kelestarian sumber daya laut untuk kesejahteraan masyarakat. Taman Nasional Perairan (TNP) Laut Sawu merupakan salah satu KKP di bawah pengelolaan dan tanggung jawab Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang sebagai perpanjangan tangan Kementerian Kelautan dan Perikanan. Salah satu kegiatan BKKPN Kupang adalah penataan batas TNP Laut Sawu sebagai akhir penetapan kawasan konservasi. Penataan batas kali ini berupa pemasangan tata batas sementara dan ground check.

Karena TNP Laut Sawu mencakup 10 kabupaten yang berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur, yakni Kabupaten Kupang, Kab. Timor Tengah Selatan, Kab. Sumba Timur, Kab. Sumba Tengah, Kab. Sumba Barat, Kab. Sumba Barat Daya, Kab. Rote Ndao, Kab. Sabu Raijua, Kab. Manggarai dan Kab. Manggarai Barat sehingga penataan batas terbagi ke dalam beberapa tim. Saya pun masuk ke dalam tim Kab. Kupang bagian Utara bersama Mas Boby, Kak Yosi dan Kak Vera (teman kantor) serta ikut bersama kami Pak Alex (Dosen Universitas Nusa Cendana). Sebanyak 7 titik penandaan batas sementara dan ground check yang masuk ke dalam Kab. Kupang bagian Utara, namun ada dua titik yang berdekatan sehingga hanya memilih satu titik dari kedua titik tersebut.

Berangkat menggunakan mobil ford everst, perjalanan beberapa jam melewati banyak sungai yang jalannya tidak dihubungkan dengan jembatan. Beruntung pelaksanaannya pada musim kemarau, sehingga sungai bisa dilalui kendaraan. Bayangkan kalau pada musim hujan. Mungkin kami bisa melewati sungai tetapi butuh pengorbanan yang lebih. Inilah tantangan tersendiri yang tim kami hadapi, tapi tidak mengurangi semangat kami untuk menyelesaikan tugas ini sekaligus ber-adventure.

Setelah beberapa jam, kami pun sampai... 

Titik I : Tuakau I. Sebelum menuju titik I, kami berkunjung ke kantor desa untuk minta izin sekaligus menginformasikan kegiatan yang akan kami lakukan. Kepala desa dengan antusias menyambut kedatangan kami dan mengutus seorang kepala dusun untuk menemani kami dalam penandaan batas. Titik ini dapat dijangkau dengan mobil dan hanya beberapa meter berjalan kaki untuk sampai di titik. Titik penandaan berpindah karena titik sebenarnya tidak memungkinkan untuk melakukan penandaan dengan menggunakan pilox. Penandaan baru menggunakan pilox orange pada pohon pandan. 
 
Titik Tuakau I


04 November 2015

Libur lebaran (idul fitri) hari yang ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia, bagi umat muslim menjadi hari kemenangan dan bagi non muslim termasuk saya menjadi libur panjang yang dapat dimanfaatkan untuk keluar dari rutinitas sehari-hari.
 
Sunset di salah satu sudut Kota Kupang


28 October 2015



Indonesia memiliki keberagamannya dan kekayaan yang luar biasa. Tidak hanya kaya akan sumber daya alam tetapi kaya akan keberagaman. Beragam bahasa, beragam agama, beragam suku, beragam bahasa, dan beragam budaya. Keberagaman budaya beberapa wilayah di Indonesia telah terkenal ke seantero dunia, diantaranya pesta kematian Suku Toraja yang mendiami dataran tinggi (pegunungan) Sulawesi Selatan, tepatnya di dua kabupaten, yakni Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara. Tidak hanya di daerah tersebut Indonesia masih memiliki banyak budaya yang tergolong unik dan mungkin sebagain orang belum mengetahuinya.

Ini salah satunya…..


Ketika anda bertemu dengan seseorang, entah itu keluarga, sahabat, teman maupun pacar anda. Mungkin sebagai salam pertemuan, anda akan berjabat tangan dan cipika cipiki (cium pipi kanan-cium pipi kiri). Namun bagi saya dan mungkin anda itu adalah hal yang sudah biasa di kehidupan sehari-hari, kita sering melihat atau bahkan melakukannya.


Namun, jauh di kutub selatan Indonesia tepatnya di Pulau Timor dan sekitarnya, Provinsi Nusa Tenggara Timur terdapat sebuah budaya yang terbilang unik. Suku yang mendiami daerah ini memiliki salam pertemuan yang beda dari kebanyakan salam dari wilayah di Indonesia. Adat unik sebagai pesona indonesia tersebut bernama Cium Idung, tetapi ada beberapa masyarakat yang menyebutnya Cium SabuWalaupun bukan hanya Suku Sabu yang melakukan tradisi ini tetapi beberapa suku, diantaranya Suku Rote dan Suku Sumba yang mendiami Pulau Timor dan sekitarnya di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Mungkin anda bertanya... Bagaimana Cium Idung tersebut ???... Apa yang membedakan dengan cium pertemuan di daerah Indonesia yang lainnya ???...


Perjalanan hidup saya berlanjut ke salah satu daerah bagian timur Indonesia tepatnya di Kupang dan sekitarnya, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Setelah selesai orientasi kantor di Jakarta dan orientasi lapangan di Lombok, setiap pegawai baru Kementerian Kelautan dan Perikanan di sebar ke tempat tugas masing-masing tergantung pilihan pada saat pendaftaran penerimaan pegawai, aday yang tetap di Jakarta, ada yang ke Sorong, Pekanbaru, Makassar, Bali dan beberapa daerah di Indonesia.

Berhubung saya memilih penempatan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang Satker Padaido Biak, maka saya ke Kupang terlebih dahulu sebelum ke Satker (Entah kapan ke Satker belum tau pasti....)

Saya masih ingat betul waktu keberangkat saya ke Kupang tepat pada hari Minggu, 14 Juni 2015. Berangkat dari Bandara Sokarno Hatta, Jakarta, transit di Bandara Juanda, Surabaya, kemudian sampailah saya di Bandara El Tari, Kupang. Ini pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Kupang. Sebelum pesawat landing, saya sempat melihat pemandangan malam hari Kupang dari atas pesawat. Terlintas dalam benak saya ketika melihat pemandangan tersebut pemikiran bahwa Kupang masih tergolong ramai dengan melihat lampu jalanan dan rumah penduduk serta lalu-lalang kendaraan. Semoga saja seperti itu, tapi kalau pun tidak ramai... Tak masalah....

Setelah menjalani kehidupan di Kupang dan sekitarnya di Provinsi NTT selama beberapa hari bahkan bulan sampai tulisan ini saya buat. Saya dapat menulis beberapa hal mengenai Provinsi NTT-Kupang dan sekitarnya.

Daerah Berkembang
Terlihat  dari pembangunan yang sedang terjadi di Provinsi NTT, seperti yang saya lihat di Kota Kupang baik pembangunan dari segi perumahan, perkantoran maupun pusat perbelanjaan. Satu-satunya mall yang ada di Kupang adalah Mall Flobamora ditambah Lippo Kupang dan Hypertmart sebagai pusat perbelanjaan. Tempat ini ramai dikunjungi masyarakat setempat baik untuk berbelanja maupun hanya sekedar jalan-jalan. Saya juga mendengar kalau di Kupang akan dibangun sebuah bioskop. Mudah-mudahan cepat terealisasi. Untuk menambah tempat nongkrong. Hahahaha

Kutub Paling Selatan Indonesia
Provinsi NTT merupakan daerah paling selatan Indonesia. Sehingga suhu udara sedikit menyengat dan kondisi alam sedikit tandus. Batu karang menajdi substrat yang dominan di di Kupang.
 
Kutub paling selatan Indonesia (Sumber : Google Earth)


26 October 2015

Indonesia negara yang memiliki banyak perbedaan bahasa, suku, adat dan agama, tetapi dari perbedaan tersebut Indonesia harusnya tetap menjadi satu. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti Berbeda-beda Tetapi Tetap Satu menjadi landasan bahwa di tengah kemajemukan tersebut ada ras saling menghargai, menghormati dan kesatuan sebagai warga negara Indonesia.

Islam, Kristen Protestan, Kristen Katolik, Hindu, Budha dan KongHu Cu merupakan enam agama yang diakui di Indonesia secara hukum. Setiap agama pasti mengajarkan kepada penganutnya untuk melakukan kebaikan, tidak satupun agama yang mengajarkan hal buruk untuk dilakukan dalam kehidupan di dunia ini.

Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) salah satu gereja beraliran Kristen Protestan yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Timur, seperti halnya Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) dari Batak, Sumatera Utara dan Gereja Toraja (GT) dari Toraja, Sulawesi Selatan. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa suku lain dapat beribadah di gereja tersebut. Seperti saya dari Gereja Toraja karena sementara waktu saya menetap di Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur, maka saya memilih untuk beribadah di GMIT karena di Kupang tidak ada Gereja Toraja. GMIT Jemaat Lahairoi Namosain menjadi pilihan saya sebagai tempat ibadah selama saya di Kupang dikarenakan lokasi yang tidak begitu jauh dari tempat tinggal saya.

Ada hal berbeda yang saya saksikan ketika mengikuti ibadah hari minggu di Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) Jemaat Lahairoi Namosain Klasis Kota Kupang yang terletak di Kelurahan Namosain, Kecamatan Alak pada tanggal 25 Oktober 2015. Ibadah saat itu menggunakan adat Suku Sabu , salah satu suku yang mendiami daratan Pulau Timor dan sekitarnya di Provinsi NTT. Mulai dari pengkotbah, majelis, prosesi memasuki gereja, liturgi  bahkan tempat persembahan yang digunakan sangat berbeda dari biasanya dan kali ini semuanya berkaitan dengan Suku Sabu.

Pengkhotbah sebagai orang yang menyampaikan firman Tuhan biasanya hanya menggunakan pakaian seperti pakaian resmi pada umumnya. Kali ini ada perbedaan pengkhotbah menggunakan pakaian adat Sabu dilengkapi dengan mahkota di kepala dan kain khas Sabu yang diletakkan di pundak sebelah kiri.
 
Pengkhotbah


22 October 2015

Kegiatan adventure saya selanjutnya di Bogor ketika melaksanakan orientasi di Jakarta selama kurang lebih 2 bulan. Bogor merupakan daerah yang terletak di Provinsi Jawa Barat yang mendapatkan julukan kota hujan, dijuluki demikian mungkin karena daerah ini sering hujan, tapi saya tidak tahu secara pasti.

Banyak penduduk Jakarta menghabiskan masa liburan akhir pekan untuk mengunjungi daerah ini. Mungkin karena Bogor daerah yang memiliki udara yang sejuk, apalagi di daerah Puncak Bogor (sayang saya belum pernah ke tempat ini),inilah yang mungkin dimanfaatkan penduduk Jakarta untuk mencari udara segar dan merelaksasikan pikiran dan diri dari hiruk pikuk perkotaan.

Walaupun hanya sekitar dua bulan di Jakarta, saya pun ingin merasakan udara Bogor yang menjadi magnet bagi penduduk Jakarta. Sebanyak dua kali saya mengunjungi Bogor. Kali ini saya tidak sendirian tetapi bersama teman dari Makassar yang melanjutkan pendidikan di Bogor dan teman yang sedang melaksanakan kegiatan di Bogor dan Jakarta. 

1st Adventure 
Petualang pertama bersama senior (Universitas Hasanuddin/UNHAS) yang sedang melanjutkan pendidikan magister di IPB (Bisakah saya ketularan ???).  Saya berangkat seorang diri dari Jakarta menggunakan commuterline dair Stasiun Gondangdia dan turun di Stasiun Bogor. Ini merupakan kali pertama saya menggunakan kereta apa (red. commuterlin) karena di daerah saya (Makassar dan sekitarnya) tidak menggunakan kerta apai. Jarak stasiun Gondangdia ke Stasiun Bogor sekitar 48 km yang dapat ditempuh selama kurang lebih 1 jam dengan melewati beberapa stasiun, diantaranya Stasiun Manggarai, Stasiun Pasar Minggu, Stasiun Univ. Indonesia, dan Stasiun Depok.

Biaya yang dikeluarkan dari Stasiun Gondangdia ke Stasiun Bogor sebesar Rp 15.000, menggunakan kartu commuter dengan rincian biaya commuterlin Rp. 5.000,- dan jaminan kartu Rp. 10.000,-, uang jaminan ini dapat diuangkan kembali setelah sampai di stasiun tujuan dan menukarkan dengan kartu commuter.

Sampai di Stasiun Bogor, saya telah di tunggu oleh beberapa senior (Kak Ety, Kaka Alda, Kak Adam dan Kak Ile). Kami melanjutkan perjalanan menuju kosan senoir yang terletak di sekitaran Kampus IPB Dramaga. Selama dalam perjalanan saya merasa udara Bogor memang berbeda dengan udara di Jakarta, lebih sejuk dan dingin. 
 
Stasiun Bogor


19 October 2015

Adventure saya kembali berlanjut. kali ini yang saya kunjungi adalah destinasi yang masih berada di sekitaran Ibukota Jakarta, tetapi dengan kategori yang berbeda. petualangan kemarin bercerita tentang museum yang ada di Jakarta, tetapi sekarang saya akan beralih ke destinasi wisata non museum. 

Selain museum, Jakarta masih menyimpan banyak destinasi wisata yang patut untuk dikunjungi yang tersebar dimana-mana di tanah Jakarta mulai dari wisata laut, wisata budaya, wisata modern, wisata belanja, wisata religi, wisata sains sampai wisata kuliner. setiap tempat tersebut memiliki keistimewaan yang dapat memikat hati para pelancong untuk dapat mengunjunginya/ berikut beberapa destinasi wisata non museum yang sempat saya kunjungi selama orientasi di Jakarta.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII) terletak di Jakarta Timur tepatnya di Jl. Raya Taman Mini dengan tiket masuk Rp 10.000,-/org. Akses untuk menuju ke TMII dapat menggunakan Trans Jakarta dari halte Harmoni Central Busway dan turun di halte Garuda Taman Mini, dari halte tersebut ke TMII dapat di tempuh dengan berjalan kaki. TMII merupakan miniatur Indonesia, terdapat rumah adat dari berbagai provinsi yang ada di Indonesia, mulai dari Rumah Panggung dari Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Rumah Joglo dari Jawa Tengah, Rumah Lamin dari Kalimantan Timur, Rumah Tongkonan dari Sulawesi Selatan sampai Rumah Hanoi dari Papua, selain itu terdapat museum, seperti Museum Timor Timur, rumah ibadah dari masing-masing agama yang terdapat di Indonesia, danau yang didalamnya tersebar pulau kecil membentuk negara Indonesia, dan masih banyak lagi atraksi yang terdapat dalam TMII yang menajdi daya tarik tersendiri. Jadi jika anda belum sempat keliling Indonesia, datanglah ke TMII maka anda seakan-akan telah mengelilingi Indonesia dalam waktu yang singkat. 

Kesempatan ketiga saya mengunjungi TMII, kali ini bersama dengan rombongan peserta Perayaan Paskah Persekutuan Umat Kristen Lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Kami menggunakan bus  kantor yang telah disediakan oleh panitia sebagai transportasi bagi peserta paskah yang berangkat dari kantor KKP. Jadi setidaknya saya tidak mengeluarkan uang transportasi sekaligus tiket masuk TMII karena semua ditanggung oleh panitia.
 
Tongkonan (Rumah Adat Prov. Sul-Sel) salah satu koleksi TMII 


05 October 2015


My Job My Adventure. Disamping bekerja sempatkan diri untuk berpetualang. My Job My Adventure Part II, membahas petualangan ke museum yang sempat saya kunjungi selama berada di Jakarta saat melaksanakan orientasi di salah satu instansi pemerintahan selama kurang lebih 2 bulan dari bulan April sampai bulan Juni. untuk mengisi liburan selama orientasi, tidak ada salahnya jika saya mengisinya dengan beradventure ke destinasi wisata yang ada di Jakarta.

JAKARTA. Kata yang tak asing bagi orang Indonesia, kota yang diinginkan oleh sebagain besar penduduk Indonesia untuk dapat menginjakkan kaki di tanah ini. Setiap orang ingin melihat lebih dekat suasana dan keadaan dari Jakarta. Jakarta yang menduduki jabatan sebagai ibukota negara, menerima dampak positif yang sungguh luar biasa, seperti pembangunan yang berkembang pesat sebagai pusat perkantoran dan pemerintahan dengan gedung pencakar langit dimana-mana, pusat perbelanjaan, tempat bertemunya berbagai etnis dari seluruh Indonesia. Disamping itu, dampak negatif tidak dapat dihindari oleh Jakarta, seperti kemacetan dimana-mana, suhu udara yang panas, banjir, sampah dan masih banyak lagi.


Terlepas dari dampak yang diterimanya, Jakarta tidak akan mengecewakan bagi siapa pun yang datang untuk mengunjunginya. Jakarta masih memiliki pesona wisata yang luar biasa bagi para traveler dari berbagai penjuru dunia, baik traveler lokal maupun mancanegara. Wisata alam di Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk, wisata budaya di Setu Babakan, wisata laut di Kepulauan Seribu, wisata sains di Planetarium, wisata modern di Ocean Park Water Adventure, wisata belanja di Tanah Abang, wisata kuliner di Jalan Peconongan, wisata rohani di Gereja Kathedral dan Mesjid Istiqlal dan wisata sejarah seperti Museum Nasional semua itu disuguhkan oleh Jakarta bagi siapa pun yang menginjakkan kaki di tanah Jakarta.

17 September 2015





 

Salah satu kegiatan yang sedang blooming belakangan ini adalah adventure atau berpetualang. Kegiatan berpetualang biasanya dilakukan hanya sekedar untuk menikmati keindahan alam, menghilangkan rasa stress dari rutinitas pekerjaan, bahkan mencari inspirasi. Adventure dapat dilakukan siapa saja, baik yang muda maupun yang tua. Adventure dapat dilakukan dimana saja, baik di daratan maupun perairan ataupun keduanya. Adventure dapat dilakukan kapan saja, baik pada saat liburan maupun dalam pekerjaan. Kebanyakan orang terkendala dalam masalah waktu untuk berpetualang. Hal ini dikarenakan liburan dalam jangka waktu yang tidak begitu lama. Oleh karena itu berpetualang dapat dilakukan sambil bekerja. 

Bagi orang yang bekerja terlebih bagi yang bekerja di instansi pemerintah, kecil kemungkinan untuk berpetualang dikarenakan waktu yang terikat dengan aturan pemerintah. Kebanyakan mereka melakukan petualangan pada saat musim libur kantor tiba, itupun hanya dalam waktu yang relatif singkat. Namun jangan kehilangan harapan untuk berpetualangan. Anda masih bisa memanfaatkan waktu bekerja anda untuk melakukan petualangan. Disela-sela pekerjaan petulangan pun dapat dilakukan. Kesempatan untuk adventure, ketika anda mendapat tugas untuk melakukan perjalanan dinas ke tempat tertentu sesuai dengan surat tugas dari atasan. Walaupun daerah yang akan dituju mungkin tidak sesuai dengan keinginan kita, namun tetap nikmati.
 

09 September 2015

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia merupakan suatu anugrah yang patut disyukuri. Taburan ribuan pulau kecil menghiasi dan tersebar di antara pulau besar Indonesia. Jumlah pulau-pulau kecil tersebut sebanyak 17.504 pulau. Pulau-pulau kecil di Indonesia menyuguhkan kepada para wisatawan tentang pesona pantai dan pemandangan bawah laut yang tidak perlu dipertanyakan lagi. Diantara ribuan pulau tersebut beberapa tersebar di sekitar Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gili yang dalam bahasa setempat memiliki arti pulau kecil merupakan bagian dari ribuan pulau-pulau kecil Indonesia. Gili merupakan salah satu tujuan wisata yang banyak digemari oleh wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara. Gili Matra singkatan dari tiga Gili yang ada di Lombok yaitu Gili Meno, Gili Air dan Gili Trawangan. Jarak yang tidak begitu jauh antar ketiga gili tersebut menjadikan sebagai tujuan wisata yang dapat dikunjungi dengan waktu yang efisien.
Kesempatan saya untuk menginjakkan kaki di Gili dapat terealisasi ketika mengikuti kegiatan orientasi lapangan di salah satu lembaga pemerintahan. Walaupun pada saat itu ketiga gili tidak sempat saya kunjungi, hanya Gili Trawangan dan Gili Meno. Hal tersebut tidak menurunkan semangat saya untuk cepat-cepat melihat dan merasakan pesona yang akan disuguhkan kedua gili tersebut. Perjalanan yang ditempuh selama kurang lebih 2 jam dari Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta-Jakarta ke Bandar Udara Internasional Lombok merupakan awal untuk merasakan sensasi yang ditawarkan Pulau Lombok. Sesampai di Bandara Lombok kami disambut secara adat dengan pengalungan songket khas Lombok yang merupakan hal yang baru pertama kali saya rasakan dalam hidup saya, sesuatu yang istimewa.
 
Pelabuhan Bounty



Follow Me

FacebookTwitterGoogle+InstagramPathYahoo

About Me

-Nando Torajanese||Traveler|| Sementara tinggal di Biak. Suka berpetualang dan mengikuti kegiatan sosial. Ingin keliling Indonesia dan bisa menginjakkan kaki ke beberapa negara

Followers

Setiawan Mangando

Setiawan Mangando

TWP Kepulauan Padaido

TWP Kepulauan Padaido

Popular Posts